
Selamat membaca!
Malam hari sudah tiba, Raymond dan Alice sudah berada di kamar yang ditunjukkan oleh Kelly untuk tempatnya bermalam.
Apartemen Richard memang luas, terdiri dari 4 kamar yang semua tampak mewah.
"Albert, kamu bisa tidur di sini."
"Terima kasih, Nona Kelly, kamar ini sebenarnya terlalu berlebihan untukku, tapi jika hanya ini, ya baiklah, ini pengalaman hebat pastinya untukku," ujar Albert tersenyum yang terpukau dengan kondisi kamar yang sangat mewah.
"Tak apa Albert, selamat beristirahat ya."
Kelly meninggalkan Albert yang masih terpukau dengan kamarnya.
"Aku lihat kondisi Elliot dulu sebelum aku tidur, setelah melepas infusnya, bagaimana keadaannya?"
Langkah Kelly tertuju pada kamar Elliot, sesampainya di depan kamar, ia membuka pintu kamar dengan perlahan.
"Ternyata dia sudah tidur."
Kelly hendak menutup pintu kembali, namun sesaat sebelum pintu tertutup rapat, Elliot membalikkan tubuhnya dan memanggil nama Kelly.
Kelly mendengar panggilan Elliot, langsung masuk untuk menghampirinya.
"Iya Elliot, ada apa? Aku pikir kamu sudah tidur?"
"Aku tidak bisa tidur, bayanganku saat tenggelam selalu hadir, ketika mataku terpejam," kata Elliot sambil mengernyitkan dahinya.
Kelly simpatik mendengarnya. Ia duduk di tepi ranjang menyentuh pipi Elliot dengan lembut dan membungkukkan tubuhnya lalu memberi kecupan pada bibir Elliot.
"Sekarang bagaimana? Apa hal yang menakutkan masih terbayang di matamu?"
Elliot terkesiap dengan ciuman yang Kelly labuhkan pada bibirnya.
Saat Kelly bangun dari ranjang, tiba-tiba Elliot menahan tangannya dan menarik tubuhnya hingga terjatuh di atas tubuh Elliot. Kini posisi mereka saling berhadapan, Kelly bertumpu di tubuh Elliot.
Pandangan mereka saling beradu, hingga Kelly dapat melihatnya dirinya dalam bola mata Elliot. Tanpa aba-aba Elliot langsung membalas kecupan Kelly yang tadi belum sempat ia balas.
Cup... Cup... Cup.
Elliot membalasnya hingga dua kali lebih banyak. Tubuh Kelly membeku, mendapatkan perlakuan yang begitu hangat dari Elliot.
Aduh, kenapa jantungku berisik sekali sih, pasti Elliot bisa mendengarnya dengan jelas.
"Kenapa kamu diam saja? Apa tidak ingin membalas ciumanku?" tanya Elliot dengan berbisik di telinga Kelly, hingga membuat wanita yang berada di atas tubuhnya menegang.
"Seperti ini?" tanya Kelly sambil mendekatkan bibirnya dan mengecupnya bibir Elliot kembali.
"Apa kau tidak tahu bagaimana caranya berciuman?" tanya Elliot dengan menaikan kedua alisnya yang bertaut.
"Seperti ini juga berciuman, kan!" Kelly mengedikkan bahunya, mengira hal yang ia lakukan itu adalah sebuah ciuman.
Lagi dan lagi Kelly kembali mengecup bibir Elliot tanpa ******n.
Elliot berdesah pelan.
"Aku akan mengajarkanmu cara berciuman yang benar."
__ADS_1
Elliot menangkup kedua sisi pipi Kelly dan hidung mereka pun saling beradu. Elliot memiringkan wajah Kelly dan mulai melum*t bibirnya dengan gerakan yang begitu lembut.
Satu menit... Dua menit... Tiga menit...
Elliot melepaskan tautan bibir mereka dan memberikan ruang untuk Kelly mengambil napas, menghirup oksigen untuk mengisi paru-parunya, yang hampir kehabisan oksigen, karena Kelly menahan napasnya saat berciuman.
"Kamu tidak pernah berciuman seperti tadi?" tanya Elliot sembari tersenyum manis.
Kelly menggeleng dengan polos, memang sebelumnya ia tidak pernah berciuman dengan seorang laki-laki dan Elliot adalah ciuman pertamanya.
Tidak ada penolakan dari dalam diri Kelly, karena jauh di dalam hatinya, ia sudah menyukai Elliot, saat pertemuan pertama mereka.
"Kelly, aku mencintaimu."
Elliot menatap wajah Kelly dengan penuh cinta, tatapannya terbalas dengan senyum di wajah Kelly yang merekah mendengar ucapan Elliot. Keduanya seakan tenggelam dalam romansa cinta, yang bergejolak di hati mereka masing-masing. Tak mampu dibendung dan tak dapat terabaikan, bahwa keduanya saling mencinta, namun Kelly malu untuk menjawabnya langsung.
"Kell, apa kau merasakan hal yang sama?"
Kelly mengangguk perlahan dengan senyuman tipis yang hampir tidak terlihat oleh Elliot.
"Katakan, jangan hanya mengangguk," pinta Elliot sungguh-sungguh.
Kelly semakin tersipu malu, kedua pipinya sudah merona merah.
"Iya Elliot, aku sudah jatuh cinta padamu."
