Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Pahlawan


__ADS_3

Selamat membaca!


Di rumah sakit ternama di kota London, Raymond dirawat intensif dengan peralatan yang canggih dan di tangani oleh Dokter ahli. Kelly mengemban tugas dari Elliot untuk mengawasi keadaan Raymond sepenuhnya, karena Elliot dan Richard masih berada di Indonesia.


Raymond terlihat terbaring lemah di atas ranjang, dengan selang dan oksigen yang terpasang untuk membantunya dalam bernapas.


Dokter mulai menghampiri Kelly yang kini masih termangu dengan rasa cemasnya.


"Nona Kelly," sapa Dokter yang baru saja tiba dihadapan Kelly.


"Iya Dokter, gimana keadaan Tuan Raymond?" tanya Kelly menautkan kedua alisnya.


"Begini Nona Kelly, keadaan Tuan Raymond semakin membaik sejak beliau dipindahkan ke rumah sakit ini, semoga saja beliau bisa secepatnya kembali sadar."


Kelly tersenyum mendengar kabar baik yang disampaikan oleh Dokter. Walau masih terselip rasa cemas di wajahnya, akan kondisi Raymond yang belum juga sadar dari komanya.


Dokter beranjak keluar dari ruang rawat, sementara Kelly kembali duduk di sofa melihat iba ke arah Raymond.


Pandangan Kelly tiba-tiba terhenyak, saat mendapati jemari Raymond mulai bergerak perlahan, walau gerakannya masih terlihat lemah.


"Tuan Raymond."


Kelly langsung menekan tombol darurat dan tak menunggu waktu lama, Dokter dan team medis datang memasuki ruang rawat.


Dokter mulai melakukan pemeriksaan, tiba-tiba semua yang berada di ruangan dibuat terkejut, saat sebuah kata lolos dari mulut Raymond.


"Alice," ucap Raymond sangat parau.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Greta masih menodongkan pistol pada pelipis Alice.


"Katakan apa pesanmu?"


Alice tak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Greta, lidahnya kelu dengan bibir yang gemetar, ia seperti merasakan bahwa ajal akan segera menyapanya.


Elliot terus berteriak meminta Greta untuk menghentikan apa yang ingin dilakukannya.


Alice menatap nanar ke arah Elliot, melihat kondisi Elliot yang saat ini terbaring membuatnya semakin sedih, hingga ia tahu apa yang harus dikatakannya.


"Aku mohon padamu, jangan bunuh Elliot, biarkan dia hidup."


Greta terkekeh geli mendengar perkataan Alice, yang masih bisa memikirkan orang lain ketimbang nyawanya sendiri.


"Baik aku berbaik hati, aku tidak akan menghabisinya," ucap Greta menjeda ucapannya.


Alice sedikit lega.


"Tapi Zack yang akan menghabisinya," imbuh Greta dengan tertawa terbahak-bahak merayakan kemenangannya.


Alice terhenyak, matanya menajam kesal menatap wajah Greta.


"Greta aku tidak akan melepaskanmu di kehidupan selanjutnya, aku bersumpah akan membalasmu."


Alice meluapkan amarahnya yang kini sudah memuncak di kepalanya. Namun ia tak berdaya untuk melawan Greta, karena saat ini dialah yang sedang memegang kendali.


Greta sudah menarik pelatuk pada pistolnya dan bersiap untuk menembak.

__ADS_1


Elliot menatap nanar detik-detik kematian Alice.


"Alice," teriak Elliot.


Alice sudah terpejam, ia tampaknya pasrah bersiap menerima ajalnya. Tak pernah terbayangkan olehnya, bahwa hidupnya harus berakhir di tangan Greta, di sebuah pulau yang asing dan itu jauh dari impiannya selama ini, yang ingin menghabiskan masa tua bersama suami dan anak-anaknya.


"Selamat tinggal Alice," ucap Greta dengan memicingkan senyumannya, lalu mulai melepaskan tembakan.


