Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Desa Bibury


__ADS_3

Selamat membaca!


Alice sudah terlihat duduk di dalam mobil bersama Albert, mereka akan menuju kantor polisi untuk menjemput Raymond.


Tak butuh waktu lama untuk tiba di sana, karena jarak kantor polisi yang memang tidak terlalu jauh dari MANGO Corporate.


Alice langsung turun dengan tergesa-gesa, namun baru ia melangkah masuk, Raymond tampak keluar dari kantor polisi. Tanpa melihat kiri dan kanan, Alice langsung berlari memeluk Raymond, mereka saling berciuman sampai lupa saat ini masih berada di depan kantor polisi.


Alice tanpa canggung memagut mesra bibir Raymond, melum*tnya dengan liar tanda kerinduannya, karena hampir terpisah dari suami yang saat ini begitu dicintainya.


Albert berdehem melihat kemesraan mereka.


"Tuan, ada baiknya diteruskan di dalam mobil."


Alice tersipu malu mendengar teguran Albert, mereka akhirnya kembali ke dalam mobil.


"Sweety, bagaimana mungkin Will membebaskanku?" tanya Raymond heran tak percaya, bahwa dirinya saat ini telah bebas dan kembali dapat bersama Alice.


Alice mendesah pelan, sekejap senyuman di wajahnya sirna membuatnya tertunduk lesu, tenggelam dalam kesedihannya.


Raymond mengernyitkan dahinya, ia terus menatap Alice penuh selidik, sambil menyentuh wajahnya untuk kembali menatapnya.


"Ceritakan padaku, ada apa?" tanya Raymond meyakinkan Alice dengan suara yang lembut.


Alice terbata ingin bicara, bibirnya gemetar digelayuti rasa takut atas apa yang telah dilakukannya. Namun Raymond terus menggenggam erat tangan Alice, mengusap lembut pucuk rambutnya lalu mengecup kening dengan mesra.


Alice tersenyum, raut wajahnya menjadi tenang mendapat sentuhan lembut dari Raymond, yang dapat mengusir rasa takutnya, hingga membuat Alice tak ragu lagi untuk mulai bercerita.


Alice mulai memberanikan diri membuka mulutnya, nada-nada suaranya mulai lembut mengalun ke dalam telinga Raymond, sampai tiba di bagian penting langsung membuat Raymond terhenyak.


Wajahnya kini meredup, ia terdiam seribu bahasa, tatapan matanya kini terlihat sendu dengan segala pikiran di kepalanya.


"Perusahaan itu aku rintis dari awal, aku bangun dengan kerja keras, sekarang lepas begitu saja karena kebodohanku," lirih Raymond sambil mengepal kedua tangan di pangkuannya, ia tampak begitu kesal dengan apa yang sudah terjadi.


Alice menyentuh pundak Raymond dengan lembut, mencoba untuk menenangkannya.


"Sabar sweetu, kita mulai semua dari awal, aku yakin kamu pasti bisa, aku akan selalu menemanimu sampai kamu dapat mewujudkan semua itu kembali," tutur Alice dengan lembut menenangkan kesedihan Raymond.


Raymond menatap wajah Alice dengan sendu, ia langsung menghamburkan kesedihannya dipelukkan Alice.


"Maafkan aku sweetu, belum saatnya aku memberitahukanmu tentang hal ini, biar aku sembunyikan dulu sampai waktu yang tepat, barulah aku akan katakan padamu, yang terpenting sekarang kita harus pergi jauh dari London, memulai hidup baru dan jika keadaan sudah mulai mereda kita akan kembali ke London," gumam Alice menyimpan sebuah rahasia besar.


Kesedihan mereka tiba-tiba teralihkan karena teguran dari Albert.


"Tuan, kemana tujuan kita sekarang?"


Raymond berpikir sejenak, dengan kekacauan yang sedang terjadi di London ia tak mungkin membahayakan Alice.


"Antarkan aku ke Desa Bibury, kamu ingatkan Albert!"


Albert mengingat sejenak sebelum ia menjawab.


"Baik Tuan, kita ke sana," jawab Albert sambil memutar arah kemudinya menuju Desa Bibury.


