
Selamat membaca!
Baku tembak terus terjadi antara keempat anak buah Richard dengan ke 13 anak buah Thomas.
"Benjamin, mereka semua menggunakan rompi anti peluru, sepertinya tembakan jarak jauh tidak akan melumpuhkan mereka," tutur Christopher menyimpulkan karena beberapa tembakan yang mengenai tubuh salah satu anak buah Thomas tak berpengaruh pada mereka.
"Colin bidik kepala mereka!" titah Benjamin.
"Baik Sir," jawab Colin sigap.
Colin langsung mengganti pistolnya dengan senapan laras panjang. Ia kini sudah meletakkan senapan itu di atas kap mobil dan mulai membidik.
Tak berapa lama kemudian rombongan mobil terparkir rapi di depan gerbang rumah kediaman Weil. Mobil-mobil yang terlihat mewah dengan sebuah mobil berplat nomor spesial bertuliskan nama investor terbesar MANGO Corporate.
"Bagaimana situasinya Tommy?"
Tommy sudah memerintahkan Rud untuk mencermati dengan seksama keadaan di dalam gerbang.
"Ada 13 orang Sir di dalam gerbang lengkap dengan persenjataan di tangan mereka masing-masing dan ada 4 orang yang berada di pihak kita, salah satunya Benjamin, Rud mengenalnya, dulu Benjamin adalah mantan agen FBI di Australia," tutur Tommy memberikan laporan sesuai yang dikatakan oleh Rud melalui sambungan wireless.
"Baiklah jadi secara keseluruhan posisi kita hampir imbang dari jumlah orang, ini akan menjadi hari yang sangat panjang, ayo segera kita bereskan, Tommy!" titah Alex menajamkan sorot matanya lalu keluar dari mobil dengan waspada.
Suara baku tembak terjadi terus menerus. Gemuruh letupan-letupan semakin menggema memenuhi langit-langit malam itu.
"Sir, pakailah dulu rompi anti peluru ini!"
Alex mengambilnya dari tangan Tommy dan langsung memakainya untuk melindungi tubuhnya dari timah panas.
Alex sudah memegang Desert Eagle, sebuah pistol dengan peluru Magnum 357 yang berisi 9 butir amunisi. Tidak lupa Tommy juga memberikan wireless kepada Alex untuk memudahkannya berkomunikasi dengan anak buahnya yang lain, wireless yang sama dengan yang dipakai oleh Richard dan anak buahnya sewaktu menyelamatkan Alice di pulau. Raymond memberikan hadiah kepada Alex, sejumlah wireless lengkap dengan MacBook juga sebuah tablet, keluaran MANGO Corporate.
Alex terus mengamati keadaan sekitar, matanya memandang jauh mencari celah untuk dapat masuk ke dalam rumah dengan penjagaan yang ketat dari ke 13 orang yang kini berada di depan rumah.
"Rud, kita harus cari cara untuk masuk lewat belakang rumah, si bodoh jenius itu pasti menyimpan sebuah jalan alternatif di saat keadaan genting seperti ini."
"Baik Tuan, aku akan melindungi langkahmu Tuan."
Benjamin melihat Alex dan Rud berjalan menuju ke belakang rumah, ia akhirnya memerintah kepada Colin untuk mengikuti keduanya.
"Christoper, Colin, kalian tetap di sini! Aku dan Arnold kan mengikuti Tuan Alex."
Benjamin dan Arnold menyusul langkah Alex, kini keduanya sudah mengekor tepat di belakang tubuh Alex.
Setibanya di belakang rumah, mata Alex mulai meneliti keadaan sekitar.
"Hanya ada pagar tinggi ini, tidak mungkin memanjatnya untuk masuk ke dalam, tapi firasatku sangat yakin ada sebuah jalan rahasia yang Raymond buat pasti di rumah sebesar ini, terlebih dengan kemampuan otaknya yang jenius, mustahil jika dia tidak memikirkan hal seperti ini," gumam Alex memerhatikan dengan seksama untuk mencari jalan masuk rahasia yang ada di dalam pikirannya.
"Tuan, setiap 200 meter mulai dari sebelah sana terdapat patung-patung kepala Romawi yang tidak terdapat di gerbang depan," tutur Benjamin memberitahu kepada Alex hasil analisanya.
Alex terkekeh.
"Lumayan juga kau Benjamin, kenapa dulu kau menolak untuk bekerja denganku?" tanya Alex dengan menatap tajam wajah Benjamin membuat Benjamin menelan salivanya dengan kasar.
"Maaf Tuan, Tuan Richard adalah sahabatku sewaktu di FBI jadi aku lebih memilih bekerja bersamanya," jawab Benjamin merasa tidak enak.
"Dasar kau Benjamin, selalu menggunakan perasaanmu dalam pekerjaan," potong Rud sambil menyikut pelan perut Benjamin.
Alex kembali menautkan kedua alis.
"Cepat periksa semua patung-patung itu!"
