Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Drama Korea


__ADS_3

Selamat membaca!


Raymond sudah menuruni anak tangga, matanya langsung menatap ke arah Alice yang sudah menunggunya di meja makan.


Raymond menarik satu kursi yang tepat berada di sebelah Alice, ia mulai duduk dan melihat Alice menyediakan makanan untuknya di sebuah piring.


Aku beruntung mempunyai istri seperti Alice.


Alice meletakkan dengan perlahan, sebuah piring yang sudah terisi dengan makanan yang telah dimasaknya sendiri. Walau mempekerjakan 3 orang di rumahnya, Alice meminta kepada Raymond untuk membiarkan masalah memasak menjadi pekerjaannya.


"Terima kasih ya sweety, kamu sudah menjadi istri yang baik untukku."


Alice tersenyum menatap wajah Raymond.


"Itu sudah kewajibanku sweetu, jadi tidak perlu berterima kasih padaku."


Raymond semakin kagum dengan apa yang didengarnya. Ia mulai menyantap makanannya, wajah Raymond langsung berseri ketika apa yang masuk ke dalam mulutnya, semakin menggugah seleranya.


"Enak banget sweety, kamu memang pintar dalam memasak, lagi-lagi aku jadi berpikir, sebaiknya kita buka sebuah restoran di Jakarta dan kita ajak keluargamu tinggal bersama kita."


Alice tersenyum manis, tampak raut bahagia terlukis di wajahnya.


"Apapun rencanamu aku akan mendukungnya sweetu, lagipula aku memang sangat rindu dengan keluargaku, sepertinya video call lewat handphone tak membuat rinduku terobati sepenuhnya, aku tidak bisa memeluk mereka secara langsung."


Wajah Alice sekejap meredup di akhir kalimatnya.


Raymond mulai membaca kesedihan Alice, yang tampak jelas dari wajahnya yang kini sendu.


"Aku akan buat kejutan agar kamu bahagia sweety, sebuah restoran untukmu dan semua keluargamu akan aku hadirkan di sini."


Keduanya melanjutkan aktivitas makannya. Sesekali Raymond menggenggam tangan Alice untuk mengingatkannya agar jangan bersedih. Alice mematuhi apa yang dikatakan oleh Raymond, ia menepikan segala kesedihannya, mengacuhkan sesaat dan merubah wajah sendunya, kembali tersenyum.


"Nah, begitu lebih baik, melihatmu tersenyum itu sangat indah, seperti melihat pelangi setelah hujan reda."


Alice bersemu merah, wajahnya kini tersipu malu dengan rona merah di kedua pipinya.


Semakin hari aku semakin mencintaimu sweetu.


Aktivitas makan siang kala itu sangatlah indah, Raymond beberapa kali melempar pujian untuk istrinya, mulai dari masakan yang dimasaknya, sampai kecantikan Alice yang saat itu memang terlihat sangat memukau.


Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00.


Selesai menikmati santap siang, mereka sejenak bersantai di ruang tengah, sambil menonton sebuah drama Korea yang menjadi favorit Alice dalam menemani hari-harinya, saat ditinggal Raymond bekerja.


Raymond duduk di sebelah Alice, terus menatap wajah istrinya yang begitu serius menonton layar LED, yang berukuran besar dihadapannya.


"Sweety, memang apa serunya menonton drama Korea itu?" tanya Raymond dengan membagi pandangannya, sesekali melihat wajah Alice lalu memandang ke layar LED.


Namun tiba-tiba Raymond mematung diam terus menatap layar LED, saat sebuah adegan seperti menirukan apa yang pernah dialaminya.


Terlihat sebuah adegan di drama Korea itu, seorang pria sedang berselingkuh dengan wanita lain, satu Minggu sebelum acara perjodohannya dengan wanita pilihan orangtuanya.


"Ya ampun, aku jadi teringat Greta saat aku ingin menikah dengan Alice aku malah bercinta di apartemennya, dan bodohnya lagi asistenku yang mengantar ke sana ternyata adalah Kakak kandung dari calon istriku. Uhf tapi semua sudah berlalu, untung saja saat ini Greta sudah tidak pernah mengganggu rumah tanggaku lagi, keputusanku untuk pindah Indonesia adalah keputusan yang tepat."


Lamunan Raymond pecah saat ia menoleh ke arah Alice, ternyata Alice sedang memperhatikan dirinya yang juga ikut menonton drama Korea yang ditontonnya.


