Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Jennifer


__ADS_3

Halo pembaca setia TMCA, aku sangat berterima kasih atas segala perhatian dan kesetiaan kalian selama ini, aku mau mengingatkan jangan lupa untuk tetap berkomentar dan juga berikan like kalian di setiap part-nya ya.


Selamat membaca!


Setelah memakan waktu selama satu jam lebih, meeting dengan Adams akhirnya selesai. Raymond kembali ke ruangannya, sementara Adams melangkah keluar untuk menuju Robson Corporate.


Sesampainya di ruang kerjanya, Raymond terlihat menghempaskan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Rasa lelah terlihat begitu jelas di raut wajahnya, sejak ditinggal oleh Elliot, praktis segala urusan meeting harus Raymond yang terjun langsung tanpa bisa diwakilkan oleh siapapun, karena untuk ukuran sebagai seorang sekertaris Tara belum cukup pengalaman bila harus menghandle suatu meeting, terlebih meeting dengan Adams tadi termasuk dalam skala besar, karena melibatkan investasi sebesar 10 triliun.


"Elliot, kapan kau kembali?" gerutu Raymond sambil memijat dahinya yang terasa pening.


Tak berapa lama suara dering telepon membuat Raymond mengernyitkan dahinya. Tatapannya tajam ke arah telepon yang berada tepat dihadapannya, ia pun akhirnya mengangkat telepon tersebut dengan suara arogan.


"Iya, ada apa?"


"Maaf Tuan saya mengganggu waktu istirahat Anda, ada seorang wanita yang ingin menemui Tuan."


"Saya sedang tidak ingin diganggu! Selain istri saya usir saja oke!"


"Baik Tuan, tapi wanita ini terus memaksa ingin bertemu dengan Tuan, katanya ada hal yang penting yang ingin disampaikan kepada Tuan."


Raymond berpikir sejenak. Ia memutar otaknya dan mulai menduga siapa wanita yang dimaksud.


"Memang hal penting apa? Saya tidak ingin membuang waktu saya."


"Katanya tentang Patricia, Tuan. Wanita ini adalah adiknya."


Raymond terhenyak, memori akan kematian neneknya kembali terlintas di dalam pikirannya.


"Walau Nenekku hanyalah orangtua angkat Daddy, tapi tetap saja aku tidak terima bila ada orang yang tega membunuhnya, terlebih karena jasa Nenek, Daddy bisa mendirikan perusahaan MANGO Corporate ini."


Tangan Raymond mengepal erat, ia menghentakkan tangannya sangat keras di atas meja, dengan telepon yang masih tersambung.


"Izinkan dia masuk!"


"Baik Tuan," ucap Resepsionis bergedik ngeri mendengar suara hentakkan meja, siapapun yang mendengarnya pasti langsung tahu bahwa saat ini Raymond sedang murka.


Sambungan telepon langsung diputus oleh Raymond. Ia meletakkan dengan kasar gagang telepon pada tempatnya. Rahangnya mengeras dengan sorot mata yang tajam, menatap lurus ke arah pintu.


"Berani sekali adik dari Patricia datang menemuiku, apa dia ingin mati!"


Raymond membuka laci mejanya dan mengambil sebuah pistol yang diberikan Alex kepada Elliot. Pistol yang ditinggal oleh Elliot di MANGO Corporate.


Raymond kini sudah menggenggam erat Desert Eagle pada tangannya.


"Aku akan beri wanita itu sebuah kejutan."


Raymond terkekeh licik, ia seperti menemukan mainan baru dan sudah lama sekali dirinya tidak pernah melakukan hal yang konyol seperti ini.


"Maafkan aku sweety, aku hanya ingin menyiksa adik dari wanita yang sudah membunuh Nenekku."


Tak lama ketukan pintu mulai terdengar, namun seperti penuh keraguan, karena suara ketukan itu terdengar memiliki interval waktu yang berangsur lama dari ketukan sebelumnya.


Raymond yang sudah beranjak dari kursi kebesarannya, terlihat sudah berdiri di depan pintu ruangan.


"Masuk!" titah Raymond dengan suara arogannya.


Pintu ruangan mulai terbuka dengan perlahan. Saat pintu sudah terbuka sepasang kaki jenjang mulai memasuki ruangan, dengan langkah yang ragu.


Raymond berdiri tepat di balik pintu, keberadaannya membuat Alexa tak dapat melihatnya. Alexa terus memandang lurus ke arah meja kantor, dengan kursi besar yang kosong tak tampak satu orang pun ada di sana.


"Kemana Tuan Raymond ya?" tanya Alexa sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.


Namun tiba-tiba saat sebuah pucuk pistol menyentuh pelipisnya, langkah Alexa terhenti. Wajahnya seketika memucat dengan dahi yang kini sudah berkeringat.


"Bergerak selangkah aku akan pecahkan isi kepalamu!" ancam Raymond dengan suara arogannya.

