Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Sandiwara


__ADS_3

Selamat membaca!


Sesaat sebelum mobil menabrak tubuh Alice, tiba-tiba seorang wanita menyelamatkannya sampai menjatuhkan diri. Alice dan wanita itu pun terjatuh dengan posisi tubuh Alice berada di atas tubuh wanita itu.


Rasa cemas Alice kini beralih bukan pada dirinya, melainkan pada sosok wanita yang saat ini sedang mengaduh kesakitan. Alice membuka matanya perlahan, ia begitu terhenyak tak percaya, saat ini di depan matanya, sosok wanita yang ia anggap sudah mati, hadir di dalam pandangan matanya dan bahkan telah menyelamatkan nyawanya juga kedua anak dalam kandungannya.


"Greta."


Alice terkesiap masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia terus menatap lebih dalam wajah wanita itu, memastikan bahwa apa yang dilihatnya memang benar.


Beberapa orang sekitar yang melihat kejadian itu berdatangan untuk menolong keduanya.


"Kamu gak kenapa-kenapa Greta?"


Greta menatap Alice dengan wajah polosnya.


"Aku gak apa-apa Alice, kamu sendiri gimana? Apa kamu terluka?" tanya Greta lirih.


Kenapa Greta berubah baik seperti ini ya?


"Aku baik Greta, terima kasih karena kamu telah menyelamatkanku."


Greta dan Alice akhirnya ditolong oleh pengguna jalan setempat, kini mereka sudah diamankan ke tepi jalan.


"Kalau begitu aku pergi dulu Alice, syukur kalau kamu selamat dan tidak kenapa-kenapa," ucap Greta dengan tersenyum lalu membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi.


Alice sebenarnya masih ingin bertanya banyak kepada Greta, namun ia tak bisa menahan kepergian Greta. Alice menatap kepergian Greta yang melangkah dengan kondisi terpincang-pincang, tapi belum jauh ia pergi, tubuh Greta terlihat limbung, hingga akhirnya roboh tak sadarkan diri.


Melihat Greta jatuh pingsan, Alice dengan cepat menghampirinya, ia langsung meraih tubuh Greta dan memangku pada kedua pahanya, sambil berteriak meminta pertolongan. Teriakan Alice membuat beberapa orang mendekat ke arahnya untuk menolong, tidak jauh dari tempat kejadian, Richard yang berada di dalam Cafe mengenali suara teriakan Alice dan dengan tergesa Richard keluar dari cafe untuk menuju ke arah sumber suara.


Richard terkejut, saat menemukan Alice sedang berada di tepi jalan dengan seorang wanita yang berada dipangkuannya.


"Alice."


Richard menatap Alice dengan penuh selidik.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Richard dengan cemas.


Beberapa pengguna jalan yang lain mulai berdatangan dan bergegas membawa tubuh Greta menuju ke rumah sakit yang kebetulan tidak jauh dari tempat kejadian.


Alice hanya mematung, menatap ke arah Greta yang semakin menjauh. Ia tampak masih trauma dengan kejadian yang baru saja menimpanya.


"Alice apa yang terjadi? Siapa wanita itu?"


Pertanyaan Richard membuat Alice bergeming, ia tersadar dari lamunannya dan mulai melangkah untuk menyusul Greta. Di dalam perjalanan, Alice menceritakan semua kronologi yang terjadi pada Richard.


"Tidak mungkin, untuk apa Greta ke London dan bagaimana bisa dia masih hidup?"


Alice tak bisa menjawab semua pertanyaan Richard, ia sendiri masih tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.

__ADS_1


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Greta kini sudah berada di dalam ruang UGD sedang dalam penanganan team medis.


30 menit kemudian.


Richard dan Alice yang masih menunggu di depan ruang UGD, tampak dibalut rasa penasaran akan kondisi Greta saat ini.


"Aku berhutang budi pada Greta, kalau dia tidak menyelamatkanku, mungkin aku sudah tertabrak dan kehilangan kedua anakku," lirih Alice mengutarakan isi hatinya dengan piluh.


"Sabar Alice, semoga Greta baik-baik saja," tutur Richard menenangkan Alice dengan mengusap punggung Alice.


Alice yang tak nyaman dengan sentuhan Richard, mencoba menjaga jarak duduknya agar Richard tidak dapat menjangkaunya, di sisi lain Richard yang mulai menyadari ketidaknyamanan Alice, hanya memasang raut wajah datarnya.


"Maaf Alice, aku hanya menganggapmu sebagai Adikku sendiri, karena memang kamu adalah istri dari Adikku," ungkap Richard berusaha menjelaskan kepada Alice.


"Maafkan aku Tuan Richard, aku hanya ingin membatasi hatiku agar tidak memiliki perasaan nyaman denganmu," gumam Alice menatap wajah Richard dengan rasa bersalahnya.


"Iya Tuan Richard, aku tahu, maafkan aku, mungkin aku belum terbiasa dengan semua perlakukan istimewa darimu."


Richard hanya membalasnya dengan sebuah senyuman tipis yang hampir tak bisa dibaca oleh Alice, senyuman yang seolah menyiratkan suatu hal yang hanya Richard sendiri yang mengetahuinya.


Tak lama kemudian seorang Dokter keluar dari ruang UGD. Alice dan Richard bangkit menghampirinya.


