Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Kebahagiaan Alice


__ADS_3

Selamat membaca!


20.00


Philips telah mempersiapkan segala sesuatunya, ia terlihat sibuk bersama dengan beberapa orang petugas yang bekerja di London Eye.


"Saya ingin semua berjalan dengan lancar ya, tolong siapkan segala sesuatunya."


Beberapa petugas menjawab perintah Philips dengan sigap, mereka seolah begitu mengenal Philips.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


1 jam kemudian.


Albert baru saja tiba di pelataran rumah kediaman Weil. Tak terburu-buru langkahnya santai turun dari mobil, hingga masuk menuju ruang tamu.


"Jam 22.00, sekarang masih jam 21.00, waktuku masih satu jam lagi, perjalanan ke London Eye paling hanya 30 menit, jadi masih banyak waktu."


Albert mengamati jam yang dikenakan di pergelangan tangannya.


Sesaat langkahnya terhenti ketika suara Risfa datang menyapanya.


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Risfa heran.


"Rencana Tuan Raymond berubah, malam ini ia ingin membongkar penyamarannya, karena dia sudah menemukan jawaban atas segala pertanyaan yang selalu menghantui pikirannya."


Risfa tersenyum bahagia, mendengar apa yang telah Albert katakan padanya.


"Akhirnya, aku sebenarnya tidak tega melihat Nona Alice terus bersedih, mulutku ini rasanya ingin mengatakan pada Nona Alice, bahwa sebenarnya Philips itu adalah Tuan Raymond."


Perkataan yang membuat Alice terkejut setengah mati. Kebetulan saat itu Alice sedang menuruni anak tangga untuk menuju ke arah dapur. Alice yang ditemani Tara, keduanya mematung tanpa bisa berkata apapun, sampai akhirnya Alice dengan terbata mulai bertanya pada Risfa dan Albert.


"A-pa mak-sud kalian?" Mata Alice mulai memerah dengan air mata yang menganak pada kelopak matanya.


Risfa spontan terkesiap mendengar suara Alice yang ternyata mengetahui rahasia yang telah mereka tutupi. Ia menjadi gugup karena rasa bersalahnya, Risfa pun coba menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Maafkan saya Nona, saya sebenarnya tidak ingin menutupinya dari Nona, tapi Tuan Raymond yang meminta kami untuk melakukan ini semua," kilah Risfa, wajahnya begitu tegang karena rasa bersalahnya.


Air muka Alice terlihat kembali berseri, ia sama sekali tak menunjukkan sebuah kemarahan atas kebohongan yang telah Risfa dan Albert lakukan. Justru sebaliknya Alice sangat bersyukur, karena saat ini ia sudah mengetahui, kalau ternyata suaminya telah kembali walau sedang dalam penyamaran.


"Dimana sekarang Philips?"


"Nona harus tetap tenang, saya memang datang ke sini, untuk menjemput Nona."


Tara yang melihat Kakaknya sudah kembali tersenyum, ikut merasa bahagia.


"Cepat Kakak, gantilah pakaianmu! Kita akan pergi menemui Kakak Ipar."


Alice masih tersenyum seolah tak percaya bahwa segala penantian panjangnya, akan segera berakhir malam ini. Malam dimana dirinya akan kembali bersatu dengan suaminya.


Alice dan Tara kembali ke lantai atas, kenyataan yang didengarnya dari mulut Risfa membuat lapar di perutnya terasa hilang, kini ia tak mempedulikan lagi semua itu, dipikirannya saat ini, hanya ingin segera memeluk tubuh suaminya dan meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukannya.


Tak butuh waktu lama untuk Alice bersiap diri. Ia dengan cepat sudah kembali ke lantai dasar, semangatnya untuk bertemu dengan suaminya, mampu mengalahkan rasa kantuk yang ia rasakan.


"Apa kau sudah siap Nona?" tanya Albert tersenyum menyapa Alice.


"Terima kasih Albert, karena kau akan membawaku untuk menemui suamiku, ini akan jadi malam yang paling bahagia untukku."


Bersama Tara, dirinya mulai melangkah menuju keluar rumah, dengan perasaan yang sedikit gugup. Setelah sampai di depan rumah, mereka langsung bergegas masuk ke dalam mobil, Risfa menempati kursi depan bersama Albert, sementara Tara dan Alice berada di kursi belakang.


Alice meraih tangan Tara dan menggeser arah duduknya tepat menghadap Tara.

__ADS_1


"Tara, bagaimana penampilanku? Apa aku tampak cantik? Aku tidak ingin, jika terlihat lebih buruk?" tanya Alice dengan menautkan kedua alisnya, wajahnya tampak serius bertanya.


Tara menatap keseluruhan tubuh Alice, ia memicingkan matanya dengan senyum tipis di wajahnya.


"Gendut sih Kak," ucap Tara dengan mengerucut bibirnya.


