Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA

Penikahan Rahasia Sepasang Anak SMA
Ngambek


__ADS_3

Ello hanya bisa menatap Papa Arya yang saat ini sudah berjalan menjauh. Dia ingin mengejar sang Papa, namun tangannya sudah ditarik oleh Hiro seakan memberi tahu Ello agar tak mengejar Papa Arya.


"Papa kenapa ya Kak?" tanya Ello pada Hiro dan Agam. Dia sempat melihat sekilas wajah Papa Arya yang menampakan ekspresi tak terbaca.


"Kak Hiro gak tau. Tapi biarin Om Arya tenangin diri dulu. Dia pasti syok saat mengetahui jika dalang utama penyebab kecelakaan Fano adalah Om Satria yang notabenenya masih keluarga dan orang terdekatnya.


Ello menganggukan kepalanya. Membenarkan semua yang baru saja di ucapkan oleh kakak iparnya.


"Lebih baik kita pulang. Karena untuk proses hukum sudah di tangani pengacara," ucap Agam mengajak Ello dan Hiro pulang. Apalagi ini sudah hampir tengah malam. Ditambah lagi dirinya yang akan menikah tiga hari lagi membuat Agam harus istirahat dengan cukup.


~


Mobil Hiro baru saja masuk ke dalam garasi dan diikuti dengan motor Ello yang berhenti disampingnya.


"Kak......." panggil Ello saat Hiro baru saja keluar dari dalam mobilnya.


"Hmm....."


"Ello lupa beliin titipan Ayura," ucapnya lirih.


"Titipan apa?" tanya Hiro mengerutkan dahinya seraya menutup pintu mobilnya.


"Macem-macem kak," jawab Ello.


"Macem-macem itu apa aja? Yang lebih spesifik kalau jelasin." Ello mengambil ponselnya dan membuka ruang obrolan antara dirinya dan Ayura. Ello mulai membaca satu persatu dari dua puluh satu list makanan yang diinginkan Ayura.


"Stop!" Hiro menghentikan Ello yang sedang membaca daftar list ke dua belas.


"Kenapa kak?" tanya Ello heran.


"Gak usah beliin. Itu mah Ayura cuma ngerjain lo aja," sahut Hiro yang sudah sangat hafal akan tabiat sang adik.


"Tapi kalau nanti Ayura marah gimana kak?" tanya Ello khawatir di semprot oleh istrinya.


"Paling dia udah tidur. Udah ayo masuk. Papi nungguin kita di dalem," ujar Hiro lalu berjalan menuju pintu penghubung antara garasi dan ruang keluarga. Hingga mau tak mau Ello mengikuti langkah kakak iparnya.


Dan benar saja, Papi Genta menunggu mereka pulang sembari menonton siaran berita di televisi.


"Kalian berdua duduk sini. Ceritain sama Papi, gimana Satria bisa jadi dalang utamanya?" tanya Papi Genta saat melihat Hiro dan Ello berdiri di sisi ruang keluarga. Tadi saat Hiro di jalan pulang, Papi Genta sempat menanyakan keberadaannya. Hingga membuat Papi Genta tahu jika yang menyabotase mobil Fano adalah Satria.

__ADS_1


Setelah duduk, Ello pun menceritakan semuanya pada Papi Genta tentang bagaimana bisa Om Satria tertangkap. Dan papi Genta hanya mengangguk-anggukan kepala mengerti.


"Kamu yang sabar ya Ello. Papi yakin setelah semua ini berlalu, keluarga kamu akan baik-baik saja," ujar papi Genta.


"Iya Pi. Makasih." Ello merasa bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga Aditama. Dia merasa Papi Genta maupun Kak Hiro selalu ada untuk mensupport dirinya. Kedekatannya dengan Papi Genta dan Kak Hiro pun berbanding terbalik dengan kedekatan dirinya dengan Papa Arya ataupun Fano, sang kakak. Dan hal itu membuat sudut hatinya terasa nyeri.


"Yaudah lebih baik kalian istirahat. Ini udah malem. Apalagi besok Ello harus sekolah," ucap Papi Genta menghentikan pembicaraan mereka malam ini.


"Iya Pi," jawab Ello dan Hiro hampir bersamaan.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju lantai dua, karena memang kamar Ayura dan Hiro berdampingan.


"Kak, kalau Ayura belum tidur gimana?" tanya Ello yang masih kepikiran dengan titipan Ayura yang sama sekali tidak dia belikan. Padahal sebelum berangkat dia sudah berjanji akan membelikan semua yang diinginkan istrinya itu.


Hiro tersenyum, dia tak menyangka jika Ello masih memikirkan titipan sang adik. "Lo cuma harus nyiapin diri untuk menghadapi kemarahan Ayura. Dia kalau marah lebih mengerikan dari pada King Kong," ucap Hiro menakut-nakuti. "Selamat berjuang adik ipar." Hiro menepuk bahu Ello sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu kamarnya dengan tawanya yang sejak tadi tertahan.


