
Ayura hanya diam tak menyahuti ucapan Ello yang mengatakan jika suaminya itu merindukannya. Bukan tak tau, dia cukup tahu apa maksud kata rindu yang keluar dari mulut suaminya itu.
Dengan perlahan Ello memutar tubuh Ayura agar menghadap kearahnya. Di tatapnya wajah putih bersih dan mulus milik istrinya. Begitupun sebaliknya. Ayura juga balas menatap suaminya.
"Kakak bersyukur. Sangat-sangat bersyukur. Akhirnya papi kamu restuin hubungan kita," ucap Ello seraya merapikan helain rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
Ello tak pernah menyangka bisa menginjakan kakinya dikamar Ayura. Karena bisa mendapat restu dengan cukup mudah saja itu sudah jauh dari ekspetasinya.
Ello pikir dia akan di pukuli habis-habisan oleh papi Genta karena tanpa izin menikahi putrinya. Atau mungkin Ello akan dicekek sampai tak bisa bernafas lagi. Huh, bayangan yang sungguh menakutkan. Apalagi Ello mengingat betul bagaimana pertemuan pertamanya dengan papi Genta dulu. Ello masih ingat wajah datar papi Genta yang dengan tega mengusirnya tanpa mau mendengar penjelasan apapun darinya.
Namun kini Ello memang patut mensyukuri restu yang diberikan papi Genta dengn mudahnya. Papi Genta tak marah padanya ataupun Ayura. Papi Genta justru meminta mereka meresmikan pernikahan ini. Dan itu artinya pernikahan dirinya dan Ayura bukan hanya akan sah dimata agama namun juga dimata hukum.
"Kenapa diem aja? Kamu gak seneng kalau papi Genta merestui hubungan kita?" tanya Ello dengan pandangan masih menatap intens wajah istrinya.
Ayura menggelengkan kepalanya. "Ayura juga bersyukur kak," jawab Ayura lirih. Jujur saja Ayura memang bersyukur karena pernikahannya dengan Ello mendapat restu dari kedua keluarga.
Hanya saja ada sedikit ketakutan didalam dirinya. Ayura takut jika Ello akan meminta haknya sebagai suami diwaktu dekat ini. Dan Ayura merasa belum siap akan hal itu. Apalagi dia masih duduk dibangku SMA. Namun disisi lain Ayura juga mengerti jika sudah seharusnya dia memberikan hak yang bisa kapan saja Ello minta.
Cup
Satu kecupan singkat mendarat di bibir Ayura. Hingga membuat Ayura tersadar dari lamunannya.
Dia kembali menatap wajah suaminya. Namun detik selanjutnya Ayura reflek memejamkan kedua matanya saat wajah Ello kembali mendekat kearahnya.
Ayura dapat merasakan bibir Ello yang sudah menyentuh permukaan bibirnya. Ciuman lembut yang berhasil membuat hatinya menghangat.
Namun tak lama berselang cium yang awalnya lembut itu kini mulai menuntut. Dan perlahan namun pasti, Ello mulai meyes** bibir Ayura, mengul** dan melum**nya dengan lembut. Bahkan kini Ayura sudah mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.
Setelah puas bermain-main dibibir istrinya, Ello mulai mengigit kecil bibir bawah Ayura hingga membuat istrinya sedikit membuka mulutnya dan memberi celah untuk lid*h Ello masuk kedalam mulut Ayura.
Tangan Ello yang awalnya merengkuh pinggang Ayura, kini perlahan mulai naik ke bahu istrinya. Dengan gerak lembuy, Ello mulai mengusap bahu Ayura.
__ADS_1
"Eughh....." Suara legukan dan des**an lolos begitu saja dari bibir Ayura saat lid*h suaminya menerobos masuk dan menyentuh lid*hnya. Bergerak-gerak seakan mengajak Ayura melakukan hal yang sama. Bahkan sejak tadi Ayura dapat merasakan sesuatu dibawah sana yang mulai mengeras.
Kesadaran keduanya pun perlahan mulai hilang. Bahkan tangan Ello yang sejak tadi meraba bahu istrinya kini sudah hampir mencapai dua gundukan milik Ayura sebelum akhirnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Terdengar suara ketukan pintu kamar Ayura. Dan dengan gerak reflek Ayura mendorong tubuh suaminya agar menjauh.
