Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Romantis Kembali


__ADS_3

Ikuti terus TMCA menjelang ending season 1.


Selamat membaca!


Alice sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke rumah sakit. Sore ini Raymond sudah bisa pulang, karena memang ia meminta kepada Dokter pribadinya untuk dirawat di rumah, agar bisa selalu dekat dengan Alice, terutama bisa mengawasinya dari Richard.


Albert dengan setia menemani Alice dari kursi kemudinya, sedangkan Risfa harus menahan rasa kesalnya karena Alice memerintahkannya untuk menjaga Greta. Pekerjaan yang sebenarnya sangat malas untuk dilakukannya, dalam pikiran Risfa, ia lebih baik menemani Tong Sam Chong ke barat untuk mengambil kitab suci daripada harus melayani wanita iblis seperti Greta. Film favoritnya yang sering Risfa tonton sewaktu kuliah dulu.


Selama di perjalanan Alice hanya diam, sambil memandangi lalu lintas yang terlihat renggang. Pikiran Alice saat ini masih kalut, setelah mendengar semua rencana yang Elliot katakan padanya.


"Apa benar yang Kakak katakan, bahwa tabrakan itu adalah rencana Greta, bahkan kondisinya saat ini tidaklah lumpuh?" gumam Alice berpikir dengan keras.


"Apa sebaiknya aku tanyakan lagi pada Dokter itu," imbuh Alice dalam hatinya.


Mobil mewah yang dikendarai Albert sudah memasuki lobi rumah sakit, seperti biasanya Albert dengan cepat turun dan membukakan pintu mobil untuk Alice.


"Silahkan Nona," ucap Albert dengan setengah membungkuk tanda ia hormat kepada Alice.


Alice menatap Albert dan memberi sebuah kode lewat tatapan matanya, agar Albert tidak perlu sungkan dan terlalu berlebihan padanya. Albert yang sudah tahu kebiasaan Alice, hanya menanggapinya dengan senyum ramahnya.


"Sudah kebiasaan saya Nona Alice."


Alice tersenyum sambil terus melangkah melewati Albert. Ia masuk ke dalam rumah sakit untuk menuju ruangan tempat Raymond berada.


Alice kini sudah berada di depan lift. Namun saat Alice ingin memasuki lift, tiba-tiba dari kejauhan Alice melihat Richard sedang bersama seorang Dokter. Alice mempertegas tatapannya, ia melihat dengan seksama ke arah Richard dan Dokter itu, yang sedang berjalan sejajar, semakin menjauhinya.


"Dokter itu bukannya Dokter yang tadi siang menangani Greta ya, dan dia juga yang mendiagnosa kalau Greta lumpuh."


Alice mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift, dengan sembunyi-sembunyi ia mulai mengikuti Richard dan Dokter itu. Alice terus mengikuti kemana langkah keduanya berjalan, sampai di sebuah tikungan lorong rumah sakit, Richard yang merasa diikuti menoleh ke arah Alice. Alice yang menyadari pergerakan Richard, dengan cepat bersembunyi dengan masuk ke sembarang ruangan, yang ia sendiri tidak tahu itu ruangan apa.


Alice menghela napasnya kasar.


Hampir saja aku ketahuan, sebenarnya ada urusan apa Tuan Richard bersama Dokter itu.


Alice mengernyitkan dahinya, ia berpikir dengan keras untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang terbesit dalam pikirannya. Setelah merasa cukup lama bersembunyi, Alice kembali mengamati keadaan sekitar dengan mengintip ke arah Richard.


"Sudah aman," ucap Alice lega.


Alice melanjutkan tujuannya untuk mengikuti Richard. Ia mempercepat langkahnya untuk mengejar ketertinggalannya dari Richard.


Namun saat Alice sudah berbelok ke arah yang sama dengan arah Richard, pandangannya tak berhasil melihat keberadaan Richard dan Dokter itu.


"Aku kehilangan jejak, tapi apa sebaiknya aku tanyakan langsung kepada Tuan Richard?"


Alice memutar balik tubuhnya, ia kembali menuju ke arah lift untuk menuju ruangan tempat Raymond dirawat. Selama di dalam lift Alice terus berpikir tentang apa yang sudah dilihatnya, ia bahkan sampai menghubungkan dengan semua perkataan yang Elliot katakan padanya.


"Apa jangan-jangan dugaan Kakak benar?" lirih Alice mulai curiga.


