
Selamat membaca!
Raymond sudah berada di depan ruang pemeriksaan. Ia menunggu sambil berulang kali melihat jam yang dikenakannya.
Kapan selesainya urusan yang menyebalkan ini?
Raymond menautkan kedua alisnya, wajahnya terlihat muram.
Apa sebaiknya aku tinggal saja diam-diam ya?
Saat Raymond mulai melangkah menjauhi tempatnya menunggu, terdengar suara memanggilnya. Seorang Dokter tampak baru saja keluar dari ruang penangan.
Sial, baru ingin ditinggal ada saja yang mengganggu.
Raymond membalikkan tubuhnya, lalu ia mendekati Dokter tersebut.
"Jadi bagaimana kondisinya saat ini Dokter?
"Bapak siapanya pasien?" tanya Dokter menautkan kedua alisnya.
Wah, kalau aku bilang yang nabrak pasti masalah akan tambah rumit nanti.
"Saya suaminya Dok, jadi gimana keadaannya?"
"Pasien hanya mengalami benturan ringan di kepalanya, tidak terlalu parah sebentar lagi juga pasien akan sadar."
"Baik kalau begitu Dokter, apa bisa saya tinggal, karena saya ada pekerjaan di kantor yang sangat penting, masalah istri saya biar nanti sopir saya yang akan mengurusnya," tutur Raymond menjabat tangan Dokter itu di akhiri dengan ucapan terima kasih.
Raymond pergi berlalu keluar dari rumah sakit, sementara Dokter hanya geleng-geleng kepala dibuatnya.
"Dasar suami jaman sekarang, istrinya sakit malah mementingkan pekerjaannya saja."
Tak berapa lama handphone Dokter berbunyi.
"Iya halo Cinta, ada apa?"
"Han bisa gak pulang dulu, gak tahu kenapa perutku kayanya kram deh."
"Oke aku pulang kamu tunggu ya."
Dokter itu melangkah dengan cepat untuk keluar dari rumah sakit, namun seketika suster datang menghampirinya.
"Dokter jadwal operasi sesar sebentar lagi Dok, pasien sudah siap di ruang operasi," tutur Suster memberitahu.
Sekarang aku tahu kondisi pria tadi, ternyata memang sulit membagi waktu untuk istri, terlebih jika ada pekerjaan penting.
Dokter menghela napasnya dalam, lalu langsung bergegas menuju ruang operasi.
πππ
Raymond sudah berada di dalam mobilnya, ia sudah memerintahkan Albert untuk datang menuju Rumah Sakit Permata, agar dapat mewakilinya, mengurus wanita yang telah ditabraknya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup padat. Mobil Raymond akhirnya sudah memasuki parkiran khusus yang tersedia untuknya.
Inilah awal seorang Raymond Weil masuk ke kantor barunya, bukan sebagai CEO tapi posisi nomor dua di perusahaan ini di bawah Alexander Kemal Malik selaku CEO. Namun Alex sudah mempercayai semua hal yang menyangkut masalah perusahaan ini sepenuhnya kepada Raymond selayaknya CEO karena Alex percaya dengan kredibilitas seorang Raymond Weil yang sukses dengan MANGO Corporate, sebelum jebakan Will menghancurkannya.
"Selamat siang Tuan Raymond."
Beberapa staf dan satpam sudah menunggu di depan lobi untuk menyambut kedatangan pimpinannya sesuai instruksi dari Flo yang selalu berkabar dengan Raymond sewaktu di perjalanan.
Florin Naura Raflesia seorang wanita cantik dan pintar. Ia biasa disapa dengan panggilan Flo.
"Selamat datang Tuan Raymond, mari saya antar ke ruangan Anda."
Raymond mengikuti langkah Flo sembari menjelaskan tentang meetingnya, yang akan berlangsung besok.
Wanita ini lumayan cantik juga, kenapa Alex memilihkan sekertaris yang secantik ini untukku ya.
