Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Strategi Raymond


__ADS_3

Selamat Membaca!


Raymond tampak geram melihat pemandangan dari celah pintu kamarnya. Ia semakin bingung dengan apa yang harus dilakukannya untuk dapat menolong Richard.


"Jika aku diam saja, Richard akan mati, tapi bukannya bagus kalau dia mati berarti dia tidak akan lagi mengganggu Alice."


Terjadi pergulatan dalam batin Raymond saat ini. Namun saat ingat wajah Nicholas ia kembali tersadar bahwa dirinya dan Richard itu adalah satu darah.


"Tidak, aku tidak boleh mengabaikannya, aku harus menolongnya."


Raymond menggenggam sebuah pistol yang tadi diambilnya.


"Aku hanya pernah latihan menembak, itu pun tidak terlalu sering, sial setelah kejadian ini aku akan menyewa bodyguard untuk menjaga diriku dan Alice," gerutu Raymond terlihat geram dengan wajah yang semakin mengeras, sampai terdengar suara gertakan gigi.


Richard sudah semakin lemah, dengan kondisi darah yang terus keluar dari dua luka tembakannya.


Thomas tanpa ampun terus menginjak kepalanya, tidak berhenti sampai di situ, beberapa kali Thomas menendang tubuh Richard sampai berpindah posisi. Richard hanya bisa meringis dan mengerang pelan, menahan rasa sakitnya.


"Sial, apakah aku harus mati dengan cara seperti ini?" tanya Richard yang sudah tampak pasrah.


Thomas menatap tajam ke arah Richard, ia kembali menyodorkan pistol yang digenggamnya ke arah kepala Richard.


"Aku akan mengakhiri semua ini Richard, tenanglah dan sampaikan pada Zack, aku sudah membalaskan dendamnya," tutur Thomas dengan memicingkan senyum liciknya, walau saat menyebut nama Zack terlihat kesedihan di raut wajahnya.


Sesaat sebelum tembakan dilepaskan, suara dentuman bom terdengar beberapa kali di pelataran rumah. Thomas terhenyak mendengarnya, ia semakin meningkatkan kewaspadaannya untuk menyambut kedatangan tamu yang mengganggu kesenangannya.


"Sial, ada saja pengganggu, siapa mereka yang datang?"


Thomas bergegas menuju ke lantai dasar diikuti oleh ke 5 anak buah yang mengekor di belakangnya.


Sedangkan Greta sambil menggenggam pistol, melangkah mendekat ke arah Raymond.


"Tuan Raymond keluarlah, aku tidak akan membunuhmu, kau tahu aku sangat mencintaimu, semua aku lakukan hanya untuk mendapatkan hatimu, Tuan."


Raymond mencerna semua perkataan Greta, bukannya senang dengan perkataan romantis dari Greta, ia malah semakin jijik dan amarahnya terus merayap naik memenuhi isi kepalanya. Namun Raymond mempunyai sebuah ide untuk bisa mengelabui Greta.


Raymond melangkah keluar dari kamar sambil menodongkan pistolnya ke arah Greta.


"Kau memang licik Greta, tapi aku menyukai wanita licik sepertimu."


Greta tersipu malu mendengar ucapan Raymond. Namun sesaat dirinya sadar ini pasti bukanlah sebuah kejujuran.


"Kau mau menipuku Tuan Raymond?"

__ADS_1


Raymond berdecih keras.


"Aku tidak sepertimu, tapi aku ingin buat kesepakatan denganmu, bantu aku membawa Richard pergi dari rumah ini, bawalah dia ke rumah sakit, jika terlambat kondisinya akan semakin memburuk dan dia bisa mati."


Greta tercengang kaget.


"Kesepakatan apa?"


"Aku akan menikahimu jika kau mau menyelamatkan Kakakku, bukankah yang kau kejar itu adalah aku, jadi aku mohon jangan korbankan orang lain demi semua ambisimu."


Greta memutar otaknya terus berpikir. Wajahnya kini terlihat begitu serius mencerna setiap penawaran yang Raymond katakan padanya.


"Bagaimana aku tahu kau akan menepati janjimu?"


"Cih," Raymond berdecih kesal.


"Aku pria sejati tidak akan melanggar janjiku, tapi jika Richard mati, jangankan menikahimu, aku bahkan akan mengirim orang untuk membunuhmu."


Greta tercekat kaget dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Apa benar seperti itu? Tapi tidak ada salahnya aku mencoba, lagipula tujuanku selama ini adalah untuk mendapatkan Tuan Raymond, bukan membalaskan dendam kematian Zack seperti yang Thomas lakukan."


