
Selamat membaca!
Raymond melangkah mondar-mandir di depan ruang operasi. Hatinya entah mengapa terasa begitu cemas, hingga membuatnya tak bisa bila hanya duduk nyaman di kursi yang didudukinya. Sama seperti Raymond, walau terlihat tenang, Nicholas sesekali memejamkan kedua matanya, untuk berdoa agar Alice dan kedua cucunya dapat melewati proses persalinannya dengan selamat.
Penantian yang penuh kegelisahan akhirnya menemukan muaranya, tak berapa lama suara tangisan bayi mulai terdengar keras dari dalam ruang operasi, suara tangisan yang saling bersahutan.
Raymond mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya, sambil mengucapkan rasa syukur pada Tuhan.
"Terima kasih Tuhan, kedua anakku sudah lahir dengan selamat."
Nicholas tampak sudah kembali tersenyum, ia pun bangkit dari posisi duduknya dan mendekat ke arah Raymond.
Setelah berada dekat dengan Raymond, Nicholas menghamburkan sebuah pelukan, sambil menepuk-nepuk punggung Raymond.
"Selamat ya Son, kamu sekarang sudah menjadi seorang Ayah."
Raymond membalas pelukan Nicholas dengan erat, hingga Nicholas merasa sesak karena kerasnya pelukan Raymond.
"Ray, apakah setelah kau mendapatkan dua orang anak, kau ingin membunuh Daddy-mu? Pelukanmu terlalu keras, Ray."
Nicholas tercekat begitu sesak dengan wajah yang memerah. Raymond yang menyadarinya dengan cepat melepaskan pelukan pada Nicholas, hingga ia bisa kembali bernapas lega.
"Maaf Dad, aku terlalu excited, aku sangat bahagia Dad."
Perkataan Raymond dapat dicerna dengan baik oleh Nicholas, perasaan yang sama, seperti yang dirasakannya, saat Richard terlahir ke dunia.
Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang tampak muram. Raymond menghampirinya dengan tergesa. Kini keduanya sudah saling berhadapan.
"Dok, jadi gimana keadaan istri dan kedua anak saya?"
"Sebelumnya selamat Tuan, atas kelahiran sepasang anak kembarnya, keduanya lahir dengan sehat dan sempurna, tapi," ucap Dokter menjeda kalimat selanjutnya.
"Tapi apa Dok?" tanya Raymond dengan mengernyitkan dahinya, raut wajahnya kini semakin cemas.
"Begini Tuan, sebelumnya Tuan harus tenang, karena hal seperti ini biasa terjadi, hanya saja yang jadi permasalahan di sini, yang saya ketahui Nona Alice ternyata mempunyai golongan darah yang sangat langka, bahkan di seluruh dunia, golongan darah jenis golden blood atau Rhnull Blood hanya dimiliki oleh kurang dari 100 orang, kita harus dapat transfusi darah dari golongan yang sama dengan Nona Alice, karena beliau mengalami pendarahan yang hebat, Tuan. Apakah keluarga Nona Alice bisa dihubungi untuk datang ke sini, untuk memberikan transfusi darahnya?"
Kedua kaki Raymond seperti rapuh mendengar semua yang dikatakan oleh Dokter.
"Mereka sedang menuju ke sini, Dokter? Hanya saja mereka itu bukanlah orangtua kandung dari istri saya."
Dokter semakin bingung setelah mendengar pemaparan yang Raymond sampaikan.
"Oke kalau begitu, saya juga akan bantu untuk mencarikan ke semua rumah sakit di seluruh kota London, Anda juga tolong berusaha karena kita tidak punya banyak waktu."
Dokter pun melangkah melewati Raymond dan kembali ke dalam ruang operasi.
__ADS_1
"Ray, jangan hanya melamun saja, segera hubungi Albert! Perintahkan untuk mencari ada berapa orang di kota ini yang memiliki golongan darah yang sama dengan Alice," ucap Nicholas menyadarkan lamunan Raymond.
"Alice kamu harus bertahan demi kedua anak kita."
Raymond seketika mengambil ponsel di dalam sakunya dan segera menghubungi Albert. Tak butuh waktu lama, Albert langsung mengangkat panggilan telepon dari Raymond.
"Halo Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Maafkan aku Albert, mengganggu waktu bulan madumu, kondisinya sangat genting. Tolong carikan golongan darah golden blood atau Rhnull blood. Alice saat ini sedang kekurangan darah, stok darah di rumah sakit ini tidak ada yang sesuai dengan jenis golongan darah Alice, aku minta padamu, tolong cari tahu siapa saja di kota ini yang memiliki golongan darah sama seperti Alice!"
"Baik Tuan."
Albert tercekat kaget mendengar semua yang telah Raymond sampaikan padanya. Tanpa membuang waktu ia langsung mengenakan pakaiannya dan meninggalkan Risfa yang saat ini masih terkulai lemah di atas ranjang dengan tubuh yang ditutupi oleh selimut. Albert keluar dari kamarnya tanpa membangunkan Risfa terlebih dahulu. Ia menuju mobil yang terletak di parkiran rumahnya dan dengan cepat melajukannya.
"Kasihan Nona Alice, aku harus cepat."
Mobil melaju membelah lalu lintas yang terlihat renggang di kota London. Saat ini Albert sedang menuju lembaga pusat pendonoran darah di kota London, yang kebetulan tidaklah terlalu jauh dari rumahnya.