Tiba-tiba terbesit dipikirannya segala ucapan yang dilontarkan oleh Alice sewaktu di rumah.
Ya Tuhan, tidak aku tidak boleh tergoda, ingat janjimu Raymond, ingat bodoh!
Raymond terus menatap Flo yang terus menjelaskan segala hal, mulai dari latar perusahaan ini sampai masalah penjualan yang belum mencapai target sesuai yang diinginkan oleh Alex.
__ADS_1
"Kalau masalah penjualan sepertinya kita harus launching sebuah produk baru yang pastinya akan menyedot minat masyarakat yang membelinya, tentunya di harga yang ekonomis namun smartphonenya haruslah elegan, masalah itu tenang saja, saya ada 1 smartphone yang sudah saya buat dan belum sempat saya luncurkan di MANGO Corporate, akan saya launching di sini."
"Baik Tuan, Anda memang sangat pintar, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Alex," puji Flo tersenyum, menatap wajah Raymond dengan decak kagum.
Ya ampun senyumannya. Raymond kuat, kuat Raymond, ingat istri di rumah.
Raymond menelan salivanya dengan kasar. Tatapan mata Flo membuatnya geleng-geleng kepala.
"Ada apa Tuan Raymond?"
"Tidak, Tidak ada apa-apa." jawab Raymond menutupi kekagumannya atas kecantikan Flo.
"Saya pikir kenapa Anda geleng-geleng kepala, baik Tuan kita sudah sampai di ruangan, kalau begitu saya tinggal ya, di sebelah ruangan ini adalah ruangan saya, kapanpun Tuan butuh saya, tinggal hubungi saja. Saya permisi Tuan," tutur Flo diakhiri dengan setengah membungkuk hormat lalu pergi menuju ruangannya.
Raymond mengibas tangannya di depan wajahnya, mengusir godaan yang datang dari pandangan matanya, ia akhirnya masuk ke dalam ruangannya.
Raymond menghempaskan tubuhnya untuk duduk di kursi besarnya, kursi yang sengaja ia minta sesuai dengan kursi yang berada di ruangannya di MANGO Corporate.
Hari pertama dan seterusnya godaan terbesarku adalah sekertarisku sendiri, tapi semoga dia sudah menikah.
Raymond mulai membuka laptopnya, ia mulai melakukan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kecelakaan tadi pagi.
Tiba-tiba smartphone Raymond berbunyi. Ia langsung mengambil dari dalam tas kerjanya dan mengangkatnya.
"Iya halo sweetu, tadi kamu telepon ada apa?"
"Tidak apa-apa sweety, nanti aku ceritakan di rumah saja ya, semua sudah beres, kamu lagi apa sweety apa tanpa aku, di rumah baik-baik saja, apa kamu merindukanku?"
"Aku baik sweetu, hanya mungkin belum terbiasa saja, membosankan sendirian di rumah sebesar ini."
"Kamu belum jawab, apa kamu merindukanku?"
"Hmmmm tidak biasa aja baru berapa jam kamu pergi, mungkin kalau beberapa hari aku pasti rindu."
Raymond mengerucutkan bibirnya, dengan kedua alis yang bertaut, ia merasa kurang menyukai jawaban dari Alice.
Alice lalu menutup teleponnya di akhiri dengan sebuah perhatian manis untuk Raymond agar tidak melupakan makan siangnya sesibuk apapun dirinya bekerja, perhatian yang membuat kekecewaan Raymond menjadi terobati.
"Aku akan segera pulang sweety, hidup yang ku jalani saat ini terasa lebih indah dari kehidupanku yang dulu, semua karena Alice."
πππ
Setibanya di apartemen, Elliot dan Kelly tidak menemukan Greta sama sekali.
"Kemana Greta, kenapa dia menyusahkan kita?" gerutu Kelly kesal.
"Coba aku tanya sama bagian informasi saja," jawab Elliot langsung mengajak Kelly kembali ke bawah menuju ruang informasi.