Air muka Alice berubah masam. Sinar wajahnya yang berseri tiba-tiba langsung meredup, menandakan rasa kecewa atas apa yang didengarnya. Namun tak berapa lama, setelah berhasil menggoda Alice, tiba-tiba Tara terkekeh lucu, suara tawa renyah dari Tara langsung memecahkan keheningan yang terasa kala itu. Alice pun memandang Tara dengan rasa heran.


"Kakak, Kakak, kamu ini ada-ada saja, kamu itu gendut, wajar, karena sedang hamil jalan 7 bulan, tapi wajahmu itu tetap kelihatan cantik, siapapun yang melihatmu, pasti kagum dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna," puji Tara mengklarifikasi ucapan sebelumnya.


Wajah Alice yang sedari tadi terlihat masam, kini mulai menerbitkan sebuah senyuman, setelah pujian dari Tara berhasil mengusir ketidakpercayaan dirinya.


Mobil semakin melaju jauh meninggalkan rumah kediaman keluarga Weil.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


London Eye.


Suasana di London Eye malam itu, sudah di sterilisasi-kan dari para pengunjung lainnya. Raymond masih terlihat berpenampilan dengan menggunakan wajah Philips, beberapa kali dirinya mengintip waktu pada jam yang dikenakan di pergelangan tangannya.


"21.55, sudah hampir tiba waktunya Alice datang."


Seorang petugas menghampirinya.


"Pak, semua persiapan sudah selesai," ucap pria paruh baru yang bekerja di London Eye, melaporkan.


"Baik, begitu saya menjentikkan jari tangan saya, segera laksanakan apa yang kita rencanakan oke."


Petugas tersebut dengan sigap menjawab perintah Raymond, ia kembali menuju ke tempatnya, sebuah tempat dimana pandangannya dapat melihat ke arah Raymond dengan jelas, yang saat ini tepat berdiri dihadapan London Eye.


"Tuan Raymond, mobil Albert sudah masuk ke parkiran London Eye."


Benjamin melaporkan lewat sambungan wireless-nya.


"Baik Tuan siap laksanakan."


Benjamin, Colin, Christopher, Arnold, keempatnya langsung menghampiri mobil yang tepat berhenti di parkiran London Eye. Alice keluar dari mobil dengan jantung yang semakin berdebar tak beraturan, tangannya seperti berkeringat menandakan rasa gugup begitu melanda dirinya.


"Kalian di sini," ucap Alice terkesiap dengan kehadiran keempat pengawalnya.


"Dimana Kakakku?"


"Ada Nona, Tuan Elliot juga di sini, tapi saat ini ada yang sudah menunggu Anda, mari ikuti kami!" Benjamin mempersilahkan Alice melangkah berdampingan dengannya.


Layaknya seorang Princess, langkah Alice dikawal keempat pengawalnya di kiri dan kanannya. Sementara Tara, Risfa dan Albert tepat mengekor di belakang mereka.


Dari kejauhan pandangan mata Alice langsung tertuju kepada sosok seorang pria yang kini sudah berdiri membelakanginya, dengan menghadap ke arah London Eye.


"Sweetu, apa kau tidak tahu jika rasa rindu ini menyiksaku? Penyesalan yang aku rasakan terasa mencekik leherku, aku berjanji setelah ini akan selalu mempercayaimu, walau apapun yang terjadi," gumam Alice yang terus melangkah mendekati sosok pria tersebut.


Kini langkah Alice tepat terhenti di belakang sosok pria itu. Keempat pengawal yang mengantar Alice bergegas pergi menjauh dari keduanya, begitu juga dengan Tara, Risfa dan Albert mereka hanya memandangi Alice dari kejauhan dengan senyum yang merekah di wajah mereka. Mereka ikut merasakan kebahagiaan yang kini Alice rasakan. Sebuah momen yang akan jadi awal perjalanan rumah tangga antara Raymond dan Alice, terlebih dalam hitungan 2 bulan lagi, mereka akan kedatangan tamu spesial yang sudah lama mereka nantikan, yaitu kedua malaikat kecil yang akan melengkapi kebahagiaan mereka.


Semburat rindu semakin tampak terlukis di wajah Alice. Ia meraih pundak pria yang masih saja terus berdiri membelakanginya, dari kejauhan di seberang tempat Alice berdiri, Elliot memandangi keduanya dengan air mata yang sudah membasahi matanya. Ia sangat terharu, bahwa Adik kesayangannya kini akan kembali bersatu dengan suaminya, tidak akan ada lagi perpisahan, tidak ada kesedihan di raut wajah Alice dan penyesalan yang selama setengah bulan ini terus dilihatnya.


"Akhirnya, selamat berbahagia Alice, semoga setelah ini tidak akan ada lagi masalah atau penggoda yang akan merusak rumah tangga kalian," gumam Elliot terus menatap ke arah Alice yang belum disadari oleh Alice, jika kini Kakaknya terus memperhatikannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Alice masih menatap nanar sosok pria dihadapannya. Kemudian Alice meraih pundak pria tersebut dan pria itu pun langsung memutar tubuhnya, untuk menghadap Alice.


