Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Menarik


__ADS_3

Berikan like setiap part-nya ya, jangan lupa.


Selamat membaca!



Nick membawa tubuh Alexa dengan susah payah keluar dari mobil, ia kemudian memerintahkan kepada supirnya untuk kembali ke rumah dan mengabarkan pada orangtuanya bahwa ia akan pulang esok pagi.


"Wanita ini menyusahkanku saja, aku tidak mungkin membawa wanita ini ke rumahku, apa kata orangtuaku nanti, hanya hotel ini yang terdekat," gerutu Nick dalam hatinya sambil terus memapah tubuh Alexa yang sudah tak sadarkan diri.


Setelah susah payah bahkan sampai membuat dahinya berkeringat, keduanya kini sudah berada di depan kamar. Nick melihat nomor yang tertera pada pintu kamar.


"Ini no 16."


Nick langsung membuka pintu kamar itu dengan menggunakan sebelah tangannya yang terus menopang tubuh Alexa sekuat tenaganya. Ia kemudian membawa Alexa masuk ke dalam kamar, dengan langkah yang berat karena beban tubuh Alex semakin menguras tenaganya, Nick lalu meletakkan tubuh Alexa ke sebuah ranjang besar.


Nick terus menatap wajah wanita yang saat ini masih dalam pandangan matanya.


"Wanita ini cantik juga, untung saja dia bertemu denganku, kalau tidak mungkin kedua pria tadi itu sudah menikmati tubuhnya secara gratis," batin Nick sambil melangkah menuju ke sebuah sofa yang letaknya berada di seberang ranjang.


Nick sudah menyamankan tubuh lelahnya di atas sofa, namun tatapan matanya entah mengapa selalu mengarah pada sosok wanita yang kini semakin terlelap dengan selimut menutupi tubuhnya.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Alice dan Raymond sudah selesai dengan makan malamnya. Kini mereka sudah terlihat berada di kamar yang sudah disiapkan oleh sang manager, kamar dengan nomor 19 yang letaknya bersebrangan dengan kamar nomor 16 tempat Nick dan Alexa menginap.


Raymond sudah terlihat menyandarkan kepalanya pada pangkuan Alice. Semenjak kembali memang Raymond berubah manja, ia selalu ingin berada didekat Alice dan tidak ingin berpisah sedetikpun.


Sikap manja Raymond membuat Alice selalu geli, bagaimana tidak, Raymond sudah tua dan usianya sudah kepala 3 tapi sikapnya saat ini mengalahkan sikap manja anak kecil.


"Bagaimana hari ini apa kau bahagia?" tanya Raymond sambil mengusap dengan lembut wajah Alice dengan telapak tangannya.


"Aku sangat bahagia sweetu," ucap Alice dengan senyum merekah di wajahnya.


Alice menundukkan kepalanya, tanpa sebuah aba-aba langsung melabuhkan bibirnya tepat pada bibir Raymond. Keduanya saling memagut mesra. Kini Alice sudah tak lagi menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang, ia juga sudah tertidur di samping Raymond, dengan kedua bibir mereka yang masih saling memagut, semakin memburu nafsu keduanya.


Raymond mulai melucuti pakaian Alice satu persatu, hingga tak ada apapun yang menutupi tubuhnya lagi, setelah selesai ia pun dengan cekatan melepas semua pakaian yang dikenakannya. Raymond mendekap tubuh Alice dari posisi belakang, ia kemudian menempelkan bibirnya pada tengkuk leher Alice dan memberikan kecupan berulang kali. Perut Alice yang sangat besar, membuat Raymond menyukai posisi ini, karena ia bisa mengusap perut Alice untuk menyapa kedua anaknya yang masih berada di dalam kandungan.


"Kamu masih mencintaiku walau aku berubah gendut seperti ini kan, sweetu?" tanya Alice dengan bibir yang sudah mengerucut.


