
Selamat membaca!
Mobil mewah yang dikendarai oleh Albert sudah tiba di depan lobi rumah sakit. Tanpa membuang waktu Raymond dan Alice bergegas turun dan mulai melangkah menuju lobi untuk bertanya pada resepsionis, tentang pasien yang bernama Claire.
Setelah mengantongi informasi yang diperlukan, keduanya melanjutkan langkah kakinya menuju lift.
"Sweetu, ingat bersikap baik dengan Mommy Claire, buatlah pertemuan kalian hari ini sesuatu yang berkesan untuknya."
Raymond tersenyum getir menatap Alice, dalam senyumannya dapat tersirat jelas di raut wajahnya, bahwa sebenarnya Raymond mulai merasa sedih dengan kondisi Claire saat ini.
Pintu lift terbuka, keduanya pun masuk ke dalam lift. Alice menekan tombol 7 pada dinding lift sebelah kanannya. Lift pun mulai naik sesuai dengan yang mereka tuju. Kini lift tepat berhenti di lantai 7, pintu lift terbuka dan keduanya keluar, mereka kemudian menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju sebuah kamar yang terletak di sudut ruangan, kamar nomor 107 ruang rose.
Raymond dan Alice tepat berdiri di depan pintu ruang rawat, yang dapat terlihat angka 107 di pintu ruangannya.
Mike dan Jenny tengah berdiri di samping Claire yang terus meracau memanggil nama Raymond berulang kali dengan mata terpejam. Mike terus memegangi tangan ibunya, sesekali ia mengusap dahi Claire yang terasa dingin, walau Claire bukanlah ibu kandungnya, namun kasih sayang Mike kepada Claire layaknya seorang ibu dan anak kandung, tanpa sebuah batasan.
Jenny coba membisikkan kata-kata penyemangat di samping telinga Claire, mata Jenny kini sudah menganak, karena menahan bulir air mata yang sudah bersiap untuk jatuh.
"Mom bertahanlah, aku dan Mike sudah menemui Raymond tadi, tapi dia tidak mau menemui Mommy, mungkin hati kecilnya masih terkunci karena kesalahan di masa lalu," bisik Jenny seraya mengusap puncak kepala Claire.
Di tengah kecemasan Mike dan Jenny yang menyaksikan kesakitan Claire, tiba-tiba sepasang kaki berdiri di hadapan Mike, yang tengah duduk di tepian ranjang. Mike menengadahkan kepalanya, ia begitu terhenyak atas kedatangan Raymond yang berubah pikiran dan mau datang untuk menemui Claire.
"Raymond..." ucap Mike dengan parau.
Mata Claire yang semula terpejam seketika berangsur terbuka, matanya menatap nanar ke arah Raymond, anak kandung yang sangat ia rindukan.
Claire menggerakkan tangannya untuk dapat menyentuh tangan Raymond.
"Ray... Peluk Mommy, nak. Mommy sudah tidak kuat untuk bertahan lebih lama, Mommy ingin minta maaf atas segala kesalahan yang telah Mommy lakukan terhadapmu dan Ayahmu."
Raymond mendekati Claire, lalu tangan kekarnya mendekap tubuh Claire dengan erat, saling melepaskan rasa rindu keduanya yang selama ini terpisah karena suatu kesalahan. Claire tidak dapat lagi untuk membendung air matanya. Ia menangis begitu terisak dalam dekapan Raymond.
Alice yang sedari tadi menyaksikan semuanya dari belakang tubuh Raymond, merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Claire, yang saat ini menangis sampai terisak.
"Ray, maafkan Mommy karena sudah memisahkan kamu dengan Daddy."
"Aku sudah tahu Mom, sudah tidak perlu kau bahas lagi, sekarang yang terpenting kamu harus segera sembuh dan tidak usah banyak bicara yang tidak perlu."
Percakapan antara Raymond dan Claire, membuat Mike tertegun. Wajah yang semula menunduk, kini kembali menatap wajah Claire yang sudah memucat.
__ADS_1
"Apa maksudmu kalian?" tanya Mike dengan segudang rasa penasarannya.
"Nicholas tidak bersalah, sebenarnya Ayahmu meninggal karena melihat Mommy dan Nicholas di sebuah hotel. Waktu itu semua berlangsung dengan cepat, sebenarnya bukan Nicholas yang mendorong ayahmu Mike, dia datang ke rooptof gedung itu malah ingin mencegah rencana Ayahmu untuk bunuh diri. Bahkan Ayahmu sempat menulis surat permintaan maaf pada Nicholas karena sudah merebutku darinya."
Ada emosi yang mendadak menyulut di kedua manik mata Mike yang berwarna biru, semburat amarah mulai terlihat jelas pada raut wajahnya. Kini kedua tangannya mengepal dengan begitu erat seperti tidak terima dengan sebuah kenyataan yang saat ini didengar olehnya.
Jenny meraih telapak tangan Mike dan menggenggamnya dengan erat, berusaha meredam emosi Mike yang sudah menguasai dirinya.
"Mike kamu harus ingat, Mommy lagi sakit, kendalikan emosimu," lirih Jenny sambil mengusap lengan sebelah kanan Mike dengan lembut.
Mike mendesah kasar, ia terkekeh lucu karena baru mengetahui tentang semua ini.
