
Selamat membaca!
Raymond selesai menghubungi Greta, ia langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
3 jam lagi.
Saat langkah Raymond hendak memasuki ruang tengah, Richard berdehem memberikan kode padanya dari tempatnya berdiri saat ini di lantai 2.
Raymond langsung mendongak melihat Richard, langkahnya tertuntun untuk menghampirinya, karena Raymond melihat testpack yang diberikan Greta ada di tangan Richard.
Jadi Richard yang sudah menolongku tadi dan bukan Elliot.
Tibalah kini Raymond di lantai 2. Ia terus menatap Richard, seolah tak percaya bahwa dirinya masih dapat dipertemukan dengan Kakak kandungnya yang sudah lama hilang.
Sebaiknya aku tanyakan langsung mengenai foto anak kecil itu.
Richard menjentikkan ibu jari dan telunjuknya di depan wajah Raymond yang terlihat termenung.
"Sorry, oh ya, terima kasih atas pertolonganmu, yang barusan tadi," ujar Raymond dengan terbata, ini momen pertamanya berbincang dengan Kakak kandungnya, ada perasaan gugup, bahagia dan rasa tidak percaya, bercampur dalam hatinya.
"It's oke, tapi jika kamu menyakiti Alice aku tidak bisa memaafkanmu," ucap Richard menautkan kedua alisnya, sembari memberikan testpack yang digenggamnya kepada Raymond.
Raymond mengerutkan keningnya, ia terhenyak dengan perkataan Richard. Itu membuatnya teringat kejadian yang dilihatnya sewaktu di dalam kolam renang.
"Apa jangan-jangan dia menyukai Alice, ah tapi mana mungkin dia saja baru bertemu Alice satu kali."
Raymond kembali kesal mengingat kedatangan Greta yang hampir menghancurkan kebahagiaannya bersama Alice. Ia meremas kesal testpack di tangannya sampai menggertakkan gigi, wajahnya mulai memerah menahan amarahnya.
"Ceritakan padaku, mungkin ada yang bisa ku bantu," ucap Richard sambil menyentuh pundak Raymond.
Keduanya akhirnya duduk nyaman di sofa dan Raymond mulai menceritakan semua kesalahan yang telah dilakukannya, sampai membuat MANGO Corporate lepas dari genggamannya.
Richard begitu iba mendengar cerita Raymond. Namun ia lebih kasihan dengan Alice.
"Pasti perasaan Alice begitu sakit, apalagi jika tahu Greta saat ini sedang mengandung anak Raymond," gumam Richard mendesah pelan.
"Hal mudah untukku membantumu merebut kembali MANGO Corporate, tapi ada satu kesepakatan yang ingin aku buat denganmu."
"Kesepakatan apa maksudmu?" tanya Raymond menautkan kedua alisnya.
"Lepaskan Alice untukku, setelah itu kau bisa ambil perusahaanmu kembali dan kau bisa hidup bahagia bersama Greta juga anak yang sedang dikandungnya," jawab Richard memberikan pilihan kepada Raymond.
Perkataan Richard memancing amarah Raymond yang sebelumnya sudah membara, ia menajamkan tatapannya ke arah Richard, namun itu tak membuat Richard gentar sedikit pun. Tiba-tiba Raymond seperti lupa bahwa pada kenyataannya Richard adalah Kakak kandungnya.
Raymond meraih kerah kemeja Richard, ia mencengkram keras, hingga membuat kemeja mahal Richard tampak kusut, wajah mereka kini saling berhadapan, beradu tatap seperti ada persaingan di antara keduanya.
"Hati-hati bicaramu, jangan sampai aku mengabaikan hakikat yang ada di antara kita dan tidak memperdulikan ikatan lama yang sempat terputus," tutur Raymond dengan mata yang memerah, menahan kepedihannya harus bersikap kasar terhadap Kakak kandungnya.
Raymond menghempaskan tubuh Richard dengan keras dan berlalu pergi.
Apa maksud perkataannya?
Richard terus berpikir dengan keras, mencerna setiap kalimat yang Raymond ucapkan.
Di kamar Alice.
Raymond datang dengan wajah yang tak bersahabat. Ia langsung membuka almari dan merapikan beberapa pakaian Alice dan memasukkannya ke dalam koper.
Alice menatap penuh keheranan.
"Hai, Tuan arogan suamiku yang paling tampan, kenapa wajahmu tampak kusut seperti itu? Apa karena wanita jal*ang itu tadi datang?"
