Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
PHSC 2 : Akhir Pertarungan


__ADS_3

Selamat membaca!


Richard dan Garry kembali terlibat baku hantam setelah sempat saling debat. Pukulan demi pukulan terus dilancarkan keduanya. Saling tepis dan saling memukul menjadi pemandangan dari pertarungan keduanya yang masih tampak seimbang sejauh ini. Sampai akhirnya, sebuah tendangan dari Richard berhasil mengenai Garry hingga pria itu terpental beberapa meter ke belakang. Garry pun tak membuang waktu, dia kembali bangkit sambil memegangi bagian dadanya yang masih terasa sakit dan membalas serangan Richard secara membabi buta.


"Pria ini benar-benar kuat. Sepertinya aku harus segera mengakhirinya sebelum dia berhasil mengalahkanku," batin Richard yang sudah bersiap dengan rencananya.


Pertarungan mereka kini semakin mendekati jurang yang jauh dari posisi Rui terduduk lemah akibat serangan Richard saat ia berusaha membunuh pria itu. "Ayo bunuh dia, Garry!" teriak Rui masih terus menyaksikan pertarungan antara Garry dan juga Richard. Sampai suara mobil mulai terdengar mendekat dari kejauhan. "Sial, mobil itu sudah kembali. Baiklah, aku harus segera membantu Garry." Rui mulai melihat ke arah pistol yang tadi sempat dibuang jauh oleh Garry dan beruntung arah lemparannya malah mendekati posisinya. Ya, walau ia masih harus berjalan beberapa langkah untuk bisa mengambil pistol itu. Pistol yang bisa membunuh Richard dan mengakhiri pertarungan dengan Garry, putranya.


Kembali pada Richard dan Garry yang terlihat sedang mengatur napasnya yang terdengar sangat kelelahan. Namun, mereka masih saling melancarkan serangan demi serangan yang membuat keduanya mulai kehabisan tenaga.


"Aku harus mengakui. Baru kali ini aku mengeluarkan seluruh tenagaku untuk melawan seseorang dan kau orang pertama yang membuatku mengerahkan semua itu."


Garry tak menanggapi perkataan Richard dan kembali menyerang dengan melancarkan dua pukulan yang masih dapat ditepis olehnya. Namun pada pukulan ketiga, Garry berhasil mengenai wajah Richard hingga bercak darah tampak keluar dari sudut bibirnya. "Aku sudah tidak sabar ingin membunuhmu karena kau terlalu banyak bicara!" Garry menarik pundak Richard ke arah bawah dan menyarangkan sebuah serangan dengan lututnya yang berhasil mengenai bagian perut Richard hingga pria itu kesakitan.


Richard kini jatuh menahan rasa sakit. Memegangi perutnya sambil mencoba kembali berdiri. Namun baru saja ia bangkit, Garry kembali menyerang dan menendang tepat ke arah wajah Richard. Tanpa diduga, Richard berhasil mengelak dengan merunduk, lalu secara tiba-tiba ia melakukan serangan menyapu tanah dengan sebelah kakinya hingga Garry terjatuh.


"Ini kesempatanku." Richard mengambil sebilah pisau kecil yang sejak tadi ia sembunyikan di balik kaos kakinya. Mengarahkan pisau itu pada bagian dada kiri Garry. Namun baru saja ia mengayunkannya, sebuah peluru menyerempet tangan Richard hingga pisau itu terlepas dari tangannya dan jatuh tertancap ke permukaan tanah.

__ADS_1


Garry yang melihat itu langsung berdiri setelah menendang tubuh Richard hingga terpental beberapa langkah dari posisi sebelumnya. "Ternyata kau sangat licik ya! Diam-diam ingin membunuhku dengan pisau kecil itu." Garry berdecih kesal. Sementara Richard masih kewalahan untuk bangkit karena ia merasa sudah kehabisan tenaga.


"Sial! Kenapa tubuhku sulit sekali untuk digerakkan?" Richard masih berupaya bangkit. Pandangannya mulai terbagi antara melihat Rui dan melihat Garry yang ada di dua sisi berbeda.


"Harusnya tadi aku habisi si tua itu dulu. Menyusahkan sekali pria itu!" batin Richard merasa sangat kesal.


"Garry, kalau kau tidak bisa membunuhnya, biar Daddy saja yang membunuhnya!" Di saat Rui mulai menarik pelatuk pada pistol yang digenggamnya dan bersiap menembak, sebuah peluru bersarang tepat di punggungnya. Membuat darah segar seketika menyembur dan membuat Garry langsung berlari menghampiri pria paruh baya itu yang seketika roboh dari posisinya yang semula tegak berdiri.


