Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Kejujuran Terkuak


__ADS_3

Selamat membaca!


Sebuah Cafe.


Amita masih terlihat bersantai dengan menyeruput segelas kopi yang sudah 2 gelas dihabiskannya. Memang Amita sangat menyukai kopi, ia bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sebuah cafe yang menyediakan kopi sebagai minuman utamanya, kebetulan cafe yang terletak sekitar 5 blok dari MANGO Corporate ini menyediakan beberapa varian kopi yang menjadi ciri khas cafe tersebut. Amita sering berkunjung, walau hanya seorang diri.


Namun tiba-tiba suara arogan terdengar menyapanya, memecahkan keheningan yang terasa kala itu.


"Siapa Anda?" tanya Amita yang menoleh ke arah seorang pria dengan stelan jas lengkap, sedikit bulu pada rahangnya dan terlihat handsome untuknya.



"Boleh aku duduk di sini."


"Silahkan!" ucap Amita mempersilahkan.


Elliot akhirnya duduk dan sudah berada dihadapan seorang wanita, yang wajahnya sama seperti yang berada di dalam foto yang Alice kirimkan padanya.


"Perkenalkan aku, Elliot, Nona siapa kalau boleh tahu?"


"Aku Amita, kau mau pesan apa silahkan aku yang traktir, kebetulan hari ini aku sedang merayakan sebuah kemenangan manis untukku," ucap Amita dengan menyunggingkan senyum lebar di wajahnya.


"Kalau begitu aku pesan capuccino saja satu, selamat Nona Amita untuk kemenanganmu, kau memang wanita yang hebat ya," puji Elliot berbasa-basi pada Amita sebelum ia membicarakan poin dari maksud tujuannya.


Tak lama seorang pelayan datang mengantar segelas capuccino untuk dihidangkan tepat dihadapan Elliot.


"Silahkan Tuan, capuccino-nya! Apa ada lagi pesanan yang lainnya?"


"Tidak itu saja cukup, Nona," jawab Elliot dengan sopan kepada seorang pelayan.


Amita melihat senyum ramah Elliot membuat wanita cantik itu merasakan sesuatu dalam hatinya.


"Pria ini tampak sopan dan tidak arogan, walau suaranya terdengar angkuh, tidak seperti Raymond yang sombong itu. Pria ini sangat menarik," gumam Amita menatap wajah Elliot.


Elliot berdehem keras, menyadarkan lamunan Amita yang tampaknya terkesima dengan karisma Elliot. Amita yang tersadar masih terdiam sambil memainkan jemari tangannya, ia terlihat sangat canggung saat ini.


"Kenapa kau diam Nona Amita?" tanya Elliot masih menatap suatu keanehan dalam diri Amita.


"Tidak apa Elliot, hanya saja kalau boleh jujur setiap aku bertemu dengan pria yang menurutku menarik, entah kenapa aku jadi terlihat tampak bodoh dan gugup," gerutu Amita dengan mimik wajah yang menyimpulkan rasa ketidaknyamanannya saat ini.


"Terima makasih banyak jika kau menganggapku menarik untukmu, tapi sayangnya aku tidak mungkin menyukai wanita jahat sepertimu," ucap Elliot yang diakhir kalimat merubah suara ramahnya, menjadi ketus yang membuat Amita tersedak salivanya sendiri.


"Apa maksudmu?" tanya Amita sambil membulatkan matanya.


"Kau menjebak Adik Iparku dan hampir saja merusak rumah tangga mereka, tadinya aku tidak mempercayai semua yang Raymond katakan tapi secarik kertas ini, sama seperti tulisan yang kau tulis pada menu itu, ini adalah tulisan tanganmu, betapa serakahnya kau Nona Amita!"


Amita sudah tak bisa berkutik dengan semua analisa Elliot yang tak meleset sedikit pun.

__ADS_1


Amita terkekeh, untuk mengusir rasa malunya.


"Terus apa keinginanmu Tuan Elliot?"


"Aku tidak ingin apa-apa, tapi Adikku sangat geram kepadamu."


Tak lama pintu cafe terbuka, terlihat Alice mulai masuk ke dalam cafe. Ia langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Elliot, saat Elliot menyadari kedatangan Alice, ia segera melambaikan tangannya sebagai petunjuk untuk Alice.


"Itu dia, Kakak."