Raymond tak menggubris perkataan Alice, ia terus merapikan semua barang bawaan juga pakaian ke dalam koper.
__ADS_1
"Sweetu, coba lihat ini, isi flashdisk-nya hanya kumpulan film-film Hollywood saja, tidak ada yang aneh, tapi untuk apa dia memberikan semua ini padamu?" tanya Alice yang masih belum menemukan jawaban dari maksud kedatangan Greta menemui Raymond.
Raymond mendekati Alice, menatap jauh ke dalam mata indahnya, mencoba mencari ketenangan yang saat ini dipenuhi oleh amarah. Raymond menggenggam tangan Alice dengan lembut.
"Kita pergi saja dari London, aku tidak peduli lagi tentang semua hal, entah itu MANGO Corporate atau masalah lainnya, bagiku yang terpenting hidup bersamamu, walau harus dengan kesederhanaan aku tidak apa-apa, kita jalani berdua, yang penting kita bersama, jauh dari orang-orang yang ingin memisahkan kita."
Raymond terus berbenah dan memasukkan semua pakaian Alice ke dalam koper.
"Apa alasanmu melakukan semua ini?" tanya Alice penuh selidik dengan menautkan kedua alisnya.
Gerakan tangan Raymond terhenti sejenak, ia menatap wajah Alice sangat dalam.
"Aku takut kehilanganmu sweety, aku ingin kita bisa hidup bahagia seperti Alex dan Rianti, lihat mereka, rumah tangga mereka selalu rukun penuh kebahagiaan," ujar Raymond merasa iri dengan pasangan Alex dan Rianti yang selalu harmonis, terlebih saat ini Rianti sedang mengandung anak Alex.
Alice berpikir sejenak, sebenarnya hatinya begitu tenang dan bahagia dengan keputusan Raymond, namun ada satu hal yang membuatnya sedih, ia harus kembali berpisah dari Elliot.
"Jika itu keinginanmu, bolehkah aku izin kepada Elliot, setidaknya dia adalah Kakakku, satu-satunya keluarga yang aku miliki di London," pinta Alice dengan wajah sendunya.
Raymond mengusap pucuk rambut Alice. Ia menciumnya dengan lembut.
"Tentu sweety, aku selalu menghormati Elliot, aku sudah putuskan rumah mewahku di London dan MANGO Corporate, Elliot saja yang mengurusnya, aku percaya padanya dia mampu melakukan itu, lagipula rasanya aku sudah lelah menjadi seorang CEO," tutur Raymond menghela napasnya dalam.
Alice menatap wajah suaminya dengan mata yang berbinar, ada kebahagiaan yang terpancar dari raut wajahnya, mendengar segala keputusan yang Raymond utarakan.
Alice menyentuh rahang Raymond dan mengusapnya dengan lembut.
"Aku juga ingin bersamamu selamanya sweetu, tanpa ada siapapun yang ingin memisahkan kita."
"Terima kasih sweety."
Raymond tersenyum bahagia, walau masih ada resah yang disimpannya, tentang kehamilan Greta yang saat ini sangat mengganggu pikirannya.
"Mungkin lebih baik aku tidak menemui Greta, dengan aku menghilang darinya, dia tidak akan lagi mengganggu hubunganku dengan Alice," gumam Raymond dengan segala keputusannya.
"Jika itu yang terbaik untukmu, aku akan selalu mendukung, masalah perusahaan tidak perlu khawatir, aku akan selalu mengirimkan uang untukmu hasil keuntungan dari perusahaan, lagipula aku tidak sendiri lagi, ada Kelly yang menemaniku," tutur Elliot menahan air matanya.
Walau aku coba untuk kuat, tapi tetap saja, air mata ini tak dapat ku tahan.
Alice menangkup kedua sisi wajah Elliot.
"Jangan nangis Kak, aku janji akan mengunjungimu minimal sebulan dua kali, lagipula jaman sekarang udah canggih Kak, kita bisa video call kan."
Elliot menyeka air mata di pipinya.
"Cengeng ya Kakakmu ini," ucap Elliot terkekeh geli.
Alice menahan gelak tawanya, melihat tawa geli di wajah Elliot yang menertawakan kelemahannya sendiri.
"Kalau gitu aku bantu suamiku dulu ya untuk merapikan barang bawaan kami," ujar Alice bangkit dari duduknya dan berlalu dari Elliot.
Elliot terus menatap kepergian Alice dengan haru.
