Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Sebuah Harapan


__ADS_3

Selamat membaca!


Benturan yang membuat perut Alice kram bukan main sakitnya, sampai saat ini rasa sakit masih terasa hampir memecahkan kepalanya. Alice coba mengatur napasnya yang tak beraturan, degup jantungnya pun berdebar semakin cepat, membuat rasa sakit menjadi begitu sesak di dadanya.


"Au.."


"Au.."


Aku harus tenang, aku harus tenang, aku tidak ingin kedua anakku sampai kenapa-kenapa.


Tak lama Alice berhasil menstabilkan ritme napasnya yang tadinya seperti pacuan kuda. Kini rasa sakit sudah semakin mereda. Alice terduduk dan menyandarkan tubuhnya di sudut badan kapal. Ia menyangga kepalanya di tepian badan kapal yang memberinya sedikit kenyamanan, walau terasa keras.


Alice memegangi perutnya. Ia mulai berkomunikasi pada kedua anaknya yang saat ini berada di dalam kandungannya.


"Sabar ya Nak, kalian berdua harus kuat, kalian itu semangat untuk Mommy."


Tak terasa air mata lolos dari sudut mata Alice. Ia begitu sedih dengan keadaan yang saat ini ia alami, ditambah Alice teringat tentang perkataan Greta yang menggores luka di hatinya, luka yang tercipta karena kebohongan Raymond, yang telah menghamili Greta, bahkan mereka berdua telah berhubungan, sebelum hari pernikahannya dengan Raymond.


"Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah, semua demi anak-anakku."


Wajah Alice yang sayu, kini terlihat lebih tegar dari sebelumnya. Kehamilannya seakan memberi suntikan motivasi untuk Alice, agar bangkit dari keterpurukan yang kini dialaminya.


"Aku harus bisa lolos dari kedua pria itu sebelum kapal ini sampai di tujuan," ucap Alice penuh tekad.


Alice mengerutkan kening, ia mulai berpikir dengan keras.


"Tapi bagaimana caranya? Aku tidak bisa berenang, aku juga tidak membawa handphone, lantas bagaimana aku bisa meminta pertolongan?" batin Alice seolah putus asa dengan keadaannya saat ini.


Alice menghela napas dalam.


"Ya Tuhan, berikan aku jalan keluar dan pertolongan dari keadaan ini."


Tak lama terdengar suara langkah kaki mulai mendekat ke arahnya. Alice mendapat sebuah ide. Ia dengan cepat berpura-pura untuk terpejam, selayaknya seperti orang sedang tertidur.


Salah satu pria tersebut hanya mengintip lalu pergi kembali ke dek kapal. Alice sudah menyadari kepergian pria tersebut. Ia mulai bangkit dan dengan perlahan melangkah untuk mencari cara keluar dari kapal ini dan meminta pertolongan. Alice mengintip untuk melihat situasi terlebih dahulu, saat dirasakan aman, Alice dengan cepat keluar dari ruang penyekapan yang tidak terkunci.


Alice sudah berhasil keluar, tujuannya saat ini ia harus ke atas kapal untuk mencari pertolongan.


Dengan hati-hati Alice akhirnya tiba di atas kapal. Ia sangat takjub dengan kapal pesiar yang dinaikinya.



Kapal pesiar LY 650 adalah sebuah kapal yang dibangun berdasarkan Konsep Lexus Sport Yacht ini, pertama kali ditampilkan pada Januari 2017. Kapal pesiar LY 650 dirancang oleh studio desain kapal pesiar Italia, Nuvolari Lenard dengan masukan dari Lexus.


"Ini kan kapal pesiar keluaran Lexus Corporate yang terkenal itu, harganya saja mencapai 49 Miliar, darimana Greta mendapatkan uang sebanyak itu, sebenarnya siapa yang menyokong Greta, hingga dia bisa membayar beberapa orang, termasuk pembunuh bayaran yang semalam aku tabrak."


Alice terus berpikir, sambil terus mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan kapal lain di dekatnya, agar Alice dapat berteriak untuk meminta tolong, namun ia tak dapat menemukan keberadaan kapal lain, di dekat kapal pesiar yang terus melaju dengan kecepatan sedang.


Alice akhirnya beralih, menuju ruang kabin yang berada di dekatnya, ia mengintip keadaan di dalam ruangan tersebut dengan hati-hati.

__ADS_1



"Tidak ada orang di tempat ini."


Alice menggeser pintu kaca untuk dapat memasuki ruangan, ia melangkah dengan hati-hati dan mulai meneliti seisi ruangan yang tampak kosong, tak ada satupun orang di sana. Alice memang terpukau dengan interior kapal yang saat ini dilihatnya, belum lagi setiap inchi kemewahan yang tersuguh, melengkapi kesempurnaan pandangan matanya yang kini masih terkesima, menatap mewahnya ruang dalam pada kapal pesiar ini, tapi kepanikannya saat ini mengabaikan segala keterpukauannya.


Alice membuka sebuah nakas dengan perlahan, agar tidak menimbulkan suara sedikit pun. Tak sengaja ia menemukan sebuah handphone di dalamnya, entah milik siapa handphone itu, tapi Alice tersenyum bahagia melihatnya, karena saat ini ia seperti mempunyai sebuah harapan untuk dapat lolos dari kedua orang suruhan Greta tersebut. Saat setitik harapan mulai timbul, tiba-tiba suara langkah kaki mulai mendekat untuk masuk ke dalam ruangan.


"Ada yang datang..."


Alice dengan cepat mencari tempat untuk bersembunyi, ia mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan dan berpikir keras untuk mengambil keputusan yang tepat.


