
Selamat membaca!
Sepulangnya Alice dan Raymond dari Maldives, mereka langsung menuju rumah tanpa mampir kemanapun karena kondisi Alice yang mudah kelelahan semenjak hamil tua.
Mereka tiba di kediaman Weil pukul 22.00 malam.
"Sweetu, aku lelah!" keluh Alice sambil memegangi perutnya.
"Nanti aku bikin kamu semangat dan gak lelah lagi ya," ucap Raymond setelah mengecup bibir istrinya sekilas.
Saat Alice turun dari mobil, Raymond langsung merengkuh tubuh istrinya hingga berada dalam gendongannya. Raymond berjalan dengan hati-hati membawa Alice menuju kamar mereka yang berada di lantai 2. Raymond terus fokus berjalan menaiki tangga tanpa mendengar protes dari Alice yang merasa malu dengan posisinya saat ini.
Setibanya di kamar, Raymond merebahkan tubuh istrinya dengan hati-hati di atas ranjang besar mereka. Tanpa aba-aba, Raymond langsung ******* bibir istrinya dengan lembut.
"Sweetu, kita baru pulang dari Maldives loh," protes Alice disela-sela serangan Raymond pada bibirnya, menurutnya Raymond seperti tidak ingat waktu saat ingin memulai untuk bercinta.
"Apa itu alasan untuk menolak keinginan suamimu?" tanya Raymond sambil menaikkan satu alisnya dengan tegas.
Alice tersadar akan ucapannya yang salah, tidak seharusnya ia menolak keinginan suaminya, terlebih itu merupakan kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani suami.
"Maafkan aku sweetu, maksudku apa tidak sebaiknya kita berganti pakaian dulu?"
"Tidak perlu sweety, kita bisa memulainya tanpa harus mengganti pakaian, karena pada akhirnya kita akan berakhir di ranjang tanpa pakaian juga kan," tutur Raymond menampilkan senyuman lebarnya.
"Iya, kamu benar."
Alice pun akhirnya mengalah dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan oleh Raymond di atas tubuhnya. Di awali dengan mencium bibir merah istrinya, Raymond pun mulai bergerilya terus menjelajah seluruh bagian dari tubuh Alice. Bahkan kini Alice terlihat sangat menikmati permainan dari suaminya yang saat ini sedang bermain pada bagian dadanya. Tak ada lagi pakaian yang dikenakan oleh keduanya, karena mereka dengan cepat melepaskannya di saat nafsu mulai memburu keduanya untuk secepatnya meraih puncak kenikmatan.
Saat pemanasan yang dilakukan oleh Raymond benar-benar membuat sekujur tubuh mereka dipenuhi dengan keringat, kini tibalah pria itu melakukan penyatuan yang disambut oleh Alice dengan sebuah desah*n. Permainan di atas ranjang berlangsung hampir satu jam lamanya dan berakhir di saat keduanya sudah mencapai nikmatnya surga dunia secara bersamaan.
Kini Alice terlihat sangat kelelahan dan langsung memposisikan dirinya untuk merebahkan dirinya di samping tubuh suaminya yang tampak penuh dengan keringat.
"Aku lelah sweetu," ucap Alice terdengar sedang mengatur napasnya yang terengah.
"Tidurlah sayang!" titah Raymond sambil mengusap pucuk rambut dan mencium kening Alice dengan lembut.
Kini Alice mulai memejamkan kedua matanya yang sudah tampak lelah sejak dirinya tiba di dalam kamar. Namun, wanita itu coba untuk menahan rasa kantuknya demi dapat melayani keinginan suaminya.
Malam panjang yang penuh kenikmatan telah mereka lewati, kini waktu sudah tepat menunjukkan pukul 01.00 tengah malam. Waktu yang akhirnya membuat Alice sudah benar-benar terlelap dari tidurnya. Namun, berbeda dengan Raymond, pria itu tampak meraih ponselnya yang berada di atas nakas, lalu mulai menekan nomor seseorang untuk dihubunginya.
"Jemput aku pukul 07.00 di rumah ya, jangan telat karena hari ini akan menjadi hari istimewa untuk Alice!" titah Raymond pada seseorang yang mendengarnya dari balik telepon.
__ADS_1
Lalu Raymond kembali meletakkan ponselnya di atas nakas, sebelum mulai merebahkan tubuhnya kembali untuk ikut memejamkan mata, menyusul Alice ke alam mimpi.
πππ
Pagi pun akhirnya tiba, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Matahari pun terlihat sangat gagah dengan cahaya yang menyinari seluruh semesta.
Namun, Alice masih saja bergumul dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Ya, memang wajar karena semalam Raymond benar-benar membuatnya harus menunda waktu tidurnya, bahkan hingga lewat tengah malam.
Alice pun mulai beranjak dari posisi tidurnya. Saat ini ia mulai merasakan sekujur tubuhnya terasa begitu letih akibat aktifitasnya semalam bersama Raymond.
Tangan Alice meraba seisi kasur dengan mata yang belum sempurna terbuka, saat ia menyadari bahwa suaminya sudah tidak berada di atas ranjang lagi. Alice terkesiap dengan apa yang dilihatnya, ia langsung bangkit dari posisi tidurnya, untuk mencari keberadaan Raymond.
"Sweetu..." panggil Alice berulang kali, namun ia tidak mendapatkan jawaban dari Raymond.
