
Selamat membaca!
Desiran air laut mulai terdengar, dengan kapal-kapal yang bersandar berjajar di pinggir dermaga.
Pemandangan yang membuat Alice terkesiap. Ia heran dengan apa yang dilihatnya.
Kenapa aku dibawa ke sini.
Mobil sudah berhenti di sebuah dermaga yang terletak di daerah Tanjung Priok. Alice mulai mengedarkan pandangannya melihat ke sekitarnya.
"Sepertinya ada yang aneh, kenapa aku bukan dibawa ke kantor polisi tapi malah ke sini," batin Alice mencurigai.
Kedua pria itu mulai turun begitu juga dengan Alice, dengan tangan terborgol Alice mulai dituntun untuk mendekati sebuah kapal yang memang sepertinya sudah disiapkan untuk Alice.
Di kejauhan terlihat sosok wanita yang saat ini sedang memunggungi Alice, berdiri menghadap kapal yang saat ini bersandar di dermaga.
Alice dan kedua pria itu sudah tepat berada di dekat seorang wanita.
"Tugas sudah selesai dijalankan Nona."
Seorang pria menyapa dengan sigap. Alice mulai menyadari bahwa kedua orang yang berada di kiri kanannya ini bukanlah polisi sungguhan. Alice terlihat panik, hatinya mulai cemas, dengan pikiran yang carut marut di kepalanya.
Aku harus melarikan diri dari mereka.
Alice melihat kedua pria itu, sudah berada di depannya, keduanya sedang menghadap seorang wanita yang wajahnya tak dapat dilihat oleh Alice, karena terhalang tubuh kekar kedua pria yang saat itu berdiri di depannya.
Ini kesempatanku untuk kabur.
Alice melangkah mundur dengan sangat perlahan, agar tidak meninggalkan suara sedikit pun. Setelah dirasa cukup membuat jarak dengan keduanya pria itu, Alice langsung memutar tubuhnya, ia berlari sekuat-kuatnya dengan segala tenaga yang dimilikinya.
Seorang wanita itu mulai menyadari kepergian Alice, ini lalu memberi perintah kepada kedua pria itu untuk mengejar dan menangkap Alice kembali. Kedua pria itu berlari dengan cepat, saling kejar pun tak dapat dihindari lagi. Namun karena Alice sedang mengandung, langkah larinya semakin lama semakin melambat, hingga akhirnya kedua polisi itu dapat dengan mudah menangkap Alice.
"Dasar menyusahkan, kamu pikir dengan berlari kamu bisa meloloskan diri dari kami, dermaga ini luas bodoh!"
Salah satu polisi tampak geram dengan Alice, ia mulai kasar menuntun Alice dengan mencengkram lengan Alice, membuat Alice menjerit kesakitan dan mulai berontak.
"Lepaskan.."
"Lepaskan.."
"Kalian berani dengan wanita, awas kalian jika Suami dan Kakakku tahu, kalian akan dibalas beribu kali lipat."
Perkataan Alice hanya mengundang gelak tawa dari kedua pria itu, sambil terus memaksa Alice untuk mengikuti langkahnya menuju ke arah wanita yang saat ini masih menunggunya.
Alice mulai memipihkan matanya, melihat fokus ke arah wanita yang kini ada dihadapannya. Alangkah terkejutnya Alice saat melihat lagi dan lagi di depan matanya adalah Greta, sedang berdiri sambil menatapnya dengan tatapan sinis dan senyum menyeringai.
"Greta.."
__ADS_1
"Jadi ini adalah permainanmu?"
"Bagaimana kamu bisa tahu aku sedang berada di rumah sakit itu?"
Greta tertawa terbahak-bahak mendengar semua pertanyaan Alice.
"Alice.. Alice.. Dasar kau ini entah polos atau terlewat bodoh ya! Hanya rumah sakit itu yang dekat dari tempat kejadian, jadi tidak mungkin dengan kondisi Raymond yang sedang kritis kamu melewatkan rumah sakit yang paling dekat itu."
Alice semakin tersulut emosinya, terlebih mengingat kondisi suaminya saat ini sedang koma karena rencana Greta. Ia coba melangkah untuk lebih mendekati Greta, seakan di dalam benaknya, ia ingin merobek mulut Greta dan menampar wajahnya dengan keras, rasa kesal yang sudah terpendam hingga ke ubun-ubun.
Namun kedua pria itu membatasi gerakan Alice dengan mencengkram erat kedua lengannya.
"Wow, hebat juga tenaga wanita ini, santai Alice," ketus seorang pria sedikit takjub.
"Sudahlah, lebih baik kau diam dan ikuti segala kemauan kami, maka kamu tidak akan kami sakiti!" ancam seorang pria lainnya dengan geram.
Greta melangkah, kini wajahnya sudah sangat dekat dengan Alice.
"Aku akan membuatmu menderita, karena apa kamu tahu? Suamimu itu telah membunuh anak di dalam kandunganku, kamu tahu Alice, anak itu adalah anaknya, anak dari hasil perbuatan suamimu padaku dan kami melakukan semua itu, di waktu sehari sebelum kalian menikah, setelah pertemuan kita di restoran, apa kamu ingat!"
Alice terkesiap tak menyangka.
