Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Kecurigaan Alice


__ADS_3

Biasakan tekan like sebelum membaca ya. Terima kasih.


Selamat membaca!


Pesawat sudah hampir lepas landas, terdengar suara announcer memberi informasi.


Ladies and gentlemen, welcome on board Flight 567B with service from London to Indonesia. We are currently second in line for take-off and are expected to take off in approximately five minutes time.


Raymond menghela napasnya kasar, membuang keresahan yang mendera di hatinya, sebelum pesawat lepas landas dan membawanya jauh dari kota London. Ia menoleh menatap wajah Alice untuk sekedar menyapanya, namun kala itu yang tampak hanya gurat kesedihan di wajah sang istri.


"Sweety, kamu kenapa? Apa kamu tidak bahagia bersamaku?"


Dengan lembut Raymond meraih tangan Alice dan menggenggamnya erat. Ia langsung melabuhkan bibirnya pada punggung tangan Alice yang putih mulus tanpa noda.


"Aku bahagia sweetu, aku hanya sedih harus meninggalkan kota London, karena di sini tempat kelahiranku dan tempat aku dibesarkan, belum lagi kita harus meninggalkan Daddy di saat keadaannya sedang terpuruk seperti sekarang ini."


Alice tak berpaling terus menatap Raymond dengan wajah yang semakin sendu.


"Aku mengerti apa yang kamu rasakan. Aku janji begitu keadaan membaik, kita pasti akan kembali ke London. Kamu harus bersabar sampai saat itu tiba, sekarang jangan sedih lagi, lebih baik kamu coba pejamkan mata, karena perjalanan ini sangat jauh lho."


Perkataan lembut dari Raymond, setidaknya sedikit meneduhkan jiwa Alice yang saat ini sedang dibanjiri air mata. Alice mulai melebarkan sedikit senyum di wajahnya, diikuti dengan gerakan kepala yang mengangguk, mematuhi perintah Raymond untuk tidur. Alice akhirnya mencoba memejamkan mata, tapi dalam hitungan detik ia kembali membuka mata dan menoleh ke arah Raymond.


"Sweetu, memang seperti apa Indonesia itu."


Raymond mengerlingkan matanya sembari berpikir, ia coba mengingat memori saat dulu berkunjung ke Indonesia untuk urusan bisnis.


"Yang menyebalkan adalah macetnya berbeda dengan London, di sana semua orang lebih senang membawa kendaraan pribadinya daripada naik mode transportasi umum, populasi cukup tinggi tapi ada beberapa tempat yang aku nilai cukup indah, nanti kamu akan tahu dengan sendirinya sweety. Oh ya, aku juga sudah membeli sebuah rumah di sana di perumahan Green Andara, aku harap kamu akan menyukainya."


Alice tersenyum, sambil sedikit memutar bola matanya untuk membayangkan apa yang dikatakan Raymond. Tak berapa lama Alice kembali memejamkan matanya dengan genggaman tangan mereka yang masih bertaut.


Raymond tak melepaskan pandangannya, ia tak jemu menatap wajah cantik istrinya yang saat ini sudah menjadi candu untuknya.


Semoga setelah ini, tidak akan ada lagi yang coba mengganggu pernikahan kita.


Raymond menarik sebelah sudut bibirnya dan tersenyum lega.


🍁🍁🍁


Tampak Greta dengan perut yang membesar datang ke rumah Alice di Green Andara. Alice membukakan pintu rumahnya yang terketuk. Saat melihat kedatangan Greta, ia terperanjat kaget. Alice tak menyangka, setelah 8 bulan kehidupan rumah tangganya dengan Raymond berjalan harmonis, kini datang Greta dalam kondisi hamil besar, seperti menandakan kehancuran rumah tangganya dengan Raymond akan di mulai.


Greta berdiri dihadapan Alice, ia menangis terisak begitu hancur. Namun Alice memandangnya dengan wajah datar, tak tampak raut wajah benci ataupun iba kepada Greta. Mungkin karena Alice tahu betul bahwa Greta pandai menipu, itulah yang membuat Alice bersikap dingin.


