
Selamat membaca!
Alice sangat cemas di dalam mobil. Ia duduk sangat tak nyaman memikirkan Raymond, yang saat ini tak kunjung kembali.
"Albert, aku sudah tidak bisa menunggu lagi, aku akan menyusulnya," ucap Alice sambil beranjak keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.
Albert mendesah kasar. Ia berusaha keluar untuk menghalangi Alice, namun sabuk pengaman yang macet untuk dilepas, membuatnya tak berdaya dan hanya mampu memandang kepergian Alice.
"Shit, dasar mobil murah," ucap Albert sambil memukul kemudinya dan masih menatap Alice dengan cemas.
Alice mulai memasuki lobi kantor, namun di saat langkahnya semakin cepat, ia melihat Raymond sedang dituntun dengan kondisi tangan terborgol oleh beberapa orang polisi, ia teringat dengan apa yang dilihatnya saat di dalam mobil, ada beberapa polisi yang berdatangan dengan terburu-buru.
Itu sweetu, apa yang sebenarnya terjadi dengannya.
Alice berlari mendekati Raymond, wajahnya bukan hanya cemas, namun kini sudah diterpa oleh air mata yang terus menghujam membasahi pipinya. Alice menangis tersedu, karena raganya tak berhasil menghampiri Raymond, yang terus dibawa oleh beberapa petugas polisi menuju pintu keluar MANGO Corporate.
"Maaf Nona, saat ini Nona tidak bisa menemui tersangka, lebih baik temui nanti di kantor polisi, tolong Nona jangan menghalangi jalan kami," tutur petugas polisi dengan ramah, yang terus menghalangi langkah Alice mendekati Raymond.
Alice berlari ke arah pintu keluar, ia menghadang langkah petugas polisi, hingga membuatnya kembali harus dijauhkan dari Raymond.
Hal ini membuat Raymond yang melihatnya semakin hancur, karena air mata yang begitu deras mengalir dari mata indah istrinya.
Maafkan aku sweety aku dijebak.
Alice terus dijauhkan oleh dua petugas polisi, namun karena dirinya terus berontak, kedua petugas itu sampai membuat Alice terjatuh. Alice terduduk di dasar lantai, matanya terus menatap ke arah Raymond yang semakin lama semakin menjauhinya.
"Sweety jaga dirimu baik-baik sampai aku keluar dari tahanan," teriak Raymond agar Alice mendengar perkataannya.
Alice hanya mengangguk. Ia masih menatap Raymond dengan air mata, yang terus berlinang di kedua pipinya.
Apa yang harus aku perbuat?
Alice mulai bangkit sambil menyeka air matanya, ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan, untuk membuyarkan kesedihan yang melemahkannya.
Aku harus kuat untuk suamiku, aku tidak boleh lemah.
Tanpa Alice sadari ada sepasang mata yang memandangnya dari kejauhan, seorang wanita yang terakhir dilihatnya membawa luka yang teramat dalam untuk Alice.
Wanita itu bukannya, Brisca.
Alice kembali menegaskan pandangannya, ia menghampiri Brisca mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi selama dirinya pergi bulan madu dengan Raymond.
Brisca menarik tangan Alice dengan cepat, ia tak mau pantauan CCTV menangkap adegannya sedang berbicara dengan Alice, karena Brisca masihlah pekerja dibawah pimpinan Will saat ini.
Brisca memulai percakapannya dengan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi saat di ruang pribadi Raymond.
"Berarti apa yang sweetu jelaskan tentang jebakan Greta di pesannya itu benar," gumam Alice teringat pesan yang dikirim oleh Raymond padanya, yang menjadi alasannya untuk membatalkan niatnya pergi ke Australia.
"Saat ini semua orang di London sangat membenci apapun yang berhubungan dengan keluarga Weil," tutur Brisca masih mengamati keadaan agar tak ada yang melihatnya berbicara dengan Alice.
