Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Kebebasan Nicholas


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah perjalanan sempat terganggu. Akhirnya mobil yang dikendarai oleh Albert sudah menyusul mobil Richard sampai di depan kantor polisi. Tanpa membuang waktu Raymond dan Alice turun dari mobil untuk masuk ke dalam lobi.


"Kemana saja kau Ray, kenapa lama sekali?" tanya Richard yang sudah tak sabar menunggu Raymond.


Greta pun khawatir atas apa yang menimpa Alice sewaktu di perjalanan.


"Kau tidak terluka Alice? Apa tabrakan tadi keras? Aku takut kandunganmu sampai kenapa-kenapa?" tanya Greta sambil memeriksa kandungan Alice dengan meraba perut besar Alice menggunakan kedua tangannya.


"Tidak apa-apa Greta, aku baik, hanya saya aku sedikit kaget tadi, kamu tidak usah khawatir, ingat saat di pulau, beberapa kali kamu ingin menggugurkannya tapi aku kuat kan."


Mendengar ucapakan Alice wajah Greta terlihat sendu, ia langsung melepas sentuhan tangannya pada perut Alice dan menjadi canggung. Alice yang melihat perubahan Greta merasa bersalah telah mengungkit masa lalu di antara mereka.


Alice meraih tangan Greta dan memeluk tubuhnya erat.


"Maafkan aku telah mengungkit semuanya lagi, tapi perlahan aku pasti bisa menghilangkan trauma akan hal yang dulu kamu lakukan padaku. Sekarang kita adalah keluarga," tutur Alice sambil mengusap punggung Greta.


Greta menyeka air mata pada wajahnya. Walau ia sedih, namun perkataan Alice sudah cukup membuatnya sedikit tenang.


"Iya Alice, aku mengerti. Memang dulu aku begitu jahat padamu, karena cinta telah membutakan mata dan hatiku."


Saat keduanya semakin larut dengan kesedihan, suara deheman terdengar keras, membuat keduanya terhenyak.


"Halo ladies, bisakah kalian mengingat ini sudah tidak di rumah, tolong jaga sikap kalian," sindir Richard dengan mengerutkan keningnya.


Bukan hanya Richard, Raymond pun menatap keduanya dengan wajah heran.


"Sweety, kamu kebanyakan nonton drakor kayanya, makanya akhir-akhir ini sering melow ya."


Alice mendekat ke arah Raymond dan langsung memberi sebuah cubitan ke arah perutnya. Cubitan yang membuat Raymond meringis kesakitan.


"Au sakit sweety, stop jangan lagi, aku menyerah! Cubitan darimu lebih sakit daripada tendangan Thomas tahu," ucap Raymond sambil melepaskan tangan Alice dari perutnya.


Richard yang melihatnya berusaha menahan gelak tawanya rapat-rapat. Namun tiba-tiba terlintas dalam pikiran Richard akan nasib Thomas setelah peristiwa penyerangan itu.


"Aku tidak pernah bertanya padamu, bagaimana nasib Thomas? Apa yang Alex perbuat padanya?"


Raymond mulai menceritakan semua yang terjadi kepada Richard, mereka berempat akhirnya duduk di sebuah kursi panjang, sambil menunggu pengacara mereka, mengurus berkas administrasi pengeluaran Nicholas dari tahanan.


Thomas menoleh menatap wajah seseorang yang saat ini sedang menodongkan pistol pada pelipisnya. Wajahnya tiba-tiba terkesiap saat mengenali seseorang yang saat ini dilihatnya adalah pengusaha terkenal yang kehidupannya sering masuk media-media masa di negaranya.


"Alexander Kemal Malik."


Alex mengangkat sedikit wajahnya sambil menggertakkan giginya begitu geram dengan sorot mata tajam menatap wajah Thomas. Tatapan mata yang meluluh lantahkan nyali Thomas.


"Kau adalah Thomas, Adik dari Zack yang baru-baru ini meninggal dunia," ketus Alex yang mengenali Thomas.


Dunia bisnis memang membuat hubungan antara satu pengusaha dengan pengusaha lainnya saling terkoneksi dan mengenal satu sama lain, terlebih mereka berada di satu negara yang sama.

__ADS_1


Thomas hanya terdiam tak mampu menjawab pertanyaan Alex. Lidahnya menjadi kelu dengan bibir gemetar, ia teringat semua yang pernah dikatakan oleh Zack tentang kekejaman Alex dalam dunia bisnis.


"Sial, kenapa Alex membantu mereka? Sebenarnya apa hubungan Alex dengan keluarga Weil?" gumam Thomas bertanya dengan penasaran dalam hatinya.


Alex menarik kasar lengan Thomas, hingga kini mereka sudah berada di depan rumah.


"Cepat katakan pada mereka semua!" titah Alex dengan suara baritonnya.


Thomas merenungi kekalahannya sejenak. Ia merutuki kebodohan di dalam hatinya, karena terlalu lengah menyelesaikan misinya kali ini.


Maafkan aku Kakak, aku gagal membalaskan dendammu.


"Cepat buang senjata kalian!" titah Thomas kepada George dan kelima anak buah lainnya yang masih tersisa.


Keadaan di depan rumah sudah kembali kondusif, seluruh anak buah Alex berhasil melucuti persenjataan anak buah Thomas.


"Sekarang kau mau ini berakhir seperti apa?" tanya Alex dengan suara baritonnya.


Wajah Thomas memucat, begitu juga dengan George yang melihat Thomas masih ditodong pistol pada pelipisnya.


"Cepat katakan padaku, aku sudah muak dengan semua ini! Kau ingin mati atau kau berjanji padaku, tidak akan mengganggu keluarga Weil lagi untuk selamanya."


Alex menarik pelatuknya bersiap untuk menembak.