"Berarti Ayahku yang menjadi orang ketiga pada rumah tangga Tuan Nicholas dan Mommy," lirihnya terlihat begitu geram.
Claire mengangguk mengiyakan ucapan Mike. Namun Raymond dengan bijaksana, mencoba untuk menyudahi segala situasi yang kini sudah semakin canggung.
"Sudah Mike, lupakan semua yang pernah terjadi, kita itu keluarga, hanya kesalahpahaman yang membuat kita jadi terpecah belah seperti ini."
Kedua pria tampan itu saling berpelukan, seolah membuyarkan dendam yang sudah sejak lama tersimpan di hati mereka.
Claire kini sudah dapat tersenyum, ia merasa begitu tenang saat ini, wajahnya mulai kembali berbinar dengan manik mata yang bersinar. Namun tiba-tiba detak jantung Claire mulai melemah, tubuhnya semakin kehilangan tenaga dengan deru napas yang terdengar sudah tak beraturan. Kedua bola mata Claire terbuka lebar seperti menahan rasa sakit yang luar biasa di bagian kerongkongnya. Lidahnya kelu tak bisa berucap lagi.
Mike yang panik, langsung berlari keluar dari ruangan dan berteriak memanggil team medis untuk memeriksa kondisi Claire.
Tak lama detak jantung Claire dari layar monitor sudah tidak terdeteksi lagi, hanya terdengar suara bising dengan sebuah garis lurus yang terlihat di sana. Raymond segera meraih pergelangan tangan Claire. Setelah merasakan detak jantung pada denyut nadi di tangan Claire, raut wajahnya semakin memerah, menahan kesedihan yang kini begitu sakit menusuk relung hatinya.
"Mommy sudah tiada Alice," ucap Raymond yang disambut dengan tangisan oleh Alice dan Jenny.
Akhirnya Raymond tak kuasa menahan isak tangis yang menyesakkan dadanya, ia berteriak memanggil nama Claire sambil memeluk tubuh ibunya yang sudah tak bernyawa.
Penyesalan dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, ia menumpahkan segala kesedihan di atas dada Claire yang sudah tak bernyawa lagi.
Claire pergi dengan tenang. Kala itu sore hari menjadi terasa begitu kelam. Kehilangan seorang ibu apapun masa lalunya, pasti akan membuat hati siapapun menangis, tak terkecuali dengan Raymond.
"Sabar ya sweetu, kamu harus ikhlas, Mommy sekarang sudah tenang."
Tak lama Mike datang dengan membawa team medis bersamanya.
"Tuan dan Nona, bisa sebentar menunggu di luar ruangan!" titah seorang Dokter yang kemudian dipatuhi oleh semuanya.
__ADS_1
Setelah semua keluar, tinggallah team medis mulai menjalankan prosedur terakhir dengan melakukan CPR pada jantung Claire, namun setelah semua selesai dilakukan baik CPR dan kompresi jantung, Claire sudah benar-benar tak dapat diselamatkan.
"Catat waktu meninggalnya Suster, 15.30!" titah Dokter itu sambil melihat sebuah jam pada pergelangan tangannya.
🍂🍂🍂
Apartemen Alexa.
Alexa masih begitu kesal dengan apa yang terjadi di mall, ia merasa begitu dipermalukan dengan Nick yang tak mengenalnya. Saat dirinya mengharapkan pertemuan keduanya dapat lebih membuat hubungan mereka dekat, namun yang terjadi malah sebaliknya.
"Ternyata semua pria itu sama, terlalu cepat melupakan sesuatu, dasar playboy," gerutu Alexa kesal sambil meremas sprei ranjang besarnya.
Di samping kekesalannya dengan Nick, satu hal yang kini dipikirkan oleh Alexa adalah tentang hasil pertemuannya dengan Stefani, seorang pengacara yang dibayar oleh Alexa untuk mengurus surat pemindahan status Patricia dari tahanan sel menjadi tahanan kota.
"Aku harus mendapatkan tanda tangan dari salah satu anggota keluarga Weil, tapi bagaimana mungkin mereka mau memberikannya," gumam Alexa semakin bingung memikirkan sebuah cara agar salah satu keluarga Weil mau memberikan tanda tangannya.
Tak lama sebuah telepon berdering, hingga membuyarkan rasa kesalnya. Sebuah nomor yang tak tertera nama pada layar ponselnya.
"Siapa ini ya?"
Tanpa pikir panjang Alexa langsung mengangkat telepon itu.
"Iya halo, ini dengan siapa?"
"Iya halo Nona, saya dengan Dave."
Alexa mengerutkan keningnya, dengan tanda tanya besar dalam pikirannya.
"Iya maaf, ada perlu apa ya?"
"Bolehkah kita bertemu di sebuah restoran yang tidak jauh dari apartemen Anda sekarang, saya ingin membicarakan sesuatu tentang Tuan Nick."
Alexa terhenyak, ia akhirnya beranjak dari ranjang besarnya dan langsung keluar dari apartemen untuk menuju sebuah restoran yang terletak tepat di samping apartemennya.
🏵️🏵️🏵️
Bersambung ✍️
Berikan komentar kalian ya?
__ADS_1
Jangan lelah untuk mendukung karyaku.
Terima kasih ya.