Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Rencana Di Majukan


__ADS_3

Selamat membaca!


Raymond masih terhenyak saat sebuah peluru melintas dari arah belakang melewati samping telinganya. Pria itu langsung roboh bersimbah darah dengan bekas tembakan tepat di dahinya. Alice terjatuh merunduk ketakutan dengan apa yang terjadi di depan matanya. Raymond dengan cepat langsung menghampiri Alice, setelah ia melihat ke belakang tubuhnya bahwa Richard-lah yang melepas tembakan itu secara diam-diam.


"Kamu tidak apa-apa Alice?" ucap Raymond sambil merengkuh tubuh Alice yang terlihat gemetar, lalu memeluknya dengan erat.


Alice masih tak mampu berkata. Ia masih terus menangis dalam pelukan Raymond, rasa takut masih begitu terasa, hingga membuat bibir Alice gemetar dengan raut wajah yang sendu penuh dengan air mata.


"A-aku ta-takut..."


Alice terbata-bata dalam berkata, lidahnya seakan kelu karena rasa takutnya.


"Semua sudah selesai Alice, kamu sudah aman sekarang," ucap Raymond sambil membelai surai hitam rambut Alice dengan lembut lalu memberi kecupan pada pelipisnya.


Richard menghampiri keduanya. Walau dalam hatinya ada rasa cemburu atas apa yang dilihatnya, namun ia cepat mengabaikan perasaannya yang salah itu.


"Ayo kita harus bergerak, kita harus cari tempat yang aman untuk Alice, agar dia tidak perlu terlibat dalam masalah ini," tutur Richard mencemaskan keadaan Alice.


Raymond memapah tubuh Alice yang masih limbung untuk berdiri, dengan tertatih Alice melangkah untuk masuk menuju mobil bersama Raymond.


Richard mengekor di belakangnya, namun sebelum itu ia sempat memeriksa identitas dari pria yang saat ini sudah terkapar lemah di dasar aspal. Sebuah jalan yang terlihat kosong, karena memang ini bukanlah jalan utama.


Di dalam mobil.


Raymond dan Alice sudah berada di kursi belakang, sementara Richard sudah bersiap melajukan mobilnya.


"Kau gila Richard, jika tembakanmu meleset dan mengenai Alice, bagaimana?"


Richard terkekeh geli mendengar perkataan Raymond.


"Aku tidak akan meleset," ucap Richard dengan angkuh.


Raymond mendengus kasar, ia tak lagi menjawab ucapan Richard, kini Raymond terus menatap wajah Alice yang masih kelihatan begitu ketakutan. Raymond memberi dekapan pada tubuh Alice, hingga Alice menyandarkan kepalanya dengan nyaman di atas dada suaminya. Matanya masih basah oleh air mata dengan pandangan terus menatap ke arah kursi kemudi.


"Lagi-lagi kau menyelamatkanku Tuan Richard, aku berhutang budi denganmu," batin Alice tersenyum tipis menatap punggung tubuh Richard.


🍁🍁🍁


30 menit kemudian.



Sebuah lampu merah di jalan utama kota London, jalan yang mengarah menuju rumah kediaman keluarga Weil, terlihat rombongan mobil beriringan.


"Rencana harus aku majukan, karena kondisi Ayah yang semakin memburuk di Indonesia," geram Thomas dengan wajah yang mengeras.


Tak lama ponselnya berbunyi. Ia mengambilnya lalu melihat di layar ponsel tertera sebuah nama "Greta".


"Alice dan Raymond sudah sampai di rumah, apa anak buahmu terlalu lemah untuk menangkap keduanya?"


Thomas terhenyak, ia tak menyangka ketiga anak buahnya gagal menjalankan tugas yang diperintahkan.


"Sepertinya aku yang harus turun tangan, buat mereka tetap di rumah! 1 jam lagi aku sampai," tutur Thomas sambil menutup panggilan telepon dari Greta, lalu ia menghempaskan ponselnya dengan kesal sampai membentur pintu mobil.


Lampu lalu lintas sudah menunjukkan warna hijau, tanda bahwa kendaraan sudah diperbolehkan untuk melintas. Thomas memberi perintah kepada anak buahnya untuk menambah kecepatan mobilnya untuk segera sampai di tujuan.

