Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah dibuat terkejut dan bahagia yang bercampur menjadi satu, kini pernikahan Risfa dan Albert berlanjut ke acara resepsi. Seluruh tamu undangan mulai menaiki pelaminan yang di desain dengan sangat megah dan mewah.


Risfa dan Albert sedang bergantian pakaian di ruangan pengantin, sementara itu Alice dan Raymond terlihat sedang bercengkrama dengan para kolega bisnisnya yang memang di undang datang ke acara pernikahan Albert dan Risfa, sebut saja Adams Robson dari Robson Corporate, Bryan dan Naina juga terlihat hadir di sana, kedatangan keduanya kali ini tanpa Elvia yang memilih untuk tidak datang, karena kesedihan yang dirasakan atas kepergian suaminya masih melekat di dalam dirinya.


Tak berapa lama kemudian, Risfa dan Albert mulai duduk di pelaminan, kali ini mereka sudah berganti pakaian. Namun tak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, Albert masih mengenakan stelan jas dan dasi kupu-kupu, hanya saja dengan warna yang berbeda dari sebelumnya, kali ini busana yang dikenakan Risfa dan Albert terlihat kompak dengan warna yang senada.


Para tamu mulai bergantian mengantri untuk dapat bersalaman dan memberi ucapan selamat atas pernikahan yang telah berlangsung antara Risfa dan Albert.


Acara resepsi berlangsung selama 3 jam. Namun Alice dan Raymond tidak mengikuti acara itu sampai selesai, karena kandungan Alice yang sudah mendekati dengan waktu persalinan membuatnya mudah sekali lelah.


"Sweety, apa tidak apa kita pulang sebelum acara selesai?" tanya Alice merasa tak enak.


"Mereka pasti mengerti, tenang saja, yang terpenting aku juga sudah memberikan hadiah yang dititipkan oleh Greta," jawab Raymond sembari membagi pandangannya dengan menoleh ke arah Alice.


"Betul Alice, Albert pasti paham kandungan kamu itu sudah besar, hanya tinggal menunggu waktu saja untuk lahiran," sahut Nicholas dari kursi belakang, mencoba menenangkan Alice.


Mobil yang dikendarai sendiri oleh Raymond, terus melaju membelah lalu lintas kota London, menuju rumah kediaman keluarga Weil.


Sesampainya di rumah, Alice merasa seluruh tubuhnya terasa lemas, dengan cekatan Raymond merengkuh tubuh istrinya, hingga berada dalam gendongannya. Raymond langsung membawa Alice menuju kamar mereka yang terletak di lantai atas, untuk mengistirahatkan tubuh Alice yang memang terlihat sangat lelah.


"Sweety, kamu istirahat ya. Jangan terlalu banyak bergerak. Apa kamu ingin aku panggilkan dokter untuk memeriksa kandunganmu?"


"Tidak perlu sweetu, aku hanya butuh istirahat sebentar biar kembali fit. Besok kita ke rumah sakit ya untuk melihat perkembangan baby twins."


"Ya sudah iya, cepat pejamkan matamu dan segera tidur ya sweety."


Raymond mengusap pucuk rambut Alice dan memberikan sebuah ciuman singkat yang mendarat tepat di bibir Alice, dengan penuh cinta dan kasih sayang yang begitu tulus.


Alice pun tersenyum dan segera memejamkan matanya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Keesokan paginya Alice terbangun dari lelapnya. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya, tangannya meraba-raba sisi sebelah tempat tidur mencari keberadaan Raymond, namun Alice tak mendapatkan apapun.


Alice bangkit dari posisi tidurnya hingga terduduk di atas ranjang, matanya menangkap sosok yang ia cari. Terlihat Raymond tengah menata makanan di atas meja yang letaknya bersebrangan dengan keberadaan ranjang besar tempat Alice berada.


Sudut bibir Alice tertarik dengan sendirinya hingga terbentuk sebuah senyuman di wajahnya, hatinya selalu berbunga-bunga setiap kali melihat perubahan Raymond yang saat ini menjadi begitu romantis.