__ADS_1


Raymond mulai berpindah dari posisi samping kini sudah berada tepat dihadapan Alexa.


"Berani sekali kau datang dengan menyebut nama si pembunuh itu padaku."


"Maaf Tuan, aku hanya ingin meminta tanda tangan Tuan, untuk dapat membebaskan Kakakku. Setelah itu aku janji tidak akan pernah hadir lagi dalam kehidupan Tuan."


Raymond berdecih kesal mendengar permintaan Alexa. Permintaan yang baginya sangat bodoh karena mustahil bagi seorang Raymond Weil mau memaafkan kesalahan Patricia, terlebih kesalahan yang dilakukannya begitu besar, sampai menghilangkan nyawa seseorang yang sangat berarti untuk keluarga Weil.


"Kau itu wanita bodoh dengan kepercayaan diri yang sangat tinggi, mana mungkin aku akan memberikannya!"


Alexa tercekat kaget saat Raymond menarik pelatuk pada pistolnya. Wajah Alexa kini semakin pucat, rasa takutnya benar-benar membuat sekujur tubuhnya gemetar hebat.


"Aku mohon Tuan, bebaskan Kakakku, aku kasihan melihatnya di penjara, dia tampak kurus dan tersiksa sekali di sana, aku tahu ini adalah kesalahan besarnya, tapi aku rasa hukuman yang ia jalani selama hampir 9 bulan ini, sudah cukup memberikan pelajaran untuknya, Tuan. Aku mohon."


Alexa mengatupkan kedua tangannya dihadapan Raymond. Namun sepertinya usaha apapun tak akan mampu melunakkan hati Raymond, yang sudah dikuasai oleh dendam.


"Nyawa harus dibalas dengan nyawa, Kakakmu telah membunuh Nenekku dan sekarang aku akan membunuhmu. Katakan apa kalimat terakhirmu?"


Alexa menelan saliva-nya dengan kasar. Ia sama sekali tak membayangkan, jika hidupnya harus berakhir dramatis seperti ini.


"Aku hanya ingin kau membebaskan Kakakku, Tuan."


Raymond lagi-lagi berdecih kesal. Perkataan Alexa baginya hanya seperti sebuah bualan yang tak pantas didengar olehnya.


"Sudah cukup omong kosongmu!"


Alexa pasrah dengan hidupnya sekarang. Ia seketika menangis dan memejamkan kedua matanya, dengan pistol yang masih menempel lekat pada dahinya.


Tanpa ragu Raymond mulai menggerakkan jari telunjuknya untuk mulai menembak.


"Mati kau!"


Alexa terdiam sejenak, kedua kakinya terasa limbung membuatnya langsung terjatuh ke dasar lantai. Ia mulai mengerjapkan kedua matanya dan membukanya perlahan.


"Apa ini di surga? Tapi kenapa kau ikut bersamaku Tuan Raymond?"


"Bodoh, sekarang cepat kau pergi dari sini atau aku akan mengisi pistol ini dengan peluru dan akan mengulang untuk menembakmu."


Mendengar ancaman Raymond, Alexa langsung bangkit dan dalam sekejap pergi meninggalkan Raymond begitu saja, ia sejenak melupakan apa tujuannya datang ke MANGO Corporate, karena bagi Alexa saat ini, yang terpenting adalah keselamatan hidupnya terlebih dahulu.


Alexa kini sudah berada di dalam lift, napasnya begitu terengah-engah.


"Ya Tuhan untung saja aku dapat lolos dari maut itu, sepertinya akan sangat sulit untuk meyakinkan Tuan Raymond, jadi bagaimana dengan Kakak? Apa tidak ada jalan lain?"


Pintu lift terbuka setelah sampai pada tujuan yang Alexa tentukan. Alexa pun keluar dari lift, namun baru saja dirinya melangkahnya, tiba-tiba tubuhnya menabrak tubuh seorang wanita yang membuat keduanya mengasuh kesakitan.


Alexa menoleh menatap wajah wanita itu yang dilihatnya begitu cantik, namun dengan perut yang sudah begitu besar.


"Apa jangan-jangan dia Nona Alice ya? Istri dari Tuan Raymond," batin Alexa bertanya dalam hatinya.


Alexa lekas meminta maaf pada Alice, namun Greta yang berada di sampingnya terlihat menatap Alexa dengan sinis.


"Lain kali hati-hati Nona, mata dipakai ya kalau jalan!" geram Greta tidak terima, Alexa menabrak Alice.


"Kamu tidak apa-apa Alice?"


"Sudah tak apa Greta, aku juga minta maaf ya Nona, kenapa wajahmu terlihat pucat? Apa yang terjadi padamu?"


Gayung bersambut, begitulah perumpamaan yang tepat yang kini dipikirkan oleh Alexa. Tanpa keraguan Alexa akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa yang telah dilaluinya dan alasannya berada di MANGO Corporate ini.


"Nona Alice, bisakah aku berbicara denganmu terlebih dahulu, ini menyangkut tentang Tuan Raymond."