"Siapa bilang kamu gendut? Kamu ini tambah seksi setelah hamil, semua ini membuatku ingin selalu memelukmu seperti sekarang ini," jawab Raymond sambil menggerayangi tubuh istrinya.


Alice terkekeh karena merasa geli dengan tangan Raymond yang iseng.


"Sweetu, tapi aku mengantuk, sekarang kita tidur yuk!" ujar Alice dengan ekspresi memohon.

__ADS_1


"Tapi aku ingin melakukan sesuatu dulu sebelum kita tidur," kata Raymond yang membuat Alice menautkan kedua alisnya karena penasaran.


"Apa itu?"


"Aku harus menengok kedua anakku dulu, kan Dokter sudah menganjurkan kita untuk sering berhubungan, karena saat ini kamu sudah memasuki usia kandungan yang terbilang cukup untuk melahirkan."


Alice mengerutkan keningnya, ia sudah dapat membaca maksud dari perkataan suaminya itu. Perkataan yang membuat Alice sebal, karena selalu saja ujung dari perkataan suaminya itu adalah ranjang dan ranjang. Alice menggerakkan tangannya dan mencubit perut Raymond lalu memelintirnya hingga Raymond mengaduh kesakitan.


"Ah! Sakit sweety."


"Habis kamu selalu saja mencari alasan, pakai bilang anjuran Dokter segala lagi," gerutu Alice sebal.


Raymond tergelitik sampai terkekeh lucu mendengar perkataan Alice.


"Ya sudah kalau kamu mau tidur, hayo kita tidur, tapi biar saja begini, kan ada selimut, aku ingin kulitmu menyatu dengan kulitku saat tertidur."


Alice tersenyum menatap wajah Raymond dengan lekat, ia kembali menyamankan posisinya dalam dekapan tubuh Raymond.


"Terima kasih ya sweetu, untuk semua yang kamu berikan hari ini."


"Itu sudah kewajibanku sebagai suamimu, sudah sekarang ayo kita tidur, biar cepat pagi, jadi kita bisa olahraga ranjang," ucap Raymond tersenyum lebar.


Alice mengesah kasar. Namun ia kembali tersenyum, mengerti akan sikap suaminya. Bagi Alice sungguh indah menjalani kehidupan saat ini, dengan suami manja yang selalu ingin bersamanya, bahkan selama dua Minggu sejak kembali pulang, keduanya selalu menghabiskan waktu hanya di dalam kamar dan kegiatan yang mereka lakukan tidak jauh dari urusan ranjang dan ranjang.


Kini kedua mata Alice mulai terpejam. Raymond menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang saat ini tanpa sehelai benang pun. Raymond mendekap tubuh Alice, sambil mengusap pucuk rambut istrinya dengan lembut.


Raymond ikut menyusul Alice untuk ikut memejamkan mata. Di dalam selimut tubuh mereka saling menyatu bersama cinta yang bersemayam indah di dalam hati keduanya. Cinta yang kini sudah lebih kuat dari sebelumnya, cinta yang tak akan mudah goyah oleh kesalahpahaman atau kehadiran orang ketiga, baik Alice dan Raymond juga sudah merasakan arti sebuah kehilangan, keduanya sama-sama tersiksa ketika jarak memisahkan raga mereka untuk bersama.


πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sinar matahari menyelinap masuk melalui jendela kamar hotel. Di dalam kamar, Alexa masih terpejam lelap tanpa bergeming sedikitpun. Namun saat dering ponselnya berbunyi keras, Alexa mulai mengerjapkan kedua matanya, sambil mengusap dengan jemari lentiknya dan membiarkan ponsel yang berdering tanpa mengangkatnya.


Alex membuka matanya dengan perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan dan menatap dengan wajah bingung.


"Ini dimana? Kenapa aku bisa ada di sini?"


Kedua bola mata Alexa terhenti di sebuah sofa. Sosok laki-laki tampak tertidur di atasnya dengan tubuh yang ditutupi oleh selimut.


