
Sebelum membaca biasakan tekan like sebagai tanda dukunganmu ya, terima kasih.
Selamat membaca!
πΉπΉπΉ
1 jam sebelum keberangkatan ke Australia.
Raymond memasuki lift pribadinya dengan susah payah, butuh kekuatan besar untuk menopang raganya, terlebih efek obat yang diberikan Greta masih melemaskan sekujur tubuhnya.
Albert melihat Raymond yang kondisinya sangat payah dengan langkah tertatih. Ia langsung menghampirinya dan membopoh Raymond menuju mobil mewahnya.
"Tuan apa kamu baik-baik saja, apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Albert tampak cemas melihat kondisi Raymond saat ini.
"Tidak kita ke bandara, Albert," ucap Raymond parau yang wajahnya terlihat begitu letih dan pucat.
Albert mengangguk mengiyakan perintah Raymond, ia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Semoga aku masih sempat bertemu dengan Alice.
Raymond mengambil smartphonenya dan mulai mengetik sesuatu.
πππ
Di dalam mobil, Alice termenung memandang ke arah jalan, dengan menempelkan dahinya pada kaca mobil.
"Alice, mau sampai kapan kamu bersedih seperti itu?" tanya Elliot memecahkan lamunan Alice.
Namun Alice tak menoleh, ia masih terus menatap dengan tatapan kosong ke arah jalan.
"Sampai hatiku bisa melupakan rasa sakit ini," ucap Alice lirih.
Elliot menghela napasnya kasar, mendengar jawaban Alice, ia coba mengerti bahwa mungkin kesunyian lebih dibutuhkan oleh Alice yang saat ini terlihat begitu kalut.
30 menit kemudian.
Mobil Elliot sudah terparkir di tempat khusus bandara, mobil yang akan ikut dibawanya ke Australia.
Alice dan Elliot keluar dari mobil dan mulai melangkah memasuki bandara.
"Penerbangan setengah jam lagi, sebaiknya kita menunggu di sana sepertinya lebih nyaman," tutur Elliot sambil menunjuk tempat yang dilihatnya.
Alice mengangguk mengiyakan perkataan Elliot, ia pun mulai mengekor di belakangnya.
Alice duduk di salah satu kursi yang letaknya dekat dengan dinding kaca yang mengarahkan pandangannya ke arah landasan. Alice terpaku kembali termenung, lagi-lagi dengan menyandarkan dahinya pada dinding kaca.
__ADS_1
Elliot menatap dengan cemas, rasa iba begitu terasa di dalam hatinya. Ia coba untuk tegar, mengusir kesedihan yang memerahkan matanya, seolah mengundang buliran bening untuk datang membasahi kelopak matanya.
Elliot mengesah kasar, mencoba mencairkan suasana yang begitu kalut untuk Alice.
"Apa kamu lapar? Aku akan membawakanmu makanan dan minuman, tetaplah di sini!"
Elliot meletakkan kedua koper lalu mulai melangkah menuju tempat pemesanan.
Tinggallah Alice seorang diri, bersama kesedihan dan rasa sakit di hatinya, yang tak dapat dipungkiri itu membuat aura di wajah Alice meredup, tak ada lagi sinar kebahagiaan seperti biasanya, keceriaan dari senyumannya semua ikut lenyap, yang tersisa hanyalah raut wajahnya yang sendu.
"Tuan Raymond andai kamu pria yang baik, mungkin pernikahan kita tidak akan berakhir semenyedihkan ini," gumam Alice sambil menyeka air mata yang berhasil lolos dari sudut matanya.
Waktu semakin berlalu, mendekati keberangkatan Alice ke Australia.
Mobil Raymond sudah terlihat sampai di parkiran bandara. Namun sangat tidak mungkin dengan kondisi seperti ini dirinya keluar seorang diri untuk mencari Alice.
Albert membopoh tubuh Raymond untuk membantunya melangkah, perlahan mereka memasuki area bandara. Walau ada beberapa petugas keamanan yang datang menghampiri keduanya, namun saat petugas itu melihat wajah Raymond, mereka langsung mengenali, yang membuat para petugas keamanan menjadi segan terhadapnya dan ikut mencari keberadaan Alice.
Memang begitulah Raymond di London, pria dengan karisma mempesona, yang nama besarnya begitu dipandang di penjuru kota London, selain karena karirnya yang gemilang juga penemuan-penemuan hebatnya di bidang teknologi, membuat nama Raymond Weil begitu harum. Jebolan S3 di Oxford University London ini memang cerdas dalam ilmu, tapi itu bukan jaminan untuknya akan berhasil dalam percintaan juga pernikahan yang saat ini diambang kehancuran.
πππ
Alice dimana kamu, apa aku terlambat?
Raymond semakin putus asa, ia terus menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan Alice, namun tetap saja bola matanya belum berhasil menangkap objek yang ingin dilihatnya.
"Aku mohon Tuhan pertemukan aku dengan Alice, aku janji akan merubah semua kelakuan burukku," gumamnya terus berharap.