πππ
Raymond tak hanya tinggal diam menunggu kabar dari Albert, ia pun memutar otaknya dengan sangat keras, sampai akhirnya Raymond teringat akan sosok Elliot dan langsung menghubunginya. Namun beberapa kali panggilan teleponnya tak mendapat jawaban dari Elliot, bahkan berakhir dengan voice mail.
"Sial, kemana Elliot di saat segenting seperti ini."
Raymond menghempaskan tubuhnya dengan keras di atas sebuah kursi, ia tampak mulai memijat dahinya yang terasa pening, sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Nicholas yang melihatnya, menjadi sangat iba dengan keadaan Raymond yang terlihat begitu down seperti sekarang ini.
Saat pikiran Raymond semakin kalut, dalam menemukan jalan keluar dari masalahnya. Tiba-tiba dua orang suster membawa dua bayi keluar dari ruang operasi. Raymond bangkit dengan perlahan, untuk mendekat ke arah keduanya. Raut yang sendu tampak begitu jelas terlihat dari wajah Raymond, namun ketika kedua bola matanya menangkap dua objek bayi yang saat ini sedang berada dalam gendongan suster, Raymond mulai tersenyum.
Ia menghentikan langkah suster itu, untuk sejenak melihat lebih dekat kedua anaknya.
"Suster, ini kedua anakku ya."
"Iya Tuan Raymond, selamat ya, satu perempuan dan satu lagi laki-laki."
Nicholas pun mendekat untuk melihat kedua cucunya, wajah yang lucu dan polos terlihat begitu menggemaskan.
"Yang laki-laki persis sekali dengan Alice, lihat matanya, dagu dan bibirnya dan yang perempuan mirip denganmu Ray," ucap Nicholas mengamati kedua cucunya.
Raymond kini tak sanggup lagi menahan bulir air mata yang berhasil lolos dari mata arogannya, ia pun tak kuat bila harus membayangkan kehidupan kedua anaknya, jika tanpa kehadiran Alice ditengah-tengah mereka.
Raymond memerintahkan kedua suster itu untuk pergi. Namun Nicholas masih terus menatap kedua bayi itu yang semakin menjauhi mereka.
Nicholas menggenggam erat pundak Raymond, untuk memberikan kekuatan padanya, agar dapat melalui semua ini dengan kuat.
"Kamu adalah seorang Ayah sekarang, jadi kamu harus kuat, hapus air matamu dan tegaplah, kita hadapi semua ini bersama."
__ADS_1
Perkataan Nicholas membuat Raymond sedikit lebih tenang, walau tak dapat dipungkiri hatinya masih rapuh dan penuh ketakutan akan kehilangan sosok Alice, wanita yang sangat dicintainya.
"Sweety, kau sudah berjanji padaku untuk tua bersama dan melihat kedua anak kita besar, jadi aku mohon bertahanlah, aku mencintaimu sweety, aku tidak bisa membayangkan kehidupan yang aku lalui bila tak ada kamu di sampingku," gumam Raymond sambil menyeka air mata dengan kedua tangannya.
Nicholas tersenyum menatap Raymond.
"Itu baru anakku," pujinya sambil menepuk pundak Raymond.
Tak berapa lama, suara ponsel berdering keras. Raymond langsung mengambil ponsel yang saat ini tergeletak di atas kursi yang tadi didudukinya.
"Iya Albert, bagaimana?"
"Tuan, sepertinya kita akan sangat sulit untuk mendapatkan pendonor darah untuk Nona Alice, karena dari data yang aku dapat, di kota London hanya ada 5 orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan Nona Alice."
"Kenapa susah? Berikan apapun yang mereka inginkan? Aku tidak peduli berapapun yang mereka minta, yang terpenting Alice bisa diselamatkan, cepat Albert kita tidak punya banyak waktu."
"Tapi Tuan, kelima orang itu dua diantaranya sudah meninggal, hanya tersisa 3 orang saja."
"Siapa ketiga orang itu Albert?"
Albert menjeda jawaban yang akan diberikan kepada Raymond, dari tempatnya berada ia terlihat terus menatap selembar kertas, yang tertera nama pemilik golongan darah yang sama dengan Alice.
"Albert!" panggil Raymond sudah tidak sabar dengan jawaban Albert.
"Brisca Alvio, Alexa Key dan Nick Carter."
Raymond menautkan kedua alisnya. Ia terhenyak kaget saat nama pertama yang disebutkan oleh Albert adalah mantan sekretaris, sekaligus pernah dengan begitu saja ia campakkan setelah menikmati tubuhnya di sebuah hotel dekat London Eye.
"Tuan kalau menurutku, anggap saja Brisca akan menolak penawaran yang kita berikan, karena dendamnya terhadap Tuan Raymond dan Elliot, tapi dari Alexa Key dan Nick Carter kemungkinan kita masih bisa untuk membuat mereka mau menolong kita, terlebih wanita yang bernama Alexa itu pernah datang ke MANGO Corporate, Tuan, dia adalah adik dari Patricia."
Raymond terkesiap begitu kaget, ia tak menyangka bahwa penolakan akan tawaran Alexa malah membuat posisinya sekarang ini semakin sulit.
"Berikan alamat keduanya kita akan ke rumah mereka!"
"Baik Tuan."
Setelah menutup sambungan teleponnya, Raymond izin kepada Nicholas, untuk pergi.
"Hati-hati Son! Ingat jangan gunakan emosi, tapi gunakan otakmu," ucap Nicholas sambil menunjuk pelipisnya dan tersenyum kepada Raymond.
Raymond pun pergi dengan tergesa-gesa.
"Tunggu aku Alice, bertahanlah untukku dan kedua anak kita."
πΈπΈπΈ
__ADS_1
Bersambung βοΈ