Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Honeymoon part 3


__ADS_3

Selamat membaca!


Raymond dan Alice kini berbaur dengan turis setempat menikmati pemandangan alam sekitar.



Setelah melihat pawai dari para koki, keduanya juga puas dengan berbagai makanan yang tersedia di karnaval para koki tersebut.


"Aku baru pertama kali merasakan makanan selezat itu, sweetu."


Raymond merespon kalimat Alice dengan heran.


"Bukannya setiap hari makanan di restoran kamu semuanya lezat dan sering kamu makan."


Alice mendelik dengan perkataan Raymond. Ia terkekeh lucu.


"Hanya saja ini lebih lezat, sweetu," kilah Alice tersenyum lebar.


"Dasar kamu ini, apapun reaksi wajah kamu, bagi aku kamu tetap terlihat cantik." ucap Raymond sambil menyentuh gemas kedua pipi Alice, membuat Alice mengeluh sakit.


Keduanya melanjutkan perjalanan mereka menuju Barcelona dengan menaiki moda transportasi umum.



Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam lamanya, akhirnya mereka tiba di kota Barcelona.



Barcelona adalah sebuah kota terbesar kedua di Spanyol dan merupakan ibu kota wilayah otonom Katalonia.


"Wow, indahnya pemandangan dari sini, inilah Barcelona tempat Elvia tinggal, pantas saja dia tidak mau pindah ke London lagi."


Alice terkesima dengan pemandangan yang ada dihadapannya.


Raymond menautkan kedua alisnya, ia terlihat biasa saja karena memang dirinya sering ke Barcelona untuk urusan bisnis.


"Perjalananku ke Barcelona kali ini berbeda dengan perjalananku yang lainnya, aku sering ke sini, hanya saja yang sekarang sangat istimewa untukku," tutur Raymond menatap Alice dengan dalam.


Dia selalu terlihat sweet.


Tatapan keduanya semakin dalam hingga Raymond memajukan wajahnya dan mencium bibir Alice dengan ******* yang begitu lembut.


Kali ini Alice tidak menolak, ia membalas ciuman Raymond dengan gerakan kaku, Alice coba untuk memberanikan dirinya, namun baru 15 detik ciuman itu berlangsung, tiba-tiba Alice mendorong tubuh Raymond dengan kencang, hingga Raymond mundur beberapa langkah.


Wajah Alice pucat dan matanya kembali berkaca-kaca, saat bayangan Raymond bercinta dengan Greta melintas dipikirannya.


Raymond sempat terkejut dengan perlakuan Alice, yang semula mau membalas ciumannya, tapi tiba-tiba langsung mendorongnya dengan kasar.


Alice sangat merasa bersalah, ia maju tiga langkah dan menghamburkan kesedihannya di dada kekar Raymond yang dibalut tuxedo lembut berwarna hitam.


"Maaf sweetu." ucap Alice gemetar.


Raymond memejamkan mata untuk mengusir rasa kecewanya.


"Tidak apa-apa sweety, aku mengerti ketakutanmu," ucap Raymond sembari mengelus kepala Alice untuk menenangkan lalu ia mengecup pucuk kepala Alice dengan lembut dan cukup lama.


Setelah Alice merasa tenang, barulah Raymond kembali mengajaknya melanjutkan perjalanan.


Satu jam berlalu, akhirnya mereka telah tiba di area stadion Camp Nou Barcelona, yang sudah dipadati oleh para fans yang ingin menyaksikan konferensi pers dari beberapa pemain utamanya, termasuk mega bintangnya, Lionel Messi yang merupakan sosok yang di idolakan oleh Alice.



Memasuki stadion, wajah polos Alice kembali dibuat terkesima dengan arsitektur yang sangat memukau dari setiap detail Stadion Camp Nou.


"Kota ini seperti mendewakan sepakbola ya sweetu," ucap Alice terpukau.

__ADS_1


Raymond tersenyum mendengar perkataannya. Hatinya membuncah bahagia melihat semburat keceriaan di wajah Alice saat ini.


Alice melebarkan pandangannya ke setiap sudut area stadion, ia semakin terpukau dengan stadion kebanggaan Barcelona ini. Saat pandangannya semakin larut dengan decak kagum, bola matanya menangkap sebuah objek dari sosok yang di idolakan.


