
Selamat membaca!
Richard terlihat cemas dengan raut wajah tampak kurang menyenangkan. Ia mengkhawatirkan kondisi Alice saat ini.
"Sudah sejam tapi kita belum juga sampai, apa masih jauh Benjamin?" tanya Richard pada Benjamin melalui sambungan wireless yang dikenakannya.
Benjamin masih terus mengamati sebuah peta yang secara virtual didapatnya dari Google. Ia terus memantau arah pergerakan helikopter, agar sesuai dengan alur tujuan, sebuah pulau yang menjadi dugaannya, jika Alice berada di sana. Pulau yang sulit untuk dituju, karena pulau tersebut tidak tertera pada radar helikopter.
"Menurut peta yang saya lihat ini, sebentar lagi kita akan sampai Tuan," jawab Benjamin kepada Richard melalu sambungan wireless.
Elliot yang ikut mendengar laporan Benjamin masih terus mengamati keadaan sekitar, matanya memantau jauh ke arah depan yang mulai terlihat sebuah pulau terletak di sana.
"Tuan Richard, aku melihat sebuah pulau di sana, betulkah pulau itu Benjamin?" tanya Elliot tersenyum lega.
"Betul Tuan, selamat datang di pulau x, pulau legendaris yang sudah tidak terdapat di dalam peta," jawab Benjamin menatap tajam ke arah pulau tersebut.
Richard tersenyum lebar. Ketiga anak buah lainnya bersorak-sorai menyambut keberhasilan mereka, menemukan pulau yang memang susah untuk ditemukan.
"Kau hebat Benjamin," puji Arnold sambil memukul kencang pundak Benjamin yang terlihat kekar.
"Kau ingin memujiku atau ingin menjatuhkanku keluar helikopter," canda Benjamin yang melihat ketinggian helikopter saat ini begitu tinggi.
Benjamin sudah duduk di tepi helikopter, ia terus memandang ke arah pulau, untuk mencari landasan tempat helikopter mendarat.
Helikopter Benjamin dan Arnold mulai merendah untuk melihat kondisi pulau dengan seksama, meneliti setiap detail pulau dari pandangan udara.
Seketika Arnold menemukan sebuah bangunan seperti paviliun yang berada di tengah hutan.
"Benjamin lihat itu! Ada sebuah paviliun," tunjuk Arnold memberitahu Benjamin.
"Aku akui Arnold matamu sangat tajam jika meneliti sesuatu, itu kelebihanmu," puji Benjamin sambil terus melihat ke arah paviliun yang ditunjuk oleh Arnold.
Helikopter Richard dan Elliot terbang di tempat, keduanya masih menunggu kabar dari keempat anak buahnya, yang terlebih dulu menyisir sisi pulau x.
"Tuan di sisi barat aku tidak menemukan landasan untuk helikopter di pulau ini," ujar Colin memberikan laporannya.
"Iya Tuan, sepertinya helikopter ini tidak bisa kita daratkan," timpal Christoper menambahkan laporan Colin.
Richard terhenyak, Elliot semakin cemas.
"Sial, mana mungkin sebuah pulau tidak ada tempat untuk mendaratkan helikopter," geram Richard kesal.
"Sebaiknya kita turun saja Tuan dengan menggunakan tangga panjang ini," ucap Elliot mengusulkan.
"Tapi tidak semua helikopter terdapat tangga panjang, kami tidak mempersiapkannya Tuan Richard," tutur Benjamin mengesah pelan.
"Sial, berarti yang bisa turun hanya aku dan Elliot," gumam Richard mengerutkan keningnya.
Tanpa aba-aba helikopter Elliot sudah berada tepat di atas pesisir pantai pulau dan sudah menjulurkan tangganya, helikopter mulai terbang merendah, untuk memudahkan Elliot agar bisa turun. Elliot mencengkram dinding helikopter dan mulai menuruni anak tangga dengan perlahan, satu demi satu anak tangga sudah berhasil ia turuni, dengan angin yang begitu kencang menjadi sangat berbahaya sebenarnya untuk Elliot, namun akhirnya Elliot sudah berhasil tiba di anak tangga terakhir lalu ia mulai melompat, tubuhnya langsung terhempas pada pasir pantai. Elliot berhasil turun.
Setelah Elliot turun, Richard ikut menyusulnya. Elliot menghampiri Richard yang baru saja melompat, kemudian membantunya untuk bangkit berdiri. Richard kini memerintahkan kepada keempat anak buahnya untuk mencari tempat landasan di pulau x, pulau yang terlihat luas jika dilihat dari pandangan udara yang mereka tatap dari atas helikopter.
"Baik Tuan," ucap Benjamin sigap menjawab perintah Richard.
"Hati-hati Tuan, perasaanku kurang menyenangkan berada di pulau asing ini," ucap Christoper menimpali.
Richard terkekeh geli.