Alice masih mematung tenang tanpa suara, seketika terlintas segala hal yang pernah dilakukan oleh Greta yang membuatnya kembali mengingat luka lama yang sudah payah ia sembuhkan, dalam sekejap kebencian yang telah dilupakannya sedikit demi sedikit kembali mengusik batinnya, membuat amarah yang terpendam mulai merayap naik. Namun tiba-tiba tanpa memberi kode apapun pada Alice, Greta langsung memeluknya dengan erat.


Melihatnya tangisan Greta yang begitu terisak, ia pasrah membiarkan tubuhnya dijadikan sandaran oleh wanita yang sempat menghancurkan kebahagiaan di awal pernikahannya itu.


Setelah membisu tanpa suara. Greta sedikit demi sedikit mulai membuka suaranya. Ia mengatakan hal yang membuat Alice tercengang, amarahnya kini membara terlihat dari tajamnya menatap Greta, darahnya seakan mendidih, wajahnya merah padam.

__ADS_1


Ingin rasanya Alice menarik rambut Greta hingga terlepas dari kulit kepalanya, namun dilihatnya perut Greta yang membesar, hati Alice sedikit luluh hingga akhirnya meredakan kemurkaannya demi bayi yang tak berdosa.


Alice mengajak Greta duduk lalu menanyakan kebenaran dari apa yang dikatakannya.


"Ini memang benar anak Tuan Raymond, aku tidak bohong, aku sangat bersusah payah mencarimu, aku berjuang untuk anak ini Alice, aku tidak ingin dia lahir tanpa seorang Ayah. Saat ini aku lihat kamu belum hamil, aku mohon lepaskan Raymond, biarkan dia hidup bersamaku. Jika kamu membenciku, lakukanlah ini demi anak yang tak berdosa yang saat ini ada dalam kandunganku."


Greta terus menangis, wajahnya semakin sendu dihujam oleh ribuan bulir air mata yang terus mengalir.


Alice semakin bingung, wajahnya sudah pucat kala itu, karena Greta terus memaksanya. Sampai akhirnya Alice terjaga.


"Tidak Greta..." ucap Alice terbangun dari tidurnya, matanya langsung terbuka dan dahinya begitu basah oleh keringat.


Raymond yang mendengarnya langsung mendekati Alice.


"Kamu kenapa sweety? Kenapa kamu sebut nama wanita jal*ng itu? Apa kamu bermimpi buruk?"


Alice menatap Raymond dengan penuh selidik. Masih sangat membekas setiap bayangan yang terjadi di dalam mimpinya.


"Katakan padaku sweetu, apa tujuanmu meninggalkan London untuk menjauh dari Greta yang saat ini sedang mengandung anakmu, anak yang tercipta dari hasil hubungan terlarang kalian."


Napas Alice begitu sesak mengatakannya. Matanya kini sudah memerah, menilik jauh pada wajah Raymond yang saat ini terlihat gugup tanpa sebuah jawaban.


"Katakan padaku sweetu, tolong jangan bohong," pinta Alice memohon.


Raymond mendengus pelan. Ia mencoba untuk mengelak.


Alice tak puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh Raymond, ia melihat ada sesuatu yang janggal dari raut wajah suaminya.


Aku percaya kebohongan apapun yang kamu rahasiakan saat ini, suatu saat nanti aku pasti akan mengetahuinya.


Alice memendam resahnya jauh di lubuk hati, ia coba kembali memejamkan mata, tapi walau mata Alice terpejam, otaknya terus berpikir untuk menemukan jawaban dari arti mimpinya.


"Seingatku sebelum kedatangan Greta ke apartemen Richard, sweetu masih biasa-biasa saja, tapi kenapa saat kedatangannya, sweetu sikapnya langsung berubah, seperti ketakutan dan terlihat sangat gelisah."


Alice bergulat dengan batinnya sendiri.


Sementara Raymond masih gugup karena rahasianya hampir saja terbongkar.


"Kenapa Alice bisa mimpi tentang Greta. Ya Tuhan aku mohon jangan rampas kebahagiaanku karena dosa masa laluku," gumam Raymond sambil mengusap wajah dengan telapak tangannya.


