
Selamat membaca!
Thomas menoleh menatap wajah seseorang yang saat ini sedang menodongkan pistol pada pelipisnya. Wajahnya tiba-tiba terkesiap saat mengenali seseorang yang saat ini dilihatnya adalah pengusaha terkenal yang kehidupannya sering masuk media-media masa di negaranya.
"Alexander Kemal Malik."
Alex mengangkat sedikit wajahnya sambil menggertakkan giginya begitu geram dengan sorot mata tajam menatap wajah Thomas. Tatapan mata yang meluluh lantahkan nyali Thomas.
"Kau adalah Thomas, Adik dari Zack yang baru-baru ini meninggal dunia," ketus Alex yang mengenali Thomas.
Dunia bisnis memang membuat hubungan antara satu pengusaha dengan pengusaha lainnya saling terkoneksi dan mengenal satu sama lain, terlebih mereka berada di satu negara yang sama.
Thomas hanya terdiam tak mampu menjawab pertanyaan Alex. Lidahnya menjadi kelu dengan bibir gemetar, ia teringat semua yang pernah dikatakan oleh Zack tentang kekejaman Alex dalam dunia bisnis.
"Sial, kenapa Alex membantu mereka? Sebenarnya apa hubungan Alex dengan keluarga Weil?" gumam Thomas bertanya dengan penasaran dalam hatinya.
Alex menarik kasar lengan Thomas, hingga kini mereka sudah berada di depan rumah.
"Cepat katakan pada mereka semua!" titah Alex dengan suara baritonnya.
Thomas merenungi kekalahannya sejenak. Ia merutuki kebodohan di dalam hatinya, karena terlalu lengah menyelesaikan misinya kali ini.
Maafkan aku Kakak, aku gagal membalaskan dendammu.
"Cepat buang senjata kalian!" titah Thomas kepada George dan kelima anak buah lainnya yang masih tersisa.
Keadaan di depan rumah sudah kembali kondusif, seluruh anak buah Alex berhasil melucuti persenjataan anak buah Thomas.
Sementara di dalam rumah. Alice yang masih terlihat ketakutan, kini mulai mencoba mengatur napasnya dengan perlahan. Ia teringat keadaan suaminya yang saat ini sedang tak sadarkan diri di kamarnya dengan posisi tertembak di bagian pahanya.
"Benjamin, aku mohon selamatkan suamiku dia ada di atas!" pinta Alice memohon sambil menitikkan air mata.
Benjamin yang melihatnya merasa iba dengan keadaaan Alice saat ini. Ia begitu kacau wajahnya sembab dengan bibir gemetar menahan rasa takutnya, namun Benjamin kagum dengan keteguhan Alice karena sampai saat ini Alice masih dapat bertahan, walau mendapat banyak tekanan.
Benjamin dan Arnold langsung menaiki anak tangga untuk melihat kondisi Raymond, seperti yang telah dikatakan oleh Alice. Setelah sampai di kamar, keduanya memeriksa keadaan Raymond yang benar saja sudah kelihatan lemah, karena darah yang begitu banyak keluar dari luka tembaknya.
"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit atau Tuan Raymond bisa mati karena kehabisan darah," tutur Benjamin yang langsung memapah tubuh Raymond dibantu oleh Arnold.
"Aneh aku tidak menemukan Tuan Richard di rumah ini, kemana beliau? Apa Tuan Richard terluka dan sudah diselamatkan terlebih dahulu?" gumam Benjamin bertanya dalam hatinya.
__ADS_1
πππ
2 Jam kemudian.
Alice terlihat sedang menunggu di depan ruang UGD bersama keempat anak buah Richard yang sudah mengganti pakaian mereka dengan pakaian biasa, agar tidak mengundang beragam pertanyaan dari orang yang melihatnya, terlebih ini di rumah sakit.
Alice masih terus menunggu dengan rasa cemas yang kini sudah membuatnya sangat gugup, wajahnya terlihat pucat dengan bibir yang masih sedikit gemetar.
Ya Tuhan, selamatkan suamiku, aku mohon.
Tak lama seorang Dokter keluar dari ruang UGD dan dengan cepat Alice langsung bangkit dari posisi duduknya untuk menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan suami saya Dokter? Apa suami saya baik-baik saja?" tanya Alice yang menatap wajah Dokter dengan kecemasan.