__ADS_1
"Jangan meremehkanku Christoper, memang kalian pikir tanpa kalian aku lemah, aku bahkan bisa membunuh 100 orang sekaligus jika aku ingin," tutur Richard angkuh.
Tidak banyak yang tahu memang, bahwa sebelum menjadi seorang CEO di Marx Corporate, Richard pernah menjadi seorang agen FBI di Australia, lebih dari beberapa tahun Richard mengikuti latihan di FBI, sampai akhirnya sakit stroke yang diderita Ayahnya memaksa Richard untuk menghentikan karirnya menjadi seorang agen dan meneruskan posisi CEO pada Marx Corporate yang Ayahnya tinggalkan.
Keinginan Richard menjadi seorang agen FBI karena dia ingin menemukan keberadaan orangtua kandung dan keluarganya, dengan menjadi seorang agen FBI akan sangat memudahkan tujuannya agar tercapai. Namun belum juga ia mencapai tujuannya itu, keadaan memaksanya harus menanggalkan status FBI-nya dan beralih menjadi seorang CEO.
"Oke Tuan, jika ada apa-apa segera hubungi kami," ucap Arnold menambahkan.
Keempat helikopter akhirnya meninggalkan Elliot dan Richard, yang terlihat mulai melangkah masuk ke dalam pulau.
"Kita harus hati-hati Tuan Richard."
Elliot berada di depan Richard dengan memegang sebuah pistol di tangannya. Ia mulai meneliti jalan setapak yang dilewati, pepohonan dan semak belukar menjadi pemandangan yang tak terhindarkan untuk mereka temui di pulau x.
๐๐๐
Pintu kamar mulai berbunyi semakin kencang, membuat Alice yang sedang tertidur menjadi tersadar dari lelapnya.
Alice mengerjapkan mata beberapa kali, lalu ia mulai membuka mata dengan perlahan. Alice kemudian bangkit dan duduk di tepi ranjang, untuk menjawab panggilan dari pria berbulu lebat pada wajahnya itu.
"Ada apa ya, pria itu mengetuk pintu kamar itu, apa aku harus membukanya, tapi jika dia mempunyai niat jahat bagaimana?" gumam Alice dengan raut gelisah.
"Iya Tuan, ada apa?" tanya Alice dengan mengencangkan suaranya agar terdengar oleh pria itu, namun dengan posisi yang masih tidak beranjak dari ranjang.
"Kita kedatangan tamu, ada empat helikopter yang aku hitung datang ke pulau ini, apakah itu teman-temanmu atau malah musuhmu yang kembali datang untuk menghabisimu?"
Apa itu Kakakku? Elliot datang menjemputku, apa Tara sudah memberitahu padanya?
Beragam pertanyaan timbul di dalam benak Alice. Ia pun langsung beranjak mendekati pintu untuk membuka kunci pintu kamarnya.
Pintu kini sudah terbuka lebar, Alice berhambur keluar kamar untuk melihat apa yang dikatakan oleh pria itu, yang sampai saat ini belum juga memberitahukan namanya.
"Kau yakin itu teman-temanmu, atau bisa jadi itu musuhmu yang ingin memastikan kematianmu."
Langkah Alice terhenti mematung di depan pintu. Ia mengurungkan niatnya untuk membukanya, walau saat ini tangannya sudah menggenggam handle pintu.
Benar juga ya, jangan-jangan Greta dan anak buahnya kembali lagi.
Suara helikopter masih terus menderu terdengar dari atas pulau. Alice coba menilik lebih jauh dengan mengintip keadaan sekitar dari celah jendela yang terbuka. Tiba-tiba suara derap langkah terdengar semakin kencang.
"Ada yang datang Tuan," ucap Alice langsung berpindah untuk bersembunyi di balik pintu.
Pria itu langsung mengambil senapannya, ia bersiap dengan membidik ke arah pintu. Sementara Alice mengambil sebuah balok dan berdiri dibalik pintu paviliun, bersiap untuk memukul ketika orang yang tidak dikenalnya muncul dari balik pintu.
Suara pintu mulai terdengar terketuk pelan, sengaja Richard dan Elliot tidak bersuara, mereka tidak ingin mengganggu penghuni di dalam paviliun jika memang ada. Namun malah itu membahayakan keduanya, yang bisa tertembak oleh senapan pria berbulu lebat di wajahnya itu.
Alice mulai mengayunkan baloknya, bersiap untuk memukul karena pintu mulai terbuka perlahan.
"Tuan Richard, sebaiknya kita jangan masuk lewat pintu depan," bisik Elliot memberitahu.
Richard mengurungkan niatnya untuk membuka pintu paviliun. Ketika Richard dan Elliot yang mematung di depan pintu mulai bergerak tiba-tiba, selongsong peluru melintas tipis di samping telinga Richard, sampai menembus pintu rumah hingga berlabuh di samping dinding tempat pria berbulu lebat itu berdiri.