__ADS_1
"Iya aku tahu tentang itu Brisca, aku dapat melihat reaksi orang-orang di bandara saat melihatku dengan sweetu, ups maksudku Raymond," ujar Alice memperbaiki panggilan Raymond dengan menutup mulutnya.
"Tuan Raymond romantis sekali dengan Nona Alice, andai aku yang berada di posisi Nona Alice, pasti aku bahagia," gumam Brisca tersirat sebuah ide.
Di saat Brisca hanya termenung dengan pikirannya, Alice pergi begitu saja saat melihat Greta melintas di lorong koridor kantor di sebrang matanya.
Alice menghampirinya, ia berlari untuk menghampiri Greta, di saat Alice berhasil menghadang langkah Greta, ia dengan keras mencengkram lengan Greta dengan erat.
"Wanita ja*lang, kamu belum tahu siapa aku!" ketus Alice dengan wajah yang mengeras.
Greta mengaduh sakit, wajahnya meringis perih merasakan cengkraman Alice. Emosi Greta merayap naik, ia ikut tersulut amarahnya sampai melepas cengkraman tangan Alice dengan kasar, lalu mendorongnya, Alice mundur beberapa langkah, namun amarahnya masih menggebu terdorong oleh ingatan pengkhianatan Raymond bersama Greta, membuatnya kembali melangkah maju untuk mendorong tubuh Greta dengan sekuat tenaganya, sampai membuat tubuh Greta terjatuh hingga kepalanya terbentur kerasnya dasar lantai.
"Kamu belum puas hampir menghancurkan pernikahanku," bentak Alice dengan gurat amarah di wajahnya.
Greta masih terjerambab di dasar lantai, namun ia tampak santai menanggapi amarah Alice yang saat ini memuncak. Greta menyeringai licik, merayakan kemenangannya.
"Kekuasaan yang kamu milik sudah hilang, suami yang kamu punya juga tidak sempurna lagi, bahkan sekarang harus ditahan masuk penjara, kamu tahu Alice, hidupmu itu sungguh menderita."
Alice tersentak mendengar perkataan Greta, namun saat perselisihan mereka masih belum berakhir, tiba-tiba Will hadir menengahi pertikaian dua wanita yang sedang diburu oleh nafsu amarahnya.
Will tersenyum kagum menatap keberanian Alice. Ia kini tepat berdiri dihadapan Alice.
"Nona Raymond Weil, apa kamu bangga dengan sebutan itu?" tutur Will seolah meledek Alice.
Alice bersikekeh mantapkan hatinya, menguatkan batinnya, mendengar segala ucapan Will.
"Aku bangga dengan apa yang aku pilih, jika kalian tidak licik dan menjebak suamiku, pasti dia tidak akan terlihat baj*ngan seperti itu," tegas Alice berusaha mati-matian membela Raymond.
prak
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Will, membuat wajahnya berpaling dari tatapan mata Alice.
"Wanita ini berani sekali menamparku," gumam Will sambil mengusap pipinya yang terasa panas.
"Jaga sikapmu Tuan, pada wanita yang sudah bersuami!" kecam Alice dengan menautkan kedua alisnya.
Alice beringsut menjauhi tubuh Will yang sangat dekat dengannya, kini Alice menjaga jarak untuk melindungi seluruh tubuhnya, agar tidak dapat dijamah oleh Will.
"Jika kamu melangkah sekali lagi dan berusaha mendekatiku, aku tidak akan segan menamparmu lagi."
Ancaman Alice membuat Will tercekat, namun ia melihat ada CCTV di atas lorong tempat mereka berada.
"Wanita ini pintar sekali, dia melangkah mundur melewati pilar di sebelah kanannya supaya masuk dalam pantauan CCTV, untuk melindunginya agar aku tidak dapat berbuat kasar padanya," gumam Will memerhatikan langit-langit, melihat CCTV.
"Aku ingin melakukan penawaran denganmu," ucap Will sambil menunjukkan sebuah kertas dengan bolpoin di tangan yang berbeda.