Alice langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya, ia mulai menekan beberapa angka pada ponselnya lalu menghubungi Elliot.


"Halo Kakak."

__ADS_1


"Ada apa Alice?" jawab Elliot bertanya.


Alice menceritakan semua yang dilihatnya kepada Elliot, sampai akhirnya pintu lift terbuka. Ia melangkah keluar dari lift dan bergegas menuju ruangan Raymond, sambil tetap melanjutkan perbincangan dengan Elliot di ponselnya.


"Tolong berikan ponselmu kepada Tuan Raymond, aku ingin bicara dengannya!" titah Elliot yang semakin serius, terdengar dari suaranya.


Alice membuka pintu ruangan untuk masuk, di dalam ruangan Raymond yang memang sedang menunggunya, menyambut kedatangan Alice dengan senyum di wajahnya. Alice kemudian mendekati Raymond, ia memberikan sebuah pelukan rindu kepada suaminya yang juga mengharapkan pelukan darinya.


"Aku merindukanmu sweety."


"Aku juga sweetu."


Alice melepas pelukannya, lalu ia tersadar, jika ponselnya masih terhubung dengan Elliot. Alice kembali meletakkan ponsel ke telinganya, untuk berbicara dengan Elliot.


"Halo Kak."


"Iya, apa kalian sudah selesai kangen-kangenannya?" tanya Elliot dengan maksud menyindir.


"Maaf Kak, aku lupa, ini aku berikan pada suamiku ya."


Alice tersipu malu, wajahnya langsung memerah, karena merasa tidak enak terhadap Elliot. Alice langsung memberikan ponselnya kepada Raymond, setelah itu ia menuju sebuah nakas yang di atasnya sudah tersaji beberapa buah-buahan segar. Alice mengambil beberapa buah apel untuk dikupasnya. Alice tahu betul Raymond sangat menyukai buah-buahan.


Raymond terlihat sudah menajamkan tatapannya, kedua alisnya bertaut seolah ingin memulai sebuah obrolan yang serius.


"Ya ada apa Elliot?"


Elliot langsung menceritakan semua analisanya. Raymond yang mendengarkan dengan serius, mulai terpancing amarahnya, membuat rahang pada wajahnya mengeras.


"Terus selidiki Elliot, untuk sementara aku tunda kepulanganku sampai aku tahu dengan pasti, apa rencana yang saat ini Greta rencanakan?" tutur Raymond memberi perintah pada Elliot lalu menutup panggilan teleponnya.


Alice sudah kembali mendekati Raymond dengan membawa sebuah piring yang berisi beberapa potong apel yang sudah dikupasnya untuk Raymond.


Seketika amarah di wajah Raymond sirna, saat Alice duduk di tepi ranjang dan langsung menyuapinya.


"Makasih sweety," ucap Raymond sambil mengunyah apel yang sudah berada di dalam mulutnya.


"Sudah kewajibanku sweetu," jawab Alice mengulas senyum di wajahnya.


"Oh ya sweety, aku tidak jadi pulang sore ini dan untuk sementara kamu juga jangan pulang dulu ya, menginap saja di rumah sakit sampai Elliot mengetahui apa yang direncanakan oleh Greta."


Alice sebenarnya ingin menolaknya, namun ia tak mau momen yang saat ini sudah kembali harmonis harus dirusak oleh sebuah perdebatan, lagipula tidak masalah untuk Alice tidak tidur di rumah, ia sudah memerintahkan Risfa untuk menjaga Greta.


"Baik, apapun perintahmu aku menurut saja. Aku rasa baby twins kita juga tidak mau jauh dari Daddynya."


Raymond langsung mengelus lembut perut Alice, memberi sentuhan yang membuat baby twins di dalam kandungan Alice, menyambutnya dengan sebuah gerakan.


Saat ini usia kandungan Alice sudah jalan 5 bulan. Walau belum genap 5 bulan, namun karena Alice sedang mengandung bayi kembar, perutnya sudah terlihat lumayan besar.


"Anak Daddy, tahu aja ini tangan Daddynya, gerakannya jadi tambah kenceng, kalian yang akur ya di dalam perut Mommy."


"Iya nih kalian pintar ya sudah bisa tahu kalau ini tangan Daddynya. Eh sweetu, mereka pindah ke sebelah sini, coba deh rasain," tutur Alice sambil menggenggam tangan Raymond dan mengarahkan ke sisi yang lain di perutnya.

