
Selamat membaca!
San Sebastian merupakan kota yang terletak di sebelah utara Spanyol. Penduduknya berjumlah 182.930 jiwa. Kota ini memiliki luas wilayah 60,89 km². Kota ini memiliki angka kepadatan penduduk sebesar 3.004 jiwa/km². Kota ini terletak di wilayah otonomi Pais Vasco.
🍁🍁🍁
Alice mengedarkan pandangannya melihat hamparan keindahan San Sebastian dari balkon hotelnya menginap. Tak bisa dipungkiri dalam hidupnya ini adalah pengalaman pertamanya pergi ke Spanyol. Alice terkesima dengan apa kini ada dihadapannya.
"Bagaimana Alice, apa kamu pernah melihat keindahan seperti ini sebelumnya?" tanya Raymond sambil mendekat dengan merapatkan tubuhnya mendekap Alice dari belakang.
"Terima kasih telah mengajakku ke sini ya, Tuan Raymond," jawab Alice sejenak menyandarkan tubuhnya pada tubuh Raymond.
"Stop panggil aku Tuan, cukup Raymond saja," pinta Raymond yang masih mendekap erat tubuh Alice.
"Pemandangan di sana juga begitu indah," ucap Alice sambil menunjuk ke arah yang dilihatnya, untuk beralih melihat keindahan lainnya.
Keduanya larut dalam keromantisan San Sebastian Spanyol.
Sore hari kemudian.
Alice berdiri di bebatuan di tepi pantai, sambil menggenggam tangan Raymond sebagai pelindung raganya agar tidak terjatuh. Setelah cukup berisitirahat, karena menempuh perjalanan selama 2 jam lebih di pesawat, sore harinya keduanya mulai mengunjungi berbagai tempat di San Sebastian. Keduanya saling bersenda gurau, berbagi tawa dan senyuman, tampak semburat kebahagiaan di wajah Alice yang sepertinya terlupa akan kenangan lukanya.
"Apa kamu menyukai semua ini?" tanya Raymond menatap wajah Alice yang tampak bahagia.
"Ya, aku sangat menyukai semua ini Tuan Raymond," jawab Alice yang masih memandang penuh decak kagum akan apa yang dilihatnya.
Raymond melepas dekapannya, ia menunjukan wajah tidak sukanya mendengar Alice masih memanggilnya Tuan.
Alice melihat dengan penuh selidik, ia mulai membaca ketidaksukaan dari wajah Raymond.
"Jangan marah Tuan, aku bingung harus memanggilmu apa," ucap Alice dengan menyentuh rahang Raymond dan memposisikan wajah Raymond untuk menatap wajahnya.
Wajah mereka sangat dekat, sampai hembusan napas keduanya saling beradu. Tatapan yang bertaut, menilik jauh ke dalam mata mereka yang tersirat cinta.
"Aku mencintaimu Alice," lirih Raymond pelan.
Wajah Alice merah padam, ia tersenyum kecil tanpa menjawab ucapan Raymond.
"Aku tidak bisa jika hanya memanggil namamu?" tanya Alice mengalihkan pembicaraan.
Raymond mengerutkan keningnya. Ia berpikir keras mencari nama panggilan yang cocok untuk dirinya.
Raymond tersenyum, saat satu nama muncul dalam pikirannya.
"Panggil aku my love!"
"Apa, my love?" ucap Alice tersedak salivanya sendiri.
"Apa kamu tidak mau memanggilku dengan sebutan my love, kamu keberatan?" tanya Raymond membuang wajahnya sambil melipat kedua tangan di dadanya.
__ADS_1
"Tidak sih, tuan. Eh, maksudku my love. Baiklah aku akan memanggilmu dengan sebutan itu."
"Mulai hari ini kamu harus belajar mencintaiku, ya sweety."
Alice bergidik ngeri mendengarnya, namun ia jadi mempunyai sebuah ide.
"Gimana kalau aku manggil kamu sweetu? Jadi sweety untukku dan sweetu untukmu," ucap Alice dengan tersenyum sambil memiringkan kepalanya sedikit.
Keduanya akhirnya sepakat dengan panggilannya masing-masing. Mereka melanjutkan langkahnya dengan menyisir tepi pantai, menikmati deburan ombak ditemani suara kicauan burung bangau yang saling bersahutan. Raymond mengabadikan beberapa foto Alice dengan kamera yang dibawanya.
Aku akan jaga kebahagiaan ini selamanya. Terima kasih Alice.
Raymond menyunggingkan senyum di wajahnya. Matanya terus menatap Alice yang sedang bermain deburan ombak dan butiran pasir ditepi pantai.
Hari sudah mulai gelap, setelah menikmati sunset dan panorama indah di pantai, mereka kini terkesima dengan suasana malam yang begitu memukau.
Alice dan Raymond sudah menyewa sebuah kapal kecil.
"Aku tidak percaya Spanyol memiliki pantai seindah ini, kamu lihat cahaya lampu di kota, begitu indah,"
Raymond sangat bahagia melihat senyum yang tak pernah lepas, menghiasi gurat di wajah Alice.
Raymond terus menatap Alice dengan semburat kebahagiaan, yang ditemani desiran ombak dengan gemerlap cahaya lampu kota yang tampak memukau. Malam itu mereka menghabiskan waktu bersama, saling mendekap namun tak sekalipun Raymond mencoba untuk mencium Alice, ia tak mau merusak momen istimewa yang kini dirasakan oleh Alice.