"Baik, baik, aku janji padamu Tuan Alex, aku tidak akan pernah mengganggu keluarga Weil lagi untuk selamanya," ucap Thomas walau dengan napas yang tercekat.


Alex lalu melepaskan todongan pistolnya dari pelipis Thomas, kemudian menghempaskan tubuh Thomas ke arah George dan anak buahnya yang berada di depan.


Thomas terjatuh hingga terhempas ke dasar aspal di depan pelataran rumah kediaman Weil.


"Ingat janjimu, jika kau ingkar aku tidak akan segan ikut campur dan menghabisimu," ancam Alex dengan suara baritonnya bahkan kali ini lebih lantang dari sebelumnya.


Thomas dan anak buahnya bergegas pergi dari rumah kediaman Weil dengan menaiki mobil mereka. Kemenangan yang langsung disambut suka cita oleh seluruh anak buah Alex, terlihat juga Colin dan Christopher ada di sana, mereka semua merayakan kemenangan yang didapat lewat kerja sama tim yang solid.


Alex berdecih kesal.


"Dasar menyusahkan, kalian pikir membalas dendam akan dapat membuat Zack hidup kembali, dasar bodoh!"


Alex masih menatap kepergian mobil Thomas dengan sorot mata tajam, tangannya pun masih erat menggenggam pistol Desert Eagle miliknya.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


"Jadi begitu ceritanya. Sejak saat itu aku tidak pernah mendengar apapun tentang Thomas, tapi terakhir aku mendapati kabar bahwa dia telah menggantikan posisi Zack menjadi CEO di perusahaannya."


Richard tersenyum sambil menepuk bahu Raymond.


"Baguslah, sekarang kita hanya tinggal menikmati kehidupan bahagia bersama keluarga, apalagi kedua anakmu sebentar lagi akan lahir, Ray."


Raymond tersenyum dan membagi pandangannya pada Greta yang duduk di samping Richard.

__ADS_1


"Kalian juga cepatlah menyusul, agar kalian bisa punya momongan juga sama seperti kami."


Richard melirik ke arah Greta.


"Aku sih ingin secepatnya, setelah menikah, ya paling tidak 5 atau 6 anak cukup untuk meramaikan rumahku yang besar di Australia."


Greta tersedak saliva-nya sendiri mendengar keinginan Richard.


"Kamu ini memang aku kucing harus sebanyak itu," ucap Greta sambil mencubit perut Richard.


Richard meringis kesakitan, karena cubitan dari Greta terasa pedas di kulit perutnya, sama pedasnya dengan cubitan Alice kepada Raymond.


Melihat ekspresi wajah Richard yang kesakitan membuat Raymond terkekeh lucu.


"Akhirnya kamu merasakan, apa yang aku rasakan Richard," sindir Raymond penuh canda.


"Aku kan cuma bercanda Honey, tapi kamunya serius banget. Emang kenapa kalau kita punya 6 orang anak, bukannya malah bagus nanti di rumah kita jadi ramai dengan suara anak kecil, tapi kalau kamu keberatan dua saja sudah cukup. Aku sudah bahagia, yang penting kamu jangan nyubit aku lagi ya."


Greta menghamburkan kebahagiaannya dengan memeluk erat tubuh Richard.


"Aku mau kok, aku mau jika memang kamu ingin aku melahirkan ke 6 anakmu, terima kasih karena kamu mau menerimaku apa adanya, aku yang tidak sempurna ini," lirih Greta dengan wajah sendunya.


Richard mengusap punggung Greta mencoba menenangkan kesedihannya.


"Sudah! Jangan kamu bahas masa lalumu, sama sepertimu aku pun punya masa lalu, yang terpenting adalah masa depan kita, harus kita jaga bersama," ucap Richard sambil melepaskan pelukannya, lalu melabuhkan kecupan singkat pada pucuk rambut Greta.


Alice dan Raymond menyaksikan momen yang bahagia di depan mata mereka, kini keduanya benar-benar yakin bahwa cinta Richard dan Greta tulus dari hati mereka masing-masing.


Suasana haru yang tersuguh di depan sel tahanan Nicholas kala itu, tiba-tiba pecah saat seorang petugas polisi datang menghampiri mereka dengan membawa Nicholas.


"Tuan Nicholas, selamat atas kebebasan Anda, semoga ke depannya Anda bisa terhindar dari masalah hukum lagi ya," ucap petugas polisi sambil menjabat tangan Nicholas dengan kuat.


Nicholas tersenyum bahagia dengan kebebasan. Ia langsung menghampiri kedua anaknya yang sudah berdiri dari posisi duduknya. Setelah berhadapan dengan kedua anaknya, Nicholas langsung memeluk tubuh Raymond dengan erat kemudian Richard secara bergantian, tak lupa Nicholas juga memeluk menantu kesayangannya dan mengusap calon cucu di perut Alice. Sampai akhir tatapannya terhenti pada sosok wanita cantik dengan surai rambut pirang, yang baru dilihatnya.


"Perkenalkan Dad, ini calon menantumu, Greta," ucap Richard memperkenalkan calon istrinya kepada Nicholas.


Nicholas menatap Greta tanpa berkedip, dilihatnya seorang wanita yang memiliki manik mata berwarna biru sama seperti dirinya, tanpa ragu Nicholas menangkup kedua sisi wajah Greta, lalu memberi kecupan singkat pada pucuk rambut Greta.


"Selamat datang di keluarga Weil, Greta, Richard tidak salah memilihmu kau sama cantiknya dengan Alice."


Kini keempatnya melangkahkan kaki mereka keluar dari kantor polisi dengan kebahagiaan, karena kebersamaan keluarga Weil akan menjadi sempurna setelah ini.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Berikan komentar kalian ya?


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2