Alice mendengus pelan. Ia mencium hal yang tidak menyenangkan, tentang kesepakatan yang akan ditawarkan oleh Will.
"Tanda tangani surat pengalihan kekuasaan ini, aku tahu 50% saham perusahaan MANGO Corporate ada di tanganmu, jika kamu menandatanganinya, aku akan membebaskan Raymond, tapi sebagai syarat kedua kalian harus meninggalkan Kota London, bahkan kalau perlu pergi dari Inggris untuk selamanya," tutur Will tersenyum licik menatap tajam wajah Alice yang terlihat bingung untuk memilih.
__ADS_1
Alice berulang kali menghela nafasnya. Wajahnya mulai terlihat fokus untuk berpikir dan menimang-nimang keputusan apa yang akan diambilnya.
"Maafkan aku sweetu, tapi aku harus membebaskanmu, harta dan kekuasaan itu masih dapat kita cari bersama, tapi kebebasan adalah sesuatu yang mustahil untuk aku usahakan," gumam Alice sudah menentukan keputusan yang diambilnya.
Alice mulai melangkah menghampiri Will, untuk menerima kesepakatan yang akan ditandatanganinya.
Will memberikan surat perjanjian kepada Alice, sambil menahan nafasnya sesaat, ia mulai menandatangani surat perjanjian itu.
Maafkan aku Tuan Nicholas.
Alice menyeka air mata yang lolos dari sudut matanya.
"Aku sudah selesai melakukan semua keinginanmu,"
Will terkekeh mengetahui dengan mudah Alice terperdaya dengan segala ucapannya.
"Bodoh sekali kamu Nona Alice, dengan mudah kamu menandatangani surat perjanjian ini tanpa mengetahui, aku akan benar-benar membebaskan suamimu dan menarik gugatanku atau tidak."
Alice dengan santai menanggapi ucapan Will.
"Jika kamu seorang pria sejati, kamu tidak akan berbohong, ingat segala apa yang kamu ucapkan sudah terekam pada CCTV di sisi belakangmu, selain itu jika kamu melanggar apa yang kamu ucapkan, lebih baik gantilah celanamu dengan rok panjang, jiwa pecundangmu tidak pantas bernaung di dalam tubuh kekarmu itu," tegas Alice dengan wajah penuh keyakinan.
Will lagi-lagi berdecak kagum dengan semua yang dikatakan oleh Alice. Wajahnya menyiratkan sebuah perasaan yang tidak dapat diabaikannya, ada rasa yang berbeda ketika dirinya menatap wajah Alice dan melihat ketegasan dari sikapnya.
Will tersenyum kecil. Ia membalikkan tubuhnya, melangkah pergi kembali ke ruangannya bersama Greta yang mengekor di belakangnya, namun tatapan mata Greta sebelum pergi menyiratkan sebuah dendam yang tertuju pada Alice.
"Tuan, bagaimana janjimu?" teriak Alice masih pada posisinya.
"Datang dan jemputlah suamimu ke kantor polisi, aku akan membebaskannya sesuai kesepakatan kita, jangan lupa tinggalkan London atau kamu dan Raymond akan menyesalinya," tutur Will dengan suara lantangnya tanpa membalikkan tubuh dan terus melangkah meninggalkan Alice.
Alice tersenyum penuh rasa syukur, ia bahagia dengan apa yang didengarnya, Alice kemudian langsung berlari menuju keluar gedung untuk memberitahu Albert.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Ikuti terus kisah Alice dan Raymond selanjutnya ya, perjalanan rumah tangga mereka akan dimulai dengan babak baru.
Apakah mereka bisa melanjutkan hidup tanpa harta dan kekuasaan?
Sehat selalu ya.
Jangan lupa vote, like dan komentarnya ya.
Jika berkenan gabung juga ya ke GC aku. Terima kasih.
Sambil nunggu aku up, bisa singgah ke karya adminku ya. 😍
Cinta Untuk Nada - Risfauzi
__ADS_1