__ADS_1


"Aku sebenarnya tidak punya urusan dengan Raymond dan Alice, karena yang paling penting bagiku saat ini adalah kematian Richard."


Thomas mengepalkan tangannya, wajahnya terlihat begitu murka saat mengingat kematian Zack.


🍁🍁🍁


Di rumah kediaman keluarga Weil.


Ketiganya sudah berada di dalam rumah, kedatangan mereka langsung disambut oleh Elliot dengan rasa cemasnya, ia melihat Alice dalam keadaan lemah dan saat ini berada dalam tuntunan Raymond.


"Ada apa ini Tuan Raymond? Apa yang terjadi dengan Alice?" tanya Elliot yang membantu Alice untuk duduk di sofa.


Elliot duduk di samping Alice. Ia menuntut sebuah jawaban dari Raymond yang masih belum bicara.


Raymond mengerutkan keningnya dan menghela napasnya dalam sebelum menjawab.


"Entah itu siapa? Tapi mereka ingin menangkapku dan Alice."


Wajah Elliot seketika mengeras mendengar perkataan dari Raymond. Mata yang tadinya terlihat sendu, kini langsung berubah begitu tajam.


"Pasti ini ulah Greta, aku ingin menanyakan langsung padanya!" ucap Elliot sambil bangkit untuk melangkah menuju kamar Greta, namun baru satu langkah ia berjalan, Alice meraih tangan Elliot untuk menahannya.


"Tidak perlu Kak, jangan langsung curiga dengan Greta, karena belum tentu semua dugaan Kakak itu benar," lirih Alice yang masih lemah suaranya.


Alice masih terlihat menyandarkan kepalanya di pundak Raymond.


"Kamu sebaiknya istirahat di kamar sweety, apa kamu kuat berjalan ke atas?"


Alice menggelengkan kepalanya, ia memberikan sebuah kode, bahwa saat ini memang tubuhnya begitu lemah, bahkan untuk digerakkan saja sudah begitu berat, apalagi membayangkan jika harus menaiki anak tangga.


Elliot yang melihat hal itu langsung merengkuh tubuh Alice untuk menggendongnya menuju kamar. Namun baru mencoba untuk bangkit, kedua paha Elliot tak mampu untuk berdiri dan menahan beban tubuh Alice yang bertambah berat. Elliot kembali meletakkan tubuh Alice dengan perlahan di atas sofa.


"Sial, saat seperti ini luka di perutku sangat merepotkan," gumam Raymond merutuki keadaannya begitu kesal.


Di tengah kebingungan Elliot dan Raymond, Richard datang menawarkan dirinya untuk menggendong Alice.


"Biar aku saja, benar kata Raymond, lebih baik kau beristirahat di kamarmu Alice, itu akan cepat mengembalikan tenagamu."


"Tidak perlu, aku di sini saja Tuan Richard, aku hanya butuh tidur saja," tolak Alice merasa risih dengan tawaran Richard.


Raymond terus menatap tajam wajah Richard. Ia sebenarnya tidak terima dengan tawaran Richard. Namun melihat keadaan Alice, ia pun mau tak mau membiarkan Richard merengkuh tubuh Alice dan menggendongnya.


Alice hanya bisa pasrah, ia kini berada dalam gendongan Richard yang mulai melangkah menaiki anak tangga dan Raymond terus mengekor tepat di belakangnya.


"Sial, kalau ini bukan karena terpaksa aku tidak akan mengizinkan Richard menyentuh Alice," gerutu Raymond kesal melihat pemandangan yang saat ini terjadi.


"Apa aku berat Tuan Richard?" tanya Alice pelan, ia tidak enak sampai harus digendong oleh Richard yang tidak lain adalah Kakak Iparnya sendiri.


Richard mengulas senyum di wajahnya.


"Latihan di FBI lebih berat dari beban badanmu ini Alice," sanggah Richard masih terus melangkah menaiki anak tangga.


"Jadi kau pernah jadi anggota FBI, pantas saja kau ahli sekali dalam berkelahi dan menembak," puji Alice menyimpan kekaguman dalam hatinya, karena untuk kedua kalinya Richard menyelamatkan hidupnya.


Richard terkekeh mendengar pujian dari Alice. Suara tawanya membuat seisi ruangan seakan menggema.