Alice mulai melangkah mendekat ke arah Elliot, namun dari kejauhan sosok wanita yang ada di dalam foto bersama Raymond, tampak jelas terlihat olehnya. Raut wajah Alice berubah mengeras, menahan amarah yang kini mulai merayap naik, Alice semakin mempercepat langkahnya, hingga akhirnya kini Alice sudah tepat berdiri dihadapan Amita.


Sorot mata yang tajam terpancar dari kilau mata Alice yang menunjukkan sebuah kemurkaan. Tak pelak sebuah tamparan langsung mendarat mulus di pipi kanan Amita, membuat Amita langsung bangkit dari posisi duduknya dan menyongsong wajah Alice dengan tatapan mata yang tak kalah tajam dari Alice, sambil memegangi pipinya yang panas akibat tamparan keras dari Alice.


"Berani kau menamparku! Apa kau tidak tahu siapa aku!" gertak Amita dengan nada yang lantang, wajah kini sudah memerah menahan amarah yang memuncak.


Anita meraih tangan Alice dan mencengkramnya dengan kuat, melihat hal ini Elliot langsung bereaksi dengan menggebrak meja dengan keras.


"Lepaskan tanganmu dari Alice, berani kau melukainya, aku tidak akan sungkan-sungkan untuk menghabisimu Amita!"


Amita terkekeh geli, menatap Elliot dengan begitu rendah.


"Jadi kau berani dengan wanita, Tuan Elliot! Nyalimu ternyata hanya sepertiga dari keberanianku ya."


Elliot berdecih kesal mendengar hinaan dari Amita.


"Hentikan leluconmu Amita, aku tidak perduli mau kau wanita atau pria, siapapun yang menyakiti Adikku, aku tidak akan segan menembak isi kepalanya sampai berhamburan keluar."


Amita meresponnya dengan melepas cengkraman tangannya dari Alice, saat ini semua pasang mata yang berada di dalam cafe yang sedari tadi terus menyaksikan pertikaian yang terjadi di antara Amita dan Alice, kini mulai berhamburan keluar dari cafe karena melihat situasi yang semakin memanas, tapi ada juga beberapa orang yang tidak beranjak, ternyata adalah awak media, langsung merekam kejadian yang saat ini sedang terjadi untuk meliputnya, terlebih kejadian saat ini melibatkan salah satu anggota keluarga Weil, yang beberapa bulan lalu sempat menggegerkan kota London dengan kasus pembunuhan seorang wartawan yang melibatkan Nicholas.


"Kakak, turunkan pistolmu, ini tempat keramaian, kredibilitas MANGO Corporate bisa terancam di sini, apalagi banyak yang merekam kejadian ini."


Elliot memandangi keadaan sekitar, begitu mendengar apa yang Alice katakan. Elliot akhirnya menurunkan pistolnya dan kembali menyembunyikan di balik jas hitamnya.


Namun karena hal ini Alice jadi kurang waspada terhadap Amita, sebuah tamparan balasan mendarat mulus di pipi kiri Alice, yang langsung membuat Alice mengaduh kesakitan.


Alice semakin geram dengan tingkah Amita, sambil memegangi pipi kirinya yang panas. Alice menatap tajam ke wajah Amita, demikian juga dengan Elliot.


"Kasihan ya Alice ini, suaminya selingkuh denganku dan sudah tidak mencintaimu lagi, tapi kedua kakak beradik ini malah menghardikku, apa pantas MANGO Corporate, masih kalian elu-elukan reputasinya, kemarin Nicholas sekarang menantunya."


"Bohong kau Amita, jangan pernah kau katakan kebohongan itu di depan awak media yang merekam kejadian ini, suamiku itu dijebak olehmu, akuilah Amita, aku awalnya percaya dengan segala adu dombamu, tapi saat kertas ini Kakakku temukan, aku jadi tambah yakin, jika kau memang menjebak suamiku untuk memerasnya, tapi kau tidak tahu sesuatu Amita, bahwa semua harta kekuasaan, rumah dan perusahaan itu semua sudah menjadi milikku sepenuhnya, bukan lagi milik suamiku, jadi jika kau masih mempunyai niat buruk pada suamiku, sebaiknya kau mundur dan akuilah di depan banyak orang."


Mendengar semua perkataan Alice, wajah Amita berubah menjadi pucat, ia sampai sulit untuk menelan salivanya sendiri, hingga tampak juga keringat mulai bercucuran dari dahinya.


Amita masih diam tanpa suara, tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, di dalam pikiran Amita, bodoh sekali jika dia harus jujur di depan para media, itu sama saja akan mencoreng nama baiknya. Maka itu Amita menutup rapat-rapat mulutnya, ia tidak ingin pengakuannya malah akan membersihkan nama baik keluarga Weil, yang saat ini semakin tercoreng akibat peristiwa ini.