Tatapan mata mereka saling beradu. Alice menilik jauh ke dalam mata hazel yang masih terlihat sama tatapannya seperti dulu.


"Apakah aku masih pantas untuk mendampingimu, sweety?" tanya Raymond dengan lirih kepada Alice.

__ADS_1


"Pertanyaan macam apa itu? Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu sweetu, apakah aku yang bodoh ini masih layak untuk menjadi istrimu?" jawab Alice yang sudah tidak sanggup menahan air matanya.


Alice langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukan Raymond, dekapan erat disertai dengan sebuah ciuman yang mendarat mulus pada setiap wajah Raymond, kerinduan akan sosok suaminya yang kini semakin membuncah.


"Aku merindukanmu sweetu, aku sangat merindukanmu."


"Aku juga sweety, jauh darimu sangat membuatku menderita, makan jadi tak ingin, tidur tak nyenyak, bahkan melakukan apapun terasa berat."


Alice menangis terisak, ia mengangguk mengiyakan perkataan Raymond.


"Aku juga seperti itu."


Keduanya larut dalam kesedihan dan kerinduan yang bercampur menjadi satu, suasana haru yang terasa, bahkan sampai membuat seorang Benjamin menitikkan air mata, begitu juga dengan yang lainnya, semua yang menyaksikan momen kala itu tak kuasa menahan kesedihannya.


"Kakak, aku bahagia melihatmu," ucap Tara sambil menyeka air mata dengan tangannya.


"Akhirnya Nona Alice, aku sangat bahagia melihat senyummu sudah kembali seperti dulu," gumam Risfa dengan air mata yang berlinang membasahi kedua pipinya.


Alice melepas pelukannya.


"Aku ingin wajah suamiku, tolong! Aku ingin melihatnya."


Raymond mulai membuka penyamarannya dengan melepas jenggot di wajahnya, walau terlihat lebih kurus dari sebelumnya, namun kini wajah Raymond terpampang jelas dalam kedua bola mata indah milik Alice.


"Aku masih seperti yang dulu sweety."


"Iya aku bisa lihat," ucap Alice dengan mengusap air mata di kedua pipinya, sambil mengangguk mengiyakan perkataan Raymond.


"Aku punya kejutan untukmu, lihat dan saksikan ini," ucap Raymond mulai menjentikkan jemarinya.


Tak lama sebuah pesta kembang api mulai meletup ke atas langit, membuat warna-warni indah tampak menghiasi langit yang tadinya gelap.



Segala sisi London Eye, kini sudah dipenuhi dengan warna-warni kembang api yang memang sudah disiapkan oleh Raymond.


"Apakah kau menyukainya sweety?"


"Indah sekali sweetu, terima kasih banyak."


Alice menyandarkan kepalanya pada dada Raymond, dengan tangan yang melingkar pada pinggang Alice, keduanya sama-sama menikmati keindahan yang saat ini sedang terjadi dihadapan mereka.



"Kakak, beruntung sekali bisa mempunyai suami seperti Tuan Raymond," ucap Tara yang dari kejauhan menatap ke sosok pria yang menarik perhatiannya, ia ingat betul dengan sosok pria itu yang selalu berhasil membuatnya terpukau ketika memandang wajahnya.


"Itukan Tuan Elliot ya, dia begitu handsome ya," batin Tara terus menatap ke arah Elliot dengan berdecak kagum.



"Indah ya Albert, suatu saat berikan aku momen seperti ini ya," pinta Risfa yang juga sudah menyandarkan kepalanya pada dada Albert, dengan kedua tangan Albert yang langsung melingkar pada tubuh Risfa.


"Iya suatu saat pasti aku buatkan, sekarang nikmatilah apa yang ada saat ini, anggap saja ini aku yang buat," ucap Albert terkekeh.


Kebahagiaan terasa begitu hangat malam itu. Momen yang menjadi awal dari suatu hubungan yang hampir terpisah oleh sebuah ego dan rasa ketidakpercayaan.


Alice terus menatap keindahan langit, yang seketika langsung disulap oleh Raymond dengan berbagai macam warna. Wajah bahagia Alice membuat Raymond terus menatapnya dengan penuh kebahagiaan, bagi Raymond keindahan bukanlah terletak dari langit yang kini penuh dengan warna-warni kembang api. Namun keindahan itu terletak pada wajah bahagia Alice, yang mampu membuatnya begitu tenang saat memandangnya.


"Aku pastikan, ke depannya rumah tangga kita akan selalu baik-baik saja, apapun yang terjadi kita akan selalu bersama, tak ada satu pun penggoda atau kesalahpahaman yang dapat memisahkan kita lagi."


🏡️🏡️🏡️

__ADS_1


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya untuk sebuah awal yang bahagia.


__ADS_2