"Siapa dia? Apa dia yang membawaku ke sini?"


Alexa perlahan bangkit dan mulai beranjak untuk mendekat ke arah pria yang dilihatnya. Setelah cukup dekat, ia mulai melihat wajah pria itu, yang seketika bergeming dari tidurnya, seolah merasakan kehadiran Alexa didekatnya.


"Siapa pria ini?" tanya Alexa sambil menautkan kedua alisnya.


Nick mulai membuka kedua matanya dengan perlahan, namun ia sangat terkejut saat wajah Alexa sudah berada di depan matanya, ia pun bangkit dengan cepat dan langsung duduk di atas sofa. Sementara Alexa dengan cepat beringsut beberapa langkah menjauhi Nick.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya Alexa dengan memipihkan kedua matanya.


"Aku yang membawamu ke hotel ini."


Alexa terlihat geram, amarah dalam dirinya mulai merayap naik mendengar perkataan Nick.


"Jadi kamu membawa aku ke sini karena melihat aku mabuk, dasar laki-laki kurang ajar!" Alexa mendekati tubuh Nick dan langsung memukulnya dengan keras.


Nick mengaduh kesakitan dengan pukulan Alexa.


"Aku membawamu ke sini karena kamu sudah terlalu mabuk dan saat di bar aku menyelamatkanmu dari dua orang laki-laki yang ingin membawamu, kalau kau tidak percaya tanyalah pada bartender di bar, dia saksinya." Nick terus menjelaskan kepada Alexa, hingga membuatnya berhenti memukulnya dan seketika wajah Alexa berubah menjadi tak enak dengan apa yang telah dilakukannya kepada Nick.


Alexa menatap wajah Nick dengan tatapan bersalahnya.


"Aku minta maaf ya."


"Iya gak apa-apa, wajar saja kamu marah. Aku juga kalau jadi kamu pasti marah," jawab Nick dengan mengulas senyum di wajah tampannya.


"Ternyata pria ini baik, dia tidak memanfaatkan aku yang sedang tak sadarkan diri. Buktinya aja dia memilih tidur di sofa ini," gumam Alexa menilai tentang Nick.


Lamunan Alexa buyar ketika suara jentikan dari jemari Nick terdengar olehnya. Alexa langsung tersadar dan menatap kembali ke arah Nick dengan tersenyum.


"Terima kasih ya, kamu sudah menolongku."


"Tidak masalah. Maaf karena telah membawamu ke hotel ini, karena setelah menyelamatkanmu aku pikir hotel ini adalah tempat yang terbaik untukmu, karena aku tidak tahu dimana kamu tinggal," ucap Nick menjelaskan apa yang dipikirkannya semalam.


Alexa semakin tersenyum, mendengar perkataan dari Nick, tanpa malu-malu ia memeluk tubuh Nick dengan erat, kemudian Alexa kembali mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan kehormatannya. Pelukan dari Alexa membuat Nick terlihat canggung, wajahnya bahkan sudah memerah karena malu.


"Sudah, sudah, itu hal biasa, tidak perlu diperbesar," ucap Nick sambil melepas pelukan Alexa.


"Maaf ya aku hanya bahagia saja, karena kehormatan adalah mahkota yang sangat berarti untukku, apalah artinya seorang wanita tanpa sebuah kehormatan dan kamu sudah menyelamatkannya."


Nick tercengang mendengar semua ucapan yang dikatakan oleh Alexa.


"Jaman sekarang masih ada seorang gadis yang bisa bicara seperti ini ya, apalagi ini kota besar, aku kagum dengan wanita ini, sepertinya dia wanita yang menarik," gumam Nick menilai Alexa dari ucapannya.


🏡️🏡️🏡️


Bersambung✍️


Berikan komentar kalian ya.


Terima kasih.


Kisah Nick dan Alexa ada di ****** ya gratis tanpa koin.

__ADS_1



__ADS_2