Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Kekaguman Nicholas


__ADS_3

Selamat membaca!


Malam semakin larut, namun Raymond masih belum terlelap. Birahinya terus meronta menuntunnya untuk menyentuh tubuh Alice, yang kini telah tertidur pulas di sampingnya.


Argh bagaimana ini, keadaan ini sungguh menyiksaku.


Raymond menatap kagum wajah Alice yang sedang tertidur.


Ternyata dia masih terlihat cantik.


Hasrat dalam jiwanya kembali berteriak, memberi isyarat kepada semua anggota tubuhnya untuk segera melampiaskan hawa nafsunya. Namun lagi-lagi egonya mampu bertahan dengan kokoh, ia sadar betul bahwa pertahanannya tidak akan berlangsung lama jika terus berada di dekat Alice.


Raymond bangkit perlahan dari ranjang besarnya. Ia mulai melangkah menjauhi ranjang untuk keluar dari kamar. Raymond memutuskan untuk pindah ke kamar sebelah, kamarnya yang dulu ia tempati saat masih lajang.


Nicholas memang sudah menyiapkan kamar khusus ini yang posisinya agak jauh dari kamarnya, agar Raymond dan Alice leluasa menikmati malam pertama mereka, namun pada kenyataannya ego seorang Tuan arogan begitu besar hingga malam pertama pun tak kunjung terjadi.


Malam ini Alice berhasil mempertahankan kesuciannya dari otak mesum Raymond, bukan karena dirinya sendiri tapi karena ego dan harga diri seorang Raymond Weil.


🍁🍁🍁


Pagi hari.


Alice mulai membuka mata perlahan, beberapa kali ia mengerjapkan mata untuk menyadarkan dirinya bahwa ini adalah pagi, hari pertamanya sebagai Nyonya Raymond.


Alice menggeliat pelan, suara ketukan pintu membuat tubuhnya bangkit dari tidurnya, dengan masih dibalut selimut menutupi lingerie, yang begitu memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Kemana Tuan Raymond, apa dia sudah pergi ke kantor?" tanya Alice sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar.


Suara Risfa terdengar memanggilnya, ia lalu beranjak mendekati pintu untuk menjawab, dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya.


Alice membuka pintu kamar.


"Nona Alice, Tuan Raymond sudah menunggu Nona di meja makan, katanya Tuan akan mengajak Nona ke MANGO Corporate atas perintah Tuan besar," tutur Risfa dengan senyum ramahnya.


"Katakan pada Tuan Raymond, aku akan segera turun setelah ia memberikanku pakaian yang bukan lingerie seperti ini," ucap Alice sambil membuka selimut dan menunjukkan apa yang dikenakannya.


Wajah Risfa berseri sedikit menahan tawanya.


"Segala macam pakaian sudah tersedia di almari besar itu Nona, mungkin Nona tidak menekan satu tombol di sisi pintu sebelah kanan," ujar Risfa memberitahu.


Alice terkekeh mendengar ucapan Risfa.


Sehebat itukah almarinya, aku jadi penasaran.


Risfa lalu tersenyum dan pamit kepada Alice dengan membungkuk hormat.


Alice kembali menutup pintu dan segera melangkah mendekati almari, ia penasaran dengan apa yang disampaikan Risfa. Alice menekan tombol seperti yang telah Risfa beritahu.


Abrakadabra lemari pun membuka ruangan untuk Alice dapat masuk ke dalamnya.

__ADS_1



Wajah Alice tercengang kagum memandang apa yang dilihatnya. Beberapa saat dirinya hanya mematung tanpa kata-kata, namun ia teringat sesuatu tentang pesan yang disampaikan oleh Risfa, bahwa Raymond saat ini telah menunggunya.


Mati aku, Tuan Raymond kan tidak suka menunggu.


Alice sejenak melupakan kekagumannya pada almari canggih yang dilihatnya, ia segera berlari ke kamar mandi, meninggalkan selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya, hingga teronggok di lantai.


Beberapa menit kemudian Alice sudah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, ia melakukannya dengan cepat tidak seperti biasanya yang berleha-leha dan santai, namun kali ini Alice hanya membasuh tubuhnya dengan sabun sekenanya saja tanpa mengulangnya seperti biasa.


Aku tidak boleh mengundang amarah Tuan Raymond di pagi hari.


Alice segera mempercantiknya dirinya dengan memilih beberapa helai pakaian, yang sudah tersedia dalam ruang rahasia di almari besarnya.



Alice sudah terlihat cantik, dengan bibir merah yang merekah, pipi merona dan dengan stelan blazer putih dipadupadankan dengan dalam hitam yang sedikit membuka ruang sintal pada dadanya, membuat Alice terlihat begitu sensual.


"Dari sekian banyak pakaian di sini, hanya ini stelan yang cocok untuk aku pakai ke kantor MANGO Corporate, selebihnya kebanyakan pakaian yang biasa aku kenakan, dress dan t-shirt," gumam Alice sambil berdiri di cermin dan melihat dirinya apa sudah tampil cantik atau belum.