Raymond sangat memanjakan Alice dengan kondisinya yang sedang hamil tua, membuat rasa cinta dalam hati Alice semakin bertambah dalam setiap harinya, di dalam hati kecil Alice, ada perasaan takut bila kehilangan Raymond.


Raymond yang menyadari bahwa sepasang mata saat ini sedang memperhatikannya, dengan cepat menoleh ke arah belakang dan menatap Alice dengan perasaan penuh cinta, ia melangkahkan kaki menuju ranjang untuk menghampiri Alice.

__ADS_1


"Sweety kamu sudah bangun. Kita sarapan dulu yuk, habis itu kita mandi untuk bersiap-siap ke rumah sakit. Aku sudah gak sabar ingin cepat-cepat lihat baby twins kita, di layar USG."


"Sabar ya sweetu, aku mau cuci wajah dulu," pinta Alice sambil menautkan kedua alisnya.


Raymond tersenyum manis, menatap lekat wajah istrinya.


"Aku gendong ya, biar kamu gak kecapekan."


Tanpa menunggu Alice menjawab tawarannya, Raymond langsung merengkuh tubuh Alice dan membawanya menuju bathroom.


"Sweetu, aku bisa jalan sendiri!" protes Alice menggerutu.


"Aku tahu itu, tapi aku tidak ingin membiarkanmu melewati masa kehamilanmu seorang diri, pasti sekarang kamu berat banget membawa beban baby twins dalam perutmu, mereka itu gembul-gembul sweety."


Wajah Alice kini merona merah. Perhatian dari Raymond membuatnya tak mampu berkata-kata, ia hanya tersenyum menatap wajah suaminya yang terlihat sedikit terengah menahan beban tubuhnya.


Sesampainya di dalam bathroom, Raymond menurunkan tubuh Alice dengan perlahan. Kemudian Alice langsung berdiri di depan wastafel untuk membasuh wajahnya. Setelah selesai, Raymond kembali menggendong tubuh Alice, kali ini menuju meja makan yang sudah tersaji beberapa menu sarapan di atasnya.


"Ini aku sendiri yang masak sweety, selama pergi dari rumah saat di Belanda aku selalu menghabiskan waktu di apartemen dengan memasak."


Alice tersenyum tak menyangka dengan apa yang ada dihadapannya, bahkan untuk membayangkan Raymond memasak pun Alice tidak berani karena baginya itu adalah hal yang impossible.


Namun ternyata apa yang dilakukan Raymond memang sudah direncanakanya dari semalam. Raymond sengaja bangun pagi-pagi buta, sebelum Alice terbangun, karena Raymond ingin memberikan sebuah kejutan untuk Alice.


"Iya, khusus buat kamu. Makan yang banyak ya sweety biar baby twins semakin sehat dan gembul."


Alice mengangguk menuruti semua perkataan suaminya, ia mengambil menu sarapan yang berada di hadapannya dan mulai memasukan makanan itu ke dalam mulutnya sampai habis, Alice terlihat begitu lahap.


Ternyata belum cukup sampai di situ, selanjutnya ia mengambil menu berikutnya, sebuah makanan penutup dan memakannya sampai tandas kembali. Aktivitas sarapan Alice ditutup dengan segelas susu putih yang sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang kedua janin yang berada dalam kandungannya.


Alice tak bisa menahan sendawanya, suara yang menandakan bahwa Alice saat ini udah sangat kenyang dengan semua makanan yang telah disantapnya.


"Nah sarapannya sudah selesai. Sekarang saatnya kita mandi, habis itu kita jalan ke rumah sakit," ajak Raymond yang sudah tidak sabar untuk melihat kedua buah hatinya.


"Ini masih pagi sweetu, nanti agak siangan ya kita pergi ke rumah sakitnya," tawar Alice dengan mencebik manja.


Raymond sejenak berpikir dengan menimang-nimang apa yang Alice pinta.