Sesampainya di sana, Elliot mendapati kabar bahwa Greta sudah pergi dengan membawa koper sekitar 1 jam yang lalu untuk tujuannya mereka tidak mengetahuinya.
"Sial, kemana Greta pergi?"
Elliot berpikir dengan sangat keras, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Bandara Heathrow.
Mobil Elliot melaju dengan begitu cepat membelah lalu lintas kota London, setelah 30 menit akhirnya mereka sampai di Bandara. Keduanya keluar dari dalam mobil dengan tergesa-gesa untuk lekas mencari dan mencegah kepergian Greta.
Elliot mulai meneliti setiap sudut bandara untuk menemukan keberadaan Greta.
"Jangan-jangan dia tahu keberadaan Raymond dan pergi ke Indonesia."
Elliot langsung berlari menuju ruang informasi, untuk menanyakan jam keberangkatan pesawat jurusan Indonesia. Sesampainya di sana, Elliot langsung bertanya dengan sangat tergesa-gesa, dan dia sangat kecewa karena pesawat jurusan Indonesia baru saja berangkat 10 menit yang lalu.
"Sial, awas saja kau Greta, sampai kau mengganggu Alice di Indonesia, aku tidak akan memaafkanmu."
Kelly yang melihat Elliot jadi heran sendiri dengan apa yang dipikirkan oleh Elliot.
"Bagaimana mungkin Greta bisa tahu kalau Raymond dan Alice pergi ke Indonesia, yang tahu itu kan hanya kita bertiga dan Tuan Richard," tutur Greta mengerlingkan matanya untuk berpikir keras.
Elliot sejenak berpikir kembali.
"Betul juga kata kamu Kelly, aku hanya takut Greta tahu keberadaan Alice dan kembali mengganggu rumah tangganya."
Elliot menarik napasnya dalam, menghembuskan dengan kasar, untuk mengurangi kecemasannya.
"Sudah kamu tidak usah berpikir berlebihan, mungkin Greta kembali ke Swedia, atau kemana kita kan belum dapat jawabannya."
__ADS_1
"Iya semoga saja kamu benar."
Keduanya akhirnya kembali ke mobilnya untuk pergi dari bandara.
2 jam kemudian.
Persidangan sudah selesai dengan suatu keputusan. Nicholas dijerat dengan 2 pasal berlapis, pembunuhan dengan terencana, namun beruntung Nicholas tidak mendapatkan hukuman mati. Ia hanya mendapati hukuman 15 tahun penjara, lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum. Hal ini di karenakan Nicholas mengakui dan meminta maaf telah melakukan semua itu, pengakuan yang membuat penyelidikan menjadi mudah dan cepat.
Saat Nicholas ingin kembali ke dalam mobil tahanan untuk dibawa ke sel tempatnya menjalani hukuman, Richard menyempatkan untuk menghadang langkahnya, ia meminta waktu kepada petugas polisi yang membawanya untuk bicara.
"Siapa kamu?" tanya Nicholas.
Richard dengan terharu menatap wajah Ayahnya yang sudah sangat lama dirindukannya.
"Aku anak pertamamu Daddy," tutur Richard dengan pelan tapi jelas.
Nicholas bergetar hebat, tanpa keraguan ia memeluk tubuh anak pertamanya itu, menghamburkan segala kerinduan yang terpendam di dalam hatinya.
"Aku tahu suatu saat kamu akan kembali, Nak," lirih Nicholas hingga membuat air mata lolos dari kedua sudut matanya.
"Sekarang aku kembali Dad, aku akan membereskan semua kekacauan ini, aku berjanji."
Waktu yang tak banyak membuat pertemuan mereka menjadi sangat singkat. Nicholas melepas pelukannya setelah petugas polisi memintanya untuk kembali melangkah. Momen yang penuh haru itu tak luput menjadi sasaran paparazi, yang memang sedang bertugas meliput persidangan kasus pembunuhan, yang menggemparkan kota London.