Ello menelan salivanya dengan susah payah. "Ayura ngambek aja ngeri," gumam Ello menatap pintu kamar kak iparnya yang kini sudah tertutup rapat.


Setelah beberapa kali menarik nafas panjang, Ello meyakinkan dirinya jika Ayura sudah tidur. Dan pada akhirnya dia memberanikan diri untuk masuk kedalam kamar.


Deg


Ello diam terpaku di ambang pintu saat melihat istrinya masih duduk bersandar di headboard ranjang seraya menonton drama Korea.


"Udah," jawab Ayura ketus. "Udah tahu lagi nonton drakor, ya pasti belum tidur lah," gerutu Ayura dan masih terdengar jelas di telinga Ello.


"Maaf kakak pulangnya kemaleman," ujar Ello sembari mendudukan tubuhnya di tepi ranjang.


Tak menjawab, Ayura justru mematikan laptop miliknya dan meletakannya di atas nakas.


Dan dengan gerak cepat dia merebahkan tububnya membelakangi Ello. Tak lupa Ayura menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga keleher.


Ello yang merasa bersalah pun ikut membaringkan tubuhnya di samping Ayura. Dia hendak memeluk istrinya itu dari belakang. Tangannya baru saja melingkar di pinggang istrinya, namun dengan gerak cepat Ayura langsung menepis tangan Ello dengan sedikit kasar. "Ngapain tidur disini. Sana tidur aja dikantor sama Kak Agam," ketus Ayura.


"Kok gitu sih Ay. Kakak kan punya istri. Jadi kakak harus tidur sama istri kakak," sahut Ello dengan suara memelas.


"Ya udah sana tidur di kamar Kak Hiro. Istri kakak kan Kak Hiro."


"Kok jadi Kak Hiro?" tanya Ello heran. "Istri kakak cuma kamu Yang."

__ADS_1


"Kalau Ayura istri kakak, kenapa telfon Ayura gak di angkat? Sedangkan telfon Kak Hiro saja kakak angkat," ucap Ayura sebal.


"Maaf Yang. Tadi kakak sibuk banget. Jan marah ya," pinta Ello. "Kak minta maaf. Kakak emang salah," ujar Ello sedikit memohon.


Ayura medudukan tubuhnya. Dia menatap suaminya dengan tangan yang terulur.


"Apa?" tanya Ello tak mengerti.


"Mana? Mana titipan Ayura? Pasti gak kakak beliin kan?" tanya Ayura yang sudah menurunkan kembali tangannya yang sempat terulur.


"Maaf Ay, tadi kakak udah nyari. Tapi udah pada tutup," ujar Ello berbohong.


"Kakak mah emang gak niat. Gak ada usahanya sama sekali," ketus Ayura dengan bibir yang sudah mengerucut tajam.


"Enggak sayang, kakak gak bohong," ujar Ello hendak memeluk Ayura namun seketika itu juga di dorong mundur oleh sang istri.


"Gak usah peluk, peluk! Ayura gak mau."


"Maaf sayang. Jan marah, please," ucap Ello memohon. "Gimana kalau besok kakak beliin boneka beruang yang lebih besar daripada yang itu." Ello menunjuk boneka beruang yang kini sedang duduk di kursi belajar.


Ayura menengok ke arah yang ditunjuk Ello. Terlihat boneka beruang berwarna coklat muda yang dulu di belikan Ello saat mereka ke mall bersama. "Yang lebih besar dari itu?" tanya Ayura dengan wajah berbinar.


"Iya sayang. Yang lebih besar," sahut Ello dengan cepat.


"Tapi beliin dua ya," tawar Ayura.


"Iya nanti kakak beliin dua. Tapi jan marah lagi ya," pinta Ello.


"Jan dua ahh, tiga. Ayura mau tiga," ucap Ayura kembali menawar.


"Nanti kakak beliin yang banyak. Berapapun yang kamu mau. Sini peluk." Ello merentangkan tangannya agar Ayura masuk kedalam pelukannya.


"Janji ya."


"Iya janji. Ayo sini peluk." Dan akhirnya Ayurapun melupakan kekesalannya. Dia pun mendekat dan memeluk suaminya. Perasaan senang akan dibelikan banyak boneka membuat Ayura memeluk suaminya dengan cukup erat.


'Huft... untung gue liat boneka beruang,' batin Ello yang saat ini bisa bernafas lega.


"Jan ngambek lagi," ujar Ello dan di balas anggukan kepala oleh Ayura.

__ADS_1


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketokan pintu membuat Ayura melepas pelukannya. "Siapa yang dateng?" tanya Ello pada sang istri. Dan Ayura pun mengangkat kedua bahunya, karena dia sendiri tak tahu siapa yang malam-malam datang ke kamarnya.


__ADS_2