Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
New Life


__ADS_3

Selamat membaca!


1 Bulan kemudian.


08.00


Alice terlihat sedang berada di rumah kediaman Weil. Ia sibuk mengarahkan beberapa pekerja untuk menata ulang rumahnya, setiap bagian-bagian yang rusak benar-benar diubah, menjadi lebih indah dari sebelumnya.



"Sekarang ruang tamuku sudah terlihat cantik."


Alice melangkah menuju ruang makan, di sana sudah berada Elliot dan Raymond, sedang menikmati santapan pagi yang telah Alice masak sendiri.


"Sweety duduklah sini? Biarkan saja mereka yang atur dekorasinya, aku sudah membayar mereka dengan mahal, untuk apa kau harus turun tangan juga," tutur Raymond memberitahu Alice dengan kedua alis yang saling bertaut.


"Betul kata Tuan Raymond, berhentilah dan ikut makan bersama kami!"


Alice menghela napasnya pelan, ia akhirnya menuruti semua perkataan dari suami dan kakaknya.


"Oke, oke, bagaimana masakanku pagi ini? tanya Alice sambil duduk lalu mulai mengambil makanan yang tersaji di atas meja.


"Lezat seperti biasa sweety," jawab Raymond cepat.


Tak berapa lama seorang pekerja tiba-tiba muncul ke ruang makan.


"Maaf mengganggu Tuan, Nona ini mau diletakkan dimana ya?" tanya seorang pekerja dengan menunjukan sebuah lukisan besar.


Alice menoleh menatap ke arah lukisan tersebut, lalu dengan cepat bangkit untuk menunjukkan tempat dimana lukisan itu harus diletakkan. Alice bersama pekerja itu meninggalkan ruang makan. Sementara Raymond dan Elliot saling memandang penuh rasa heran dengan Alice.


"Lihat itu Elliot, Adikmu sampai melupakan makanan yang sudah diambilnya."


Elliot terkekeh geli mendengar ucapan tidak suka dari Raymond.


"Begitulah Adikku, ia wanita yang keras kepala, jika dia sudah berkehendak, aku pun tidak bisa melarangnya, buktinya waktu itu kami akan meninggalkanmu ke Australia, dia memintaku untuk kembali pulang dan aku tidak bisa menolaknya, tapi bukankah bagus karena watak keras kepalanya, membuat kalian masih bersama sampai saat ini."


Raymond yang sedang menyeruput kopi hangatnya, menjadi tersedak mendengar perkataan Elliot.


"Kau ini bisa saja Elliot, stop bahas masa lalu, kita banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, karena ulah si Thomas brengs*k itu," tutur Raymond yang geram di akhir kalimatnya.


"Ya betul Tuan, sebaiknya kita segera berangkat ke MANGO Corporate."


Keduanya akhirnya menyudahi santap paginya. Mereka melangkah melewati ruang tamu yang masih disusun tata letak beberapa tanaman dan lukisan juga foto-foto oleh beberapa pekerja dengan instruksi dari Alice.


Alice yang mengetahui langkah suami dan Kakaknya, sejenak menghampiri mereka.


"Kalian mau berangkat?"


"Iya sweety, kamu hati-hati di rumah, Christopher dan Colin selalu stand by menjagamu di rumah, kamu tidak usah khawatir, jika kamu ingin pergi keluar rumah, mereka akan mengawalmu."

__ADS_1


"Iya sweetu, kamu tidak usah khawatir semenjak Greta sudah sadar dan memutuskan pergi bersama Tuan Richard ke Australia, aku yakin tidak akan ada lagi yang mempunyai niat jahat pada kita."


"Tapi tetap saja kau harus hati-hati Alice," sambar Elliot menasihati.


"Oke, oke, Kakakku yang tampan," ucap Alice sambil merapikan dasi Elliot yang tampak miring.


Raymond berdehem. Alice dan Elliot langsung menoleh menatap kecemburuanmu Raymond.


"Aku duluan ya Tuan Raymond."


Elliot melangkah meninggalkan keduanya.


"Kau masih cemburu dengan Kakakku sweetu, bagianmu lebih istimewa sweetu, kau tak perlu khawatir."


Alice merapatkan tubuhnya, namun kini tak bisa serapat dulu, karena usia kandungan Alice sudah memasuki 5 bulan. Alice mengalungkan kedua tangannya pada leher Raymond, dengan berjinjit ia mulai memberi sebuah ciuman tepat pada bibir Raymond.


Sejenak mereka saling memagut mesra. Setelah selesai, Raymond mengakhirinya dengan memberi kecupan pada kening Alice.


"Kabari aku jika ada sesuatu di rumah!" titah Raymond yang masih khawatir, jika meninggalkan Alice sendirian tanpa dirinya di rumah.


"Oke sweetu, kamu tenanglah, fokuslah dalam meeting besarmu hari ini, nanti aku akan antarkan makan siang ke kantormu, oke," tutur Alice dengan mengulas senyum di wajahnya yang kini semakin chubby.


