
Papa Arya dan Ello sudah duduk dihadapan seorang dokter yang tak lain sebagai kepala tim operasi Fano.
"Bagaimana keadaan putra saya dok?" tanya papa Arya tanpa basa basi.
Dokter menarik nafas dalam-dalam sebelum memulai penjelasannya. "Kami telah melakukan semuanya dengan sebaik mungkin. Tapi....."
"Tapi apa dok?" tanya papa Arya tak sabar.
"Tapi saat pasien dibawa kesini kondisinya sudah cukup parah," jawab dokter itu.
"Apa maksudnya dok? Apa terjadi sesuatu dengan anak saya? Apa operasinya gagal?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut papa Arya. Khawatir? Tentu saja dia sangat khawatir. Mendengar penjelasan dokter yang seakan berbelit-belit membuatnya semakin frustasi.
"Sabar pa sabar. Kita dengarkan penjelasan dari pak dokter dulu. Ello yakin kak Fano pasti baik-baik aja," ujar Ello mencoba menenangkan papanya. Dan disini papa Arya mensyukuri keputusannya yang mengajak Ello masuk ke ruang dokter. Karena bisa dibayangkan jika mama Rani yang masuk bersamanya, sudah bisa di pasti jika di ruangan dokter saat ini mungkin sudah terdengar tangisan mama Rani yang mulai meraung-raung.
"Begini bapak. Pada saat dibawa kemari pasien mengalami pendarahan dikepala dan patah tulang di kedua kakinya. Kami melakukan CT-scan dan memutuskan untuk langsung melakukan tindakan operasi setelah melihat hasilnya," ucap dokter itu lalu menjeda perkataannya. "Tidak ada masalah dengan operasi patah kaki. Namun masalah terjadi ketika kami melakukan operasi pembedahan otak," lagi-lagi dokter menjeda ucapannya.
"Kami sudah melakukan operasi sesuai prosedur. Bahkan bisa dibilang operasi berjalan dengan lancar. Namun mengingat cedera otak yang dialami pasien cukup parah, kemungkinan pasien akan mengalami fase vegetatif atau bisa diartikan koma," ucap dokter menjelaskan.
Deg
Papa Arya dan Ello hanya bisa diam membeku setelah mendengarkan penjelasan dari dokter.
__ADS_1
"Koma?" gumam papa Arya mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benar-benar tak menyangka jika Fano akan mengalami hal seperti ini.
Sedangkan kedua mata Ello sudah mulai mengembun. Dia masih diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Didalam otaknya terus berputar-putar ucapan dokter yang mengatakan jika kakaknya koma.
'Gak mungkin. Kak Fano gak mungkin koma,' batin Ello terus menolak kenyataan yang baru saja dia dengar.
Dan entah kenapa perasaan bersalah itu tiba-tiba muncul. Perasaan bersalah karena telah menggagalkan acara pertunangan Fano dan Ayura. Mungkin jika dia tak datang, kakaknya tak akan pergi dalam keadaan sakit hati dan berakhir kecelakaan. Apalagi mengingat dulu mama Rani pernah bercerita padanya jika Fano sangat menyukai calon tunangannya. Bahkan kakaknya itu masih terus berharap walaupun Fano pernah gagal bertunangnan karena calon tunangannya yang kabur.
Dan hari ini Ello baru mengetahui jika calon tunangan Fano yang saat itu kabur adalah Ayura. Dan entah takdir seperti apa yang tuhan gariskan kepada mereka, hingga saat Ayura kabur justru berakhir menikah dengannya. Hem takdir? sungguh tak ada satu orangpun yang tahu.
Setelah cukup lama bergulat dengan rasa bersalahnya, kini Ello memilih menepis perasaan bersalah karena telah menggagalkan acara pertunangan antara Fano dan Ayura.
Kedua pria berbeda generasi itu keluar dari ruang dokter dengan langkah gontai. Bahkan napak jelas wajah lesu, sedih dan bingung pada kedua pria itu.