"Ya sudah siangan juga boleh sih, tapi mandinya sekarang ya."


Alice tersenyum dengan wajah yang bersemu merah, ia baru menyadari ada maksud di balik ajakan suaminya itu. Raymond seperti menuntut sesuatu yang tidak didapatnya saat semalam Alice meninggalkannya tidur terlebih dahulu.


Kali ini tanpa menolak, Alice langsung melangkahkan kakinya menuju bathroom yang langsung diikuti oleh Raymond yang mengekor tepat di belakangnya.

__ADS_1


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Alexa terlihat berada di dalam mobil bersama Patricia yang sudah dibebaskan, namun selama 2 Minggu ini Alexa masih belum mengatakan bahwa Alice lah yang memberikan tanda tangan untuk kebebasan Patricia. Keduanya sedang menuju sebuah mall mewah yang berada di pusat kota London.


"Terima kasih ya Adikku yang cantik, kamu memang bisa aku andalkan, karena kamulah sekarang aku bebas dari penjara."


Alexa tersenyum manis menatap wajah Patricia yang berada di sampingnya.


Mobil yang dikendarai oleh Alexa mulai memasuki lobi mall, setelah memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang disediakan, keduanya turun dan langsung beranjak masuk ke dalam mall.


Keduanya menuju sebuah restoran yang menjadi tempat favorit mereka ketika berkunjung ke mall itu. setelah memilih meja mana yang akan mereka tempati, keduanya mulai terlihat menduduki kursi yang mereka telah pilih.


"Alexa pokoknya aku ingin rencana yang aku katakan padamu itu harus segera kita lakukan, aku tidak rela melihat Alice dan Raymond bahagia," kecam Patricia sangat geram.


Alexa bingung menanggapi perkataan Patricia, ia hanya mematung diam tanpa kata, sambil memutar otaknya untuk berpikir, bagaimana cara membuat Kakaknya mengerti.


"Alexa kenapa kamu diam saja, aku ingin wanita jalang itu menderita, bahkan harus lebih sengsara daripada nasibku saat di penjara selama 9 bulan."


Mendengar perkataan Patricia yang terus menghina Alice, membuat Alexa begitu geram hingga tak dapat menahan amarah yang kini sudah merasuk ke dalam pikirannya, tak pelak sebuah tamparan keras pun mendarat mulus tepat di pipi Patricia sebelah kanan.


Patricia terhenyak dengan tamparan yang membuat pipinya terasa perih.


"Apa maksudmu ini Alexa? Berani sekali kau menampar Kakakmu ini?"


Alexa langsung bangkit dan menatap Patricia dengan sorot matanya yang tajam.


"Karena Alice yang sudah membebaskanmu, Alice yang sudah menandatangani surat pembebasan itu, bahkan Tuan Raymond tidak mengetahui akan hal ini, dia melakukan semua ini karena dia mengerti perasaan sesama wanita, dia membebaskanmu dengan niat yang baik, apa tidak bisa kamu juga berpikir hal yang sama seperti Alice. Lupakan masa lalumu, Kak! Agar kamu bisa menjalani kehidupan yang lebih baik ke depannya. Tapi jika Kakakku ini masih ingin melanjutkan niatnya untuk balas dendam, aku berjanji padamu, aku yang akan menjaga Alice walau harus mempertaruhkan nyawaku, aku rela!" ucap Alexa sambil pergi meninggalkan Patricia seorang diri.


Patricia tercekat kaget dengan semua perkataan yang keluar dari mulut Alexa.


"Padahal Alice tidak mengenalku, tapi kenapa dia ingin membebaskanku ya, sebenarnya terbuat dari apa hati wanita itu," gumam Patricia terus menatap punggung Alexa yang semakin menjauhinya.


πŸ’πŸ’πŸ’


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya!


Terima kasih.


Info :


Bryan, Naina dan Elvia - Simpananku Canduku

__ADS_1


__ADS_2