Saat mereka sedang memeriksa kepala patung-patung Romawi yang berjumlah 10 buah jika di hitung per 200 meter di setiap sisi gerbang, tiba-tiba Tommy mengabarkan sesuatu kepada Alex tentang kabar terbaru yang terjadi di area depan gerbang.
__ADS_1
"Sir, Colin berhasil menembak 3 orang tepat di dahinya, kini tersisa tinggal 10 orang di depan rumah Sir."
Alex berdecih kagum sambil tersenyum tipis menatap wajah Benjamin.
"Hebat juga temanmu itu yang bernama Colin, bagaimana caramu melatihnya?"
Benjamin tersenyum lebar disusul dengan tawa renyahnya tanpa bisa ditahan. Suara tawa itu mengundang perhatian Rud yang sedang memeriksa kepala patung Romawi dengan teliti.
"Saat seperti ini mereka masih sempat-sempatnya bersenda gurau."
Benjamin seakan menemukan sesuatu di kepala patung Romawi yang dipegangnya. Ia lalu memutarnya dan simsalabim sebuah jalan terlihat jelas menuju ke dalam rumah.
Alex terpukau dengan sesuatu yang belum pernah dilihatnya sama sekali, bahkan di rumah yang besar seperti istana sekalipun hal seperti ini tidak ada.
"Sial, sepertinya aku harus meminta si brengs*k itu untuk membuatkan hal seperti ini di rumahku," gumam Alex kesal di dalam hatinya.
Benjamin masuk terlebih dahulu diikuti oleh Arnold di belakangnya, sementara Alex menyusul bersama Rud.
"Kita harus hati-hati, karena kita tidak tahu jalan ini menembus kemana dan apa yang menunggu kita di ujung jalan rahasia ini," ujar Benjamin memperingati semuanya.
Alex berdecih kesal, ia terlalu menganggap remeh perkataan Benjamin, dengan mempercepat langkahnya Alex mendahului Benjamin dan berjalan di posisi paling depan, diikuti oleh Rud yang selalu mengekor tepat di belakangnya.
"Itulah alasanku memilih pekerjaan dari Richard dibanding menerima tawaranmu Tuan Alex," gumam Benjamin terus memperhatikan langkahnya dan menatap punggung Alex dan Rud yang semakin jauh meninggalkan mereka.
Benjamin menghadang langkah Arnold dengan sebelah tangannya.
"Kenapa Ben?"
"Firasatku tidak enak, tunggu beberapa saat sampai mereka berdua sampai di ujung jalan rahasia ini," jawab Benjamin dengan sorot mata tajam, menatap jauh ke ujung jalan.
Arnold menghentikan langkahnya dan mengikuti perintah Benjamin.
"Baik, Ben, aku mengikutimu."
Sementara Alex dan Rud terus melangkah dengan yakin. Keduanya kini hampir tiba di ujung jalan rahasia yang sedikit menanjak.
Alex mengabaikan permintaan Rud, ia terus melangkah tanpa sedikitpun keraguan. Namun saat keluar dari jalan rahasia, dua buah tembakan langsung menghujam tubuhnya membuatnya terpental ke belakang, Rud langsung mendekati Alex dan memapah tubuh Alex untuk mundur sambil memberikan balasan tembakan ke arah asal tembakan yang telah mengenai Alex.
"Tuan kau tidak apa-apa?" tanya Rud dengan cemas, yang masih terus menembak ke arah depan.
"Tidak apa-apa, untung Tommy memberikan rompi anti peluru ini, kalau tidak mungkin aku tidak akan dapat bertemu dengan Rianti lagi."
Alex tampak kesal, raut wajahnya menunjukkan sebuah kemurkaan dengan sorot matanya yang sangat tajam.
"Tuan sebaiknya tunggu sini, biar aku saja yang maju," ujar Rud melangkah meninggalkan Alex.
Alex membiarkan Rud maju seorang diri, sementara ia masih duduk sambil memegangi perut dan dadanya yang tertembak, walau menggunakan rompi anti peluru, namun bekas tembakannya masih terasa nyeri di tubuhnya.
Tak berapa lama berselang, Benjamin dan Arnold datang menghampiri Alex dan melihat keadaannya.
"Tuan Alex, apa kau tidak apa-apa?" tanya Benjamin yang berlutut melihat kondisi Alex.
"Jangan pedulikan aku, cepat bantu Rud!" titah Alex dengan lantang.
Tanpa menunda lagi, Benjamin dan Arnold meninggalkan Alex sendirian, untuk membantu Rud. Suara baku tembak terdengar bertubi-tubi di ujung jalan rahasia. Benjamin dan Arnold yang mendengar semua itu semakin mempercepat langkahnya, agar bisa membantu Rud.
"Siap Arnold."
"Selalu Ben, mari kita bersenang-senang."
Keduanya layaknya Men In Black dengan kompak melompat dan berguling saat keluar dari jalan rahasia, mereka langsung mengarahkan tembakannya, hingga mengenai tiga orang yang sedang bersembunyi di balik pilar, sementara Rud juga menunjukkan keahliannya dengan berhasil menembak dua orang sekaligus.
