
Ayura menatap tak percaya pada sang suami. Bukankah beberapa hari yang lalu suaminya itu hanya meminta haknya sekali? Lalu kenapa saat ini Ello justru kembali meminta haknya.
"Gak mau!" jawab Ayura dengan tegas.
"Please Yang, kakak udah pengen banget," ujar Ello sembari menarik tangan Ayura ke arah adiknya yang sudah mulai tegang karena sejak tadi ia sudah membayangkan kembali pergulatan mereka beberapa hari yang lalu.
"Making out aja ya. Kayak dulu. Gak usah di masukin," ujar Ayura memberi pilihan.
"Gak kerasa sayang. Lebih enak di masukin," tolak Ello. Kalau ada yang lebih enak? Kenapa memilih yang biasa saja pikirnya. Lagi pula dia melakukannya dengan istrinya sendiri bukan istri orang lain.
"Tapi nanti kalau Ayura hamil gimana?"
"Yang kali ini kakak janji bakalan pake pengaman. Jadi mau ya. Please," pinta Ello sedikit memohon.
"Gak mau ahh.... nanti punya Ayura nyeri lagi. Ini juga baru mendingan." Tolak Ayura lagi.
"Kalau udah kedua gak bakalan sakit lagi Yang," ucap Ello mencoba meyakinkan.
"Tau dari mana? Yang kemarin aja kakak gak ikut ngrasain nyerinya milik Ayura pas dipake jalan," ketus Ayura sebal pada sang suami yang terlihat sok tau.
"Dari mbah gugle."
"Gugle di percaya. Disana gemeteran dan lemes gara-gara laper aja bisa dibilang kena penyakit serius."
"Tapi kalau yang ini beneran Yang. Kakak gak bohong. Kalau yang kedua udah gak bakalan sakit lagi," ujar Ello masih berusaha meyakinkan sang istri.
"Apa jaminannya?"
Ello terdiam. "Kakak bakalan beliin kamu mini cooper keluaran terbaru."
__ADS_1
"Seriusan?" tanya Ayura dengan wajah tak percaya.
"Iya sayang. Sangat serius. Mau berapa? Satu? Dua? Atau tiga? Terserah kamu. Tapi kita ngen lagi yak."
Ayura terdiam. Seakan sedang menimbang-nimbang tawaran sang suami yang cukup mengiurkan. Siapa sih yang tak mau di belikan mini cooper? Semua orang pasti tak akan menolak jika di beri mobil kecil dan lucu ini. Ya walaupun harganya beda jauh dari harga mobil sang suami, tapi untuk anak remaja putri seperti dirinya, mobil ini terlihat sangat cocok.
"Ya udah. Deal....." Ayura mengulurkan tangan tanda kesepakatan mereka.
"Deal....." Dengan senang hati Ello menyambut uluran tangan istrinya. "Kita langsung mulai sekarang ya," bisik Ello. Namun di detik selanjutnya.....
"Stop!" Ayura menahan wajah Ello yang hendak mencium dirinya.
"Kenapa lagi Yang? Kan udah deal?" Ello menatap heran pada sang istri yang melarangnya saat ingin memulai pemanasan.
"Kok Ayura berasa kayak lont**. Dibayar abis di pake," ujar Ayura sembari menatap sang suami dengan wajah kesal.
"Gak gitu sayang. Kakak gak ada maksud gitu," sahut Ello yang mulai merinding melihat tatapan sang istri yang seakan ingin mencabik-cabik dirinya.
"Gini loh sayang. Kamu kan istri kakak. Kakak kerja juga buat siapa kalau bukan buat istri kakak. Jadi semua uang yang kakak punya, itu juga uang kamu. Kakak gak bayar kamu. Ini murni kewajiban kita sebagai suami istri. Kita dapet pahala loh Yang kalau maen kuda-kudaan," jawab Ello panjang lebar dan detik selanjutnya senyum secerah matahari terbit tercetak jelas di wajah Ayura.
"Ya udah. Ayo gas sekarang!" ujar Ayura yang sebenarnya juga sudah mulai ketagihan dengan kegiatan rutin yang memang biasa dilakukan oleh pasangan sah pada umumnya.