Tanpa mereka sadari sepasang mata sedang memandang mereka, dengan penuh kebencian dari tempat yang tidak jauh dan dapat mendengar semua perbincangan mereka. Terlihat Mike masih mematung tanpa sedikit pun mengalihkan tatapannya ke arah Nicholas.
"15 tahun itu bukan hukuman yang pantas untukmu, karena telah menghilangkan nyawa Ayahku, membuatku kehilangan waktu berharga bersamanya," geram Mike penuh dendam sampai menggertakkan giginya begitu tak puas dengan keputusan sidang yang dinilainya sangat tidak adil."
Nicholas berlalu pergi, namun sebelum pergi ia menitipkan sebuah pesan pada Richard, untuk membantu Raymond merebut kembali MANGO Corporate dari tangan Will.
Richard melangkah dengan berat kembali ke mobil, di dekat mobil sudah berdiri sopir setianya membukakan pintu mobil untuk Richard. Namun saat pintu ingin ditutup kembali, Mike menahannya dengan kuat.
"Ada apa? Kenapa Anda menahannya? Anda ingin cari masalah?" kesal sopir Richard bereaksi.
Richard akhirnya keluar kembali dari mobil.
"Ada apa ini?"
Mike yang sudah sangat emosi tak dapat mengendalikan amarahnya lagi, ia langsung memberikan pukulan telak di wajah Richard membuat Richard tersungkur.
Richard mulai bangkit dibantu oleh sopirnya.
"Kenapa kamu memukulku? Apa kamu ingin berkelahi denganku di tengah keramaian seperti ini dengan paparazi yang pastinya akan menampilkan berita keributan kita di media," tutur Richard yang mulai tersulut emosinya, namun ia masih menjaga wibawanya karena ia sadar beberapa kamera sedang terpusat padanya.
"Dendam ini belum berakhir, aku akan membalas kalian, anggap saja kau mewakili Ayahmu untuk menerima pukulan itu, aku sudah mendengarnya semua, kau adalah anak pertama Nicholas yang hilang ternyata. Aku tidak asing dengan wajahmu, Richard Marx pengusaha terkenal asal Australia, apapun bisa kau beli Tuan, termasuk persidangan ini yang seharusnya hukuman mati yang diterima oleh Ayahmu!" bentak Mike dengan kesal.
Richard mendengus kasar.
"Aku tidak mengeluarkan uang sepersenpun untuk membayar persidangan ini, aku datang hanya ingin bertemu untuk pertama kali dengan Ayahku."
"Cih," Mike berdecih kesal.
"Penjahat mana ada yang mau mengakuinya apalagi ini di depan banyak media yang sedang menyoroti kita."
"Terserah mulutmu berbicara, jika aku mau aku bisa perkarakan pukulanmu tadi, tapi tak usahlah aku pun jika menjadi dirimu mungkin akan melakukan hal yang sama, oke selamat tinggal! Oh ya, aku akan lihat pembalasan apa yang akan kamu lakukan," ujar Richard sambil masuk ke dalam mobilnya dengan tersenyum remeh.
Mike ingin kembali menghajarnya namun sentuhan pada pundaknya menghalangi niatnya.
"Sudah Mike, ayo kita pulang, kamu tidak mau kan membuat aku yang sedang mengandung ini jadi bersedih," ucap Jenny menahan Mike karena cemas terhadap dendam yang begitu membara dalam dirinya.
Mike menoleh memandang wajah Jenny, ia tersenyum walau sebenarnya hatinya masih sangat kesal.
"Ayo kita pulang," ajak Mike dengan meletakkan sebelah tangannya di pinggang Jenny dan jalan beriringan.
Urusan kita belum selesai keluarga Weil, dendam ini tidak akan berhenti sampai di sini.
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ
Berikan waktu kalian untuk mengisi kolom komentar, karena komentar kalian adalah semangat untukku berkarya.
Jangan lupa like-nya ya..
Penasaran dengan kisah Dokter Raihan dan Cinta bisa kunjungi Novelku yang satunya, di paksa menikah.
__ADS_1