"Itu Lionel Messi kan pemain terbaik dunia tujuh kali," teriak Alice dengan polos, yang membulatkan mata melihat sosok idolanya dari dekat.



Teriakan Alice sampai membuat sang idolanya menoleh kepadanya. Ia jadi salah tingkah dibuatnya, belum lagi beberapa orang yang berada di sana juga, kini sedang memperhatikannya. Alice langsung menggigit bibir bawahnya untuk menghentikan desis suaranya yang tak kunjung dapat ditahannya, apabila bertemu dengan sosok idolanya.


Alice mundur beberapa langkah, sambil melambaikan tangan kanannya ke arah Messi, bercampur dengan raut wajah tak enaknya, Alice langsung melangkah cepat meninggalkan lorong tempat konferensi pers berlangsung.


Alice kini sudah tiba di sisi lain lorong stadion. Sejenak langsung terlintas keberadaan Raymond, yang tak terlihat berada di sampingnya.


"Sweetu, kamu kemana?" ucap Alice berbisik di tengah keramaian.


Alice dibuat bingung memikirkan keberadaan Raymond. Ia memecah belah keramaian dan berjalan cepat mencari keberadaan suaminya.


"Aduh, dia kemana sih? Apa dia marah karena aku terlalu genit saat melihat Messi?"


Alice mengacak rambutnya frustasi, beberapa kali kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, matanya terus meneliti setiap orang yang berada di sekitarnya.



Dari kejauhan, tiba-tiba mata Alice menatap sepasang suami istri, yang sudah duduk di tribun penonton. Alice pun berjalan cepat hendak menghampiri Elvia untuk menyapa.


Bruk


Alice menabrak tubuh seseorang yang berbadan kekar, hingga ia mundur beberapa langkah. Ia mendongak dan melihat seseorang itu adalah Raymond.


"Kamu.. Ih kamu kemana saja sih? Aku tuh cariin kamu, tahu gak!"


"Abis tadi kamu cuekin aku karena melihat Messi sampai melupakan keberadaanku."


"Maaf ya sweetu, jangan marah ya."


Raymond mengerutkan keningnya, menatap tajam ke wajah Alice, membuat dahi Alice berkeringat.


Apa sweetu kembali seperti dulu?


Hukuman apa ya?


Alice menelan salivanya kasar.


"Apa hukumannya kenapa kamu diam? Hanya melihatku seperti itu?"


Raymond menaik turunkan kedua alisnya. Pandangan tajamnya kini berubah datar.


"Kamu harus cepat memberikanku keturunan, biar saat kamu melihat Messi lagi dan menghiraukanku, aku tidak merasa kesepian ada anak kita yang menemaniku," ucap Raymond tersenyum yang membuat wajah Alice kini merona.


Alice memukul pelan dada kekar Raymond.


"Kamu ini aku pikir apa," ujar Alice wajahnya sudah terlihat pasrah.


Raymond mengusap dahi Alice yang berkeringat dengan tangan kanannya.


"Aku tahu ketakutanmu, aku tidak akan kembali seperti dulu sweety, kamu harus percaya dan yakini itu, oke." tutur Raymond dengan menyunggingkan senyumnya, merangkul pundak Alice dan mereka kembali melanjutkan langkahnya.


Alice masih menatap wajah Raymond dengan sedikit mendongakkan wajahnya.


Aku bahagia jika kamu seromantis ini.


Terima kasih Tuhan atas anugerah yang luar biasa ini.


Alice membuncah bahagia. Senyuman di wajahnya begitu merekah terlihat sangat manis.

__ADS_1


Keduanya akhirnya mendekati arah tribun penonton untuk menghampiri Bryan dan Elvia.


Setibanya mereka di tribun penonton, kedua duduk di samping Bryan dan Elvia, yang bertukar posisi, Bryan di samping Raymond dan Elvia bersebelahan dengan Alice, namun itu tak membuat Alice berjauhan dengan Raymond, mereka selalu berdampingan.


"Selamat datang di Barcelona, Raymond."


Bryan menyapa dengan kebanggaan akan tempat tinggalnya.