"Hayo, sweetu, hati-hati lho, sekali saja kamu suka, nanti kamu pasti kecanduan untuk nonton terus."


Alice menyindir Raymond, membuat Raymond malu setengah mati dibuatnya, karena ketahuan ikut menonton.


Alice tertawa lucu dengan wajah Raymond yang kini seperti kepiting rebus, merah padam menahan rasa malunya.

__ADS_1


Raymond seketika mengalihkan pembicaraannya, ia langsung bangkit dan mematikan layar LED TV dengan remote yang sudah digenggamnya.


Alice cemberut sampai mengerucutkan bibirnya.


"Sudah ayo sweety, sebaiknya kita jalan sekarang."


Alice mendengus kasar.


"Kamu itu, aku kan jadi ketinggalan 1 episode nanti, itu episode terbaru yang keluar dua Minggu sekali tahu, tunggulah 30 menit lagi."


"Sudah sweety nanti kamu bisa nonton ulang kan, pasti ada kan siaran ulangnya?" tanya Raymond sambil mengusap-usap pucuk rambut Alice.


Raymond pun berlalu, ia melangkahkan kakinya meninggalkan Alice yang masih berkutat dengan drama Koreanya, namun saat hendak keluar dari pintu rumah, Raymond menghentikan langkahnya dan kembali menoleh ke arah Alice.


"Ayo sweety kalau kamu lama, nanti aku tinggal ya," ucap Raymond sambil terus melangkah menuju mobilnya.


Alice menghentakkan kakinya ke dasar lantai, mengusir rasa kesal terhadap suaminya, yang secara tiba-tiba mematikan apa yang sedang ditontonnya.


"Dasar nyebelin, kalau nonton siaran ulang itu kan gak seru."


Alice mulai bergerak untuk menyusul Raymond, namun ia masih tidak rela kehilangan satu episode dari drama Korea yang selalu diikutinya setiap Minggu.


Alice menghentikan langkahnya, ia menatap remote yang tergeletak di atas sofa dan sesekali menatap layar LED. Ketika ia ingin mengambil remote, suara mesin mobil mulai terdengar berderu dari arah depan rumah.


Alice yang tersadar dengan perkataan Raymond, langsung bergegas berlari menghampirinya menuju mobil dan mengabaikan drama Korea kesayangannya.


Alice sudah keluar dari pintu rumah, Risfa yang sudah menunggunya sedari tadi, langsung menjalankan tugasnya.


"Nona Alice, tidak usah berlari nanti Nona jatuh, ingat kandunganmu Nona."


Perkataan Risfa membuat Alice tersadar, ia menghentikan larinya dan mulai melangkah dengan hati-hati.


Raymond memerintahkan Risfa untuk ikut serta, agar dapat menjaga Alice.


Mobil berlalu meninggalkan halaman rumah. Saat mobil sudah keluar dari perumahan dan mulai berbelok ke kiri mengikuti jalur pinggir tol Andara, sebuah mobil yang sudah sejak lama terparkir di depan perumahan mulai membututi mobil yang dikemudikan oleh Albert.


Kedua mobil mulai memasuki tol Desari, sebuah tol yang menghubungkan rute jalan dari Sawangan menuju jalan Pangeran Antasari. Beruntungnya mereka, karena dengan adanya tol yang kebetulan baru saja diresmikan itu, sangat memangkas waktu tempuh yang dibutuhkan untuk menuju Kawasan Sudirman tempat tujuan mereka.


Albert masih belum menyadari kehadiran mobil mewah berwarna hitam di belakang mobilnya, yang terus mengikuti kemanapun laju mobil yang dikemudikannya. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang sekitar 1 jam 15 menit. Mobil yang dikemudikan Albert mulai memasuki gerbang tiket wahana Dunia Fantasi Ancol.


"Sweetu, tempat apa ini?" tanya Alice sambil mengedarkan pandangannya melihat sekelilingnya.


"Ini Dunia Fantasi Ancol, kita bermain dulu di wahananya, tapi karena karena kamu sedang mengandung, lebih baik kita bermain di wahana yang aman untuk kamu naiki saja ya, oke sweety."


Risfa kemudian membayar sejumlah uang sesuai dengan yang sudah diberitahukan oleh petugas tiket, setelah Albert mengambil tiket yang diberikan, mobil kembali melaju.


"Wah, kita ke Dufan, Ris," ujar Alber sambil menoleh ke arah Risfa.


Risfa hanya menjawabnya singkat, seolah tak menggubris pertanyaan Albert.


