Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Kedatangan Bibi Mey


__ADS_3

Selamat membaca!


Mobil mewah Raymond sudah memasuki pelataran rumah kediaman Weil. Raymond bergegas turun tanpa menunggu Albert membukakan pintu mobil untuknya.


Raymond masuk ke dalam rumah. Langkahnya terhenti ketika dirinya melihat seorang wanita berusia sekitar 45 tahun, sudah duduk nyaman di sofa bersama dengan Alice.


Bibi Mey adalah Adik kandung Nicholas yang mempunyai nama lengkap Meyrisa Tomei, wanita berusia 45 tahun, namun masih terlihat cantik dan energik. Bibi Mey menikah dengan seorang pengusaha asal Amerika yang bernama Frederic Macheda, sejak menikah 20 tahun lalu ia memutuskan untuk pindah ke Amerika, dari pernikahannya, Bibi Mey mempunyai sepasang anak.



"Bibi Mey, apa kabar Bi?" tanya Raymond sambil duduk di sofa yang berada di seberang mereka.


"Sweetu, kamu sudah pulang, ini Bibi Mey datang mau ketemu Daddy katanya, dia tahu kasus yang menimpa Daddy sampai membuat Daddy harus mendekam di balik jeruji besi selama 15 tahun."


Wajah Raymond berubah menjadi sendu. Ia menatap wajah Bibi Mey dengan rasa bersalahnya, karena dia sendiri tidak bisa hadir dalam persidangan Nicholas.


"Iya Bi, mau bagaimana lagi? Keputusan pengadilan sudah ditetapkan, kalau Bibi ingin ke sana, besok aku temani Bibi, bagaimana?" tanya Raymond coba menawarkan.


"Aku boleh ikutkan sweetu," pinta Alice dengan wajah memelas.


Raymond sesaat hanya diam tanpa menjawab.


"Sweetu, aku bosan jika terus di rumah, tadi saja aku ingin mengantar makan siang untukmu, tapi gagal, karena kamu ternyata sudah pulang," tutur Alice protes terhadap suaminya.


"Sudah izinkan saja Ray, lagipula ada Bibi dan bukannya kamu sudah mempunyai 4 orang bodyguard saat ini, pasti Alice aman, tenanglah Ray," tutur Bibi Mey mencoba membantu Alice, agar Raymond mengizinkannya ikut untuk bertemu Nicholas.


Raymond mengesah pelan.


"Ya baiklah, jika kedua wanita keras kepala sudah kompak, aku hanya bisa pasrah."


Alice tersenyum lebar. Ia langsung menghamburkan pelukan bahagianya kepada Bibi Mey. Maklum saja Alice begitu bahagia, karena baru kali ini Raymond mengizinkannya untuk keluar rumah, setelah kejadian penyerangan yang dilakukan oleh Thomas sebulan lalu.


"Terima kasih Bibi Mey," ucap Alice dengan mengulas senyum di wajahnya, yang kini tampak sudah berseri.


Raymond tersenyum kecil, walau masih menyimpan sedikit keraguannya.


"Tidak apalah, lagipula aku juga ikut besok, aku sebenarnya mengizinkan saja Alice untuk pergi kemanapun, tapi aku masih trauma, aku takut kejadian yang buruk akan menimpa istriku lagi," gumam Raymond menatap wajah Alice yang kini riang.


🍁🍁🍁


Restoran Chopra.

__ADS_1


Amita mulai mencari beberapa informasi dari internet tentang MANGO Corporate dan menyelidiki sosok pria arogan yang ditemuinya tadi.


Wajahnya tampak semakin serius melihat layar monitor pada Macbook-nya, dengan kedua alis yang saling bertaut.


"Jadi Raymond Weil adalah CEO MANGO Corporate, ia menikah dengan Alice, anak dari pemilik restoran ini, aku mengerti sekarang! Dia bermaksud memberikan restoran ini kepada istrinya, maka itu dia ingin membeli kembali restoran ini," tutur Amita berpikir dengan keras sebelum memutuskan.


Amita seperti menemukan sebuah ide dalam pikirannya, yang dapat memberikan keuntungan untuk dirinya.


"Harga 5,5 M terlalu murah untuk seorang Raymond Weil, aku akan menawarnya sampai 150 M, jika dia bersedia aku rela melepas restoran ini," gumam Amita yang langsung mengambil ponsel yang memang berada di atas meja kerjanya.