Perlawanan anak buah Thomas selesai. Ketiganya kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke dalam rumah melewati pintu belakang.
"Christopher, bagaimana keadaan di luar?"
__ADS_1
"Sisa 6 orang, Ben, kau tenang saja urusan di luar serahkan pada kami di sini, cepat selamatkan Tuan Richard dan semua yang berada di dalam rumah, oke."
"Betul Sir, serahkan pada kami di sini, lagipula ke 5 anak buah Tuan Alex luar biasa Sir," ucap Colin menyela pembicaraan Benjamin dan Christopher lewat sambungan wireless yang saling terkoneksi.
Benjamin terkekeh ringan.
"Tetap hati-hati kalian, ingat jangan mati!"
Rud tiba-tiba menghentikan langkahnya saat sudah tiba di ruang tengah, demikian juga dengan Benjamin dan Arnold, mereka bertiga termangu, melihat Alice saat ini berada dalam ancaman Thomas dengan pistol yang menempel pada pelipisnya.
"Buang semua pistol yang kalian pegang itu, cepat atau aku akan menghancurkan kepala wanita ini," ancam Thomas berteriak sampai urat-urat kehijauan tampak di lehernya.
"Sial, kita tidak bisa menurutinya, dia pasti akan menembak kita," ujar Benjamin dengan nada pelan menahan kekesalannya.
Rud menoleh menatap ke arah Benjamin, demikian juga Arnold, ketiganya saling menatap penuh kebimbangan, mereka sama-sama bingung dengan keputusan yang harus mereka ambil. Ketiganya masih membidikkan pistolnya ke arah Thomas.
"Kalian kira aku main-main dengan ancamanku, kalian pikir aku tidak akan tega untuk membunuh wanita hamil ini."
Thomas menarik pelatuk pada pistolnya, ia sudah bersiap untuk membuktikan ancamannya, sementara Alice terlihat terus menangis dengan bibir gemetar menahan rasa takutnya.
Sesaat sebelum Thomas menembak, Benjamin menahannya dengan cepat.
"Tunggu, tunggu! Baik, aku akan ikuti semua perintahmu," ucap Benjamin sambil membentangkan kedua tangannya untuk menghentikan apa yang ingin dilakukan oleh Thomas.
Benjamin membuang pistolnya dengan yakin. Namun Arnold dan Rud terlihat ragu untuk melakukannya.
"Cepat kalian buang!" titah Benjamin lantang.
Arnold akhirnya membuang pistolnya mengikuti perintah Benjamin, sementara Rud masih enggan mengikuti ancaman pria yang saat ini layaknya seperti pecundang, yang menggunakan seorang wanita sebagai sandera.
"Cepatlah Rud, buang senjatamu!" bentak Benjamin memerintahkan kembali dengan lebih lantang.
Sekejap Rud berhasil menangkap sebuah kode dari simbol tangan yang sengaja Benjamin letakkan di belakang tubuhnya, agar tidak terlihat oleh Thomas. Rud akhirnya membuang pistolnya juga ke arah depan.
"Lihat! Kami sudah membuang pistol kami semua, sekarang lepaskan wanita itu!"
"Kau pikir bisa menipuku, letakkan kedua tangan kalian di atas kepala kalian cepat!" titah Thomas dengan berteriak keras.
Setelah ketiganya meletakkan kedua tangannya di atas kepala, Thomas sudah dapat tersenyum lebar, ia pun tertawa dengan sombong merayakan kemenangannya.
"Kalian bodoh, mana mungkin aku akan melepaskan kalian juga sanderaku ini, kalian semua akan mati, tapi sebaiknya wanita ini dulu yang mati!"
Alice memejamkan matanya, ia tampak pasrah dengan kematian yang akan datang menjemputnya.
Maafkan Mommy, baby twinsku.
Tetesan air mata terus berlinang dari kedua mata Alice yang terpejam, hingga seluruh wajahnya kini tenggelam oleh kesedihannya.
Apa aku sudah mati? Kenapa ini gelap?
Suara menjadi hening sesaat, namun tiba-tiba terdengar suara bariton mulai melontarkan sebuah ancaman.
"Lepaskan pistolmu! atau aku akan menghancurkan isi kepalamu dengan Desert Eagle ku ini."
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Terima kasih Alex, terima kasih Tya Gunawan sudah mengizinkan aku untuk menghadirkan Alex pada karyaku.
Tunggu episode selanjutnya ya. Maaf jika ada typo sedikit yang kalian temukan, karena kondisi author saat ini sedang sakit kepala.
Terima kasih atas dukungannya selama ini kepada Terpaksa Menikahi CEO Arogan yang sudah sampai di episode ke 100, rasa syukur sebesar-besarnya aku ucapkan kepada Allah SWT dan semoga kalian selalu terhibur dengan karyaku dan tidak lelah juga bosan untuk mendukungnya.
__ADS_1
Silahkan berkomentar!