
Selamat membaca! Jangan lupa tekan like dan jangan terlewat ya.
2 Minggu kemudian.
Raymond sudah membaik kondisinya dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Alice terlihat mendorong kursi roda yang dinaiki oleh Raymond.
Sementara Elliot mengekor di belakang Alice ditemani oleh Kelly, tampak Elliot sudah bisa berjalan, walau masih terbata di setiap langkahnya.
Richard menemani langkah Alice, ia tepat berada di samping kursi roda, melangkah sejajar dengan Alice. Perasaan setiap orang kala itu sangat bahagia, terlebih Alice yang begitu lega melihat kondisi suami dan Kakaknya sudah sangat membaik, proses recovery keduanya berjalan lancar. Namun kebahagiaan itu tidak berlaku untuk Raymond, yang saat ini sedang dilanda kecemburuan terhadap Richard.
Setiap perkataan Richard sewaktu di apartemen masih menggema di telinganya, menyisakan sebuah kecemasan dalam hati Raymond.
Sesekali Raymond melirik untuk melihat Richard dan Alice yang sering tertangkap saling beradu senyum.
"Jika memang sweety benar menyukai Richard, mungkin ini adalah balasanku yang telah menyakitinya," batin Raymond menyadari kesalahannya.
Raymond menghela napasnya kasar. Alice dapat merasakan resah yang terdengar di telinganya.
"Kenapa sweetu, apa kamu baik-baik saja?"
Alice membungkukkan tubuhnya dan berbisik di telinga Raymond. Raymond hanya menjawab singkat dengan sebuah gelengan kepala, ia hanya diam dan memendam keresahannya dalam-dalam, sampai dirinya mendapatkan sebuah bukti bahwa segala yang dipikirkannya itu benar adanya.
Setelah sampai di lobi rumah sakit, dua mobil sudah bersiap menyambut kedatangan mereka. Alice dan Raymond menaiki mobil yang dikendarai oleh Albert. Sementara Richard, Elliot dan Kelly di mobil yang berbeda.
Kedua mobil melaju dengan kecepatan sedang, menuju rumah kediaman keluarga Weil, atas permintaan Alice, Richard meliburkan keempat penjaganya untuk satu Minggu. Alice mulai kehilangan kebebasannya karena gerak-geriknya selalu diawasi dan membuatnya tidak leluasa untuk melakukan hal-hal yang disukainya.
Lagipula Alice sangat yakin, bahwa tidak akan ada yang berbuat jahat lagi padanya, karena Greta satu-satunya wanita yang selama ini mengganggu kehidupannya, sudah mati di depan matanya.
πππ
Selama perjalanan Raymond hanya terdiam, bahkan ia terkesan seperti tak seromantis dulu, yang selalu menggenggam tangan Alice penuh cinta, saat di dalam mobil. Hal ini membuat Alice menjadi bertanya-tanya dalam hatinya.
Kenapa sweetu kelihatan berubah ya?
Raymond menatap ke arah jalan, pandangan yang sebenarnya kosong, karena dipikirannya saat ini, terus dihantui rasa curiganya terhadap hubungan Alice dan Richard.
Aku yakin, sepertinya mereka sudah sangat dekat.
Rahang Raymond makin mengeras, sampai giginya ikut menggertak, tanda ia begitu geram dengan apa yang dipikirkannya, bila memang itu sebuah kenyataan.
__ADS_1
Alice mencoba menyapa Raymond terlebih dahulu, untuk mencairkan suasana yang terasa sangat canggung. Namun semua itu ia urungkan dalam-dalam, Alice malah ikut memandang ke arah jalan dari kaca mobilnya.
"Perasaan ini tak seperti dulu, terlebih saat ini aku sudah tahu, kalau Greta sempat mengandung anak dari suamiku," batin Alice mengingat kenyataan yang telah Greta katakan.
Alice menghela napas dengan pelan, ia tak mau Raymond mengetahui keluh kesahnya.
"Saat ini belum waktu yang tepat untuk aku menanyakan kepada sweetu," gumam Alice yang sesekali menatap ke arah Raymond, yang tak sekalipun menatap ke arahnya.
Ketika Alice kembali mengalihkan pandangannya, Raymond menoleh ke arahnya, menatap Alice sejenak dengan tatapan rindu.
"Aku diam saja, sweety seakan mengacuhkanku, dia tak menegur atau bahkan berusaha untuk bertanya, mungkin benar dugaanku," gumam Raymond yang kembali melihat ke arah jalan dari kaca mobilnya, wajahnya kini mulai terlihat sendu dengan mata yang memerah.
Perasaan Alice begitu tak nyaman dengan situasi yang saat ini terjadi di dalam mobil. Pada akhirnya ia membuang semua egonya untuk mulai bertanya pada Raymond.
"Sweetu kamu kenapa?" tanya Alice dengan menatap wajah Raymond.
Raymond menoleh dengan tajam menatap wajah Alice.
Alice terhenyak dengan tatapan Raymond yang tak biasa.
"Sebaiknya panggil aku nama saja tidak usah sweetu lagi, terdengar kurang nyaman Alice," ketus Raymond dengan menautkan kedua alisnya.