__ADS_1


"Kau berlebihan Alice, itu hanya kebetulan saja," elak Richard merendahkan dirinya.


Raymond semakin panas mendengar keduanya bercengkrama, seakan melupakan keberadaannya yang saat ini sedang mengekor di belakang mereka.


"Sial! Aku cemburu melihat mereka, apa istriku sudah mulai jatuh cinta pada Richard?" gumam Raymond mendengus kesal.


Alice terus menatap wajah Richard, namun sesekali ia melirik ke arah suaminya dengan perasaan tidak enak.


"Pasti sweetu cemburu melihatku dengan Tuan Richard," batin Alice menebak.


Ketiganya sudah sampai di depan pintu kamar, dengan perlahan Richard yang masih menggendong Alice memasuki kamar. Sementara Raymond memegangi pintu agar tidak menghalangi jalan untuk keduanya masuk. Richard mulai mendekati ranjang, setelah itu ia meletakkan tubuh Alice di atas ranjang dengan perlahan.


"Tidurlah Alice, istirahat," ucap Richard penuh perhatian sambil menatap lekat wajah Alice.


Raymond berdehem keras. Suara deheman yang membuat keduanya saling tersadar bahwa tak seharusnya pandangan mereka saling bertaut.


Richard yang merasa tidak enak, terlihat begitu canggung, ia lalu memutuskan untuk pamit kepada Raymond dan keluar dari kamar.


Di sisi lain Alice terus menatap wajah Raymond dengan penuh selidik.


"Sweetu, sini!" lirih Alice meminta.


Raymond yang masih terbakar api cemburu, merasa enggan menuruti kemauan Alice, namun saat mendengar Alice mengaduh sakit sambil memegangi perutnya, ia dengan cepat langsung menghampiri Alice.


"Kamu tidak apa-apa sweety? tanya Raymond dengan cemas.


Alice tersenyum lebar. Ia lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Raymond.


"Jadi kau hanya acting?" ketus Raymond geram merasa ditipu.


Alice hanya tersenyum menanggapi kekesalan Raymond.


"Aku suka jika suamiku cemburu, itu tandanya kamu takut kehilangan aku," lirih Alice yang masih terdengar lemah suaranya.


Raymond mengacuhkan pandangannya, namun Alice dengan cepat menangkup kedua sisi wajah Raymond, lalu dengan cepat memberikan sebuah ciuman pada bibirnya.


Keduanya saling memagut mesra, walau di awal Raymond menahan dirinya untuk tak membalas pagutan dari Alice, namun itu tak berlangsung lama, keduanya kini saling memagut liar. Stamina Alice yang tadinya lemah seakan terdongkrak oleh nafsunya yang mulai merayap naik memenuhi isi kepalanya, begitu juga dengan Raymond yang sewaktu di rumah sakit, masih belum sepenuhnya melepas seluruh hasratnya.


"Lakukan dengan perlahan sweetu, aku tidak kuat berada di atasmu, ingat pesan Dokter jangan terlalu berat," tutur Alice mengingatkan, sejenak menjeda pagutan mereka.


"Sudah, tak perlu sekarang sweety, aku bisa menahannya, yang penting kamu istirahat saja dulu," tutur Raymond sambil mengusap lembut pucuk rambut Alice.


Raymond tidak tega jika harus kembali menguras sisa tenaga yang masih Alice miliki, walau sebenarnya ia ingin, namun dirinya dan Raymond jr sepakat untuk menundanya terlebih dahulu sampai kondisi Alice sudah sepenuhnya membaik. Alice yang menuruti perintah Raymond, mencoba untuk memejamkan matanya, sementara Raymond terus melihat ke arah nakas yang berada di sudut kamarnya.


"Sepertinya aku harus memasang benda kecil itu di tangan Alice."


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Benda apa yang Raymond maksud?


1 Jam lagi ke 27 anak buah Thomas, bersama Thomas dan George akan datang ke rumah kediaman Weil, bagaimana cara Richard, Elliot dan Raymond menghadapinya?


Ikuti terus dan jangan bosan memberikan dukungan kalian, lewat like, vote, tips dan komentar kalian. Terima kasih karena kalian adalah semangatku untuk terus berkarya.

__ADS_1


__ADS_2