
Selamat membaca!
Raymond sudah berada di titik buntu dalam pikirannya. Ia tak dapat menemukan jalan untuk merebut kembali MANGO Corporate dari tangan Will. Raymond tampak pasrah. Wajahnya kini sendu penuh kesedihan.
"Aku sudah hancur Albert, sekarang aku tidak bisa melakukan apa-apa," ucap Raymond menghela napas dalam.
Albert prihatin mendengar keputusasaan yang keluar dari mulut Raymond. Selama ini ia mengenal Raymond sebagai sosok CEO yang tangguh, workaholic tak kenal lelah dalam bekerja dan seorang pria cerdas dalam menemukan solusi dari setiap masalah yang dihadapinya.
Tuan Raymond, apa ini akhir dari kekuasaanmu?
Albert mendesah kasar, rasa sesak dalam dadanya bergemuruh, tertahan bersama air mata yang terus menetes mengingat kematian Elliot.
Kasihan Tuan Elliot, hidupnya harus berakhir tragis.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang menuju Desa Bibury.
Raut wajah Raymond terlihat sendu, dengan memandangi pepohonan di tepi jalan, ia menyesali segala kesalahan yang pernah dilakukannya.
"Andai aku dapat mengendalikan hawa nafsuku dan tidak terperangkap dalam permainan Greta, aku tidak akan hancur seperti sekarang ini," gumam Raymond menghela napasnya kasar.
Waktu terus melangkah maju. Tak sekalipun sang waktu memberikan kesempatan, untuknya memperbaiki kesalahan di masa lalu.
Raymond semakin tenggelam hanyut dalam kesedihannya. Sesekali ia menyeka sudut matanya, yang tak henti-hentinya mengalir, terlebih saat mengingat semua memori tentang Elliot.
Elliot, maafkan aku, ini semua murni kesalahan besarku.
Rasa frustasi yang membuat Raymond berkali-kali merutuki semua kebodohannya. Ia begitu terluka dan hati sakit begitu dalam, karena kehilangan seorang sahabat.
Setelah menempuh waktu 2 jam 20 menit di perjalanan. Mobil Albert mulai memasuki jalan pedesaan Bibury.
"Tuan, sebentar lagi kita akan segera sampai."
Raymond mulai membasuh wajah dengan telapak tangannya, menyegarkan matanya agar tak terlihat sendu dan letih.
"Aku harus menyembunyikan kematian Elliot dulu dari sweety, aku tidak ingin ia terluka mendengar berita kematian Elliot," gumam Raymond yang cemas memikirkan Alice, bila tahu Elliot sudah meninggalkan.
Mobil mulai terparkir di sisi rumah. Raymond turun dengan perlahan, meninggalkan Albert yang masih larut meratapi kesedihannya karena Kematian Elliot.
Tuan Elliot, semoga kamu tenang di sana.
Albert menangis terisak, suara itu terdengar oleh Raymond yang kini sudah beranjak masuk ke halaman rumah. Ia menoleh iba menatap Albert, memberikan kode padanya dengan menempelkan jari telunjuk pada bibirnya, agar menjaga suaranya dan berakting tidak terjadi apapun dihadapan Alice.
Raymond melangkah masuk ke dalam rumah dengan kembali mengusap wajahnya, untuk menghilangkan sendu di raut wajahnya.
"Alice, aku sudah pulang," ujar Raymond mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alice.
Raymond mulai panik saat di dalam kamar ia belum juga menemukan Alice, dicarinya ke seluruh pelosok ruangan di penjuru rumah, namun semua nihil, Alice belum juga diketemukan.
"Kemana Alice?" tanya Raymond cemas, sambil mencengkram rambutnya dengan keras.
Raymond berlari kembali keluar, ia memberitahu kepada Albert untuk membantunya mencari keberadaan Alice. Albert yang mendengarnya langsung keluar dari mobil dan mereka berpencar.
"Alice," teriak Raymond di depan rumah.
Beberapa menit mencari, Albert kembali menghampiri Raymond.
__ADS_1
"Nona Alice tidak ada Tuan."
"Kemana Alice?" Raymond terlihat sangat bingung, wajahnya cemas dengan keringat di dahinya.
Raymond kembali meminta Albert mencari Alice menyusuri jalan pedesaan.
Aku salah telah meninggalkan sendiri.
"Alice," teriak Raymond kembali dengan keras.
Suara teriakan Raymond sampai membuat beberapa penduduk di Desa Bibury, berhamburan keluar rumah.
Seorang wanita paruh baya menghampirinya.
"Apakah kamu mencari wanita cantik berpipi merona?"
"Betul, apa Anda melihat? Dia itu istri saya, namanya Alice," jawab Raymond dengan nada panik.
Wanita itu berpikir sejenak.
"Tadi dia kedatangan tamu, sebuah mobil mewah masuk ke sini, lantas mobil itu membawanya pergi, dia hanya meninggalkan ini untuk diberikan kepadamu," ujar wanita paruh baya itu sambil menyodorkan secarik kertas yang disambut cepat oleh Raymond.
Raymond membaca kertas itu. Wajahnya berpikir keras, akan maksud dari tulisan di kertas itu.
