
Selamat membaca!
Patricia terus mengekor kedua suster yang sedang membawa kedua bayi Alice. Setelah kedua suster masuk ke dalam ruang bayi, tak lama salah satu suster keluar dan meninggalkan ruang bayi.
"Jadi di dalam itu hanya ada satu orang suster yang menjaga," gumam Patricia memutar otaknya untuk menemukan sebuah cara agar suster itu pergi dari ruang bayi.
Tiba-tiba wajah Patricia tampak menyeringai licik, ia seperti menemukan sebuah cara untuk mengelabui suster tersebut. Patricia langsung berlari menuju ruang bayi, setelah tiba di depan pintu Patricia menggenggam handle pintu dan membukanya dengan terburu-buru.
"Suster, tolong Sus, itu pasien dari Ibu si bayi kritis dan Dokter meminta Suster untuk membantunya."
Suster yang sedang menulis nama orangtua pada ranjang kedua bayi Alice, seketika langsung panik dan keluar dengan terburu-buru untuk menuju kembali ke ruang operasi. Suster tersebut tak mempunyai rasa curiga sedikitpun dan meninggalkan Patricia begitu saja.
Setelah suster pergi, Patricia mengamati keadaan sekitar lalu masuk ke dalam ruang bayi. Di dalam ruang bayi Patricia mulai melangkah menuju ranjang kedua bayi Alice dengan tersenyum licik penuh kemenangan.
"Akhirnya rencanaku berhasil."
Patricia dengan cekatan langsung menukar salah satu bayi Alice, ia melakukan semua itu tanpa ada rasa iba terhadap Alice yang telah melahirkan kedua anak itu. Wanita mana yang tidak hancur hatinya, ketika mendapati salah satu anaknya ternyata ditukar.
Apakah Patricia memikirkan semua itu? Tentu tidak, karena yang ada dipikirannya hanyalah membalas dendam, atas perbuatan yang Raymond lakukan padanya.
Setelah selesai menukar salah satu bayi Alice, Patricia bergegas keluar.
"Rasakan kau Raymond, penerus keturunan keluarga Weil sudah aku tukar, kau pasti sangat memimpikan seorang anak laki-laki kan, tapi apa jadinya jika anak yang nantinya hidup bersamamu itu sebenarnya bukanlah anak kandungmu," gumam Patricia begitu puas.
๐๐๐
Raymond kini sudah berada di apartemen Alexa dengan raut wajah yang tampak begitu cemas memikirkan keadaan Alice. Raymond memerintahkan Albert untuk menuju rumah kediaman Nick sebagai alternatif, jika Alexa menolak untuk membantunya.
Setelah lama menunggu, akhirnya pintu pun terbuka dan terlihat Alexa yang hanya mengenakan sebuah bra dan celana pendeknya, langsung terkesiap begitu kaget. Alexa kembali menutup pintunya.
"Maaf Tuan Raymond, aku pikir sepupuku, aku ganti pakaian dulu. Tunggu sebentar aku akan segera kembali."
Alexa dengan tergesa-gesa mengambil sebuah jaket yang menggantung pada dinding kamar dan langsung memakainya. Setelah berhasil menutupi tubuh seksinya, Alexa kembali menuju depan pintu.
Pintu pun terbuka lebar, ada rasa takut yang terbesit dalam pikiran Alexa saat ini, mengingat pertemuan terakhir mereka yang tak menyenangkan.
"Ada apa Tuan Raymond? Kau tidak membawa pistol itu ke apartemenku kan? Apa kau ingin menodong kepalaku kembali dengan pistol itu?" Beberapa pertanyaan yang membuat Raymond semakin canggung untuk meminta pertolongan kepada Alexa.
"Aku tidak punya waktu banyak, apa sebaiknya aku bawa paksa saja wanita ini?" batin Raymond dipenuhi rasa cemas akan keadaan Alice di rumah sakit.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, Raymond langsung meraih tangan Alexa dan menariknya untuk ikut bersamanya. Alexa coba menyibakkan genggaman tangan Raymond yang erat, namun tenaganya tak cukup kuat untuk melakukan itu, usahanya sia-sia.
"Tuan, mau dibawa kemana aku? Lepaskan aku, cepat Tuan lepaskan aku!"
"Diam dan ikuti saja aku! Atau aku akan menembak kepalamu dengan pistol itu."
Alexa tercekat kaget mendengar ancaman Raymond. Ia akhirnya hanya pasrah dan mengikuti langkah Raymond tanpa melakukan perlawanan.