Setelah Alice yakin dengan apa yang dikenakannya, ia segera bergegas keluar dari kamarnya dan melangkah menuju ruang makan.


Alice sudah menuruni anak tangga di dekat ruang keluarga, dari kejauhan Nicholas dan Raymond sudah terpana dengan kecantikan Alice, membuat kegiatan makan mereka terhenti, sejenak mereka termangu menatap Alice.


"Pagi Dad," sapa Alice mulai membiasakan diri menyapa Nicholas dengan sebutan Ayah.


"Ya sayang, selamat pagi juga, ayo cepat makan sarapanmu dan ikut Raymond hari ini ke MANGO Corporate!" titah Nicholas sambil menaikan kedua alisnya.


"Wajahmu kenapa tampak kusut seperti itu Ray," selidik Nicholas menautkan kedua alisnya.


"Semalam aku tidak bisa tidur Dad," ungkap Raymond yang lupa dengan sandiwaranya.


Alice hanya diam penuh tanda tanya mendengar ucapan Raymond, sambil meneruskan kegiatannya untuk menyantap sandwich, yang sudah disediakan oleh Risfa.


Semalam bukannya Tuan Raymond sudah tidur saat aku datang.


Alice makin berpikir penuh selidik.


Wajah Alice mengeras menatap tajam wajah Raymond.


Apa jangan-jangan dia hanya pura-pura tidur?


Alice terhenyak dengan segala pikirannya, wajahnya mulai berubah masam, ketika ia mengingat apa yang sudah dilakukan semalam di dalam kamar, mulai dari membuka gaun pengantin, berganti pakaian dan dekapan Raymond.


Berarti Tuan arogan itu melihat seluruh tubuhku dan dekapan itu memang di sengaja.


Awas kamu Tuan Raymond.


Alice kesal menerima kenyataan bahwa keindahan tubuhnya, sudah menjadi tontonan mata Raymond semalam.

__ADS_1


Memang apa yang bisa aku lakukan untuk membalasnya?


Alice menghela napasnya kasar. Ia berdehem melirik ke arah Raymond.


Raymond hanya mengangkat sebelah alisnya, tanpa suara ia hanya tersenyum tipis.


"Pokoknya kalian segeralah punya anak, berikan Daddy cucu, setelah itu kamu akan mendapatkan 50% saham MANGO Corporate tapi semua akan Daddy berikan atas nama Alice."


Raymond terperanjat kaget mendengar perkataan Nicholas, hingga membuatnya tersedak dengan makanan yang sedang dikunyahnya.


"Jangan merubah seenaknya Dad, aku tidak terima," tolak Raymond keras.


"Apa kamu mau membantah perkataan Daddy, Ray?" tanya Nicholas yang masih tenang menanggapi amarah Raymond, namun dengan wajah dinginnya.


Raymond kembali duduk, ia mendengus kasar melepaskan kekesalannya. Tak lama ia menyudahi kegiatannya dan segera berlalu meninggalkan meja makan, sebagai tanda bahwa dia tidak setuju dengan apa yang Nicholas putuskan.


Walau ia tidak setuju, namun Raymond tak bisa membantah, karena memang itulah sikapnya, selalu menuruti segala perintah yang Nicholas inginkan.


Alice terlihat heran dengan reaksi Raymond. Namun ia juga kurang setuju dengan keputusan Nicholas.


"Dad, lebih baik berikan saja semua kepada Tuan Raymond, Dad!"


Nicholas menoleh ke arah Alice, ia hanya menyeringai mendengar perkataan Alice.


"Sudah aku duga kamu akan menolaknya," ucap Nicholas tergelak tawa penuh bahagia.


Alice menjadi semakin bingung dengan suara tawa Nicholas.


"Kenapa Dad, apa aku salah?" tanya Alice terbata.


"Kamu tidak salah, hanya saja Raymond sangat beruntung memiliki kamu," ucap Nicholas menjeda perkataannya.


Alice tersenyum tenang mendengarnya.


"Sudah sekarang segera susul Raymond dan berangkatlah ke MANGO Corporate dengannya!" imbuhnya dengan menyunggingkan senyumnya, sembari menyentuh sebelah pipi Alice.


Nicholas sangat bangga dengan sikap Alice, karena ia berbeda dari wanita lain yang pernah dekat dengan Raymond, jika wanita lain menunggu perkataan yang Nicholas ucapkan, Alice malah sebaliknya, ia menolak dan tampak tidak menyukainya.


Alice mengikuti perintah Nicholas, ia melangkah dengan setengah berlari mengejar Raymond menuju mobil mewahnya.


Nicholas masih menatap punggung Alice yang semakin menjauhi darinya.


Wanita itu sungguh luar biasa.


Nicholas tersenyum dan bernapas dengan sangat lega.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️

__ADS_1


Ikuti terus ya, berikan dukungan kalian dengan vote, like dan komentar ya. πŸ€—πŸ˜ŠπŸ˜


Terima kasih.


__ADS_2