Setelah mencari di seluruh sudut kamar, ia tetap tidak menemukan keberadaan Raymond, membuat kepanikan kini mulai melanda dirinya, ketakutan akan kehilangan Raymond masih teringang lekat dalam benaknya. Alice memacu langkahnya untuk keluar dari kamar, dibukanya handle pintu dengan tergesa, Alice kemudian keluar dengan langkah yang panjang, sampai akhirnya ia tiba menuruni anak tangga.
Di lantai dasar, Risfa yang kebetulan melintas, penuh rasa cemas ketika melihat langkah Alice terlihat terburu-buru menuruni anak tangga. Risfa menghampiri Alice dengan cepat untuk memperingatinya.
"Nona, hati-hati langkahmu," ucap Risfa sampai menaiki setengah anak tangga untuk meraih tubuh Alice.
"Aku tidak apa-apa Risfa, aku hanya mencari keberadaan suamiku, apa kamu melihat Tuan Raymond, Risfa?" Dengan terengah Alice coba mengatur ritme nafasnya.
"Oalah Nona, aku pikir apa. Nona tidak perlu cemas, Tuan tidaklah pergi jauh, dia hanya keluar karena ada urusan dan ditemani oleh Albert, Nona."
Risfa tersenyum dan membantu Alice untuk duduk di sofa yang kebetulan tidaklah jauh dari tempat mereka berada.
"Sudah Nona, santai saja semua pasti akan baik-baik saja, Nona tidak perlu panik lagi."
Perkataan Risfa seolah memberikan ketenangan pada Alice yang tadinya terlihat gelisah.
"Ya sudah kalau begitu Risfa, aku ingin mandi saja," ucap Alice sambil bangkit untuk kembali ke kamarnya.
"Aku temani Nona, biar aku siapkan air hangat, untuk Nona mandi ya," tawar Risfa.
Keduanya akhirnya menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar Alice kembali.
πππ
Sebuah lapas penjara. Terlihat Patricia duduk di sebuah kursi, ia tampak sedang berbicara dengan seorang wanita.
__ADS_1
Wanita yang bernama Alexa Key adalah adik dari Patricia. Wanita dengan paras cantik yang bekerja di salah satu perusahaan ternama di kota London.
Kakak, apa kabar? Gimana keadaanmu?" Alexa menatap iba wajah sendu Patricia, rahangnya semakin tirus dengan bobot tubuhnya yang terlihat kurus. Alexa merasakan kesedihan yang mendalam akan kondisi Patricia saat ini.
Patricia tiba-tiba menangis tersedu, ia memeluk tubuh Alexa dengan setengah berdiri, karena sebuah meja yang berada di tengah keduanya, menghalangi tubuh mereka untuk saling merengkuh.
"Aku tidak tega melihatmu seperti ini." Alexa masih memeluk erat tubuh Patricia dan membiarkannya meluapkan kesedihannya.
Setelah suara isak tangis Patricia mereda, ia melepaskan pelukannya dan kembali duduk sambil mengusap air mata pada kedua pipinya. Wajah Patricia tiba-tiba mengeras, ia seketika mengingat rasa dendamnya yang tersimpan di kedalaman hatinya.
"Tidak usah mencemaskanku, lebih baik balaskan dendamku terhadap mantan pacarku itu, aku harus mendekam di dalam penjara ini, sedangkan dia bahagia bersama anak dari pemilik restoran itu, aku tidak tenang membayangkan semua itu," geram Patricia dengan wajah yang terlihat gusar, namun tetap dengan nada suara yang pelan agar tidak terdengar oleh petugas polisi yang berada tak jauh dari tempat keduanya.
Alexa meraih tangan Patricia dengan perlahan dan menggenggamnya erat.
"Kakak, balas dendam itu tidak baik. Lagipula aku telah mengajukan penangguhan untuk hukumanmu, agar bisa menjadi tahanan kota saja."
Alexa menerbitkan sebuah senyum di wajahnya, kebaikan hatinya tampak tersirat dari manik matanya yang berwarna kebiruan.
"Tidak, aku tidak akan pernah memaafkan mereka." Patricia menyibak tangan Alexa dengan kesal.
Alexa geleng-geleng kepala sambil menghela nafasnya dengan kasar. Pikirannya sudah buntu, harus menasehati Patricia dengan cara apalagi.
"Kalau kamu tidak mau menolongku, sebaiknya tidak usah menjengukku di sini! Jangan anggap aku kakakmu lagi!"
Kemarahan Patricia membuat Alexa menjadi semakin bingung. Sejenak ia terdiam untuk berpikir dengan wajah penuh kebimbangan.
"Lebih baik saat ini aku iyakan saja keinginan Kakak, nanti pelan-pelan aku akan berusaha menyadarkannya, bahwa dendam itu hanya akan membuat hidupnya tidak tenang," gumam Alexa memutuskan untuk bersandiwara, karena tak ingin Patricia kecewa.
Alexa tersenyum menatap wajah Patricia.
"Baik Kak, aku akan lakukan apa yang kamu inginkan."
Patricia memicingkan senyum liciknya, sambil mendekatkan wajahnya ke arah Alexa, ia terlihat membisikan sesuatu, agar tidak terdengar oleh petugas polisi.
π΅οΈπ΅οΈπ΅οΈ
BersambungβοΈ
Berikan komentar kalian yuk.
Ramaikan dan jangan bosan untuk terus mendukungku ya.
__ADS_1