Butuh waktu dua jam untuk menempuh perjalanan hingga sampai ke Desa Bibury. Sebuah Desa yang indah di perbukitan Cotswolds yang berada di Gloucestershire, Inggris. Desa dengan nuansa asri bak negeri dongeng.

__ADS_1


"Desa Bibury, apa kamu pernah ke sana sebelumnya sweetu?" tanya Alice menautkan kedua alisnya.


"Sudah, baru dua kali, itu tempat yang bagus untuk melindungimu, karena jauh dari keramaian kota London," ujar Raymond tersenyum kecil.


Selama perjalanan, Alice yang lelah dengan apa yang telah dilewatinya, mulai menyandarkan dirinya pada pangkuan Raymond.


"Sweetu, bolehkah aku tidur?" tanya Alice yang terlihat sayu tatapannya.


Raymond tersenyum.


"Tidurlah sweety, maafkan aku ya, telah membuat hidupmu jadi seperti ini," tutur Raymond dengan wajah sendunya, merasa tak enak karena sejak Alice menikah dengannya, hidupnya jadi penuh dengan masalah.


Alice tersenyum tulus, menatap mata Raymond penuh cinta, ia mengangkat wajahnya yang saat ini sudah bertumpu dipangkuan Raymond untuk mencium bibirnya, memberikan bukti cintanya yang tulus kepada Raymond.


Hati laki-laki mana yang tak luluh mendapati ciuman dari istrinya, di saat keadaan hidupnya sedang tak menentu arah tujuan.


Aku beruntung memilikimu Alice.


Alice kembali meletakkan kepalanya, mencari kenyamanan dalam pangkuan Raymond. Tak sedetikpun Raymond berhenti membelai rambut Alice, memberi sedikit pijatan pada dahinya. Tak butuh waktu lama Alice pun tertidur lelap, Raymond terus menatap wajah istrinya yang masih terlihat cantik walau saat ini sedang terpejam.


Cantikmu tak pernah berkurang sweety.


"Albert, berapa lama lagi kita sampai? Apakah kamu tidak dapat kabar tentang keberadaan Elliot?" tanya Raymond teringat tentang keberadaan Elliot yang secara misterius menghilang, bahkan ponselnya pun tidak dapat dihubungi.


"Tidak Tuan, terakhir aku melihatnya bersama Tuan Nicholas di MANGO Corporate, mereka seperti mengadakan meeting penting bersama beberapa dewan tinggi dan para notaris di kantor, itu sebelum Tuan Will mengambil alih MANGO Corporate, Tuan," ujar Albert memberitahu apa yang dilihatnya.


Raymond menautkan kedua alisnya, ia berpikir keras tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Elliot dan meeting mengenai apa yang mereka lakukan.


Hanya Elliot dan Daddy yang dapat menjawab semuanya.


"Belum Tuan, karena Tuan Elliot terlebih dahulu menghilang, maka itu saya terpaksa menjadi supir taksi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya, Tuan," tutur Albert sambil menghela nafasnya pelan.


Baru aku tinggal sebentar saja, semua sudah menjadi kacau seperti saat ini.


"Tidak usah khawatir, Albert, aku akan transfer gajimu ke rekening," ucap Raymond merasa iba dengan nasib Albert saat ditinggal dirinya bulan madu.


"Terima kasih Tuan, tapi apa kamu masih memiliki uang, Tuan? Jika tidak ada tak usah dipaksakan, Tuan," tanya Albert coba mengerti posisi Raymond yang saat ini sedang terpuruk.


Raymond terkekeh pelan, ia mengernyitkan dahinya mengusir gusar di wajahnya.


"Tak usah khawatir Albert, untuk hidup 10 tahun, uang simpanan yang aku miliki masih sangat cukup," ujar Raymond menenangkan segala gundah dari pertanyaan Albert.


"Tapi aku tidak akan tinggal diam membiarkan Will menang begitu mudah dan menguasai MANGO Corporate dalam waktu lama," gumam Raymond memusatkan pikirannya untuk menemukan suatu ide agar dapat merebut kembali MANGO Corporate.


Titik terang mulai menaungi pikirannya. Ia mulai menyusun kepingan-kepingan yang terlintas di kepalanya untuk dapat ia susun menjadi satu kesatuan, agar dapat menemukan apa yang sebenarnya terjadi.