"Kenyataan apalagi ini yang ku dengar, jadi selama ini, sweetu telah membohongiku," batin Alice sambil menautkan kedua alisnya untuk berpikir.
Wajah Alice kembali datar, namun senyum tipis langsung terbit di wajah cantiknya.
"Terserah kamu! Menurut kamu untuk apa aku sampai mengikuti kalian ke Jakarta, kalau bukan untuk meminta Raymond, suamimu! Bertanggung jawab atas kehamilanku, tapi karena terlalu memikirkannya, aku jadi depresi hingga membuatku keguguran."
Alice menjadi iba mendengar perkataan Greta.
"Entah kenapa aku sedikit merasa kasihan dengan Greta, sebagai seorang wanita aku paham, kehilangan anak dalam kandungan itu sangat melukai luka di hati kita, luka yang tidak akan sembuh mungkin untuk selamanya," batin Alice dengan raut iba.
Greta menaikkan sebelah alisnya, melihat raut wajah Alice yang terlihat empati setelah mendengar perkataannya.
"Kenapa kamu kasihan denganku?"
Alice mempertegas tatapannya kembali.
"Nanti kamu pun akan merasakan apa yang aku rasakan!" kecam Greta dengan gurat dendam di raut wajahnya.
Alice menjadi takut, ia memegangi perutnya, seolah melindungi anaknya dari kejamnya ucapan Greta.
"Langkahi dulu mayatku, jika kamu ingin melukai anakku, aku tidak akan membiarkanmu!" tegas Alice dengan keberanian yang membara, sorot matanya tajam menatap wajah Greta.
Greta tertawa tanpa menahannya, suara yang seakan meremehkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Alice.
"Bagaimana mungkin kamu bisa melindunginya Alice? Aku bisa saja membunuhmu dengan tanganku sendiri di tempat ini, tapi itu hanya akan membuatku mendapat masalah. Negara ini adalah negara hukum, jadi biarlah alam yang akan membunuhmu secara perlahan!" ancam Greta dengan menautkan kedua alisnya, sorot mata tajamnya seolah melemahkan Alice, yang saat ini sangat sadar ia tak bisa berkutik, karena kedua pria di sampingnya, terus mencengkram erat kedua lengannya.
"Ya Tuhan aku mohon lindungi kandunganku, kuatkan aku agar dapat lolos dari ancaman wanita iblis ini," batin Alice berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon belas kasihan dari Sang Pencipta.
__ADS_1
Greta memicingkan senyum jahatnya.
"Bawa dia ke kapal itu, segera berangkatkan dia!"
Kedua pria serempak menjawab tegas perintah Greta, mereka langsung membawa Alice menuju kapal yang memang sudah disiapkan untuk membawa Alice.
Alice terus berontak, ia coba menahan langkah kedua pria itu, namun apalah daya tenaga wanita memang terlalu lemah, apalagi untuk melawan dua orang pria sekaligus.
Akhirnya Alice hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki kedua pria itu, sampai ke dalam kapal. Namun Alice terus menghardik Greta, tiada henti untuk mencurahkan kekesalannya.
"Dasar wanita iblis."
"Kau tidak punya perasaan."
Dua kalimat yang langsung menyulut amarah Greta. Ia menghampiri Alice, berdiri dihadapan Alice, lalu melotot tajam menatap wajah Alice.
"Wanita jal*ng, jaga bicaramu," ucap Greta dengan menautkan kedua alisnya.
Alice terkekeh geli mendengar ucapan Greta.
"Apa kamu tidak punya cermin? Bercermin dan lihatlah dirimu, siapa yang jal*ng, aku atau kamu?"
Greta mulai melayangkan tangan yang sudah gatal ingin membungkam mulut Alice atas segala ucapannya, tapi belum selesai Greta mendaratkan tamparannya. Alice terlebih dulu menandukan kepalanya, hingga mengenai hidung Greta yang membuatnya mundur beberapa langkah.
Greta meringis, merasakan sakit di hidungnya, yang terlihat bercucur darah.
Kedua pria bayaran Greta, menjadi geram melihat majikannya di lukai oleh Alice, dengan kasar, keduanya menghempaskan tubuh Alice hingga membuat Alice terjatuh ke sudut kapal.
Alice mengaduh sakit merasakan saat ini perutnya terasa perih. Alice kian meringkuk sambil memegangi perutnya.
Melihat kejadian itu tak membuat hati Greta tergerak untuk menolongnya, ia mengabaikannya lalu beranjak pergi meninggalkan kapal. Kedua pria yang saat ini sudah menanggalkan seragam polisinya juga sama, mereka tak sedikit pun menolong Alice. Mereka malah meninggalkannya dan menuju komando kapal, untuk mulai menjalankan kapal menuju sebuah pulau, tempat mereka akan membuang Alice dan meninggalkannya seorang diri di sana.
Greta menoleh melihat ke arah Alice sambil masih memegangi hidungnya yang sepertinya sedikit patah.
"Matilah kau Alice, nikmati kematianmu dengan perlahan di sana."
🌸🌸🌸
Bersambung ✍️
Ikuti terus kisah Alice.
Apa Alice keguguran?
Bagaimana Alice bisa lolos dari rencana Greta****?
Berikan like dan komentar kalian ya.
Terima kasih.
__ADS_1