
Selamat membaca!
Kantor polisi yang terlihat padat di jam berkunjung para tahanan. Raymond, Bibi Mey dan Alice menjadi sorotan para pengunjung lainnya, bagaimana tidak, ketiganya berjalan diiringi oleh Benjamin cs, yang dengan rapat mengawal mereka.
"Ben, sebaiknya kalian tunggu saja di pintu masuk! Sepertinya kantor polisi ini sangat aman," titah Raymond yang merasa risih menjadi sorotan orang-orang.
"Baik Tuan, gunakan ini jika kau membutuhkan kami Tuan," ucap Benjamin menyodorkan sebuah wireless kepada Raymond.
Raymond mengambil wireless dari tangan Benjamin, ia lalu melanjutkan langkahnya yang tertinggal dari Alice dan Bibi Mey, sementara Benjamin kembali memutar tubuhnya melangkah menuju keluar, diikuti oleh yang lainnya.
"Ben, sepertinya situasi saat ini tidaklah sama dengan yang dulu, apalagi saat Greta sudah pergi dengan Tuan Richard ke Australia," tutur Arnold menyatakan pendapatnya.
"Bagus Sir, kerja kita jadi lebih santai kan," cetus Colin yang paling junior di antara keempatnya.
Christopher terkekeh mendengar ucapan Colin.
"Walau kau terlihat malas, tapi kau benar Colin, akhir-akhir ini kita memang sangat santai, dengan status kita sebagai pengawal elite, pekerjaan ini membuat kita hampir tidak pernah berkeringat setetes pun," tutur Christopher tersenyum lebar.
"Kalian ini, kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi ke depannya, jadi tetaplah waspada," ujar Benjamin memperingati ketiganya, agar selalu fokus di setiap waktu.
Mereka berempat kini sudah berada di luar kantor polisi, agar tidak terlalu mencolok Benjamin memerintahkan kepada yang lain untuk menjaga jarak.
Namun tanpa mereka sadari, sepasang mata terus mengamati keempatnya dari dalam mobil, yang memang berada di depan kantor polisi, mobil itu sudah membuntuti dari rumah kediaman Weil.
"Keempat pengawal itu selalu ada, lantas bagaimana aku bisa mengelabui mereka ya?"
πππ
Raymond mendapatkan giliran terakhir untuk bertemu Nicholas. Setelah Alice dan Bibi Mey yang sudah terlebih dulu menemui Nicholas. Kini Raymond terlihat duduk berhadapan dengan Nicholas, dengan wajah yang masam.
"Kau sehat Ray, sebentar lagi kau akan jadi seorang Daddy, apalagi anakmu kembar ya," tutur Nicholas yang merentangkan kedua tangannya sambil sedikit berdiri, sebagai kode bahwa Nicholas meminta sebuah pelukan dari anaknya.
Raymond langsung memeluk tubuh Nicholas dengan begitu erat.
"Aku akan membebaskanmu."
Nicholas terhenyak mendengar perkataan Raymond, ia dengan cepat melepas pelukan mereka, lalu kembali duduk di kursinya.
"Apa maksudmu, Ray?" tanya Nicholas dengan kedua alis saling bertaut.
__ADS_1
"Kau tidak usah lagi menyembunyikannya dari aku, Bibi Mey sudah cerita semua padaku," ungkap Raymond dengan sorot mata tajam, menatap wajah Nicholas.
Nicholas berdecih pelan.
"Dasar kau Mey, sudah aku bilang jangan bicarakan masalah itu, tapi dia keras kepala," gerutu Nicholas pelan, namun terlihat raut kekesalan di wajahnya.
"Aku malah bersyukur, jika akhirnya Bibi Mey cerita padaku, aku tidak mau tahu, aku akan membebaskanmu dalam waktu dekat ini, kau tidak pantas mendapat hukuman atas sesuatu yang tidak kau lakukan, kau tahu dampaknya untuk perusahaan kita juga untuk nama baik kita! Kau juga harus pikirkan bagaimana cucumu nanti saat dia tahu dari orang lain, jika ternyata Kakeknya adalah seorang pembunuh."
Raymond benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya, ia berbicara dengan tensi yang sangat tinggi sampai terlihat pada lehernya, urat-urat kehijauan, yang menandakan betapa saat ini amarah telah menguasai dirinya.
Nicholas menghela napasnya dalam, ia mencoba mencerna setiap perkataan Raymond yang begitu menusuk ke dalam hatinya. Di satu sisi ia memikirkan Claire, namun di sisi yang lain Nicholas begitu peduli terhadap masa depan cucunya.
"Baiklah, ini semua demi cucuku, segera urus semuanya, Ray."
Kegusaran Raymond kini berubah menjadi sebuah senyuman yang seketika terbit di wajahnya. Saat mendengar perkataan yang lolos dari mulut Nicholas, hati Raymond kini begitu tenang dan sudah dapat bernapas dengan lega.