"Kurang ajar, Daddy!" Garry langsung mengangkat tubuh Rui yang sudah lemah ke pangkuannya. Sementara Richard mulai melihat ke arah tembakan itu berasal dan mendapati mobil yang dikendarai Raymond mulai melewati Garry.


"Sudah aku bilang, kau jangan sampai terbunuh," ucap Raymond sesaat setelah memberhentikan mobil beberapa langkah dari tempat Richard terjatuh.


"Tidak perlu berterima kasih. Sekarang cepat bangun dan akhiri pertarungan ini." Raymond melepas pistol itu yang langsung ditangkap oleh Richard dengan kedua tangannya.


"Baiklah." Richard perlahan bangkit. Ia lalu mulai melangkah, mendekati Garry yang masih memangku tubuh Rui di atas kedua pahanya. Pria itu tampak menangis, meratapi kematian Rui yang saat ini sudah tak lagi bernyawa.


"Menyerahlah, Garry! Serahkan dirimu dan biar hukum yang akan menghakimimu! Aku tidak akan membunuhmu di sini karena mau bagaimanapun, kau tetap harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kau lakukan pada Collins sampai dia meninggal!"

__ADS_1


Garry pun mengabaikannya. Ia langsung bangkit setelah melepas tubuh Rui dari pengakuannya. "Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Jangan jadi pengecut! Ayo lawan aku dengan tangan kosong!" Garry terlihat penuh amarah. Kedua mata yang memerah, ditambah rahang wajah yang mengeras semakin mempertegas jika saat ini Garry begitu menaruh dendam pada Richard dan Raymond.


"Dengan kondisiku seperti ini, sepertinya aku tidak bisa melawannya dengan tangan kosong," batin Richard tampak berpikir, sementara Garry sudah berlari ke arahnya untuk menyerang kembali.


Di saat Richard masih bingung memutuskan, sebuah peluru melintas tepat di samping kepalanya. Peluru yang berasal dari arah belakang itu langsung menembus tubuh Garry. Tak hanya satu, dua peluru lainnya juga bersarang dan tepat mengenai bagian dada Garry hingga membuat pria itu seketika jatuh dengan bersimbah darah.


Richard pun terkejut. Ia tak percaya jika peluru itu hampir mengenainya. "Ray, apa kau tidak bisa memberitahuku dulu sebelum menembak? Bagaimana jika itu sampai mengenaiku?" protes Richard yang sudah memutar tubuhnya untuk melihat Raymond.


Raymond hanya tersenyum tipis. Ia tak banyak bicara apa-apa selain meminta Richard untuk segera masuk ke dalam mobil mengingat kondisi sang kakak sudah mulai memburuk. "Aku hanya ingin meringankan tugasmu saja. Aku tidak ingin kau sampai memaksakan diri dan terhasut untuk melawannya dengan tangan kosong."


Richard pun terkekeh kesal. Ia merasa apa yang dikatakan Raymond memang benar. Tadi hampir saja ia membuang pistol yang ada di tangannya dan meladeni tantangan Garry.


"Ayo kita pulang, Ray! Aku sudah lelah!" Richard mulai melangkah masuk ke dalam mobil setelah sempat melihat Garry yang sudah tak lagi bernyawa saat ini. "Seperti yang aku katakan tadi, kau memang lawan yang paling hebat yang pernah aku hadapi," batin Richard mulai bernapas lega karena misinya untuk menyelamatkan para bodyguard-nya sudah berhasil.


"Tapi sepertinya kau tidak akan pulang ke rumah dulu, kita harus ke rumah sakit karena kalian berempat perlu mendapatkan perawatan dari medis." Raymond yang sudah duduk di kursi kemudi pun langsung melajukan mobilnya. Meninggalkan tempat yang pastinya tidak akan pernah mereka lupakan. Perlawanan Garry memang sangat hebat, tapi Richard tidaklah sendiri. Berkat Raymond, ia bisa mengalahkan Garry dan mengakhiri pertarungannya yang hampir saja berakhir dengan kekalahan.


"Ya, kau betul Ray." Richard pun mulai membagi pandangannya melihat kondisi Benjamin, Christopher, dan Arnold yang masih tak sadarkan diri di dalam mobil hingga saat ini.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2