Elliot dan Richard langsung mencari tempat untuk bersembunyi, mereka melompat melewati pagar rumah dan menghindari beberapa tembakan yang mengarah pada keduanya, dengan menjatuhkan diri ke dasar tanah, mereka kemudian berlindung di balik dinding samping rumah.
"Sial, siapa itu yang menembak?"
Wajah Elliot dan Richard mulai serius. Rahang keduanya mengeras dengan tatapan menajam meneliti ke arah tembakan yang datang.
__ADS_1
Sementara di dalam rumah pria berbulu lebat pada wajahnya itu, langsung memerintahkan Alice yang saat ini sedang ketakutan, karena selongsong peluru hampir saja mengenai dirinya, untuk berlindung di kamar atas.
Alice memelankan suaranya ia mulai berlari menahan pijakannya menuju ke lantai 2, untuk kembali ke kamarnya.
Kenapa Greta belum puas? Kenapa dia kembali dan ingin membunuhku?
Di luar paviliun, 8 orang anak buah Greta mulai mendekati rumah, baku tembak terus terjadi menggema memenuhi seisi hutan.
"Jumlah mereka terlalu banyak Tuan Richard."
Richard menajamkan pandanganya melihat dan terus mengamati pergerakan musuh-musuhnya.
"Pepohonan sebelah kiri ada satu orang, dua langkah dari situ di semak-semak juga ada satu orang, di pohon dua langkah sebelah kanannya ada dua orang dan keempat orang lainnya sedang mengitari paviliun ini untuk menyergap kita dari belakang, saat mereka ingin mengepung kita," tutur Richard memberitahu Elliot hasil pengamatannya.
Tuan Richard sepertinya mengerti sekali cara bertarung seperti ini.
"Sudah jangan menembak lagi, hematlah pelurumu Elliot."
Elliot mengikuti perintah Richard, ia akhirnya menghentikan perlawanannya. Kedelapan anak buah Greta mulai mendekati tempat mereka berada, ketika kedelapan orang itu datang untuk menyergap Richard dan Elliot di tempatnya, kedelapan orang itu langsung terperangah, karena saat ini mereka tidak menemukan keberadaan keduanya.
"Kemana mereka?"
"Kenapa mereka hilang?"
"Tidak mungkin mereka bersembunyi di bawah tanah?"
Beragam pertanyaan mulai gaduh terdengar dari kedelapan orang itu. Kehati-hatian mulai menyelinap hilang dari pandangan mereka, hingga menjadi celah untuk Richard menghabisi mereka sekaligus.
"Aku serahkan 3 orang di sisi kiri padamu Elliot! Kau tembaklah saat waktu yang tepat untuk menembak, ingat pelurumu hanya sisa 3, jangan meleset!"
Richard melompat dari atap paviliun keluar dari persembunyiannya, dengan melepaskan 5 buah tembakannya ke arah ke 5 orang anak buah Greta yang berada di sisi kanannya, tersisa 3 orang yang sudah bersiap untuk menembak Richard, namun Elliot berhasil merobohkan dua orang dari tiga yang tersisa dan peluru ketiga Elliot meleset.
"Awas Tuan Richard," Elliot panik.
Satu orang yang masih tersisa coba menembak Richard, namun dengan lihai Richard berhasil menghindarinya. Ia kemudian mendekatinya dengan berguling dan mengambil sebilah belati dari balik kaos kakinya, dengan cepat Richard menusuk beberapa kali tubuh pria malang itu yang langsung tersungkur tak berdaya dengan bersimbah darah.
Melihat semua anak buah Greta tumbang, Elliot menaikan kedua alisnya dan bertepuk tangan sambil melompat menuruni atap.
"Aku tak menyangka Tuan Richard mahir dalam bertarung."
Elliot menepuk-nepuk pundak Richard sebagai tanda kekagumannya.
Tak lama terdengar suara dua tembakan langsung menghujam dan mengenai dada dan perut Richard, semua berlangsung begitu cepat di saat mereka lengah. Seketika Richard langsung roboh, tak sadarkan diri. Elliot yang melihatnya begitu terperangah dengan apa yang terjadi, baru saja wajahnya tersenyum kini sudah kembali muram, karena menjadi saksi tertembaknya Richard.
Suara tawa terdengar keras dari kejauhan, Greta dan Zack terlihat terus melangkah menghampiri Elliot dengan memegang pistol.
"Sial, peluruku sudah habis, kalau saja masih ada, wanita jal*ng itu pasti sudah ku tembak di kepalanya sampai isi kepalanya berceceran."
Elliot berkeringat hebat di dahinya, dengan tatapan yang masih nanar ke arah Richard yang kini sudah tak berdaya di dasar tanah.
"Habislah riwayatku, sial! Aku tidak bisa melindungi Tuan Richard, kematian Tuan Richard adalah kegagalanku, maafkan aku Tuan Raymond."
Greta dan Zack semakin dekat menghampiri Elliot.
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
__ADS_1
Berikan dukungan kalian dengan like dan komentar kalian ya. Jangan bosan ya.
Bagaimana episode ini apakah seru?