Alice dan Elliot semakin bingung tentang tindakan apa yang harus mereka lakukan, keduanya saling tatap penuh kebingungan.

__ADS_1


Tiba-tiba dari balik tubuh Alice tanpa terduga, muncul Benjamin cs, yang tanpa ragu langsung mengarahkan sebuah pistolnya tepat ke arah dahi Amita.


"Katakan dengan jujur atau aku tidak peduli dengan para media ini, aku akan menembakmu hingga isi kepalamu hancur berhamburan!" ancam Benjamin sambil menarik pelatuk pada pistolnya.


"Sial, kalau sudah begini, aku tidak punya pilihan lain selain jujur atau aku akan mati dengan sangat bodoh di cafe ini," gumam Amita sambil menghela napasnya kasar.


Amita akhirnya mulai membuka mulutnya. Ia mengakui semua kesalahan yang telah dilakukannya, tak lupa ia juga menceritakan di depan media bahwa telah menjebak Raymond, hingga membuatnya tak sadarkan diri.


Alice menatap ke arah Benjamin.


"Terima kasih Ben,"


"Sama-sama Nona Alice, untung kami datang tepat waktu ya."


Alice langsung menoleh ke arah belakang tubuhnya, ketiga pengawalnya ternyata juga datang bersamaan.


Pengakuan Amita membuatnya harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya, tak lama James dengan jajarannya datang dan mulai masuk ke dalam cafe.


"Ternyata kalian yang membuat kerusuhan di sini," ucap James melihat ke arah Alice dan Elliot dengan tatapan yang kaget.


"Segera tangkap wanita ini James, segala bukti kejahatannya, ada di salah satu kamera wartawan yang di sana itu, juga secarik kertas ini, silahkan ambil untuk barang bukti dan juga kau bisa mengambil sebuah kertas menu di meja resepsionis cafe yang sudah Amita tulis, itu sama dengan tulisan yang ada di secarik kertas itu," tutur Elliot memberitahukan kepada James, hasil dari analisanya.


Alice kini dapat tersenyum bahagia, walau kini ada perasaan bersalah dalam dirinya, karena dia tidak dapat mempercayai suaminya sendiri. Rasa cemburu yang berlebihan telah membutakan sebuah kebenaran dari Alice, membuatnya hampir pergi meninggalkan Raymond.


Amita langsung diamankan oleh James dan dituntun untuk keluar cafe menuju mobil polisi. Sementara Benjamin dan yang lainnya langsung mengambil semua data video yang telah di rekam oleh beberapa orang yang masih berada di dalam cafe, Benjamin tidak ingin kejadian ini akan berdampak buruk pada kehidupan keluarga Weil ke depannya, jika harus terpampang di media masa.


Alice melangkah sejajar bersama Elliot, menuju mobil.


"Kakak, terima kasih ya, sudah menghubungiku, mungkin jika tidak aku sudah melakukan kesalahan yang besar dan meninggalkan suamiku seorang diri di London," tutur Alice mengingat kejadian yang terjadi saat di Bandara Heathrow, sesaat sebelum pesawat yang dinaikinya lepas landas.


"Aku juga tadinya tidak percaya dengan semua penjelasan Raymond, tapi suamimu itu cukup pintar dengan meninggalkan secarik kertas yang tadi ku serahkan pada James, Raymond sengaja menjatuhkannya di dalam ruanganku."


"Iya Kak, aku harus minta maaf pada sweetu."


"Iya aku juga sepertinya juga harus minta maaf, karena telah memberikannya pelajaran sampai babak belur."


"Kakak, kenapa gak bisa kontrol emosimu, sih Kak," kecam Alice sambil berkacak pinggang.


Elliot langsung menggaruk kepalanya yang tak terasa gagal, untuk mengalihkan rasa bersalahnya.


"Maafkan aku, aku sudah terlanjur emosi saat kau menelepon dengan menangis terisak, itu langsung membuat amarah menguasai diriku."


Wajah Alice langsung dibalut rasa cemas, akan kondisi Raymond saat ini. Pikirannya saat ini terus memikirkan cara untuknya menebus semua kesalahannya kepada Raymond, karena sudah tidak mempercayai kesetiaannya.


"Maafkan aku sweetu, tunggu aku ya sweetu, aku pulang," gumam Alice sambil masuk ke dalam mobil Elliot.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya?


__ADS_2