Keadaan membuat kita jauh ya, andai semua tidak kacau seperti saat ini.
πππ
Apartemen Greta.
Sudah 2 jam Greta menunggu kedatangan Raymond di apartemennya. Ia sudah menghias diri sedemikian rupa, hingga tampil cantik.
Tidak lupa Greta sengaja mengenakan pakaian seseksi mungkin untuk menggoda Raymond, karena ia ingin Raymond menyapa bayinya.
"Aku sudah tidak sabar menanti kedatangan Tuan arogan yang liar itu. Aku sangat merindukan sentuhannya yang begitu hangat bila sedang bercinta."
__ADS_1
Greta sudah membayangkan yang tidak-tidak, pikirannya sudah liar berpetualang kemana-mana.
"Menunggu dia datang satu jam lagi seperti menunggu satu abad saja!" keluh Greta yang sudah tidak sabaran.
Greta memutuskan untuk menyimpan satu kamera kecil dan menyembunyikannya di balik makeup yang tersusun rapih di meja rias.
"Walaupun Tuan Raymond bilang tidak ada kamera, tidak ada minuman, tidak ada obat perangsang dan tidak ada bercinta, tapi aku yakin dia pasti akan tergoda ketika melihatku berpenampilan seperti ini. Mata Tuan Raymond sangat nakal melihat wanita sepertiku, jadi aku yakin dia tidak mungkin menolak setiap sentuhan yang aku berikan."
Greta menyeringai dengan kejahilannya, yang tetap berani menyembunyikan kamera untuk merekam kegiatannya nanti bersama Raymond, untuk dijadikan koleksinya.
"Video itu akan sangat berguna ketika aku merindukan Tuan Raymond yang pasti akan sibuk membagi waktunya antara aku atau Alice. Haha!"
Greta tertawa lepas dengan semua rencana yang sudah ia susun dengan licik untuk keuntungan dirinya saja, tanpa memikirkan perasaan wanita lain.
πππ
Waktu menunjukkan pukul 16.00, sudah seharusnya Raymond tiba di apartemen Greta, tapi laki-laki itu belum menampakkan batang hidungnya sama sekali hingga membuat Greta kesal terlalu lama menunggu.
"Mungkin dalam 5 menit dia akan sampai, telat sedikit mungkin jalanan di luar sana yang sudah mulai padat."
Greta tetap berpikir positif dengan keterlambatan Raymond.
Namun ketika waktu menunjukkan pukul 16.50 hati Greta mulai memanas, karena merasa Raymond telah mengingkari janjinya.
Dengan langkah kesal Greta menuju nakas, yang berada di samping ranjang untuk mengambil ponselnya, lalu menghubungi Raymond.
"Ternyata dia sengaja memblokir nomorku kembali untuk lari dari janjinya."
Greta meremas ponselnya dengan kencang.
"Kamu salah bermain-main denganku Tuan arogan, walaupun kamu pintar tapi aku bisa lebih pintar darimu."
Grata mulai mengutak-atik ponselnya dan mencari tahu titik lokasi keberadaan Raymond saat ini.
GPS menunjukkan titik lokasi ponsel Raymond berada saat ini ada di Bandara Heathrow.
Mata Greta membulat, matanya memerah dan terdengar suara geletuk dari gertakan giginya.
Greta mengambil kunci mobil dan melangkah dengan tergesa dengan napas tersengal.
"Kamu pikir kamu bisa lari begitu saja dengan tenang dan mengabaikan tanggung jawabmu, Tuan Raymond!"
Greta melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, ia tidak ingin kehilangan jejak dan membiarkan Raymond pergi mencampakkannya begitu saja.
"Kenapa Tuan Raymond kamu tidak sedikit pun mempedulikan anak yang saat ini sedang ku kandung." kesal Greta sambil beberapa kali memukul kemudinya, dengan derai air mata yang terus menghujam wajahnya.
Untung saja dari sini ke Bandara tidak terlalu jauh.
Greta menginjak gas mobilnya lebih dalam, memacu laju mobilnya untuk cepat sampai bandara, dengan membawa kesedihan yang begitu mendalam.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Berikan like dan komentar kalian ya, menurut kalian di next episodenya, apa Greta sempat menemui Raymond dan Alice? atau Greta terlambat?
Akankah Raymond dan Alice bahagia di tempat barunya yang akan mereka tuju.
Ikuti terus ya kelanjutannya ya.
Sehat selalu.
Terima kasih. πππ€
__ADS_1