Wajah Greta sudah berubah tidak lagi ragu. Sorot mata tajam menatap Raymond dengan lekat.


"Kau tidak usah khawatir, ikuti dan bantu aku memapah Richard."


Keduanya akhirnya memapah tubuh Richard dan mulai melangkah ke sebuah sudut ruangan yang terletak di lantai atas, Raymond menggeser sebuah guci yang terletak di atas sebuah nakas dan dalam waktu beberapa detik, simsalabim, dinding di belakang nakas bergeser dan tampak sebuah anak tangga terpampang jelas dihadapan Greta yang membuatnya tercengang.


"Apa ini ciptaanmu sendiri Tuan?" tanya Greta berdecak kagum dengan apa yang dilihat bola matanya.


Raymond memicingkan senyumannya. Tanpa menjawab pertanyaan Greta, keduanya menuruni anak tangga sambil memapah tubuh Richard yang sudah lemah dan tak sadarkan diri.


"Ingat Greta, jaga Richard sampai dia sembuh seperti sedia kala, maka aku akan menepati janjiku, aku tidak bisa pergi dari sini, mobil itu hanya berkapasitas untuk dua orang, aku ciptakan tempat pelarian ini hanya untuk aku dan Daddy, tapi semakin ke sini aku semakin sadar bahwa semua pelayan yang bekerja di rumah ini adalah sesuatu yang harus ku lindungi juga harus ku hargai, jadi aku tidak bisa meninggalkan mereka."


Perkataan Raymond membuat Greta tercengang.


"Alice berhasil merubah sikap Tuan Raymond yang begitu arogan, menjadi manusia yang memiliki hati."


"Ayo cepat aku harus kembali kepada Alice, sebelum mereka kembali ke lantai atas."


Keduanya sudah meletakkan Richard di atas kursi depan, sebuah mobil yang hanya tersedia dua kursi saja, satu kursi untuk kemudi dan satu lagi untuk satu penumpang di sampingnya.


(Visual mobil diambil sewaktu siang hari, latar kejadian malam ya)

__ADS_1



Greta sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Aku akan tunggu janjimu Tuan Raymond, ingat itu."


Raymond tersenyum kecil menatap Greta sambil mengangguk.


"Sudah pergilah cepat, setelah masuk ke dalam turunan, kau akan keluar jalan di depan gerbang rumahku, berbeloklah ke kiri, lalu ke kanan dua kali, terakhir belok kiri, kau akan sampai di jalan raya kota London, dari situ hanya beberapa blok saja, akan ada rumah sakit dan bawa Richard ke sana, oke!"


Greta mengangguk lalu mulai menyalakan mobilnya.


"Tuan Raymond, mana turunan itu, aku hanya melihat rerumputan saja?" tanya Greta heran sambil terus mengedarkan pandangannya ke sekitar dan meneliti setiap jengkal yang dilihatnya, namun tetap saja ia tidak menemukan apa yang dimaksudkan Raymond.


Raymond menepuk dahinya keras.


"Sial, aku lupa."



Raymond melangkah mendekati sebuah patung kepala Romawi kuno, lalu memutar kepala patung tersebut.


Lagi dan lagi sesuatu terjadi dihadapan Greta yang membuatnya dua kali lebih tercengang dari sebelumnya. Rerumput luas yang dilihatnya seperti amblas dan membentuk sebuah jalanan menurun.


"Aku tak percaya dengan semua ciptaan ini, dia layak disebut Einstein," puji Greta yang masih terpukau.


Raymond melotot saat mendapati Greta hanya terdiam tanpa melajukan mobilnya.


"Cepat Greta, Richard tidak punya waktu banyak!"


Greta menggeleng dari kekagumannya. Setelah ia tersadar, sejenak tatapannya menatap wajah Raymond dan tersenyum manis, lalu ia mulai melajukan mobilnya menuju sebuah turunan rahasia.


Raymond menatap lega kepergian Greta.


"Baguslah, aku sudah berhasil menyelamatkan Richard, sekarang tinggal menyelamatkan yang lainnya, aku harus bergerak cepat, sebelum Thomas menyadari suara ledakan itu hanya sebuah tipuan," gumam Raymond sambil kembali memutar kepala patung Romawi untuk menutup jalan rahasia agar tidak diketahui oleh Thomas dan anak buahnya.


🌸🌸🌸


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya. Tunggu up selanjutnya nanti malam.


Mampir ke karya baruku ya.

__ADS_1



__ADS_2