"Sebaiknya jangan katakan dulu yang sebenarnya pada mama kamu. Dia pasti akan sangat sedih dan terluka mendengar kondisi kakak kamu saat ini," pinta papa Arya di tengah perjalanan mereka menuju ke ruang ICU. Dokter sempat mengatakan jika Fano sudah dipindahkan ke ruang tersebut karena dia masih harus mendapat perawatan yang ketat.
"Iya pa," jawab Ello setuju. Apalagi tadi Ello melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keterkejutan mama Rani. Bahkan papanya juga mengatakan jika mama Rani beberapa kali sempat pingsan saat dirinya melakukan donor darah.
Ello dan papa Arya pun kembali melanjutkan langkah kaki mereka dalam diam. Keduanya sama-sama sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Namun masih dengan satu tujuan yang sama. Yaitu mencari cara agar bisa membuat Fano sadar dan kembali seperti sediakala.
"Pa, apa yang terjadi pada Fano? Kenapa Fano dirawat di ruang ICU dengan begitu banyak peralatan medis yang terpasang ditubuhnya?" tanya mama Rani menghampiri suami dan putra bungsunya yang baru saja menampakkan batang hidung mereka.
__ADS_1
"Pa, jawab dong. Kok papa malah diem aja," ujar mama Rani mulai kesal saat papa Arya justru hanya diam tak menyahuti pertanyaan mama Rani.
"Ello. Apa yang terjadi pada kakak kamu? Apa operasi kakak kamu gagal?" Kini mama Rani mengalihkan pertanyaannya pada Ello karena merasa suaminya itu akan terus diam tanpa mau menjawab pertanyaannya. Dan hal itu justru membuat mama Rani semakin khawatir dengan keadaan Fano sekarang.
"Kak Fano pasti baik-baik aja ma. Kak Fano hanya harus dirawat di ruang ICU setelah operasi agar dokter bisa memantau keadaannya dengan lebih intensif," ucap Ello berbohong. Dia melihat jelas sisa air mata yang masih belum kering diwajah mama Rani yang menandakan jika mamanya itu pasti baru saja menangis saat melihat keadaan Fano dari balik kaca ruang ICU.
"Syukurlah. Mama pikir terjadi sesuatu yang buruk pada kakakmu." Mama Rani menghela nafas lega. Setidaknya putra sulungnya masih bisa terselamatkan. Walau keadaannya terlihat cukup parah.
~
Ello bersama papa Arya, papi Genta dan Hiro sudah duduk di salah satu meja yang ada di kantin rumah sakit. Mereka akan membicarakan tentang penyebab kecelakaan Fano dan apa saja yang semalam sempat dikatakan oleh polisi tentang kecelakaan itu.
Sedangkan Ayura diminta untuk menemani dan menjaga mama Rani. Karena papi Genta dan Hiro tak ingin melibatkan mama Rani dalam pembicaraan yang terlihat sangat serius ini.
"Apa penyebab kecelakaan kak Fano pi?" tanya Ello pada papi Genta.
Papi Genta menghela nafas kasar. Lalu menatap papa Arya dan Ello bergantian.
"Kecelakaan tunggal. Fano mengalami kecelakaan tunggal karena mobil yang mengalami rem blong dan hilang kendali hingga akhirnya menabrak pembatas jalan. Keadaan mobilnya cukup parah. Karena beberapa saksi mengatakan jika saat itu Fano memang sedang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi," ujar papi Genta menjelaskan.
"Rem blong? Kok bisa? Padahal saat kami berangkat ke restoran, mobil masih dalam keadaan baik-baik saja tak ada kendala apapun. Bahkan dua hari yang lalu baru saja di service rutin oleh pak Noto," ujar papa Arya terlihat tak percaya jika kecelakaan mobil yang dialami oleh Fano disebabkan oleh rem blong.
__ADS_1