Jangan-jangan memang Will menunggu kesempatan saat aku pergi dari London.


"Kurang ajar kau Will, tunggu balasanku! Suatu saat aku akan kembali dan membalas semua yang telah kamu perbuat!" geram Raymond memelankan suaranya tak ingin Alice terbangun.


"Aku harus menemukan Elliot atau menemui Daddy, aku harus tahu meeting apa yang mereka bahas di saat aku sedang tidak ada di London," gumam Raymond terus berpikir untuk menemukan jawaban dari tanda tanya besarnya.


Akhirnya mobil Albert tiba di Desa Bibury, suasana sore yang begitu indah dengan sunset yang memukau.


__ADS_1


Rumah keluarga Weil yang jauh dari kota London, menjadi tempat pengasingan untuk Raymond saat kepenatan mulai mengusik hidupnya.


Di sinilah Raymond menenangkan dirinya, tempat lahirnya penemuan-penemuan hebat yang Raymond ciptakan.


Tempat yang begitu asri, jauh dari kebisingan kota dengan udara yang begitu sejuk dan asri.


🍁🍁🍁



Di sebuah gudang tua, Elliot terlihat sedang duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat dan mulut tersumpal. Ia tampak berusaha untuk melepaskan ikatan yang membelenggunya.


Sial, ikatan ini sangat kencang, bagaimana bisa aku melepasnya.


Di tengah usaha Elliot melepaskan diri, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya, pintu gudang tua pun terbuka, sosok Will muncul menghampiri Elliot.


Melihat kedatangan Will, Elliot sangat geram, matanya membulat besar, menatap tajam wajah Will yang terus mendekatinya, emosinya semakin memuncak hingga membuat kursi yang didudukinya terhentak keras beberapa kali.


"Kurang ajar, awas kau Will, jika aku bebas, aku akan buat perhitungan denganmu," gusar Elliot di dalam hatinya.


"Apa yang kau katakan Elliot, aku tidak dengar," ledek Will sambil mendekatkan telinganya ke mulut Elliot yang tersumpal.


Will mendekatkan wajahnya tepat dihadapan Elliot yang terlihat sangat geram padanya. Ia menunjukan surat perjanjian yang telah ditandatangani oleh Alice.


"Adikmu telah menandatangani surat perjanjian ini," ucap Will terkekeh.


"Kenapa Alice, apa yang membuatmu menyerahkan 50% saham itu, padahal itu satu-satunya harapan untuk dapat mengambil alih kembali MANGO Corporate dari tangan baj*ngan ini," gumam Elliot mendesah kasar.


Elliot terus membaca surat perjanjian itu seutuhnya, hingga ia melihat sesuatu yang janggal dalam ingatannya.


"Tanda tangan itu berbeda dengan tanda tangan sewaktu ia menandatangani dokumen pernikahannya," gumam Elliot mengingat.


"Saat ini MANGO Corporate telah resmi jadi milikku, jadi walaupun Alice mengandung anak Raymond sekalipun, itu sudah tidak berlaku lagi karena Alice sudah mengalihkan kekuasaannya kepadaku," tutur Will lantang merayakan kemenangannya.


"Rayakan kemenangan sesaatmu, sampai kamu tahu bahwa tanda tangan itu bukanlah tanda tangan Alice yang sebenarnya," gumam Elliot sedikit bernapas lega.


"Sepertinya aku sudah tidak perlu menahanmu lagi Elliot, besok anak buahku akan membuang tubuhmu ke laut," ujar Will sambil berlalu meninggalkan Elliot, diikuti oleh beberapa anak buahnya yang mengekor di belakangnya.


Sial apa hidupku harus berakhir seperti ini, aku harus menemukan cara agar dapat bebas dari sini.


Elliot terus berpikir dengan keras, sambil menatap punggung Will yang semakin tak terlihat dari pandangannya.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Jangan lupa berikan dukungan kalian ya.


Like, komentar dan vote jika berkenan.


Sehat selalu ya.


Terima kasih.


πŸ˜πŸ˜ŠπŸ€—

__ADS_1


__ADS_2