Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Zack Weins


__ADS_3

Selamat membaca!


1 Bulan kemudian.


Keadaan di London pasca keputusan persidangan, kini sudah berangsur membaik. Tanpa membuang waktu Richard mengambil alih kepemilikan MANGO Corporate dari tangan Will dan membuat Will harus kembali ke Swedia. Kini Richard sudah menunjuk Elliot untuk menjadi Chief Operating Officer sama seperti jabatan Raymond di Perusahaan Alex G-Phone.


Elliot sudah memecat Brisca dari posisinya sebagai Sekretaris dan menggantikannya dengan Kelly calon istrinya.


Aku tidak ingin wanita yang pernah ada skandal dengan Raymond bekerja di MANGO Corporate.


Elliot terus membenahi struktur jajaran staf-staf yang ada di MANGO Corporate dengan menggunakan smartphonenya. Selama di dalam mobil ia sangat menikmati hal baru yang saat ini dirasakannya, menjadi seorang pimpinan di sebuah perusahaan besar dan duduk di kursi belakang mobil mewah keluarga Weil, mobil yang selama masa baktinya menjadi asisten Raymond, selalu ia duduki di kursi depan bersama Albert.


Mobil mewah yang dikendarai oleh Chris supir baru Elliot sudah tiba di pelataran kantor.



Dengan mengenakan jas biru dan kemeja kuning, Elliot terlihat sangat berwibawa memasuki lobi kantor, ia berjalan sejajar dengan Kelly sebagai sekertaris pribadinya.


Permasalahan di London sudah mulai teratasi, dalam sebulan saham MANGO Corporate mulai menguat kembali dan semua penjualan produk mulai dari handphone, laptop dan kamera juga mengalami kenaikan hingga 60%.


Nama besar seorang Richard Marx membuat semua investor, yang sempat menarik sahamnya kembali percaya untuk berinvestasi dan menjalin kerja sama dengan MANGO Corporate termasuk Alexander Kemal Malik.


Elliot sudah berada di ruangannya. Ia menduduki kursi yang biasanya hanya dipandangi dari arah seberangnya.


Apa ini mimpi aku bisa berada di kursi ini?


Semua berkat Alice, dia bukan hanya Adikku tapi seperti anugerah untuk kehidupan yang aku jalani.


"Saat ini Alice sedang apa ya? Aku ingin menghubunginya?"


Elliot mengambil smartphone canggihnya sama seperti yang dimiliki oleh Raymond. Ia mulai menghubungi Alice.


Video call mulai tersambung. Suara Alice mulai terdengar.


"Halo Kakak."


Elliot tersenyum menatap Alice pada layar smartphonenya.


Alice terlihat sedang tergolek manja di atas ranjangnya.


"Gimana kehamilanmu Alice?" tanya Elliot yang terus memandang wajah Alice dari layar smartphonenya.


"Tidak nyaman Kak, dikit-dikit mual, nyium bau apapun langsung terasa di penciumanku, perutku juga semakin tidak nyaman, seperti ada sesuatu di dalamnya."


Elliot terkekeh mendengar perkataan Alice.


"Namanya juga kamu sedang mengandung Alice jadi wajar saja ada sesuatu di dalam perut kamu," tutur Elliot terkekeh lucu.


Alice mengerlingkan matanya, berpikir sejenak dengan wajah polosnya.


"Namanya juga anak pertama, Kak."


"Kemana suamimu? Apa dia belum sampai di rumah? Menurut laporan Albert sejauh ini sikapnya sudah sangat berubah terhadap wanita-wanita di sekelilingnya, tampaknya dia sudah setia denganmu," tutur Elliot membocorkan rahasianya bahwa Albert selama ini menjadi mata-matanya.


Alice membulatkan kedua matanya, ia melotot menatap wajah Elliot dalam layar ponselnya.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh begitu Kak, stop memberi perintah pada Albert untuk memata-matai Raymond, percaya padaku saat ini suamiku sudah berubah."


Elliot tersenyum menatap Alice.


