
Halo para pembaca semua. Terima kasih atas dukungan kalian ya. Jangan lupa berikan like, komentar dan vote kalian untuk TMCA.
Selamat membaca!
Tidak terasa jam kerja hari pertama Raymond di Perusahaan Alex G-Phone telah usai. Raymond sudah berada di dalam mobilnya bersama Albert.
"Gimana keadaan wanita itu?"
"Dia baik Tuan, saya sudah mengantar ke rumahnya dan memberikannya sejumlah uang, sesuai dengan apa yang Tuan perintahkan."
"Good job, kalau sudah beres, lain kali jangan melamun lagi Albert," tegur Raymond keras kepada Albert.
Albert mulai gugup menjawab karena rasa takutnya.
"Baik Tuan," ucap Albert terbata.
Mobil akhirnya terus melaju, mengikuti kemacetan yang saat ini sedang padat-padatnya di kawasan Jalan Jendral Sudirman.
Albert tak tenang memikirkan masalah smartphone yang terlupa ikut dibawanya ke Indonesia.
Perasaan ini membuatku gelisah.
Apa sebaiknya aku jujur aja ya?
Albert menelan salivanya sendiri dengan kasar. Ia coba untuk berkata jujur, bahwa smartphonenya ikut dibawanya ke Indonesia.
"Tuan," ucap Albert yang sudah memantapkan hatinya untuk jujur pada Raymond.
"Iya ada apa Albert?"
"Begini Tuan, masal.."
Tiba-tiba ponsel Raymond berbunyi.
"Sebentar aku angkat telepon dulu Albert."
Raymond menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Iya halo ada apa Flo?"
"Maaf Tuan, mengganggu saya hanya mengingatkan besok ada meeting di jam 08.00 pagi, saya hanya takut Tuan terlupa dengan schedule tersebut."
"Terima kasih Flo, saya sudah ingat, sampai besok pagi dan tolong di siapkan segala sesuatunya ya."
Raymond mematikan sambungan teleponnya.
"Lanjutkan Albert."
Albert mendengus pelan.
"Tidak jadi Tuan, aku cuma lupa bilang wanita tadi meminta alamat Tuan sebagai jaminan, jadi saya berikan Tuan."
"Hanya itu yang ingin kamu katakan?" tanya Raymond mengangkat sebelah alisnya.
"Iya Tuan, hanya itu saja."
"Aku pikir ada hal yang disembunyikan oleh Albert, tapi apa? Soalnya tidak biasanya tingkahnya gugup seperti itu," gumam Raymond sambil mengusap bawah dagunya, sejenak berpikir sesuatu.
Albert yang masih bergelut dengan perasaannya.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak bisa jujur, tapi tenang Tuan, smartphone itu sudah aku jual tadi di toko handphone pinggir jalan, sewaktu akan menuju kantor. Kalau pun Greta ke Indonesia dia tidak akan bisa menemukanmu baik di rumah atau di kantor karena Jakarta ini lumayan luas."
Mobil sudah memasuki halaman rumah setelah bergelut dengan kemacetan yang begitu menyebalkan.
"Cih," Raymond berdecih kesal.
__ADS_1
"Ini yang tidak aku suka dari Jakarta, macet di sore hari yang menjengkelkan."
Raymond turun dengan kesal.
"Tuan Raymond padahal tinggal duduk nyaman saja sampai sekesel itu, apalagi aku yang mengendarai mobil, huft," keluh Albert sambil memarkir mobilnya sesuai posisinya di tengah halaman antara dua taman yang indah.
Raymond memasuki rumah dengan perasaan yang kurang nyaman. Matanya langsung meneliti ke setiap sudut rumah mencari keberadaan istrinya, yang membuatnya rindu setengah mati.
Dimana Alice, apa dia di kamar?
Bejo kebetulan melintas dan membungkuk hormat menyapa Raymond.
"Bejo, kemana istri saya?"
"Nona Alice ada di kamar Tuan, kalau Siti ada di dapur," jawaban Bejo spontan membangkitkan amarah Raymond yang saat ini sedang tak nyaman dengan perasaannya.
Raymond melangkah mendekati Bejo dengan perlahan, menajamkan tatapan matanya ke wajah Bejo.
"Apa saya bertanya tentang Siti?"
Raut wajah Bejo mulai ketakutan.
Wadoh kleru meneh aku, piye iki, rai ne ndoro Raymond serem tenan, koyo nggugah macan turu.
"Maaf Tuan saya hanya memberikan informasi kali aja Tuan mencari Siti."
Bejo tiba-tiba melihat ke arah belakang tubuh Raymond lalu membungkuk hormat.
"Eh, Nona Alice," ucap Bejo yang membuat Raymond dengan cepat menoleh ke arah belakang tubuhnya dan mengalihkan pandangannya dari Bejo.
"Mana Alice, kenapa tidak ada?" tanya Raymond dengan wajah bingung, sambil terus mengedarkan pandangannya untuk mencari Alice.
Raymond akhirnya menyadari bahwa dirinya saat ini sedang ditipu oleh Bejo.
Raymond langsung kembali memutar tubuhnya, ia mengerjapkan matanya berulang kali, menatap penuh rasa heran, karena saat ini Bejo sudah tidak ada ditempatnya.
Raymond mendengus kesal. Sejenak rasa kesalnya berubah menjadi gelak tawa yang ditahannya.
"Dasar, pembantu lokal sialan, berani sekali dia mempermainkanku, nanti akan ku balas dia," kecam Raymond dengan greget.