"Wanita ini baru jadi asisten Nona Alice, tapi sudah sombong seperti ini, mungkin karena aku hanya supir ya."


Wajah Albert langsung masam dibuatnya. Ia sadar diri akan posisinya dan tak bisa menyalahkan orang yang menganggap remeh statusnya saat ini.


"Andai aku bisa jadi seorang CEO seperti Tuan Raymond, kalau bukan karena Ayah, aku pasti sudah meneruskan cita-citaku."


Albert mendengus pelan.


Percuma dengan gelar S1 yang ku punya, aku hanya berakhir tragis di kursi pengemudi ini.


Albert sudah memarkirkan mobilnya mengikuti arahan dari petugas parkir. Tempat parkir VIP sudah dilengkapi dengan pengaman di kiri dan kanannya. Memang sebelum datang ke Dufan, Raymond sudah menelepon bagian pengelola wahana, menyampaikan bahwa dirinya akan datang untuk mengajak istrinya ke Dufan.

__ADS_1


Raymond dan Alice turun dari mobil mewahnya. Wajah Alice terlihat riang melihat kini dihadapannya, tampak sesuatu yang belum pernah dilihatnya.



Raymond mengajak Alice melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti di sebuah Tugu Dufan, sebagai lambang untuk menyambut para pengunjung yang akan memasuki kawasan Dufan. Dua potret sudah berhasil diabadikan oleh Risfa yang kali ini bertindak sebagai fotografer, layaknya seorang profesional.


Alice kembali mengedarkan pandangannya melihat ke bagian lain.


"Sweety kita naik itu yuk, itu amankan untuk kandunganku," ucap Alice menunjuk sebuah bianglala raksasa yang saat ini ada dihadapannya.



Raymond dan Alice kemudian melanjutkan langkahnya menuju wahana yang Alice tunjuk. Mereka melangkah beriringan diikuti oleh Risfa dan Albert yang mengekor di belakangnya.


Suasana Minggu yang begitu ramai di kawasan Dufan. Maklum saja tempat ini memang selalu jadi destinasi untuk kaum domestik mau pun turis yang sedang berkunjung ke Jakarta. Namun tetap saja Alice dan Raymond selalu menjadi sorotan dari mata-mata semua pengunjung.


Raymond sangat tampan dan Alice terlihat cantik bak seorang princess.


"Aku tidak suka dengan mata laki-laki di sini mereka terus memandangimu, seperti kucing sedang melihat ikan."


"Jadi kamu nyamain aku sama ikan," keluh Alice sambil mengerucutkan bibirnya.


Raymond terkekeh lucu melihat raut wajah istrinya.


"Mau diapakan wajahmu, kamu tetap terlihat cantik, sweety."


Alice mendengus pelan.


Tak lama akhirnya tiba giliran mereka untuk menaiki wahana, Raymond merapatkan tubuhnya hingga tak ada jarak di antara mereka.


"Sudah jangan ngambek terus my queen."


Mendengar pujian Raymond, hati Alice menjadi luluh.


Kamu itu selalu bisa membuat perasaanku cepat membaik.


Keduanya kini sudah duduk di bianglala, sementara Risfa dan Albert juga ikut serta namun di tempat terpisah dengan Raymond dan Alice.


Bianglala mulai berputar, kini mereka sudah berada di posisi paling tinggi, dengan pemandangan yang dapat terlihat jelas, dihiasi sebuah pantai di belakangnya, yang teramat indah sore itu.


Raymond menatap wajah Alice dengan dalam.


"sweety, kita akan terus bersama, sampai kamu menjadi nenek dan aku kakeknya, kita akan mempunyai cucu yang banyak."


Raymond mendekap lengan Alice, membuat Alice menyandarkan kepalanya pada bahu Raymond dengan nyaman.


"Iya sweetu, kita akan selalu bersama, selamanya..."


Alice mengerlingkan matanya, melirik menatap Raymond dengan wajah yang terus terbenam nyaman pada dekapan suaminya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Seorang pria terus mengawasi mereka dari bawah bianglala, duduk di atas sebuah Moge yang menjadi properti untuk para pengunjung yang ingin berfoto dan mencoba menaiki Moge. Pria itu melihat dengan seksama dan tak melepas sejengkal pun pandangannya dari setiap gerak-gerik Alice dan Raymond.



๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Ikuti terus ya kisahnya. Terima kasih semua, jangan kendor ya dukungannya dengan like, vote dan tulis komentar kalian di setiap episodenya.

__ADS_1


__ADS_2