"*Aku tidak mau kamu mengingat semua kejadian yang pernah aku lakukan. Biarlah seperti ini, aku takkan menuntut lebih, yang penting kamu bahagia dan aku selalu berada di sampingmu," gumam Raymond masih terus mendekap tubuh Alice yang bersandar padanya*.
Alice tersenyum melihat tingkah Raymond yang lembut padanya. Hatinya berbunga-bunga mendapatkan perlakuan istimewa dari Raymond.
Semoga Tuan Raymond selalu romantis seperti ini.
Alice menempelkan wajahnya di dada kekar Raymond, hingga dengan jelas ia bisa mendengarkan detak jantung yang sangat cepat berdegup. Alice tersenyum mendengarnya, karena saat ini bukan hanya Raymond, jantungnya pun berdegup cepat tidak seperti biasanya.
"Wangi khas tuan Raymond sudah memenuhi rongga-rongga hidungku, hingga aku selalu ingin memeluknya terus seperti ini, sangat nyaman dan menenangkan."
Raymond meraih kedua pipi Alice, untuk melihat wajah istrinya yang sudah menjadi candu baginya.
"Malam ini aku dapat melihat wajah Alice dengan mata hatiku. Dia sangat cantik dan polos, aku harus bisa bertahan dengan janji yang sudah ku ucapkan padanya, aku ingin terus melewati hari-hariku bersamamu Alice. Semenjak kehadiranmu dalam hidupku, kamu selalu memberi pengaruh baik dalam hidupku, yang dulu penuh dengan kebencian dan kesombongan."
Mata hazel Raymond tak berkedip memandangi wajah Alice, hingga membuatnya salah tingkah dan kembali membenamkan wajahnya dalam dekapan Raymond.
"Aku malu kalau tuan Raymond terus menatapku seperti itu."
"Sweety, apa kamu sudah lelah?"
"Lumayan sih," jawabnya yang masih nyaman bersandar dalam dekapan Raymond.
"Kita pulang ke hotel ya, kita istirahat malam ini dan lanjutkan travelingnya besok."
"Baiklah, aku juga sudah mengantuk, sweetu." ucap Alice walau agak canggung, hingga membuat lidahnya seperti kelu mengucapkannya.
Beberapa kapal mulai berlabuh ditepi pantai, Alice dan Raymond mulai menuruni kapal yang dinaikinya, dengan langkah hati-hati, tak sedetikpun genggaman Raymond terlepas dari tangan Alice.
__ADS_1
Keduanya mulai menyusuri jembatan panjang menuju hotel.
Di tengah perjalanan Alice menguap, tanda kantuk mulai menyapa kedua matanya. Raymond yang melihatnya langsung menutupi mulut Alice yang sedang terbuka lebar.
"Lucu sekali kamu kalau sedang mengantuk seperti ini," ucap Raymond sambil terpikir sesuatu untuk meringankan langkah Alice.
Raymond meraih tubuh Alice dan langsung menggendongnya seperti bayi. Alice terperanjat kaget mendapat kejutan dari Raymond, wajahnya merah padam sambil menoleh ke kiri dan kanan untuk menilik ke arah orang-orang yang berada didekatnya.
"Aaaaa, ka.. kamu mau apa?" teriak Alice dengan membulatkan kedua bola matanya.
"Kamu pasti lelah sweety, jadi aku akan menggendongmu sampai ke hotel."
"Tidak, jangan sweetu, aku malu menjadi pusat perhatian orang-orang," tolak Alice menahan malunya.
"Kita kan sudah resmi menikah, kenapa kamu harus malu?" tanya Raymond mengangkat kedua alisnya mencoba meyakinkan Alice.
Alice terdiam mencerna perkataan Raymond.
"Benar juga sih, tapi jarak menuju hotel cukup jauh dari sini." bantah Alice terus mengelak.
"Cuman satu kilometer, lumayan dekat."
"Tapi sweetu..."
"Tutup mulutmu atau aku akan mencium bibirmu di sini sambil berjalan sampai ke hotel dan membuat iri semua orang atas kemesraan kita."
"Jangan,' ucap Alice sambil menghela napasnya
Raymond terus menyusuri jembatan menuju hotel, sambil menggendong tubuh Alice yang wajahnya sudah bersemu merah dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Banyak mata yang memandang iri ke arah mereka, namun Raymond masih bersikap santai dan biasa-biasa saja.
Setelah menempuh jarak satu kilometer, akhirnya Raymond dan Alice tiba di lobi hotel. Napas Raymond tersengal akibat terlalu lama menggendong tubuh Alice, yang berat badannya mencapai 47 kilogram, tapi semuanya menyenangkan karena Raymond bisa bersenda gurau bersama Alice dalam perjalanan menuju hotel.
Semoga momen ini terus terjaga selamanya.
Sesaat sebelum masuk ke dalam hotel, Alice menunjuk sebuah kincir angin besar yang bersinar dengan cahaya biru yang indah.
"Besok aku ingin menaiki kincir angin itu, apa kamu mau menemaniku?" tanya Alice menatap Raymond dengan manja.
Raymond tersenyum lebar.
"Jangankan ke kincir angin itu, jika kamu memintaku menemanimu ke bulan pun, aku akan senang hati mengiringi langkahmu."
Alice tersipu malu mendengar perkataan Raymond, baginya itu adalah sesuatu yang romantis dan belum pernah di dengar terucap dari mulut seorang laki-laki.
Mereka melanjutkan langkahnya untuk kembali ke kamar hotel, membawa kebahagiaan yang saling bertaut di hati keduanya.
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Ikuti terus kisah Alice dan Raymond yang semakin baper ya. Terima kasih atas dukungan kalian semua.
__ADS_1
Berikan like, komentar dan vote kalian ya.