Suara letupan tembakan berderu beriringan dengan suara kesakitan yang saat ini Greta rasakan.


Greta terus meringis menahan sakit di tangannya, pistol yang digenggamnya pun terlepas, hingga membuat dirinya tak sempat menembak Alice, padahal sedetik saja telat, Alice mungkin sudah death.


Alice membuka matanya, ia terkejut karena saat ini dirinya masih diberi kehidupannya.


"Auuu, sial! Siapa yang menembakku?" tanya Greta yang beringsut, agak menjauhi Alice dengan emosi yang meninggi.


Zack yang mengetahui Greta telah tertembak di tangannya, seketika menghampiri Greta dan melepas todongan pistolnya pada pelipis pria berbulu lebat itu.


Zack berlari mendekat ke arah Greta.


"Kamu gak apa-apa Greta?"


"Tanganku Zack, sakit," keluh Greta meringis.


Keduanya kemudian menatap ke arah asal tembakan.


"Richard."


Mata mereka terbelalak membulat dengan sempurna. Tak pernah terpikirkan dibenak keduanya bahwa Richard ternyata masih hidup.


Elliot masih terperangah kaget menatap Richard, namun ia begitu sukacita mengetahui bahwa ada harapan untuknya dan Alice untuk tetap hidup.


"Jangan berterima kasih Elliot, itu sudah tugasku, karena Alice adalah istri Raymond adikku," tutur Richard yang kini sudah melangkah mendekati Alice untuk melindunginya.


Alice menatap Richard dengan sendu, ia tak menyangka bahwa harapan hidupnya yang hilang, kini semua terbit kembali lewat sosok Richard yang kini sudah berdiri dihadapannya.


Richard memapah tubuh Alice yang bersusah payah untuk bangkit.


"Kamu tidak apa-apa Alice, pergilah tolong Elliot, bantu Elliot untuk menghentikan pendarahan pada luka tembakannya!" titah Richard yang tidak melepaskan tatapan tajamnya, ke arah Zack yang sibuk membalut luka tembak Greta pada tangannya dengan mengikatnya menggunakan sobekan kemeja yang sengaja ia potong dengan menggunakan pisau lipat yang dibawanya.


"Tinggalkan Greta dan selesaikan urusan kita Zack," tantang Richard sambil membuang pistol yang digenggamnya.


Zack mendengus kasar. Setelah selesai membalut luka Greta, Zack akhirnya menerima tantangan Richard dan membuang pistol yang dibawanya sama seperti yang dilakukan oleh Richard.


Pertarungan tangan kosong antara keduanya tak dapat dihindari. Zack mengawalinya dengan memberikan beberapa pukulan pada Richard, namun dengan tenang Richard menangkis semua serangan Zack. Wajah Zack semakin kesal, melihat raut wajah Richard tampak tidak kewalahan sedikit pun dengan semua serangannya. Bahkan Richard tak bergeming dari posisinya.


Zack kembali memberikan serangan keduanya, kali ini lebih membabi buta, ia memukul beberapa kali, tapi tetap saja Richard dengan mudah mematahkan serangannya, sampai akhirnya tibalah Richard membalas serangan Zack, ia melabuhkan dua pukulan telak di perut dan wajah Zack tanpa bisa ditepis oleh Zack. Zack mundur beberapa langkah dari posisinya, sambil menyeka darah yang bercucuran dari sudut bibirnya.


"Kurang ajar kau Richard!" geram Zack kembali mendekati Richard untuk membalas.


Saat Zack memukul ke arah wajah Richard, Richard menangkap tangan Zack dan memelintirkan tangan Zack lalu memberikan tendangan telak ke arah perut Zack, membuat Zack lagi-lagi harus mundur beberapa langkah dan seketika roboh tak berdaya.


Greta cemas melihat kekalahan Zack.


"Zack, bangun! Ayo kamu jangan kalah."