Raymond memutar badannya untuk berlalu meninggalkan Alice, sementara Alice kembali melanjutkan aktivitas untuk menata ruang tamunya, karena setelah ini ia juga harus menata ulang kamarnya.


"Risfa, itu sebaiknya jangan diletakkan di sana, katakan pada pekerja itu!" titah Alice memberitahu Risfa.


"Baik Nona," jawab Risfa dengan senyum di wajahnya.


"Aku bersyukur Tuhan, sebulan ini keadaan sudah sangat membaik, tak ada lagi masalah, aku harap Nona Alice dan Tuan Raymond selalu berbahagia," gumam Risfa sambil menatap wajah Alice dengan senyuman.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Saat Raymond sudah keluar dari pintu rumah, sebuah sapaan langsung menegurnya dengan sigap.


"Pagi Tuan Raymond," ucap Benjamin setengah membungkuk hormat.


Benjamin dan Arnold sudah bersiap untuk mengawal Raymond. Benjamin memutuskan untuk menetap di London dan bekerja dengan Raymond setelah Richard memberikan perintah padanya, bukan hanya Benjamin bahkan semua pengawal Richard.


"Pagi juga Ben," ucap Raymond sambil memasuki mobil yang juga sudah tampak Albert stand by di samping pintu mobil.


Raymond seperti biasa duduk di kursi belakang, sementara Elliot duduk di kursi depan di samping kursi kemudi. Benjamin dan Arnold menggunakan moge, untuk lebih leluasa mengiringi mobil yang dinaiki oleh Raymond.



Setelah menempuh 30 menit perjalanan, moge dan mobil mewah Raymond mulai memasuki lobi. Seperti biasa Albert langsung membukakan pintu mobil untuk Raymond turun.


"Terima kasih Albert."


"Sudah tugasku Tuan Raymond," jawab Albert dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


Albert merasa kini pekerjaannya menjadi sangat indah. Ia seperti memiliki keluarga yang baru, karena majikannya menganggapnya bukan hanya sebagai pekerjanya tapi juga keluarga. Albert sangat bersyukur, karena jodoh dari Tuannya adalah Alice yang mampu merubah segala sikap arogan dari Raymond yang dulunya bad boy kini menjadi seorang suami yang begitu mencintai keluarganya.


Raymond dan Elliot memasuki lobi kantor, diikuti oleh Benjamin dan Arnold yang mengekor tepat di belakangnya.


"Selamat pagi Tuan Raymond, Tuan Elliot."


Seorang sekertaris baru yang bernama Tara Simpson, wanita cantik pilihan Elliot untuk menjadi sekertaris di MANGO Corporate.



"Ya pagi Tara, apakah meeting untuk nanti jam 10 sudah kau siapkan semua segala dokumen dan proposal perjanjiannya?" tanya Elliot kepada Tara.


"Sudah siap Tuan," jawab Tara.


"Oke kalau begitu," ucap Elliot singkat.


Raymond dan Elliot melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya masing-masing, selaku wakil CEO ruangan baru Elliot berada di samping ruang Raymond.


"Bagaimana sekertaris baru itu menurutmu Tuan?" tanya Elliot sambil mengangkat kedua alisnya.


"Menurutku..." sejenak menjeda kalimatnya untuk berpikir.


"Smart, cantik dan seksi, tapi tidak secantik dan seseksi istriku Elliot."


Raymond terkekeh melihat wajah Elliot yang sudah tampak gusar, mendengar pujian dari Raymond kepada Tara. Keduanya memasuki lift.


"Aku pikir penyakitmu kambuh lagi Tuan, tapi aku yakin kau sudah berubah Tuan Raymond, segala apa yang telah terjadi pasti membuat pikiranmu menjadi cerah sekarang, bahwa mau bagaimanapun kehidupan bersama keluarga itu merupakan kebahagiaan yang hakiki, aku juga memutuskan akan segera menikah dengan Kelly, kini Kelly sedang pulang ke Australia untuk membicarakan masalah pernikahan kepada keluarganya juga sekalian melihat keadaan Tuan Richard di sana."


Raymond turut bahagia mendengar kabar yang baru saja dikatakan oleh Elliot.


"Aku akan membantumu Elliot, buatlah pesta meriah seperti pesta pernikahanku dulu dengan Alice."


Elliot merasa tersanjung dengan tawaran Raymond, namun ia menolak dengan halus.


"Tidak usah Tuan, tabunganku, aku rasa cukup, aku juga sudah membeli rumah di London, untukku dan Kelly tinggal, aku tidak mungkin harus tinggal terus bersama kalian."


Raymond menyayangkan keputusan Elliot, namun ia sangat menghargai segala keputusannya.


"Jika itu keputusanmu aku selalu mendukungmu Elliot," ucap Raymond sambil menepuk pundak Elliot.


Keduanya keluar dari lift bersamaan.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Berikan terus dukungan kalian ya. Tekan like jangan lupa dan berikan komentar kalian ya.


Jika kalian ingin tahu tentang kisah Greta, nantinya akan ada novelnya sendiri ya.

__ADS_1


Terima kasih. Sehat selalu.


__ADS_2