Ada apa dengan sweetu saat ini?
Alice memilih untuk diam tanpa melanjutkan pertanyaannya, ia mengangguk untuk mengiyakan keinginan Raymond, walau dengan perasaan tak nyaman penuh tanda tanya.
"Pasti saat ini ada hal yang sweetu pikirkan, sebaiknya aku diam dulu, nanti di rumah baru aku coba tanyakan baik-baik masalahnya." batin Alice berencana dengan raut yang cemas.
Raymond tak bicara banyak, hanya beberapa kalimat dan kembali membisu tanpa suara, bahkan ia tak lagi menatap wajah Alice seolah kecanduannya hilang tak tersisa.
Dari kursi kemudinya, Albert menaruh kecurigaan tentang perubahan sikap Raymond. Albert seolah mampu membaca kecemburuan, yang kini dirasakan oleh Raymond, kecemburuan akan hubungan yang terlampau dekat antara Alice dan Richard.
"Tapi apa pikiranku benar? Tuan Raymond cemburu dengan Tuan Richard," gumam Albert dengan mengernyitkan dahinya, mencoba berpikir dengan keras untuk mencari kebenarannya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang. Mobil yang dikendarai oleh Albert mulai melewati gerbang rumah yang telah dibukakan oleh Chris. Albert langsung menghentikan mobilnya di depan pelataran rumah. Raymond pun bergegas turun dari mobil tanpa menunggu Albert dan Alice untuk membantunya. Walau dengan sedikit mengaduh Raymond tetap melanjutkan langkahnya, ia semakin mempercepat langkah kakinya masuk sendirian ke dalam rumah, meninggalkan Alice yang semakin termangu dibalut rasa penasarannya.
Alice menyusul langkah Raymond, namun sebelum ia masuk, panggilan dari Albert membuat langkahnya terhenti di depan pintu, Alice menoleh melihat ke arah Albert.
"Nona Alice maaaf aku lihat sepertinya Tuan Raymond seperti berubah ya?" tanya Albert dengan hati-hati.
__ADS_1
Raut wajah Alice yang terlihat cemas tak dapat ditutupi dari Albert, ia akhirnya berkata jujur dan menceritakan apa yang telah terjadi dengan gejolak perasaannya dan segala pikirannya tentang Greta.
"Nona, anggap saja masalah Greta itu adalah masa lalu yang harus kita terima, kata Ibuku, jika seseorang itu ingin berjalan lebih baik menuju masa depan, jangan biarkan kenangan masa lalu terus mengusik," tutur Albert memberitahu.
Alice tersenyum mendengar perkataan Albert, beban yang memikul pundaknya terasa jauh lebih ringan saat ini.
"Tuan Raymond saat ini cemburu dengan Tuan Richard, sebaiknya Nona jaga jarak dengan Tuan Richard," imbuh Albert memelankan suaranya agar tidak ada yang mendengarnya.
Perkataan Albert sontak membuat Alice terdiam tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Jadi selama ini sweetu cemburu dengan kedekatanku dan Tuan Richard.
Tak lama kemudian mobil yang dikendarai oleh Richard berhenti tepat di belakang mobil yang Albert kendarai. Elliot melihat sekilas Alice dan Albert seperti sedang berbincang sesuatu, membuat rasa penasarannya mulai merangkak naik.
"Aku harus tanyakan pada Albert, apa yang Alice bicarakan," gumam Elliot terus menatap ke arah Alice dan Albert yang masih terlihat berbincang dan akhirnya Alice pergi masuk ke dalam rumah.
Alice melanjutkan langkahnya untuk menyusul Raymond ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Di dalam rumah Alice mengedarkan pandangannya melihat sekitar untuk mencari keberadaan Raymond yang ternyata tak ia temui di ruang tamu, Alice terus masuk ke dalam dan belum juga menemukan Raymond di ruang tengah.
Mungkin sweetu langsung ke kamar.
Alice langsung menaiki anak tangga dan menuju kamar. Langkahnya tampak mulai ragu, ia begitu bimbang menjelaskan perasaannya pada Richard yang memang tak bisa dipungkiri ia merasa nyaman jika berada di dekat Richard. Alice beberapa kali menggelengkan kepala untuk mengusir perasaannya yang sering datang menyapanya, perasaan tentang Richard yang selalu datang tiba-tiba.
"Aku adalah istri Raymond Weil, walau apapun yang sweetu lakukan dulu bersama Greta, aku tetap istrinya dan aku tidak akan mengkhianatinya," gumam Alice meyakinkan dirinya.
πππ
Bandara Heathrow London.
Sepasang kaki terlihat berjalan bak sebuah pertunjukan fashion show. Kedua kaki jenjang yang semampai dan terlihat ramping.
Wanita itu menaiki taksi yang memang tersedia di lobi. Taksi pun berlalu meninggalkan Bandara.
πΈπΈπΈ
Bersambung βοΈ
Berikan dukungan kalian terus ya.
Ramaikan kolom komentar karena itu adalah semangatku..
__ADS_1
Jika berkenan jangan lupa vote ya.