Aku sudah tidak kuat lagi, ya ampun.
Tapi kasihan Tuan Raymond, ia sampai memaksakan dirinya seperti ini.
Aku harus kuat untuk membantunya.
Albert menahan rasa lelahnya, ia terus melangkah mengikuti arahan Raymond untuk terus mencari keberadaan Alice, dengan sisa tenaganya.
Dari kejauhan Raymond melihat seorang wanita yang potongan rambutnya mirip dengan Alice, memakai blaser berwarna putih sama seperti yang Alice kenakan, namun jaraknya terlalu jauh dari tempatnya berada. Raymond akhirnya memerintahkan Albert untuk menghampiri wanita itu dan meninggalkannya.
"Tapi Tuan, nanti aku takut, Tuan tidak akan kuat berdiri dan jatuh," ucap Albert cemas.
"Sudah tidak apa-apa, cepat Albert."
Albert tanpa ragu melepas tangan Raymond yang melingkar dipundaknya, ia berlari menghampiri wanita itu, namun baru saja beberapa langkah Albert pergi, Raymond terjatuh, tubuhnya terjerambab menyentuh dasar lantai. Sejenak wajahnya tertunduk terbentur kerasnya lantai, lalu dengan cepat ia kembali menatap Albert yang semakin jauh meninggalkannya.
"Nona Alice," ucap Albert menyentuh pundak wanita itu.
Saat wanita itu menoleh ke arah Albert, ia begitu kecewa karena wanita itu ternyata bukanlah Alice seperti yang diharapkannya.
"Maaf Nona, saya pikir Anda wanita yang sedang saya cari," tutur Albert merasa tak enak, dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Albert kembali mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Raymond yang sudah tertutup oleh kerumunan orang yang ramai lalu lalang.
Seorang petugas akhirnya membantu Raymond untuk bangkit, petugas yang telah kembali dari ruang informasi untuk mencari tahu keberadaan Alice, petugas itu pun akhirnya memberitahu hasil pencariannya.
"Maaf Tuan Raymond, penerbangan ke Australia baru saja lepas landas," ucap seorang petugas dengan memapah Raymond, menuju kursi yang terletak tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.
Wajah Raymond semakin muram mendengarnya. Perkataan petugas itu menghancurkan harapannya, kini ia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk dapat bertemu dengan Alice.
Raymond coba menahan kesedihan yang begitu memilukan hatinya. Seorang CEO sepertinya pantang bila menangis di depan orang lain, apalagi ini terbilang tempat umum yang pasti banyak orang mengenalinya.
Namun mata yang memerah mempertegas rasa sakitnya, tak dapat dipungkiri bahwa saat ini ia begitu hancur, seumur hidupnya berkali-kali ia sudah merasakan kebahagiaan, namun hanya satu kali, di malam ini seorang Raymond Weil merasa sangat terpuruk.
Aku sudah berusaha mengejarmu Alice.
Mungkin ini takdirnya.
Akulah orang bodoh itu, yang menghancurkan kebahagiaannya sendiri.
Raymond tertunduk lesu, ia tak mampu menopang wajahnya untuk tegar. Tak lama Albert menghampirinya, ia memberitahu tentang wanita yang ditemuinya ternyata bukanlah Alice.
Aku jadi kasihan dengan Tuan Raymond.
Albert ikut merasakan kesedihan Raymond, namun tak banyak yang bisa ia lakukan, Albert terus menatap Raymond dengan wajah sedihnya.
Maafkan aku Tuan Raymond, aku tak bisa menemukan Nona Alice.
Albert membantu petugas untuk membopoh tubuh Raymond kembali ke mobil mewahnya, dengan membawa harapan yang sudah menjadi debu.
Selamat tinggal Alice, jaga dirimu di sana.
Raymond mendesah kasar sambil menatap ke dinding kaca, yang dapat tembus melihat sebuah pesawat lepas landas.
Di dalam mobil Raymond hanya terdiam, termenung, seperti larut dalam kesedihannya. Wajah arogannya tak lagi terlihat.
"Kita pulang Albert, oh ya, terima kasih karena telah membantuku."
Albert mendelik kaget hingga membuatnya sukar untuk menelan salivanya sendiri. Ini pertama kali selama pengabdiannya, seorang Raymond Weil yang selalu memberi hukuman padanya, mengucapkan terima kasih dan menghargai apa yang sudah dilakukannya.
"Sudah tugasku Tuan Raymond, aku minta maaf tidak bisa menemukan Nona Alice," ucap Albert dengan wajah sedihnya.
"Tidak apa-apa, semua ini kesalahanku, aku yang bodoh, egois dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsuku."
Albert hanya terdiam mendengar Raymond terus merutuki kesalahannya.
Raymond mengesah pelan, ia menatap layar ponselnya dengan tatapan yang sendu.
Mobil melaju dengan pelan mengantri dalam kemacetan lalu lintas di kota London yang terlihat padat.
πΈπΈπΈ
__ADS_1
BersambungβοΈ
Ikuti terus episode selanjutnya ya, terima kasih sudah mau menunggu update.