"Baik-baik, apapun keinginanmu, aku hanya cemas dia akan kembali melukaimu, tapi setelah sebulan ini, rasanya aku mulai percaya padanya."


"Janji ya Kak," tegas Alice.


"Aku janji Adikku tersayang," ucap Elliot sambil menangkup kedua tangannya.


Perbincangan mereka berlanjut ke topik lainnya, pembahasan tentang pernikahannya dengan Kelly sampai masalah Richard yang saat ini sudah kembali ke Australia.


Namun seketika pembicaraan mulai menjadi serius saat Alice mulai menanyakan keberadaan Greta.


Elliot berkata sejujurnya kalau Greta memang sudah menghilang dari London, beberapa kali ia sudah mencari di apartemennya namun ternyata kepemilikan apartemen sudah berpindah tangan, yang bisa diartikan bahwa Greta sudah menjual apartemennya.


Elliot juga memberitahu jika Greta tidak lagi bekerja dengan Will Stefan Persson di Swedia dan sampai saat ini kepergiannya masih menjadi misteri untuk Elliot.


"Semoga saja Greta sudah menemukan kebahagiaannya dan tidak mengganggu lagi rumah tanggaku dengan Raymond," gumam Alice penuh harap.


🍁🍁🍁


Di Kawasan Perkantoran SCBD Sudirman.


Weins Tower.


Sepasang kaki jenjang yang putih dengan mengenakan higheels tinggi terlihat sedang berjalan di sebuah lobi kantor.


"Zack segala proposal untuk meeting sudah ku siapkan."


"Terima kasih tapi kamu tidak usah terlalu sungkan, kita itu sudah bersahabat lama."


"Oke tidak masalah, tapi ingat jangan terlalu berlebihan, oke."


Terlihat sebuah senyuman terbit dari wajah Greta. Keduanya kembali berjalan sejajar menuju ruang meeting.


🍁🍁🍁



Zack Weins adalah seorang CEO muda berusia 32 tahun. Tampan dan kaya raya, hidupnya tidak pernah sedikit pun merasa kekurangan, di kelilingi banyak wanita cantik tidak membuatnya besar kepala, ia tetap dingin menanggapi segala godaan yang datang, karena di matanya ada satu wanita yang masih membuatnya sangat penasaran untuk bisa dimilikinya, yaitu Greta.


Zack dan Greta pertama kali bertemu di Swedia dalam sebuah urusan bisnis. Kebetulan Perusahaan Weins saat itu hendak menjalin kerja sama dengan Perusahan Will.


Awal pertemuan yang bermula karena sebuah urusan bisnis, tak membuat komunikasi keduanya putus sampai di situ, terkadang mereka sering menghabiskan waktu santai bersama, pergi ke cafe atau sebuah club, sewaktu Zack berada di Swedia.


Saat menerima telepon dari Greta, Zack begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Greta, bahwa dirinya akan menetap dan bekerja di Jakarta.


Rasa terkejut bercampur dengan sebuah kebahagiaan, karena Zack kembali dapat bertemu dengan Greta yang sudah 6 bulan tak dijumpainya.


Setibanya Greta di Bandara Soekarno-Hatta, Zack menjemputnya dan mengantar Greta untuk menempati apartemen miliknya yang terletak di kawasan Kemang Raya. Kebaikan Zack tak berhenti sampai di situ, ia juga memberikan Greta pekerjaan dengan posisi yang bagus di perusahaannya. Kebetulan Perusahaan Weins baru saja ditinggal oleh sekretaris lamanya yang mengundurkan diri karena alasan menikah.


🍁🍁🍁


Setelah meeting selesai, Greta langsung kembali ke ruangannya, ia terlihat sudah duduk di kursi dengan wajah yang lelah.

__ADS_1


"Kehamilan ini membuatku gampang lelah, tapi aku harus kuat, karena tujuanku ke sini adalah untuk dapat bertemu dengan Tuan Raymond."


Wajah Greta menunjukkan kebingungan dan kecemasan yang dalam sebulan ini terus melanda dirinya, saat memikirkan Raymond.