'Shiitt.....' umpat Ello dalam hati. Dirinya sangat kesal karena ada yang mengganggu kegiatan mereka. Ello dan Ayura saling pandang dengan nafas masih terengah-engah. Bahkan Ayura melihat jelas kilatan gair*h dari tatapan suaminya.
Tok.. Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu itu kembali terdengar.
"Ra, ini kak Hiro. Buka pintunya Ra. Kok pintunya pake di kunci segala sih?" teriak Hiro dari balik pintu kamar Ayura. Bahkan beberapa kali Hiro mencoba memutar handle pintu dengan sedikit kasar dan berharap dengan cara itu pintu kamar adiknya bisa terbuka.
"Kak Hiro," gumam Ayura lirih. Dia turun dari pangkuan Ello lalu bergegas membuka pintu kamarnya setelah tadi sempat mengusap bibirnya yang basah akibat ciuman panasnya dengan Ello.
Ayura membuka pintu kamarnya dan langsung menampakan wajah kesal kakaknya.
"Kenapa lama banget sih buka pintunya? Mana pake dikunci segala," gerutu Hiro kesal.
Bukannya menjawab, Ayura justru balik bertanya pada kakaknya. "Ada apa kak?"
Hiro menghela nafas kesal.
"Ini kakak bawain baju ganti buat suami kamu. Biar tidurnya lebih nyaman," ujar Hiro menyodorkan beberapa kaos dan celana pendek untuk suami adiknya.
"Makasih kak," ucap Ayura menerima kaos dan celana pendek dari tangan kak Hiro dan langsung mendekapnya didada.
"Ello kemana kok gak keliatan?" tanya Hiro seraya mengintip dari celah pintu kamar. Dia dapat melihat kepala Ello yang menunduk dengan wajah cemberut. Dan seketika itu juga sebuah senyum melengkung tercetak dibibir Hiro. Dia sangat menyadari apa yang baru saja dilakukan kedua adiknya itu.
__ADS_1
"Minggir Ra, kakak mau masuk." Hiro mendorong tubuh Ayura agar sedikit bergeser.
"Ihh... kakak," decak Ayura sebal. Sedangkan Hiro tanpa permisi langsung nyelonong masuk kedalam kamar.
"Hey adik ipar!" sapa Hiro yang kini bersandar di tembok kamar Ayura.
"Kak Hiro? Kenapa kak?" tanya Ello yang kini sudah mengangkat kepalanya dan beralih menatap Hiro.
"Kamu kenapa cemberut gitu?" tanya Hiro yang masih mencoba menahan senyumnya.
"Cemberut? Enggak. Ello gak cemberut," jawab Ello berkilah seraya mencoba memperlihatkan senyum termanisnya.
"Ehh.. kirain cemberut gara-gara kakak gangguin kalian yang lagi -"
"Enggak kak. Kita gak lagi ngapa-ngapain kok. Jadi kak Hiro gak gangguin kita," sahut Ayura dengan cepat.
"Yang bener kalian gak ngapa-ngapain?" Hiro mencoba menggoda adik kesayangannya.
"Serius Ayura sama kak Ello gak lagi ngapa-ngapain. Lagian masih siang gini mau ngapain?" jawab Ayura seraya melirik suaminya.
"Emang kalau udah malem, kalian mau ngapain?" Hiro masih terus menggoda Ayura. Apalagi melihat wajah adiknya yang sudah memerah semakin membuat Hiro bersemangat.
"Gak ngapa-ngapain juga. Kalau malem kita tidur lah," sahut Ayura. "Udah kak Hiro mending keluar aja deh. Biarin kak Ello istirahat. Kasian kak Ello pasti capek," sambung Ayura seraya menarik tubuh kakaknya agar keluar dari kamarnya.
"Bentar dulu napa sih Ra," sahut Hiro menepis tangan kanan Ayura yang sudah melingkar di lengannya.
"Gak pokoknya sekarang!" perintah Ayura tak mau dibantah.
"Ello inget pesen kak Hiro tadi. Jangan aneh-aneh," teriak Hiro saat tubuhnya sudah sampai di ambang pintu.
"Gak ada yang mau aneh-aneh," ketus Ayura mendorong tubuh Hiro dengan sekuat tenaga dan langsung menutup pintu kamarnya dengan kasar saat melihat Hiro sudah benar-benar keluar.
__ADS_1
"Ingat ya. Jangan aneh-aneh!" teriak Hiro lagi dari balik pintu kamar dan diikuti dengan suara tawanya yang semakin lama semakin menjauh.