"Bagaimana Dokter keadaan wanita itu?" tanya Alice dengan raut cemas.


"Begini Nona Alice dan Tuan Richard, pasien mengalami benturan pada sensor motorik di bagian kakinya, itu yang menyebabkan pasien mengalami kelumpuhan," ujar Dokter menerangkan.


"Apa bisa kembali normal, Dokter?" tanya Richard.


"Bisa saja Tuan, tapi untuk waktunya saya tidak bisa pastikan."


Dokter mengesah pelan, menatap Richard dengan tatapan yang menyiratkan sesuatu.


"Kasihan Greta, karena menolongku, dia jadi lumpuh." batin Alice merasa bersalah.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Richard dan Nona Alice," ucap Dokter dengan ramah dan berlalu melanjutkan aktivitasnya.


Alice berinisiatif untuk masuk ke dalam ruang UGD, meninggalkan Richard sendirian. Alice melangkah dengan perlahan, rasa bersalah yang terus menggerogoti ketenangannya. Alice mulai mendekati Greta, yang masih tertidur di ranjang rumah sakit.


"Hai Greta," lirih Alice menegur.


Alice menyapa dengan ragu. Greta yang mendengarnya langsung menoleh menatap Alice dengan tatapan yang sendu.


"Maafkan aku Alice, ini hukuman atas setiap kejahatan yang aku lakukan, kemarin aku kehilangan anakku, sekarang aku kehilangan kedua kakiku," tutur Greta menangis terisak.


Greta meratapi nasibnya, kepedihan yang teramat dalam begitu membatin dalam dirinya. Isak tangis yang membuat air mata terus membasahi wajahnya, wajah yang kini terlihat sendu.


Tanpa berpikir tentang apa yang pernah dilakukan oleh Greta, Alice langsung memberikan pelukan untuk Greta menghamburkan semua kesedihannya. Greta semakin merintih, ia terus menyesali segala perbuatan jahat yang pernah dilakukannya kepada Alice.

__ADS_1


"Maafkan aku Alice."


"Maafkan aku Alice."


Berulang kali Greta terus mengulangi permintaan maafnya. Alice coba menenangkan Greta dengan mengusap punggungnya, kesedihan Greta saat ini membuat Alice ikut menangis merasakan setiap kepedihan yang keluar dari derai air matanya.


"Aku sudah memaafkanmu Greta, kamu itu pahlawan untukku, kamu telah menyelamatkan bukan hanya aku tapi juga kedua anakku."


Greta terhenyak mendengar kalimat yang lolos dari mulut Alice.


"Jadi Alice sedang mengandung baby twins, kenapa sih dia begitu bahagia dengan hidupnya saat ini, dia mendapatkan Tuan Raymond dan bahkan saat ini anak dalam kandungannya kembar, sedangkan aku bayiku harus mengalami keguguran."


Greta memicingkan matanya dengan sinis, namun Alice tak bisa melihatnya. Greta terus menangis menjalan setiap sandiwaranya untuk meyakinkan Alice, jika ia saat ini sudah benar-benar berubah.


Greta melepas pelukan Alice, ia kembali memasang wajah sendunya, seakan meminta belas kasihan dari Alice.


"Aku turut bahagia Alice, semoga kamu bisa melahirkan kedua anakmu dengan selamat."


Alice menyeka air mata di wajah Greta.


"Sudah jangan menangis lagi, saat ini kamu tinggal dimana biar aku antar? Kamu harus sabar, kamu pasti bisa sembuh."


Greta menautkan kedua alisnya. Wajahnya semakin meredup menunjukkan sebuah kepedihan yang begitu mendalam.


"Aku tidak mempunyai tempat tinggal Alice, sekembalinya aku ke London, aku langsung diusir dari apartemenku, karena aku sudah tidak bekerja lagi dan tidak sanggup membayar apartemen lagi."


Alice semakin merasa iba terhadap Greta.


"Kasihan Greta, aku harus bagaimana saat ini, mau gimanapun dia telah menyelamatkan aku dan kedua anakku, apalagi karena aku dia sampai lumpuh seperti ini," gumam Alice sambil berpikir dengan keras.


Alice terbesit sebuah ide.


"Tinggallah di rumahku dulu sampai aku mencarikan tempat untukmu tinggal," ucap Alice dengan mengulas senyum di wajahnya.


Greta menyambut baik, tawaran dari Alice, yang membuat sebuah senyuman terbit di wajah Greta yang tadinya terlihat sendu.


"Tapi aku tidak enak, pasti Tuan Raymond tidak akan setuju," ucap Greta penuh keraguan akan keputusan Alice.


"Aku yang akan meyakinkannya, kamu itu sudah menyelamatkan kedua anaknya juga pasti suamiku akan setuju."


Alice menggenggam tangan Greta dengan erat, mencoba meyakinkan Greta bahwa saat ini tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi.


Greta menatap wajah Alice dengan senyum tipis di bibirnya, senyuman yang menyiratkan sebuah rencana besar yang akan dilakukannya, untuk membalaskan dendam yang belum tuntas kepada Alice.


Bodoh sekali kamu Alice, mudah sekali untuk memperdayamu.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ

__ADS_1


Apa yang akan terjadi selanjutnya?


Ikuti terus, jangan lupa like dan komentarnya ya. Jika berkenan vote juga boleh hehehe.


__ADS_2