Raymond sejenak mengabaikan kekonyolan yang dibuat oleh Bejo. Ia langsung menaiki anak tangga dan bergegas menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Raymond menemukan Alice sedang tertidur dengan membelakangi arah pintu.
Raymond menutup kembali pintu dengan perlahan. Ia lalu melepaskan semua pakaiannya dan menuju kamar mandi untuk tempatnya menyegarkan dirinya.
30 menit berlalu, Raymond sudah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, ia lalu keluar sudah menggunakan bathrobe di tubuhnya.
Raymond menghampiri Alice dengan langkah perlahan karena tak ingin menggangu waktu istirahat istrinya, ia mulai duduk di tepi ranjang besarnya dengan hati-hati.
"Sejak kapan dia tidur? Apa dia tidak tahu aku sudah pulang? Padahal aku sudah mengirim share live lokasiku melalui WhatsApp."
Raymond mengelus rambut Alice dengan perlahan, sentuhan yang tak membuat Alice bergeming.
"Tidurnya benar-benar nyenyak, sebaiknya aku tidak mengganggunya," tutur Raymond lalu kembali melangkah menuju almari untuknya berganti pakaian.
Alice membuka sedikit matanya lalu menyipitnya, agar Raymond tidak mengetahui sandiwaranya. Saat pandangan Raymond jauh tak memandang ke arahnya, ia dengan cepat meletakkan testpack di atas nakas sebelah ranjangnya, kemudian Alice kembali dengan aktingnya untuk tidur.
Raymond telah selesai memakai pakaian tidurnya. Ia mulai melangkah kembali menuju ranjang tempat Alice berada, baru saja ia menaiki ranjang besarnya dan mulai merebahkan tubuhnya yang lelah, tiba-tiba suara perutnya berbunyi dengan keras sampai menyadarkan Alice bahwa saat ini suaminya sedang sangat lapar.
"Kasihan sweetu dia lapar," gumam Alice masih berakting tidur.
"Waduh aku lapar," keluh Raymond sambil memegangi perutnya.
Raymond mengurungkan niatnya untuk merebahkan tubuhnya. Saat Raymond mulai beranjak dari ranjangnya, ia melihat di atas nakas ada sebuah testpack yang sudah tergeletak di sana.
__ADS_1
Jangan-jangan itu testpack yang Greta berikan padaku.
Bodoh aku melupakan testpack itu, aku lupa telah menyembunyikan dimana ya?
Wajah Raymond mulai panik, keningnya terlihat begitu lembab, basah oleh keringat yang terus keluar dari pori-pori kulitnya.
Kalau itu testpack Greta berarti saat ini Alice sudah mengetahui tentang kehamilan Greta.
Apa yang harus aku katakan untuk menjelaskan pada Alice?
Pantas saja dia sudah tidur dan tidak menungguku, ternyata saat ini dia sedang marah.
Raymond ketakutan dengan apa yang dilihatnya. Kini ia sudah sampai berdiri mematung di depan nakas, di samping nakas terlihat Alice tertidur dengan wajah yang tertutup oleh uraian rambut indahnya.
Raymond membagi tatapannya, antara testpack dan wajah Alice.
Maafkan aku sweety, tapi aku sudah berubah, apakah tidak bisa kamu memaafkanku.
Raymond kembali menatap ke arah testpack, setelah beberapa menit terpaku menatap Alice, dengan sebuah penyesalan yang sangat menusuk di hatinya, sampai membuat air mata lolos dan membasahi wajah arogannya.
Raymond terus meneliti testpack yang terus dilihatnya tanpa berkedip.
Tapi sepertinya ada yang berbeda.
Raymond mengambil testpack itu dengan perlahan. Ia mulai mencermati bentuk dan melihat detail testpack yang saat ini sedang dipegangnya.
Raymond kemudian mengingat kembali tentang testpack yang diberikan oleh Greta sewaktu di London.
Testpack ini berbeda, tapi garisnya sama-sama menunjukkan dua garis.
Sebenarnya apa maksud semua ini?
Raymond semakin bimbang, ia terus berpikir dengan keras untuk menemukan jawaban dari rasa penasarannya.
Saat rasa gelisahnya terus memuncak dan membuat kepalanya terasa pusing, tiba-tiba Alice terbangun, mengejutkan Raymond dengan suaranya.
"Surprise," kata Alice yang langsung bangkit dari tidurnya.
Raymond terhenyak menatap wajah Alice.
"Apa maksud semua ini sweety, aku bingung?"
"Dasar Tuan arogan, kamu ini memang polos ya, ternyata kamu itu hanya senang bercinta tapi melupakan apa yang telah kamu tinggalkan," sindir Alice terkekeh geli.
"Maksud kamu?" Raymond semakin bodoh dibuatnya, di satu sisi ada ketakutan rahasianya akan terbongkar, namun sisi lain ia tak menemukan kemarahan dalam wajah Alice, yang ada malah raut kebahagiaan yang terpancar indah di wajahnya.
Jangan-jangan ini milik sweety.
Alice masih terdiam dengan wajah yang berseri.
"Kamu hamil, ini kamu hamil sayang," ucap Raymond yang kini wajahnya telah membuncah bahagia sambil mengibaskan testpack yang saat ini dipegangnya.
Alice hanya tersenyum dan mengangguk memberikan kode pada Raymond, bahwa apa yang dikatakan memang benar.
Raymond langsung mendekap tubuh Alice dengan erat.
Kala itu menjadi kebahagiaan yang tidak akan pernah dilupakan oleh Raymond dan Alice. Hari dimana semua impian mereka akan segera terwujud, mempunyai anak yang akan melengkapi kebahagiaan mereka di rumah barunya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya?
Terima kasih
__ADS_1