Aku harus bersembunyi dimana.


Suara langkah kaki kian dekat, hingga akhirnya pintu kaca ruangan mulai bergeser dan seorang pria mulai masuk.


Pria itu langsung duduk santai dengan mengangkat satu kakinya dan meletakkannya di paha kaki yang satunya lagi. Alice mendengus pelan, terlihat keningnya sudah mulai berkeringat, karena saat ini ia terus meringkuk di belakang dua kursi putih yang tertutupi oleh sebuah penyekat.



Alice sampai menahan napas berkali-kali dan menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara, yang dapat membuatnya diketahui oleh pria tersebut, karena saat ini Alice sudah benar-benar panik.


Pria tersebut terdengar sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel yang kini sudah di loud speaker suaranya.


"Semua berjalan lancar Tuan Zack, wanita itu kini sudah tertidur di ruang bawah tempat kami menahannya, jadi Anda tidak perlu cemas."


"Oke lakukan sesuai perintah, cukup buang wanita itu di pulau yang sudah kita tentukan, ingat jangan nodai wanita itu, biarkan dia hidup, karena nanti dia akan mati dengan perlahan di pulau itu!" titah Zack dari tempatnya berada saat ini.


"Berarti Zack yang menjadi penyokong Greta dalam melakukan semua ini, dia adalah CEO Weins Corporate, pantas saja kapal pesiar ini tampak sangat mewah." gumam Alice menemukan jawaban dari segala pertanyaan yang dipikirkannya.


Alice mulai mengutak-atik handphone yang saat ini sudah dipegangnya.


"Syukur handphone ini tidak di password, tapi aku tidak hafal nomor Elliot, aku hanya hafal nomor Tara, tapi apa dia bisa menolongku?" batin Alice bimbang.


Tapi Alice tetap mencoba mengirim sebuah pesan kepada Tara.


Semoga handphone ini ada pulsa untukku mengirim pesan kepada Tara.


Alice selesai mengirim pesan kepada Tara. Namun tiba-tiba suara report message, membuat seorang pria itu beranjak dan bangkit mendekati tempat persembunyian Alice.


Ya ampun kenapa bunyi segala.


Alice semakin panik, dahinya sudah begitu lembab dipenuhi oleh keringat. Kini Alice hanya pasrah, hingga pada akhirnya pria itu, menemukan keberadaannya dan menarik tangan Alice dengan kasar.


Alice mengaduh sakit.


"Au sakit, pelan-pelan bisa gak sih!"


"Kalau tidak mau saya kasar, jangan macam-macam, cepat serahkan handphone yang kamu bawa! Jika terus merepotkan saya, kamu akan saya buang ke laut!"

__ADS_1


Alice coba mengelak, walau ia sebenarnya sangat takut, berhadapan dengan pria yang saat ini ada dihadapannya, pria berbadan tegap dan berwajah menyeramkan dengan tato di kedua lengannya.


"Handphone apa? Periksa saja sendiri saya gak bawa apa-apa ke kapal ini, lihat dress yang saya pakai tidak ada sakunya, coba nih periksa," tutur Alice sambil memutar tubuhnya.


Pria itu mulai meneliti tubuh Alice, namun hasilnya nihil, ia tetap tak menemukan apapun.


"Jangan-jangan kamu sembunyikan di dalam pakaian kamu ya, coba sini saya rogoh," ucap pria itu sambil menjulurkan tangannya mulai mendekat ke arah dada Alice.


Alice dengan cepat menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, menjadikan kedua tangannya sebagai perlindungan terakhir untuknya.


"Stop! Jangan kurang ajar, ingat apa yang Tuan Zack katakan, jangan nodai aku," geram Alice mencari akal.


"Cih.." pria itu berdecih kesal.


"Lagipula kalau saya menodai kamu, Tuan Zack juga tidak akan tahu."


Pria itu kembali berusaha untuk membuka pertahanan terakhir Alice. Wajah Alice semakin panik, ia sangat terdesak saat ini.


Ayo Alice berpikir cepat.


"Berhenti!"


"Kapal pesiar ini pasti ada CCTV tersembunyi yang bisa memantau semua kegiatan di dalamnya, kapal pesiar ini kan mewah, harganya saja 49 Miliar."


Pria itu akhirnya mengurungkan niatnya, ia mulai mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan, untuk mencari CCTV yang tersembunyi.


Alice kini bisa bernapas dengan lega.


Hampir saja, untung otakku ini encer.


"Sudah, ayo jalan! Awas kalau macam-macam lagi saya buang kamu ke laut hidup-hidup."


Ancaman pria itu membuat Alice bergedik ngeri. Ia tak dapat berkata apa-apa lagi selain diam dan mengikuti langkah pria itu.


Pria itu membawa Alice dengan kasar, ia lalu membuka pintu ruang penyekapan dengan keras dan melempar tubuh Alice untuk masuk ke dalam ruangan. Sebelum pergi pria itu mengunci ruang penyekapan, agar Alice tidak dapat lagi mencoba untuk melarikan diri.


Alice kini tersenyum kecil sambil mengeluarkan handphone dari dalam bra yang dikenakannya.


Alice terkekeh pelan.


"Untung saja aku sering melihat tukang jamu langganan Siti, tukang jamu itu selalu menyimpan uang di dalam bra yang dipakainya."


Alice kembali melihat pada layar handphone yang dibawanya, sebuah pesan balasan dari Tara.


"Ada apa Kakak? Apa kamu baik-baik saja?" Katakan saat ini kamu dimana?"


🌸🌸🌸


Bersambung✍️

__ADS_1


Sehat selalu.


Terima kasih ya.


__ADS_2