Setelah melihat nomor telepon kantor MANGO Corporate pada layar Macbook-nya, Amita langsung menghubunginya untuk berbicara dengan Raymond.


"Halo, apakah benar ini MANGO Corporate?"


"Iya betul Nona, ada yang bisa saya bantu? jawab Natalie bagian resepsionis MANGO Corporate.


"Apakah saya bisa berbicara dengan Tuan Raymond?" tanya Amita.


"Maaf Nona, kami sangat menyayangkan, beliau sudah pulang sejak tadi siang."


"Kalau begitu, apakah saya bisa meminta nomor ponselnya?"


"Kalau itu maaf Nona, saya tidak berani memberikannya, jika memang penting saya bisa memberikan Anda nomor telepon rumah beliau, bagaimana Nona?"


Setelah Natalie menyebutkan nomor telepon rumah Raymond, Amita pun mencatatnya di sebuah buku catatan, sekaligus mengakhiri sambungan teleponnya.


"Semoga pria arogan itu mengangkat teleponku," gumam Amita berharap.


Amita langsung menekan beberapa nomor yang sudah diberikan oleh Natalie.


🍁🍁🍁


Di rumah kediaman keluarga Weil.


Telepon rumah berdering, suaranya menggema memenuhi seisi ruangan di ruang tengah. Risfa yang mendengarnya, langsung menghampiri untuk mengangkatnya.


"Halo di sini rumah kediaman keluarga Weil, ada yang bisa dibantu?" tanya Risfa menjawab panggilan teleponnya.


"Iya, apakah saya bisa berbicara dengan Tuan Raymond?


"Dengan siapa saya berbicara?"

__ADS_1


"Amita Chopra, katakan padanya aku pemilik restoran Chopra."


Risfa meletakkan teleponnya di atas nakas. Ia kemudian melangkah menuju ruang tamu. Setelah sampai di ujung ruang tengah, Risfa melihat ke arah ruang tamu, Raymond, Alice dan Bibi Mey masih asyik dengan percakapan mereka, membuat Risfa mengurungkan niatnya untuk mengganggu waktu mereka yang sudah lama tidak terlihat harmonis.


"Sebaiknya nanti saja aku beritahu Nona Alice."


Risfa memutar tubuhnya kembali ke arah ruang tengah dan mengangkat telepon itu lagi.


"Halo Nona Amita, apa bisa tinggalkan nomor ponsel Nona? Nanti bila penting Tuan Raymond akan menghubungi Nona, bagaimana Nona?"


"Oke baik, tolong catat ya."


Amita menyebutkan nomor ponselnya dan Risfa mencatatnya di secarik kertas yang berada di atas nakas. Amita mengakhiri panggilan teleponnya, setelah meletakkan kembali telepon rumah pada tempatnya, Risfa melanjutkan aktivitasnya yang belum selesai yaitu menata beberapa makanan yang sudah Alice masak untuk disuguhkan di atas meja makan.


Setelah selesai dengan aktivitasnya, Risfa kemudian melangkah menuju ruang tamu untuk melapor kepada Alice, bahwa semua masakannya telah terhidang di atas meja makan.


"Nona Alice, maaf Nona, makanan sudah siap."


"Terima kasih Risfa."


Alice langsung menuntun Bibi Mey untuk menuju meja makan, diikuti oleh Raymond yang berjalan berdampingan dengan keduanya.


🍁🍁🍁


Di sebuah kamar apartemen, seorang wanita terlihat tampak kesal sedang melempar beberapa barang-barangnya.


"Karena kalian aku sampai sekarang belum juga mendapat pekerjaan, aku akan buat kalian menyesal telah memecatku."


Riwayat pekerjaan di London memang sangat berpengaruh, itu membuat beberapa perusahaan menjadikannya patokan dalam menerima pekerja baru di perusahaannya. Terlebih perusahaan besar seperti MANGO Corporate, dipecat secara tidak hormat pastinya mempengaruhi karir seseorang, hingga akhirnya susah mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain.


"Waktu itu aku gagal menjalankan rencanaku, karena kedua pengawal di rumah sakit itu menjaganya dengan sangat ketat, tapi aku tidak boleh menyerah, aku harus mengintainya terus sampai ada celah untukku menculik Alice," tutur seorang wanita yang terlihat sedang duduk dengan napas terengah-engah, karena kelelahan, setelah melampiaskan segala amarahnya.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya?


Dukung terus karyaku dengan like dan vote kalian ya. Terima kasih.


Karya baruku :

__ADS_1



__ADS_2