Raymond kembali teringat kejadian di saat Greta memberikan testpack yang ternyata masih dibawanya di dalam saku celananya.


"Shit! Aku tidak boleh percaya begitu saja dengan omong kosong Greta, dia wanita murahan dan pasti melakukannya dengan banyak pria, bisa jadi itu bukan anakku." gumam Raymond sambil mengepalkan tangannya dengan keras.


🍁🍁🍁


Greta masih terlihat sedikit panik, ia takut drama pingsannya terbaca oleh Elliot. Namun tak lama kemudian, Dokter yang sudah memeriksa kondisi Greta, datang menghampiri mereka untuk membacakan hasil diagnosanya.

__ADS_1


"Nona, jangan terlalu lelah, kandungan Anda itu sangat lemah, setelah ini lebih baik Anda segera periksakan kandungan Anda di rumah sakit," tutur Dokter memberitahu.


Greta terkesiap, ia tak dapat menghentikan semua ucapan yang dikatakan Dokter.


Elliot dan Kelly saling menatap, raut wajah mereka menyiratkan sebuah tanda tanya besar tentang kehamilan Greta.


Jangan-jangan benar dugaanku, itu memang anak Raymond.


Dokter berlalu melanjutkan aktivitasnya. Tinggallah Greta bersama dengan Kelly dan Elliot.


"Jawab pertanyaanku, siapa Ayah dari anak yang kamu kandung?" tanya Elliot dengan geram.


Greta menarik napasnya dalam.


Tidak ada ruginya mereka mengetahui kehamilanku, lagipula Tuan Raymond sudah pergi membohongiku.


"Tuan Raymond, Ayah dari bayi yang aku kandung, maka itu aku berusaha untuk menemuinya dan meminta pertanggungjawabannya," tutur Greta yang matanya mulai basah oleh air mata.


Elliot sangat jengkel mendengar apa yang dikatakan oleh Greta.


"Jangan pernah ganggu Raymond lagi Greta. Dia sudah menikah dengan Alice, lupakan Raymond, lanjutkan kehidupanmu dengan tenang, soal biaya hidupmu dan anak yang kamu kandung, aku yang akan bertanggung jawab," tegas Elliot menawarkan sesuatu kepada Greta, membuat Greta semakin geram menatap Elliot.


"Aku tidak butuh uang, aku hanya ingin saat bayi ini lahir dia mempunyai seorang Ayah. Lagipula aku lebih membutuhkan Raymond saat ini, karena aku sedang mengandung anaknya, ketimbang Alice yang masih belum hamil."


"Jaga ucapanmu! Memang kamu pikir aku akan membiarkanmu, mengganggu rumah tangga Adikku, langkahkan dulu mayatku Greta!" gusar Elliot menatap tajam wajah Greta.


Greta tidak gentar dengan tatapan Elliot, pendirian tetap kuat untuk memperjuangkan, hal yang menjadi hak dari anak yang di kandungnya.


"Raymond harus tetap menikahi aku Elliot, aku tidak mungkin melepaskannya begitu saja. Aku tidak akan membiarkannya lepas tanggungjawab pada anak ini," tutur Greta sembari terus mengusap perutnya dengan lembut.


Elliot bosan menghadapi wanita yang sudah dinilainya sebagai wanita jal*ang yang pandai menipu.


"Carilah dia jika kamu mampu, aku tidak akan memberitahumu, mungkin kamu harus keliling dunia untuk menemukannya," ucap Elliot terkekeh geli sambil melangkah keluar ruangan meninggalkan Greta.


Greta berpikir keras.


Bagaimana aku bisa tahu kemana Raymond dan Alice pergi, dunia ini kan begitu luas.


Greta mendengus kasar, menatap kepergian Elliot dan Kelly.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Mungkin ada yang mau ngasih tahu Greta, kemana Raymond dan Alice pergi.


atau biarkan saja, Greta selamanya tidak tahu agar dia tidak bisa mengganggu ketenangan Alice dan Raymond.

__ADS_1


Yuk ramaikan kolom komentar kalian berikan pendapat.


__ADS_2