
Ingat harus sabar sampai ending. Baca dan tahan emosi kalian ya sahabat. Terima kasih.
Selamat membaca!
Malam hari sudah tiba, Raymond dan Alice sudah terlihat berada di kamar barunya, kamar yang sudah selesai ditata ulang oleh Alice.
"Kamu sepertinya ada bakat sweety, dalam menata interior suatu ruangan, contohnya kamar ini, jadi terlihat lebih elegan dari yang dulu."
"Terima kasih sweetu pujianmu, aku hanya sedikit belajar dari Elvia sewaktu dia mendesain interior di restoranku."
Raut wajah Alice tiba-tiba menjadi sendu, ia teringat kembali tentang restorannya, yang sudah dijual oleh Adrian. Restoran itu menyimpan banyak kenangan untuk Alice, karena restoran itulah Alice belajar tentang kerasnya kehidupan, dalam menghidupi keluarganya. Restoran yang dibangun oleh Adrian dan diteruskan oleh Alice pengelolaannya, hingga restoran itu mempunyai nama yang harum di pusat kota London.
Raymond menilik jauh melihat kesedihan di wajah Alice, ia lalu merapatkan posisi tidurnya untuk meraih tubuh Alice, agar dekat dalam dekapannya. Raymond mengusap lembut pucuk rambut Alice, dengan tangan yang melingkar pada lehernya, menjadi sandaran kepala Alice untuk tidur, Raymond lalu memberi kecupan tepat pada kening Alice.
"Jangan sedih lagi ya sweety, bersabarlah! Aku janji kebahagiaan akan datang untukmu."
Alice semakin membenamkan wajahnya pada dada Raymond, ia tersenyum dengan kenyamanan yang terasa di dalam hatinya, dekapan dari suaminya saat air mata mulai menganak di kelopak matanya, seolah menjadi obat ketegaran untuk Alice, hingga membuat Alice menjadi tegar saat menyeka air mata pada kedua matanya.
"Terima kasih ya sweetu, kamu selalu bisa membuatku tenang."
Raymond tersenyum masih terus menatap wajah Alice, namun pikirannya kini tertuju pada sosok wanita yang dengan mentah-mentah menolak tawarannya. Raymond jadi teringat dengan apa yang disampaikan oleh Risfa tadi siang, ia melupakan sesuatu yang sebenarnya begitu penting untuknya saat ini, bahwa Amita sang pemilik Restoran Chopra menghubunginya dan sudah memberikan nomor ponselnya.
"Sial, aku lupa menelepon balik ke nomor itu, mungkin saja dia berubah pikiran dan setuju untuk menjual restoran itu padaku," gumam Raymond menautkan kedua alisnya.
Raymond menoleh ke arah wajah Alice yang sudah lelap tertidur dalam dekapannya.
"Kamu selalu cepat terlelap, jika tertidur dalam dekapanku sweety, tapi sebentar ya aku harus menelepon pemilik restoran itu," gumam Raymond dengan hati-hati beranjak dari posisinya, agar tidak membangunkan Alice.
Raymond akhirnya dapat melepas pelukan erat dari Alice, walau dengan perlahan. Raymond menggantikan posisi tubuhnya dengan sebuah guling besar, untuk menjadi teman tidur Alice.
Raymond melanjutkan langkahnya menjauhi ranjang. Setelah mengambil ponsel dari atas nakas, ia mulai menuju balkon yang berada di kamarnya. Raymond terlihat sudah menekan beberapa angka pada layar ponselnya, sesuai dengan yang tertera pada secarik kertas yang digenggamnya.
__ADS_1
"Halo, Amita, ini aku Raymond."
"Wow, Tuan Raymond, aku sangat terkejut, kau meneleponku semalam ini, kenapa tidak besok saja?"
"Sudah jangan banyak bicara, jadi bagaimana tawaranku?"
"Aku menerimanya Tuan," ucap Amita menjeda kalimatnya yang belum selesai, namun Raymond sudah mengartikan sebagai sebuah kesepakatan.
"Sudah kuduga, kau takut dengan ancamanku, maka itu kau menerima tawaranku, akhirnya kau tahu siapa aku ini ya?"
"Justru itu, karena aku tahu makanya aku menerima tawaranmu, tapi jika kau membayarnya dengan harga 150 Miliar.
Perkataan Amita membuat Raymond sampai tersedak salivanya sendiri. Wajahnya mengeras dengan tatapan mata yang tajam, merasa dirinya sedang dipermainkan oleh Amita.
"Kurang ajar, kau pikir aku akan menuruti kemauanmu, kau membelinya dengan harga 4,5 Miliar dan kau ingin menjual padaku seharga 150 Miliar, omong kosong apa ini Amita?"
"Tenang Tuan, kau bisa membayarnya 2x jika kau ingin, tapi aku tidak akan menurunkan hargaku, MANGO Corporate adalah perusahaan terbesar di kota London, aku rasa uang dengan jumlah segitu tidak berarti untukmu Tuan."
"Sial, wanita ini licik, dia memanfaatkan keadaanku yang memang membutuhkan restoran itu untuk kuberikan sebagai kado ulang tahun untuk Alice, jumlah segitu memang kecil untukku tapi jika aku menuruti kemauannya, berarti aku sama saja kalah dengannya, mau diletakkan dimana harga diriku, harga diri seorang Raymond Weil lebih berharga dari apapun," gumam Raymond menahan amarahnya dengan mengepalkan tangannya dan memukul ke arah dinding berkali-kali.
Hentakkan tangan Raymond membangunkan Alice yang mulai terlihat mengerjapkan matanya berkali-kali, sambil meraba ranjang kosong yang sudah tidak ada Raymond di posisinya, Alice mulai bangkit dan duduk di tepi ranjang.
"Kemana sweetu, kenapa dia pergi ke balkon malam-malam begini?" tanya Alice dalam hatinya, yang melihat pintu balkon kamar terbuka lebar.
Alice mulai melangkah untuk mendekat ke arah balkon. Saat Alice akan keluar dan menghampiri Raymond, ia mulai mendengar percakapan yang saat ini Raymond lakukan.
"Bagaimana Tuan Raymond? Keputusan ada di tanganmu?" tanya Amita dengan senyum licik di wajahnya.
"10 Miliar Amita, itu harga yang pantas dan tidak terlalu berlebihan untukmu, jika kau menolaknya, aku akan merebutnya dengan paksa."
Alice terhenyak mendengarnya.
"Amita, siapa lagi wanita itu? Apa sweetu mengulangi kesalahannya yang dulu dengan berselingkuh dan sedang berusaha meninggalkan jejak perselingkuhannya, makanya sweetu bermaksud membayar wanita itu," gumam Alice merasa cemas dengan segala pikiran di kepalanya.
__ADS_1
Alice dengan cepat langsung kembali menuju ranjangnya, ia melemparkan tubuhnya di atas ranjang dengan kasar, lalu mulai menarik sebuah selimut untuk menutupi tubuhnya. Alice mendekap erat guling besarnya. Tak terasa rasa sakit di hatinya, sampai membuat bulir bening air mata menetes dari kedua sudut matanya.
"Tega sekali kau sweetu, jika kau benar mengkhianatiku lagi, entah apa aku bisa memaafkanmu untuk kesekian kalinya."
Alice menelan pahit air mata yang singgah di bibirnya. Ia tak membayangkan, jika sampai detik ini dirinya masih harus merasakan sakitnya sebuah pengkhianatan dari suaminya.
Tak lama kemudian, Raymond kembali dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sementara Alice sudah menyeka air matanya lalu dengan cepat memejamkannya, agar Raymond tidak mengetahui bahwa dirinya sudah mendengar pembicaraannya dengan Amita di telepon.
Raymond memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Alice, yang dilihatnya sedang terlelap.
"Sweety, aku mengerti kebahagiaanmu tentang restoran itu, tapi harga 150 M sungguh tidak masuk akal untukku, wanita itu seperti memanfaatkan keadaanku saat ini, yang memang membutuhkan restoran itu untuk dapat memberikan sebuah kejutan di hari ulang tahunmu."
Raymond memijat pelipisnya berkali-kali untuk mengusir rasa pening di kepalanya. Hatinya bergelut dengan egonya sendiri, namun bukan Raymond Weil namanya jika ia harus menuruti ancaman orang lain. Setelah menemukan sebuah ide, raut wajahnya sudah mulai terlihat tenang, dengan memicingkan senyum licik di wajahnya, ia sudah dapat merasakan kemenangan besar akan digenggamnya dengan mudah.
"Mulai besok bersiaplah menghadapi kehancuran restoranmu Amita, kau yang memintaku melakukan semua ini padamu, jadi jangan salahkan aku," gumam Raymond mendengus kesal.
Raymond akhirnya berusaha memejamkan matanya. Tak lama ia pun mulai terlelap, hingga Alice yang sudah sejak tadi mengintip Raymond, kini bangkit dari ranjang dengan perlahan. Alice melangkah mendekati nakas untuk mengambil ponsel Raymond.
Setelah mengutak-atik ponsel, ia akhirnya menemukan sebuah nomor yang tertera pada panggilan keluar di riwayat teleponnya. Alice mencatat nomor ponsel Amita pada ponselnya. Setelah melakukan semua itu, ia kembali meletakkan ponsel suaminya di atas nakas.
"Besok aku akan menghubungi wanita ini, aku harus cari tahu siapa dia sebenarnya? Dan ada hubungan apa dia dengan suamiku?" gumam Alice terlihat geram di dalam hatinya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Mampir ke karya baruku ya :
Sosok Elvia yang Alice bahas ada di novel Wanita Simpanan Bryan.
Terima kasih ya semuanya.
__ADS_1