Setelah masuk ke dalam mobil. Raymond langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah lalu lintas kota London yang terlihat cukup ramai. Layaknya fast and furious, Raymond terbilang cukup lihai dan tampak menguasai sekali mobilnya. Hanya butuh waktu 20 menit untuknya sampai kembali di rumah sakit.
Raymond dengan cepat turun dari mobil, diikuti Alexa yang terlihat agak mual dengan wajah yang memucat.
"Apakah kau tidak memiliki SIM? Mengendaraimu lebih buruk dari aku, Tuan Raymond!" gerutu Alexa sambil memuntahkan rasa mual yang sudah ditahannya, sejak Raymond mulai memacu kecepatan mobilnya begitu tinggi.
Raymond tak menanggapinya, ia berdiri di dekat tubuh Alexa sambil menyilangkan kedua tangan, menunggunya selesai dengan rasa mualnya.
"Sudah selesai."
Raymond kembali meraih tangan Alexa dan menariknya menuju ke dalam rumah sakit.
"Kalau aku tidak hutang budi dengan istrinya, aku tidak akan mau ikut dengannya."
Setelah tiba di depan lift, keduanya langsung masuk dengan tergesa-gesa. Namun belum saja lift itu naik, tiba-tiba pintu lift kembali terbuka. Tampak Albert bersama Nick masuk ke dalam lift. Kehadiran Nick membuat Alexa terhenyak.
Raymond langsung menjabat tangan Nick.
"Terima kasih Nick, kau sudah mau ikut bersama Albert dan mau menolong istriku untuk mendonorkan darahmu."
Nick tersenyum ramah.
"Tidak masalah Tuan Ray, sudah tugas kita sebagai pemilik golongan darah langka ini untuk saling menolong, lagipula Nona Alice sudah berjuang melahirkan kedua anakmu. Oh ya, selamat ya Tuan Ray, atas kelahiran anak kalian."
"Terima kasih Nick."
Alexa yang mendengarnya langsung melayangkan protes kepada Raymond, atas pemaksaannya sewaktu di apartemen.
"Tuan, kalau saja kamu katakan untuk mendonorkan darah untuk istrimu, kau tidak perlu menyeretku paksa seperti tadi, aku bisa ikut dengan senang hati!" protes Alexa sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.
"Maaf Nona Alexa, Tuan Raymond terlalu cemas dengan keadaan Nona Alice yang saat ini benar-benar butuh pendonor," ucap Albert mewakili Raymond yang tak menggubris protes dari Alexa.
__ADS_1
Sementara Nick hanya tersenyum menatap wajah Alexa, yang membuat wajah Alexa jadi merona merah.
"Dia menatapku, ya ampun apa dia sudah ingat kembali denganku," batin Alexa menebak, ia ingat dengan pertemuannya dengan Dave asisten Nick, yang mengatakan padanya jika Nick terkena amnesia anterograde.
Lift mulai berhenti. Pintu lift pun terbuka dan semua melangkah keluar dari lift. Saat Alexa melewati sebuah pertigaan di lorong rumah sakit, matanya yang sedang mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah sakit, tak sengaja melihat seseorang yang dikenalnya, membuatnya terkesiap begitu kaget.
"Itu Kakak, untuk apa dia di rumah sakit ini," batin Alexa penuh tanya.
Alexa berusaha keras mencari cara untuk bisa izin kepada Raymond, agar ia bisa menghampiri Patricia yang dilihatnya tidak terlalu jauh dari tempatnya berada.
"Tuan Raymond, bolehkah aku ke kamar mandi sebentar, sepertinya bukan hanya mual, tapi aku sedari tadi menahannya untuk pipis," ucap Alexa mencari alasan.
Raymond menatap Alexa penuh selidik, ia pun akhirnya mengizinkan Alexa untuk pergi.
Setelah berhasil pergi dari Raymond, Alexa bergegas menghampiri Patricia dengan langkah panjangnya. Alexa meraih tangan Patricia dengan kasar, saat Patricia melangkah membelakanginya.
Patricia terhenyak ketika dihadapannya kini ada Alexa.
"Sial, Alexa tidak boleh tahu apa yang telah aku lakukan di rumah sakit ini," gumam Patricia dengan raut wajah yang gugup.
"Kakak, untuk apa kau di sini!"
"Ehmm, aku habis jenguk teman aku, memang kenapa?" jawab Patricia balik bertanya.
"Jangan bohongi aku, