
Ini adalah konflik terakhir untuk menuju kebahagiaan Alice dan Raymond. Baca sampai ending ya sahabat. Terima kasih.
πππ
NB : Tolong! Selesai membaca episode ini berkomentar tetap yang baik ya, karena komentar kalian dibaca semua pembaca lainnya, jadi jangan sampai komentar kalian menjatuhkan karyaku ini, karena ketahuilah, saat kalian memutuskan membaca sampai di episode ini, berarti kalian sudah ikut larut dalam perjalanan kisah Raymond dan Alice dan tentunya harus kalian ketahui endingnya. Terima kasih ya.
πππ
Selamat membaca!
Setelah sampai di rumah kediaman keluarga Weil. Alice langsung keluar dengan cepat dari mobil tanpa menunggu Albert membukakan pintu mobil untuknya.
Raymond menoleh menatap ke arah Alice tanpa rasa curiga sedikit pun.
"Bi, tolong sampaikan kepada Alice aku ada urusan yang harus aku selesaikan," pinta Raymond kepada Bibi Mey.
"Tenang saja Ray, nanti Bibi sampaikan," jawab Bibi Mey sambil keluar dari mobil.
Raymond langsung berpindah dari kursi depan untuk kembali ke kursi kebesarannya. Albert sudah berada di kursi kemudinya lagi, ia lalu menanyakan kemana arah tujuan yang akan mereka tuju.
Namun sebelum mobil melaju, Raymond memanggil Benjamin yang sedang menunggu perintah selanjutnya.
"Ben, kalian berempat jaga saja Alice baik-baik di rumah, aku akan segera kembali!"
Benjamin dengan sigap menjawab perintah Raymond. Mobil yang dikemudikan Albert langsung melaju, kembali meninggalkan rumah kediaman Weil.
Raymond terlihat sedang menggenggam ponsel di tangannya, ia membaca sebuah pesan yang masuk dari Amita.
"Aku tunggu kau, di Apartemenku, South Bank Tower Penthouses, aku bersedia menjual restoranku dengan harga yang kau tawarkan, datanglah sendiri tanpa pengawalmu."
Raymond beberapa kali membaca ulang isi pesan dari Amita, yang ia terima saat masih di dalam perjalanan pulang dari kantor polisi menuju rumahnya.
"Wanita ini tidak mungkin bisa melukaiku, jadi aku rasa sangat aman bila aku menurutinya untuk tidak membawa pengawalku," gumam Raymond sambil mengusap dagunya, berpikir santai dengan situasi yang nanti akan dihadapinya.
Mobil yang dikemudikan oleh Albert akhirnya tiba di pelataran lobi apartemen, setelah menempuh perjalanan yang cukup menyita waktu sekitar 55 menit, dikarenakan kondisi lalu lintas di kota London, siang itu yang lumayan padat.
Mobil terparkir di depan lobi, Albert bergegas turun untuk membukakan pintu mobil untuk Raymond.
"Silahkan Tuan," ucap Albert sambil membungkuk hormat seperti biasanya.
__ADS_1
Raymond keluar dengan santai dari mobilnya, ia melangkah menuju ke dalam lobi sambil merapikan stelan jas hitamnya yang terlihat sedikit kusut, akibat terduduk sewaktu di dalam mobil.
"Jadi Amita tinggal di South Bank Tower Penthouses, berarti dia bukan orang sembarangan, karena apartemen ini termasuk 7 dari apartemen mewah di kota London," gumam Raymond menyimpulkan setelah melihat kondisi apartemen yang memang tampak mewah dan elegan.
Raymond terus melangkah menuju bagian resepsionis apartemen. Setibanya di sana ternyata kedatangan Raymond memang sudah ditunggu oleh seorang room boy yang lalu mengantarkan Raymond menuju kamar Amita.
Raymond mengikuti langkah room boy menuju lift, setelah pintu lift terbuka, Raymond mengikuti room boy untuk masuk ke dalam lift. Tak butuh waktu lama lift kini sudah tiba di lantai 25, pintu lift langsung terbuka dan keduanya keluar dari dalam lift.
Setelah menyusuri koridor apartemen, akhirnya tiba juga Raymond di sebuah kamar dengan desain yang elegan dan pintu yang penuh ukiran kuno, namun tetap terkesan mewah dengan balutan emas pada handle pintunya. Suara bel mulai dibunyikan oleh room boy tersebut, tak butuh waktu lama pintu terbuka dan terlihat Amita dengan memakai kemeja panjang putih yang terkesan kebesaran.
"Silahkan masuk Tuan Raymond Weil."
Raymond tersenyum tipis, ia akhirnya masuk ke dalam kamar apartemen, sementara room boy dengan sopan langsung pamit kepada keduanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
Raymond melangkah dengan perlahan, dengan mengamati keadaan di dalam ruangan yang memang benar-benar mewah. Di samping keadaan ruangan yang terkesan elegan, Raymond pun sesekali tertarik dengan penampilan Amita yang terkesan sensual di matanya, beberapa kali saat memandang Amita membuatnya seperti sulit menelan salivanya sendiri, bahkan sesekali membuat keadaan Raymond jr, yang kini mulai terasa sesak dibalik celananya.
Tiba-tiba Raymond membuka kancing kemeja yang paling atas, karena kemeja yang dikenakannya mulai terasa mencekik lehernya.
"Astaga, aku tidak boleh tergoda dengan wanita licik yang berada dihadapan aku saat ini! Ingat Alice, Ray! Ingat semua perkataan Alice yang memintamu untuk setia dan menjaga perasaannya."
Amita menarik tangan Raymond, hingga tubuh mereka berdua sama-sama terhempas di atas sofa yang begitu empuk. Tubuh Amita terduduk di atas paha Raymond dan pandangan keduanya saling berhadapan.
Melihat sikap Amita yang seperti sengaja untuk menggodanya, Raymond dengan segera membuang pandangannya ke arah lain untuk mengalihkan hasratnya yang tiba-tiba saja bergejolak, hingga membuat darahnya berdesir.
"Kenapa wajah sangarmu terlihat begitu tegang, tuan? Sangat berbeda saat kau datang ke restoranku kala itu."
"Jangan terlalu banyak berbasa-basi Nona Amita, siapkan segera surat pemindahan tangan restoran itu atas nama Alice, istriku!"
"Kenapa sangat terburu-buru? Apa anda tidak ingin kita minum-minuman dingin dulu? Cuaca di luar sangat panas lho, membuat dahagaku mudah merasa haus."
"Tidak ada acara minum-minum dan terima kasih atas tawarannya. Cepat lakukan tugasmu agar semuanya cepat selesai, karena saya ada pekerjaan lainnnya yang lebih penting!"
"Lebih penting mana antara pekerjaan dengan hasratmu yang sedang bergejolak, Tuan?"
Amita dengan berani menyentuh wajah Raymond dengan jemarinya, ia seperti menggaris bentuk wajah Raymond menggunakan jari telunjuknya yang semula ia gigit.
Tingkah Amita benar-benar seperti wanita murahan yang sedang merayu Raymond untuk mendapatkan sesuatu yang ia diinginkannya.
__ADS_1
Otak besar Raymond langsung memutar kejadian beberapa bulan yang lalu saat Greta menggodanya, mengajaknya bercinta untuk memindahkan nama kepemilikan perusahannya menjadi atas nama Will.
"Jangan lancang kau Amita, aku tidak akan tergoda dengan semua rayuanmu," tutur Raymond terlihat geram sambil menghempaskan tangan Amita yang saat ini sedang menyentuh wajahnya.
Raymond tanpa sadar mengambil sebotol minuman lemon yang memang tersedia di atas meja. Ia langsung menuang minuman tersebut ke dalam gelas kosong yang tersedia di sana, ia pun dengan cepat menyesap segelas minuman lemon yang saat ini sudah digenggamnya, untuk mengusir hawa panas yang semakin bergelora menguasai dirinya.