Elliot tersenyum puas mendengar jawaban dari mulut Kelly. Hatinya menjadi lega karena cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Kelly membuncah bahagia, tanpa malu ia kini langsung mencium Elliot, berkali-kali hingga Kelly mulai terbiasa untuk melum*at dan mengulum, mengikuti permainan Elliot.
"Wanita pintar, kamu cepat belajar ya," ucap Elliot mengulas senyum di wajahnya.
Malam yang panjang untuk keduanya, sekaligus awal mula hubungan cinta mereka yang baru saja di mulai sejak malam ini.
πππ
Raymond dan Alice terlihat telah selesai memadu kasih, tanpa sehelai pakaian di tubuh mereka yang lembab oleh keringat.
"Terima kasih ya sweety, aku beruntung memilikimu."
Alice tersenyum manis mendengar pujian Raymond. Ia semakin menyandarkan tubuhnya dalam dekapan Raymond yang memeluknya dengan erat dari belakang, menyandarkan kepalanya di pundak Alice.
"Aku sudah mendengar semua dari Elliot."
"Tentang apa?" tanya Alice dengan menautkan kedua alisnya.
"Tentang tanda tanganmu itu, aku bangga padamu, kamu bisa dengan mudah menipu si bodoh itu."
Alice terhenyak mendengarnya. Ia tak menyangka Elliot memberitahukan hal itu kepada Raymond, lagipula memang itu bukan kesalahan Elliot karena Alice tidak meminta untuk merahasiakan.
"Maafkan aku sweetu, aku tidak bermaksud menyembunyikan darimu, hanya saja aku ingin sementara kita menjauh dan membiarkan Will menguasai MANGO Corporate, selama kondisi di London belum mereda," tutur Alice mendengus pelan.
Raymond tersenyum sambil mengusap pucuk rambut Alice.
"Aku paham maksud kamu, selama kasus pembunuhan yang melibatkan Daddy, belum terbukti kebenarannya, keadaan masih tidak aman untuk kita berada di London."
Alice mengecup bibir Raymond lembut.
"Terima kasih sweetu, kamu sudah mengerti keinginanku."
__ADS_1
Keduanya beberapa menit kembali memagut mesra.
Semoga Alice segera hamil.
Raymond kembali memadu kasih bersama Alice. Tubuh Istrinya bagaikan candu, ketika sedang berduaan di dalam kamar.
Walau Alice lelah melayani nafsu Raymond yang tidak ada habisnya dan selalu meminta untuk dipuaskan, ia tetap tidak menolak keinginan suaminya.
Malam-malam yang Alice lewati bersama Raymond begitu panjang dan tak berkesudahan, Raymond selalu membuatnya meng*rang dan mend*sah di atas ranjang.
"Sweetu, aku lelah," ucap Alice mengeluh karena memang mereka sudah berjam-jam bercinta.
Raymond tersenyum melihat wajah Alice yang kelelahan setelah melayaninya. Ibu jarinya mendarat di atas pipi Alice yang merona merah.
"Kita bersihkan diri dulu ya, setelah itu kita tidur."
"Aku tidak kuat bangun sweetu, mataku berat minta dipejamkan."
"Kamu duduk saja, biar aku yang membersihkan tubuhmu."
"Tidak mau! Dingin sweetu."
Alice terus menolak dengan mata terpejam, hingga akhirnya Raymond menggendong tubuhnya dan membawa masuk ke dalam kamar mandi.
Mata Alice membulat saat Raymond mengguyur tubuhnya dengan air hangat.
"Sweety, aku tidak ingin mandi!" teriak Alice kesal.
"Berendam air hangat dalam bathtub selama lima menit ya, biar rileks dan tidurnya nyenyak."
Raymond mengukur suhu air yang berada dalam bathtub menggunakan jari telunjuknya, saat dirasa hangatnya sudah pas, barulah Raymond memindahkan tubuh Alice ke dalam bathtub.
Alice hanya dapat pasrah menuruti semua kemauan Raymond.
Dasar sweetu, tapi tak apalah, untung air ini hangat.
Alice mulai menikmati air hangat yang mulai meresap pori-pori kulitnya, sementara Raymond sedang mandi di bawah guyuran shower dengan air yang hangat.
Malam itu membuat ikatan di hati mereka semakin kuat, dibalut rasa cinta yang tulus dari keduanya.
Alice terus menatap suaminya dengan mata berbinar.
Semoga pernikahan kita selalu abadi dan bahagia selamanya ya sweetu.
πππ
Greta terbangun dari mimpi buruknya, dengan keringat yang bercucuran di dahinya.
"Aku tidak mau anakku diambil oleh Alice, aku ingin akulah yang menjadi Ibunya dan hidup bersama Raymond," tutur Greta dengan napas tersengal.
Aku harus mencari cara, untuk memisahkan Alice dengan Raymond.
Greta memicingkan senyumannya, seolah sudah mendapatkan sebuah ide. Ia langsung mengambil sebuah ponsel yang diletakkannya di atas nakas dan mulai mengetik sesuatu.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Sehat selalu ya semua.
__ADS_1
Karena kepadatan jadwal Real Life yang aku jalani, dalam seminggu ini aku hanya up 1 episode ya. Mohon dimaafkan ya, tapi jika aku ada waktu senggang pasti aku usahakan untuk up 2 episode perhari ya.
Silahkan berkomentar, jangan lupa like dan vote-nya juga ya. makasih.