__ADS_1


Raymond menatap lekat wajah Alice. Tatapan matanya seperti sangat merindukan suasana harmonis yang saat ini sedang terjadi.


"Aku sangat merindukan saat-saat seperti ini sweety."


Alice tanpa malu-malu mencium bibir Raymond. Sebuah kecupan yang langsung membuat birahi Raymond sedikit merambat naik. Keduanya kini saling menautkan pandangannya.


"Kamu sangat cantik, sweety."


Wajah Alice kini bersemu merah, kedua pipinya merona mendapat pujian dari suaminya. Pujian yang sudah lama tak didengarnya dalam beberapa waktu belakangan ini.


Tanpa aba-aba di saat Alice masih tersipu malu, Raymond langsung menghadiahi Alice sebuah ciuman tepat pada bibir Alice yang merah merekah. Keduanya kini saling memagut mesra, kerinduan yang telah mereka pendam begitu lama di dalam hati masing-masing.


Nafsu Raymond semakin menderu, ia terus memberi ciuman sambil melum*t dan meng*lum bibir Alice yang semakin kehabisan oksigen untuknya bernapas. Sejenak Raymond menjeda ciumannya, untuk memberi waktu pada Alice untuk kembali bernapas. Namun seakan tak puas dengan apa yang mereka sudah lewati dalam 20 menit ini, Raymond menjamah bagian tubuh lain dari istrinya itu. Ia menurunkan sedikit pakaian Alice hingga membuatnya mampu meraih sepasang d*da sint*l milik Alice yang terlihat begitu menggiurkan untuk Raymond lewatkan saat itu. Raymond sudah mengul*m bagian yang terasa sangat sensitif untuk Alice, membuat Alice beberapa kali terdengar desahannya, bahkan untuk mengendalikannya Alice sampai menggigit bibir bagian bawahnya.


Alice mulai terbawa suasana dari setiap permainan Raymond, saat Raymond mulai menidurkannya di atas ranjang rumah sakit, tiba-tiba pintu ruangan terketuk. Alice yang panik langsung turun dari ranjang dan merapikan pakaiannya yang sudah terlihat kusut. Sementara Raymond sudah kembali merapikan selimutnya dan tertidur di atas ranjang, wajah keduanya sama-sama memerah, karena memendam sebuah hasrat yang belum tuntas untuk dilampiaskan.


"Ya masuk," ucap Raymond memberi izin.


Pintu terbuka lebar. Seorang Dokter dan suster masuk ke dalam ruangan.


"Nona Alice, saya izin untuk melakukan pemeriksaan terhadap Tuan Raymond ya."


"Iya silahkan Dokter," tutur Alice sambil menjauh dari ranjang untuk menutupi wajahnya yang kini sudah terlihat seperti kepiting rebus.


Sedangkan Raymond dengan cerdik, langsung memejamkan matanya dan pura-pura terbangun, saat suster mulai memasang tensi di lengannya.


"Dasar pengganggu, sepertinya aku tidak bisa berada di rumah sakit ini terlalu lama, gara-gara Greta aku jadi menunda kepulanganku," gumam Raymond geram terhadap Greta.


Raymond mengernyitkan dahinya, ia berpikir dengan keras agar Raymond jr, bisa terpuaskan malam ini.


"Oh ya Dokter, saya jadi untuk pulang sore ini, bolehkan Dokter?" tutur Raymond terbesit sebuah ide dipikirannya.


"Silahkan Tuan, tapi tolong untuk sementara jangan melakukan hal yang berat-berat dulu ya, saran saya jika pun ingin berhubungan suami-istri lebih baik dengan posisi women on top."


Raymond hanya terdiam menahan rasa malunya, karena seolah Dokter sudah tahu apa yang saat ini dirasakan olehnya.


"Sial, apa wajahku dan Alice sangat terlihat seperti habis bercinta ya? Kenapa Dokter itu seperti tahu, apa yang ada dipikiranku saat ini?"


Sementara Alice dari tempatnya hanya tersenyum sambil menahan gelak tawanya rapat-rapat, saat mendengar semua perkataan Dokter tentang posisi yang sebaiknya mereka lakukan, jika ingin berhubungan suami istri.


Women on top, baiklah sweetu.


Alice menatap wajah Raymond dan menaikkan kedua alisnya.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Ikuti terus kisah Alice ya. Berikan dukungan kalian terus, jangan bosan ya.


Like dan komentar kalian sangat motivasi aku untuk terus berkarya.

__ADS_1


__ADS_2