Amita tersenyum tipis, bahkan Raymond pun tak mampu membaca senyum liciknya yang menyiratkan suatu rencana. Wanita itu segera beranjak pergi meninggalkan Raymond seorang diri.
Tanpa terasa Raymond sudah menghabiskan satu gelas minuman dingin untuk melepaskan dahaganya. Ia lalu meletakkan gelas itu kembali ke atas meja, namun tiba-tiba saja kepala Raymond terasa begitu pening memenuhi seisi kepalanya.
Tanpa sengaja gelas yang berada di atas meja tersebut tergeser oleh tangannya, hingga gelas itu pecah berkeping-keping bersamaan dengan tubuh Raymond yang roboh dan tertidur di atas sofa.
Amita kembali saat mendengar suara pecahan kaca, bibirnya menyeringai saat melihat rencana awalnya berjalan dengan mulus.
"Sekarang tinggal menjalankan rencana selanjutnya," ungkap Amita dengan tersenyum penuh kemenangan.
πππ
Sementara di rumah kediaman Raymond, Alice terlihat sedang menangis dengan tersedu. Ia begitu meratapi isi pesan yang telah dibacanya, pesan yang seakan menghancurkan segala impiannya untuk dapat hidup bersama Raymond selamanya.
"Aku harus pergi dari rumah ini, tapi bagaimana aku bisa pergi, melewati penjagaan Benjamin dan yang lainnya?" gumam Alice berpikir dengan keras, sampai menautkan kedua alisnya.
Mata yang selalu terlihat sendu, menjadi saksi bahwa hidup bersama Raymond baginya adalah sebuah kesalahan, sejak dulu ia selalu memaafkan kesalahan Raymond selama ini, tapi semua itu sudah cukup baginya, ketika kini dihadapannya, suami yang selalu dimaafkannya mulai terbukti kembali berselingkuh, membuat Alice dengan mantap memutuskan untuk berpisah dan pergi dari kehidupan Raymond.
Setelah lama berpikir, Alice teringat cerita yang Raymond sempat katakan, tentang sebuah jalan rahasia yang memang ada di rumahnya.
"Aku tahu, aku akan pergi lewat jalan rahasia itu."
Alice sudah mengemas beberapa pakaiannya ke dalam koper kecil yang sudah siap dibawanya. Namun saat langkahnya mulai ingin meninggalkan kamar, tiba-tiba ia terhenti dan kembali duduk di tepi ranjang ketika pandangan matanya menangkap objek sebuah foto yang bersandar pada sebuah nakas, foto Alice dan Raymond sewaktu mereka bulan madu di Spanyol.
Alice mengambil foto itu dengan perlahan, ia mulai memandanginya dengan tatapan piluh, yang membuat air matanya tak dapat ditahannya dan deras membasahi wajahnya.
"Andai, kamu setia dan memegang janjimu untuk tidak mengulangi kesalahanmu, kita pasti akan hidup bahagia bersama kedua anak kembar kita, sampai kamu dan aku sama-sama menua, dengan rambut putih di kepala kita, keriput di pelipis mata dan sampai salah satu dari kita menghembuskan napas terakhir, saat itu kita saling berpelukan untuk saling menguatkan."
Bulir air mata terus menetes sampai membasahi pigura foto yang terus dipandanginya, Alice memeluk foto tersebut erat-erat pada dadanya, sejenak ia pejamkan matanya mengingat semua memori indah yang dilaluinya bersama Raymond. Setelah Alice merasa cukup, ia akhirnya bangkit dan kembali meletakkan foto tersebut di atas nakas, kemudian melanjutkan langkahnya menuju keluar kamar.
"Selamat tinggal sweetu, anggap saja semua kisah tak sempurna ini adalah sebuah pelajaran, agar kamu mengerti tentang arti sebuah kesetiaan," batin Alice bergetar, saat membuka pintu kamar yang sudah digenggamnya dengan erat.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
__ADS_1
Ini adalah konflik penutup dari season pertama ini. Ingat kalian sudah membaca sejauh ini, novel ini sudah tamat jadi kalian berhak tahu endingnya bukan. Jangan berhenti di sini ya. Terima kasih banyak.