Perkataan Alexa membuat tengkuk Alice kembali merinding. Ia teringat semua kenangan buruk yang pernah dilakukan oleh Raymond, kenangan perselingkuhan yang terjadi di ruangan kantornya.


Alice menatap Alexa dan mulai meneliti dengan seksama penampilan Alexa yang terbilang cantik dan modis.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan sweetu kembali berselingkuh dengan wanita ini ya?" gumam Alice mulai dirasuki rasa cemburu yang membuat kepercayaan terhadap Raymond sejenak terlupakan.


Tak jauh berbeda dengan Alice, ternyata pikiran Greta pun sama. Greta langsung mengusap lengan Alice dengan perlahan untuk memberikan Alice sedikit ketenangan, agar Alice kuat mendengar cerita yang akan dikatakan oleh Alexa.


"Kenapa wajah mereka berdua berubah masam dan dingin seperti itu menatapku, jangan-jangan mereka berpikir aku telah berselingkuh dengan Tuan Raymond lagi," gumam Alexa menyimpulkan, setelah membaca raut wajah Greta dan Alice.


Alexa menyibakkan kedua tangannya dihadapan Alice dan Greta.


"Maaf Nona, ini bukan soal perselingkuhan atau hubungan istimewa lainnya, aku ke sini hanya ingin meminta tanda tangan dari salah satu anggota keluarga Weil untuk membebaskan Kakakku yang sedang di penjara, Nona."


Perkataan Alexa membuat napas Alice yang tercekat, kini sudah tampak kembali lega.


"Oh aku pikir," ucap Alice dengan wajah datarnya.


"Iya Nona, Anda jangan salah paham, tadi aku sudah sempat ke ruangan Tuan Raymond, tapi dia malah menodongku dengan sebuah pistol."


Greta terkekeh pelan sambil menahannya dengan sebelah tangan. Namun tatapan mata Alice yang tajam ke arahnya, membuatnya seketika kembali menampilkan wajah datarnya.


"Sekarang kita duduk dulu di sebelah sana, aku ingin mendengar ceritamu," ajak Alice sambil menuntun Alexa menuju sebuah ruangan yang memang itu sering dipergunakan untuk menunggu.


Setelah ketiganya duduk di sebuah sofa. Kini Alexa mulai menceritakan semuanya pada Alice.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Sebuah mobil mewah melaju dengan kecepatan sedang. Terlihat Richard bersama Nicholas ada di dalamnya.


"Dad, jadi selama ini Ibuku ada di sebuah rumah sakit jiwa dan kau membiarkannya di sana tanpa menjenguknya sama sekali."


Nicholas menatap sendu wajah Richard, ia merasa sangat bersalah atas perlakuannya terhadap Jennifer, seorang wanita cantik yang berasal dari keluarga sederhana. Awal rumah tangga keduanya berjalan harmonis, namun pertemuan Nicholas dengan Claire merubah segalanya, sampai akhirnya Nicholas mempersunting Claire, saat Richard berusia 1 tahun.


"Maafkan Daddy, ini memang terdengar bodoh, tapi sejak kamu menghilang Ibu semakin lama semakin hilang akal sehatnya, itulah sebabnya Daddy mengirimnya ke rumah sakit jiwa."


Richard tampak kesal dengan perkataan Nicholas, namun ia coba untuk mengerti bahwa semua ini hanyalah masa lalu yang harus dilupakannya, yang terpenting baginya saat ini, dirinya dapat kembali melihat dan bertemu dengan ibu kandungnya.


Mobil yang dikendarai oleh Richard sudah tiba di parkiran rumah sakit. Setelah selesai memarkirkan mobilnya. Richard dan Nicholas segera turun untuk menuju lobi rumah sakit.


Langkah Richard tampak begitu tergesa, sampai membuat Nicholas terengah-engah mengikutinya.


"Tenanglah Nak."


Richard menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Nicholas.


"Maafkan aku Dad, aku hanya rindu dengan Ibuku."


Nicholas meraih pundak Richard dan meremasnya dengan erat.


"Aku tahu Nak perasaanmu, sebentar lagi kita akan bertemu."


Kini keduanya mulai masuk ke dalam lobi dan menuju bagian resepsionis untuk bertanya.


"Permisi, saya ingin menjenguk pasien yang bernama Jennifer."


"Sebentar ya Tuan, saya check terlebih dahulu."


Resepsionis itu mulai mengutak-atik komputernya, untuk menemukan data dari nama pasien yang Nicholas maksud.


"Maaf Tuan, pasien atas nama Jennifer sudah dinyatakan sembuh dari kejiwaannya dan tidak lagi berada di rumah sakit ini, dari 6 bulan yang lalu."


Nicholas dan Richard terhenyak mendengar apa yang disampaikan oleh petugas Resepsionis.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Berikan komentar kalian ya?

__ADS_1


Terima kasih banyak sudah selalu setia terhadap TMCA sampai sejauh ini.


__ADS_2