"Terima kasih Dad, aku tidak perlu menemui Claire lagi, karena aku tidak ingin tahu apa alasan dibalik kemauanmu untuk menurutinya, yang paling penting saat ini, aku ingin kau bebas dari segala tuduhan dan nama baik keluarga Weil dapat kembali bersih di mata dunia."
Nicholas tersenyum menanggapi segala perkataan dari Raymond yang telah didengarnya.
"Kini kau sudah jauh lebih dewasa, Ray, aku tidak salah menyetujui pernikahanmu dengan Alice, wanita itu benar-benar bisa merubahmu," gumam Nicholas penuh decak kagum kepada Alice yang mampu merubah sosok Anaknya, menjadi suami sekaligus pria dewasa yang bertanggung jawab.
πππ
Amita masih berada di ruangannya, wajah yang begitu kesal, tampak jelas terlihat.
"Aku harus menemukan cara untuk bisa membalas apa yang Raymond lakukan padaku, jangan panggil aku Amita, jika aku tidak bisa membalasnya."
Di tengah-tengah segala pikirannya tentang Raymond, ponselnya tiba-tiba berbunyi memecahkan keheningan kala itu. Amita langsung mengambil ponsel itu yang memang berada tidak jauh dari jangkauannya. Ia lalu membuka password pada ponselnya, kemudian menatap penuh pada layar ponsel. Terlihat sebuah pesan baru, Amita langsung membukanya dan mulai membaca setiap kata yang tertera pada pesan itu.
"Alice," gumam Amita sambil mengangkat kedua alisnya.
Amita mengusap dagunya dan menyangga wajahnya dengan sebelah tangan.
"Sepertinya keberuntungan memang sedang berada di pihakku, sebentar lagi kehancuran rumah tanggamu akan segera datang, Raymond. Tunggulah! Sekarang kau memang merasa menang, tapi sebenarnya itu hanya menunda kehancuran dari kehidupanmu sendiri," tutur Amita dengan senyum licik yang terbit di wajahnya.
Amita terkekeh hebat, suara tawa yang sampai memenuhi seisi ruangannya. Setelah puas merayakan kemenangannya, Amita mulai membalas pesan itu, ia terlihat sedang mengetik sebuah pesan pada ponselnya.
"Siapa ini? Aku Alice istri dari Raymond Weil yang menghubungimu semalam."
__ADS_1
Isi pesan dari Alice yang terus dipandangi oleh Amita.
"Aku Amita, maafkan aku Alice jika kehadiranku mengganggu rumah tangga kalian, tidak seharusnya aku masuk dalam kisah cinta kalian, jika memang aku harus mengalah, maka aku akan mundur untuk mencintai suamimu, maafkan aku Alice, tapi hubunganku memang baru terjalin dua Minggu ini."
Amita mengirim pesan yang sudah diketiknya, dengan santai ia menyandarkan tubuhnya sambil memicingkan sebuah senyuman yang licik.
"Rasakan kau Raymond, semua permainan yang kau mulai, akan menjadi awal dari kehancuran rumah tanggamu."
πππ
Di dalam mobil.
Suara ponsel menghentikan percakapan yang saat ini sedang terjadi di antara Alice dan Bibi Mey.
"Sebentar ya Bi," sanggah Alice merasa tidak enak harus menghentikan sejenak percakapannya.
Alice mengambil ponselnya dan mulai membuka sebuah pesan yang baru saja masuk. Matanya menatap layar ponsel dengan penuh keseriusan, gurat senyum di wajahnya tiba-tiba sirna, berubah menjadi sendu, matanya tanpa terasa langsung berkaca-kaca menahan air mata yang sudah menganak di kelopak matanya.
"Tega sekali kamu sweetu padaku dan kedua anak kita, kali ini aku tidak bisa memaafkanmu, karena aku sudah muak dengan hal itu, aku pikir kamu bisa berubah tapi ternyata aku salah, selamanya kamu adalah bajing*an! Lebih baik kita berpisah saja, tapi jika aku mengatakan keinginanku padamu, pasti kamu akan mengelak dengan seribu alasan, jadi lebih baik aku pergi tanpa memberitahumu."
Alice memalingkan wajah sambil menyeka air matanya dengan cepat, ia tak ingin Bibi Mey yang berada di samping melihat kesedihannya yang tak dapat ia tahan untuk lolos dari kedua sudut matanya.
Alice mengusap perutnya dengan lembut.
"Maafkan Mommy ya Nak, selama ini Mommy sudah banyak mengalah dan bersabar, Mommy rasa sudah cukup itu untuk Mommy lakukan, ini memang jalan yang terbaik."
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Berikan komentar kalian ya.
Baca jangan ada yang di skip ya, jadi biar kalian bisa menyimpulkan sesuatu dengan benar.
Kalian harus tahu, segala komentar, like dan vote kalian adalah semangatku untuk tetap lanjut menulis.
Terima kasih semua.
Baca juga karya adminku Risfa ya.
__ADS_1