"Terima kasih Bryan, atas hadiah yang Anda berikan, saya sangat menikmatinya,"


Pertandingan antara Barcelona dan Real Madrid pun sudah terlihat akan berlangsung. Kedua laki-laki itu pun segera memfokuskan dirinya menatap ke arah lapangan, melihat dengan seksama gala seru yang akan terjadi sore ini.


Sorak sorai gemuruh penonton begitu antusias terdengar, membuat decak kagum yang luar biasa di telinga Alice, ikut merasakan atmosfer yang luar biasa di saat kedua tim besar bertanding. Mata Alice langsung fokus menatap idolanya yang sedang bertanding, setelah perbincangan ringan dengan Elvia sudah selesai dilakukannya.



Alice bangkit berdiri, ia terlihat emosi melihat idolanya Lionel Messi dijatuhkan oleh seorang pemain Real Madrid dengan sangat kasar, itu membuat tensi pertandingan begitu meninggi, terlihat Messi dan salah satu pemain Real Madrid, beradu kepala sampai akhirnya beberapa rekan pemain dan wasit memisahkan mereka, kartu merah akhirnya dilayangkan wasit kepada pemain Real Madrid, pertandingan akhirnya kembali dilanjutkan, walau harus dibumbui dengan penolakan keras dari sang pemain yang harus pergi meninggalkan lapangan, sebelum waktu usai.


Alice terlihat masih emosi, ia berteriak merutuki pemain Real Madrid yang sudah keluar dari lapangan.


Raymond terlihat menganga melihat sisi lain dari istrinya.


Ternyata dia terlihat sangar kalau amarahnya memuncak seperti itu.


Tapi apapun reaksinya, bagiku wajahnya selalu terlihat cantik.


Elvia menarik tangan Alice untuk duduk kembali, membuat Alice jadi tersadar, menatap ke arah Raymond dengan wajahnya yang merona.


Alice duduk kembali menenangkan dirinya, bercampur rasa malu karena ia melupakan keberadaan suaminya, yang saat ini begitu terhenyak melihatnya.


Raymond mendekatkan mulutnya ke arah telinga Alice untuk berbisik.


"sweety, wajahmu tetap cantik walau saat sangar seperti itu."


Alice tersenyum tipis dengan wajah tak enaknya.


"Maaf ya sweetu, aku kelepasan," ucap Alice membalas bisikan Raymond.


"Tidak apa-apa sweety, aku lebih menyukaimu jika menjadi diri sendiri."


Perkataan Raymond begitu membuat hati Alice kembali dan kembali lagi membuncah bahagia, sudah tidak terhitung, entah berapa banyak sejak mereka honeymoon di Spanyol.


Waktu semakin berlalu, pertandingan pun telah usai dengan kemenangan Barcelona. Akhir mereka berempat beranjak pergi meninggalkan stadion Camp Nou untuk melanjutkan perjalanannya, kali ini Alice dan Raymond ditemani oleh Bryan dan Elvia.


"Raymond, kali ini kita akan menuju sebuah bar yang terkenal di Barcelona," tutur Bryan dengan bangga.


Raymond melirik menangkap perkataan Bryan. Selama ini ia sudah sering keluar masuk bar di London, sudah tidak terhitung berapa banyak, jadi ia sangsi jika ada bar yang dapat membuatnya terpukau ketika melihatnya.


Alice dan Elvia tampak berjalan mengekor di belakang Bryan dan Raymond.


"Alice, malam ini kamu harus memberanikan dirimu," tutur Elvia coba meyakinkan Alice.


"Semoga aku bisa ya El," jawab Alice dengan mata yang sekejap langsung berkaca-kaca.


Elvia menggenggam tangan Alice.


"Kamu harus percaya pada Raymond, dengan begitu semua akan mudah untukmu membuang semua kenangan buruk yang pernah kamu lihat."


"Terima kasih ya El," ucap Alice tersenyum.


"Aku kini sudah mencintaimu sweetu, aku akan berusaha menjadi istri yang terbaik untukmu," gumam Alice tersenyum menatap punggung Raymond.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️

__ADS_1


Ikuti terus kisah selanjutnya ya. Next episode akan ada kejutan besar, ditunggu ya.


Sehat selalu ya.


__ADS_2