Apartemen ini.
Tanpa membuang banyak waktu, Raymond langsung melangkah setengah berlari menuju mobil, namun sebelumnya ia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada wanita paruh baya itu yang telah memberikannya informasi.
Alice kenapa kamu tidak menungguku.
Tunggu aku Alice.
Albert kembali mengemudikan mobilnya, menuju alamat yang diperintahkan oleh Raymond.
Alamat ini yang dulu pernah aku datangi bersama Tuan Raymond.
"Albert, berapa lama kita sampai sana?"
"2 jam kurang, Tuan."
"Oke Albert, jika kamu lelah gantian saja denganku, biar aku yang mengemudikan!"
"Tidak usah, Tuan, aku masih kuat mengemudikan mobil lemah ini, malah aku mengkhawatirkan apa mobil ini sanggup sampai ke sana," ucap Albert tertawa renyah mengejek mobil taksinya.
Raymond ikut terkekeh.
"Kau betul Albert, semoga mobil ini tidak buat masalah ya."
Sejenak kecemasan mereka tersisihkan karena pembahasan mobil yang kini dikendarai oleh Albert, maklum saja selama ini, ia selalu membawa mobil-mobil mewah secara bergantian, berbanding seratus delapan puluh derajat dengan apa yang dibawanya saat ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi ya, siapa yang menjemput Alice ke sini, tempat ini hanya ada 3 orang yang mengetahuinya, Albert, Daddy, dan Elliot," gumam Raymond berpikir dengan keras sampai mengernyitkan dahinya.
๐๐๐
__ADS_1
Alice kembali masuk ke dalam apartemen milik Richard. Ia berjalan mengekor di belakang Kelly yang menuntunnya ke arah sebuah kamar. Saat memasuki kamar, pandangannya tertuju pada sosok laki-laki yang saat ini sedang berada di atas ranjang, dengan selang infus yang terpasang di tangannya.
Alice makin mendekat, menghampiri laki-laki itu yang saat ini sedang memunggunginya. Alice duduk di tepi ranjang, laki-laki itu berbalik ke hadapannya. Mata Alice membulat besar, senyum merekah mulai tersungging di wajahnya.
"Kakak."
"Alice," ucap Elliot parau.
Alice tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Elliot, ia merintih melepas rasa rindunya dengan air mata yang terus berderai membasahi wajahnya.
Namun rasa rindu yang begitu besar membuat pelukan Alice terasa berlebihan, membuat Elliot mengaduh sedikit kesakitan.
"Au," ucap Elliot mengaduh sakit.
Alice mengendurkan pelukannya, lalu melepaskan perlahan.
"Maaf Kak, aku terlalu rindu denganmu."
Elliot tersenyum bahagia, ia tak menyangka masih dapat melihat wajah Alice kini berada tepat dihadapannya.
"Aku pikir aku sudah tidak bisa bertemu denganmu lagi," keluh Elliot mengingat kejadian yang hampir membunuhnya.
"Memang apa yang terjadi?" wajah Alice dikelilingi tanda tanya besar.
"Untung saja Kelly datang menyelamatkanku, jika tidak mungkin aku tidak akan bisa berada di sini, Alice," ujar Elliot dengan menoleh ke arah Kelly dan membentuk lengkung senyum di wajahnya tertuju pada Kelly yang menatapnya haru.
"Aku hanya kebetulan saja melihatmu terjatuh dari bagasi belakang mobil, saat itu aku memutuskan untuk membututi mobil itu, sampai akhirnya aku terkejut melihatmu dilempar ke laut sampai tenggelam, butuh beberapa menit sampai keempat penjahat itu pergi, barulah aku terjun menyelamatkanmu," ujar Kelly mengingat kejadian yang saat itu sangat mencekam untuknya.
Alice termangu mendengar cerita Kelly.
"Terima kasih Kelly," lirih Alice dengan air mata yang terus menetes.
Alice kembali menghamburkan rasa rindunya dengan memeluk Elliot.
"Lain kali kemanapun aku pergi, kau harus ikut, kita sudah lama terpisah, aku tidak ingin berpisah lagi denganmu, Kak," tutur Alice terus menangis.
Melihat momen menyedihkan di depan matanya, Kelly tak kuasa menahan air matanya, hingga ia ikut menangis penuh haru.
Elliot kemudian mengusap air mata di wajah Alice, walau dirinya pun tak sanggup menahan air mata untuk tidak lolos dari matanya, keduanya larut dalam kebahagiaan, karena masih diberi kesempatan untuk saling bersama.
"Kini kita sudah berkumpul lagi Alice, dengan kamu dan aku bersama, kita akan dengan mudah merebut kembali apa yang telah dirampas darimu."
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
Bagaimana pendapatmu tentang cover baruku?
Tentang judul baruku?
Dan isi cerita di part ini?
Berikan waktu kalian untuk berkomentar ya. Komentar kalian adalah penyemangat untukku. Jangan lupa juga jika berkenan sematkan vote kalian ya, tentunya tidak lupa like nya ya.
Sehat selalu. Terima kasih ๐น๐น
__ADS_1