"Operasinya berjalan lancar dan kondisi suami Nona sudah berangsur membaik, saat ini beliau berhasil melewati masa kritisnya, namun karena kondisinya masih sangat lemah, beliau masih belum boleh dijenguk ya Nona! Lagipula proses transfusi darah masih berlangsung saat ini, ya untung saja beliau lekas mendapat penanganan di rumah sakit, karena jika terlambat sedikit saja mungkin nyawa suami Nona tidak bisa diselamatkan," tutur Dokter menjelaskan dengan detail.
Alice yang mendengarnya sudah dapat bernapas dengan lega. Napas yang tadinya seperti tercekik, kini sudah kembali normal.
Terima kasih Tuhan, KAU telah mengabulkan doaku.
Alice kembali duduk di kursi panjang di depan ruang UGD, melihat kondisi Alice yang juga tampak begitu kacau, Benjamin langsung berinisiatif untuk membawa Alice menuju ruang perawatan.
Alice sependapat dengan perkataan Benjamin, ia pun menurutinya dan duduk di kursi roda yang sudah diambil oleh Colin.
"Kalian berjagalah di sini, awasi setiap pengunjung yang datang, jangan pikir rumah sakit ini aman, kita harus tetap waspada!" titah Benjamin yang disambut dengan anggukan oleh ketiga rekannya yang lain.
Benjamin mulai mendorong kursi roda yang sudah di duduki oleh Alice menuju ruang rawat.
Kasihan Nona Alice padahal dia sedang mengandung.
πππ
Setelah Alice mendapat penanganan dari beberapa team medis. Benjamin meninggalkannya untuk melaporkan segala sesuatunya kepada Alex, ia mengambil ponsel dari saku celananya, lalu mulai menghubungi Alex.
"Halo Tuan Alex."
"Bagaimana keadaan Raymond, Ben?"
"Kondisinya semakin baik Tuan, sekarang Nona Alice juga sedang berada dalam penanganan team medis."
__ADS_1
"Bagus, berarti urusanku di London sudah selesai, aku harus segera kembali ke Negaraku, aku tidak bisa jika terlalu berpisah dengan istriku, kau tahu Ben, saat ini Rianti sedang mengandung."
"Baik Tuan, saya mengerti, saya mewakili Nona Alice, mengucapkan terima kasih atas bantuan Anda, sudah mau repot-repot datang membantu."
Alex terkekeh.
"Kebetulan saja Ben, aku sedang berada di London sewaktu Raymond mengirimkan pesan padaku, jika tidak waktunya tidak akan cukup, walau aku menggunakan jet pribadi sekalipun."
Benjamin tersenyum kecil menanggapi perkataan Alex.
"Sampaikan salamku pada Rud, Tuan Alex."
"Baik, nanti akan aku sampaikan, aku juga titip pesan untuk si bodoh Raymond, katakan padanya berhentilah ditipu oleh wanita jal*ang itu, jadilah Ayah yang baik untuk kedua anaknya, jika tidak aku akan menembak kepalanya dengan Desert Eagle."
"Siap Tuan, aku akan sampaikan ketika Tuan Raymond sudah sadar."
"Oke Ben, jika kau bosan bekerja dengan Richard, datanglah kepadaku, aku dengan senang hati akan menerimamu."
"Kita lihat nanti saja ya Tuan."
Alex kembali terkekeh.
"Kau memang keras kepala, Ben."
Alex langsung mematikan sambungan teleponnya. Sementara Benjamin hanya tersenyum kecil mendengar kata terakhir yang Alex ucapkan.
"Aku tidak mungkin ke Negara Anda, Tuan, di sana terdapat masa lalu yang tak mungkin bisa aku lupakan, jika aku kembali ke sana, aku takut mengganggu kehidupannya."
Wajah Benjamin sesaat menjadi sendu, karena di dalam pikirannya saat ini, kenangan masa lalunya hadir kembali, setelah sekian lama berhasil ia lupakan.
πππ
BersambungβοΈ
Ikuti terus ya kisah Alice dan Raymond berikutnya ya. Nantinya kisah masa lalu Benjamin akan ada novel sendirinya.
Terima kasih atas dukungan kalian ya.
Jangan lupa like dan vote agar aku lebih semangat dalam berkarya.
__ADS_1
Silahkan berkomentar!