Zack coba bangkit karena mendengar perkataan Greta, namun ternyata raganya tak cukup kuat untuk berdiri. Ia kembali terjatuh sambil memegangi perutnya, yang terasa sesak akibat tendangan keras Richard.

__ADS_1


"Sudah selesai semua perlawanan kalian," ucap Richard sambil mengambil kembali pistol yang tadi dibuangnya.


Richard mengarahkan todongan pistolnya ke arah Zack dan membaginya ke arah Greta.


"Aku bisa saja membunuhmu Zack, tapi itu tidak akan ku lakukan, karena kau sebenarnya hanya diperalat oleh wanita iblis ini Zack."


Richard menajamkan tatapannya sambil mendekat ke arah Greta. Greta yang berusaha untuk lari menjauhi Richard, tiba-tiba harus roboh bersimpuh di dasar tanah, ketika sebuah tembakan menembus kaki kirinya.


"Au..."


Greta meringis kesakitan. Darah terus bercucuran dari kakinya yang tertembak, membuat wajah Greta kini menjadi pucat pasi dengan keringat di dahinya.


Greta masih meringis kesakitan, Richard terus menatapnya bak malaikat pencabut nyawa yang siap untuk menembuskan pelurunya pada kepala Greta.


Richard menodongkan pistol di dahi Greta.


"Katakan apa pesan terakhirmu?"


Greta semakin gugup, kali ini ia merasakan apa yang dirasakan oleh Alice. Greta tak bisa menjawab pertanyaan Richard, lidahnya tiba-tiba kelu, dengan bibir gemetar menahan rasa takut yang kini hinggap di dalam dirinya.


"Jika tidak ada, sebaiknya berdoalah, mintalah Tuhan mengampuni semua dosa-dosamu!"


Richard mulai menarik pelatuknya, ia bersiap untuk menembak. Namun tiba-tiba punggung dan perut Richard tertebak dari arah belakang, dua tembakan yang membuatnya tak jadi menembak Greta. Namun Richard tak bergeming karena tembakan itu, bahkan ia tak menunjukkan rasa sakit sedikit pun.


Richard terkekeh geli, ia kemudian menatap ke arah belakang dan menajamkan sorot amarahnya ke arah Zack yang saat ini sudah terlihat menggenggam pistolnya dan sudah melepaskan tembakannya.


Zack terhenyak melihat Richard tak terluka sedikit pun.


"Kau bodoh, alasan aku kenapa masih hidup karena aku memakai rompi anti peluru ini!"


Richard kali ini merubah pikirannya.


"Kalian berdua memang harus mati bersama!"


Richard dengan cepat langsung menembak ke arah Zack dan tepat mengenai dahi Zack, menembus kepalanya. Zack langsung roboh, ia mati dengan hina lewat sebuah tembakan dari Richard.


Greta berteriak histeris. Ia begitu kehilangan Zack, teringat dalam pikirannya setiap kebaikan Zack padanya yang membuat Greta, semakin murka menatap Richard dengan penuh kebencian.


"Cih," Richard berdecih kesal.


Richard mendekat kembali ke arah Greta.


"Mulailah berdoa, aku sudah muak denganmu Greta, kau selalu mengganggu kehidupan Alice sampai menyebabkan Adikku koma."


Greta terkesiap mengetahui, bahwa ternyata Raymond belum mati, seakan semua rencananya gagal total.


Richard kembali menarik pelatuknya. Greta sudah pucat pasi menatap ke arah pistol yang kini sudah menempel ketat di dahi Greta, membuatnya berkeringat dan sangat sulit menelan salivanya sendiri.


"Selamat tinggal Greta."


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Kalian ingin Greta mati atau tidak?


Ikuti terus kisah Alice ya.

__ADS_1


Berikan dukungan kalian dengan vote, like dan jangan lupa isi kolom komentar tentang episode ini ya. Terima kasih.


__ADS_2