"Kira-kira dimana Tuan Raymond? Aku sudah mencarinya tapi belum juga dapat menemukannya," ucap Greta berpikir dengan keras untuk menemukan sebuah petunjuk.


Raut wajah Greta mulai tampak sangat kesal, ketika pikiran di dalam otaknya terasa buntu, tidak dapat menemukan sedikit pun petunjuk tentang keberadaan Raymond. Greta beberapa kali memukul meja kerjanya, hingga membuat suara gaduh memenuhi setiap penjuru ruangan, ia melampiaskan segala kekesalannya karena selama 1 bulan pencariannya belum juga membuahkan hasil.


Kemarahan yang tiba-tiba membuat perut Greta terasa sakit, sepertinya Greta terkena kram perut, yang wajar terjadi ketika tensi seorang wanita hamil mengalami suatu gejolak, terlebih jika emosinya sedang memuncak.


"Au kenapa perutku sakit sekali."


Greta meringis kesakitan, ia mengaduh sampai menimbulkan suara yang terdengar sampai keluar ruangan, kebetulan Zack sedang melintas di depan ruangannya.


"Itu suara Greta ada apa dengannya sampai kesakitan seperti itu?"


Pintu ruangan terbuka, Zack terhenyak mendapati Greta sudah tak sadarkan diri tergeletak dengan wajah yang bersandar di atas meja kerjanya.


"Ya ampun Greta."


Zack langsung menggendong tubuh Greta untuk membawanya ke rumah sakit.


🍁🍁🍁


Perumahan Green Andara.


Raymond sudah terlihat berada di rumahnya, ia memang sudah merencanakan dari jauh-jauh hari untuk pulang lebih awal, karena akan membawa Alice untuk kontrol kehamilan yang rutin dilakukannya.


"Ini kunjungan kedua sweety, semoga calon bayi kita selalu sehat dan ganteng seperti Ayahnya."


"Apa tidak boleh aku minta putri cantik terlebih dahulu?"


Raymond berpikir sejenak.


"Tidak mengapa kalau memang anak kita perempuan terlebih dahulu, aku bahagia apapun yang diberikan Tuhan, sweety," ujar Raymond sembari mengusap wajah Alice dengan lembut.


Keduanya kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil. Risfa tampak terlihat di sana dan akan ikut ke rumah sakit. Raymond sengaja mendatangkan Risfa sejak dirinya mengetahui tentang kehamilan Alice, untuk menjadi asisten pribadi yang akan mengurus segala keperluan dan selalu mengingatkan Alice tentang kandungannya, mulai dari jadwal minum susu hamil, porsi makannya dan jadwal kontrol ke Dokter kandungan.


Di dalam mobil.


"Aku tidak percaya dengan pembantu lokal jika itu menyangkut kamu dan kandunganmu, keputusanku mendatangkan Risfa sangat tepat bukan? Semua pekerjaanmu di handle dengan sangat baik olehnya, biarlah kedua pembantu lokal itu mengurus rumah kita saja yang begitu besar, aku ingin Risfa fokus melayanimu."


"Iya sweetu, terima kasih atas semua yang istimewa yang kamu lakukan dalam sebulan ini," tutur Alice dengan membenamkan wajahnya di dada Raymond.


Raymond mengusap pucuk rambut istrinya dengan lembut, memberikan sentuhan nyaman yang membuat Alice semakin terjaga bila berada di dekat Raymond.


"Sejak kita di Indonesia, aku sangat bahagia sweetu, tidak ada pengganggu atau masalah apapun dalam rumah tangga kita, semua berjalan dengan baik dan semoga ini berlangsung untuk selamanya."


Alice menyunggingkan senyum di wajahnya, kebahagiaan yang selalu mengisi ruang di hatinya, jauh dari kesedihan, air mata dan rasa sakit.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Jangan lupakan like dan komentarnya ya, itu penting untuk semangatku..

__ADS_1


Terima kasih semua.


Next episode akan semakin seru.


__ADS_2