Dan dengan semangat empat lima, Ello pun langsung memulai serangannya. Dia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Karena membujuk Ayura untuk melakukan ini cukuplah sulit. Dan Ello tak akan membiarkan ini semua berakhir begitu saja sebelum dirinya benar-benar merasa puas.
"Kakak stop!" ujar Ayura saat Ello sudah ingin kembali memulai pemanasannya untuk yang ke tiga kali. Padahal sekarang sudah menunjukan pukul dua dini hari.
"Satu ronde lagi Yang," pinta Ello dengan bibir terus mengecupi bahu sang istri.
"No! Stop kak! Ayura udah capek. Ayura gak mau besok pulang ke Jakarta ngesot gara-gara kakak yang gak mau berhenti," ujar Ayura ketus. Dia benar-benar kesal dengan sang suami. Bisa-bisanya setelah dua kali mencapai puncak, Ello masih ingin tambah satu kali lagi.
__ADS_1
"Tapi Yang....."
"Berhenti sekarang atau kita gak bakalan nglakuin ini lagi selamanya," ancam Ayura. Dan seketika itu Ello menghentikan aktivitas tangannya yang sudah meraba kemana saja. Karena mau tak mau Ello harus menuruti perkataan Ayura atau dia tak akan bisa lagi menikmati surga dunianya untuk selamanya. Huft... membayangkannya saja sudah membuat Ello bergidik ngeri.
"Iya, iya ini juga udah gak di lanjut lagi. Sini peluk." Ello membalik tubuh Ayura agar menghadap kearahnya.
"Makasih Sayang untuk malam ini," ujar Ello sambil mengecup kening istrinya. Ya walaupun harus merasa sedikit risih karena memakai sarung pengaman, namun Ello cukup menikmati malam panas mereka. Apalagi milik istrinya yang masih sesempit saat pertama kali mereka melakukan penyatuan beberapa hari yang lalu. Bahkan tadi adik Ello harus sedikit berusah payah saat menerobos masuk kedalam rumah milik Ayura yang masih tertutup rapat.
Dan kini keduanya pun sudah tertidur pulas dengan saling berpelukan. Ello benar-benar tak akan melupakan kunjungan pertamanya di rumah peninggalan orang tua mami Ayura. Dan terutama kamar ini. Kamar yang sudah menjadi saksi pergulatan mereka untuk pertama kalinya. Huft...Ello benar-benar tak menyangka rencana menghadiri wisuda sang kakak ipar berakhir menjadi honeymoon ala kadarnya untuk dirinya dan Ayura.
~
Tok.. Tok.. Tok..
"Ra bangun. Dua jam lagi pesawat kalain udah take off," teriak Hiro dari balik pintu kamar sang adik. Dia baru pulang dari rumah salah satu sahabatnya. Karena sepulang party kemarin, Hiro memilih tidur di rumah sahabatnya yang memang tak jauh dari club tempat mereka mengadakan party perpisahan.
Dor... Dor... Dor...
Ketokan pintu itu pun akhirnya berubah menjadi gedoran saat Ello maupun Ayura sama sekali tak menyahuti teriakannya.
"AYURA....!! ELLO.....!! Bangun woey......"
Dan seketika itu juga Ello dan Ayura terbangun saat mendengar teriakan Hiro. Bahkan karena terlaku kaget membuat keduanya duduk diam seperti orang linglung.
"Ayura. Ello. Bangun. Kalian jadi pulang ke Jakarta gak?" teriak Hiro lagi. Dan untung saja pintu kamar Ayura sudah di kunci sejak semalam. Bisa dibayangkan bagaimana syok nya Hiro jika tiba-tiba masuk seperti waktu itu dan mendapati tubuh kedua adiknya yang saat ini sama-sama polos dan hanya tertutup selimut tebal.
"Ayu...."
"Iya kak. Ayura udah bangun dari tadi. Sebentar lagi turun," sahut Ayura berbohong.
__ADS_1
"Cepetan. Jangan sampe kalian ketinggalan pesawat. Besok kamu harus sekolah," seru Hiro dari balik pintu kamar sang adik sebelum akhirnya pergi setelah mendapat jawaban Ayura.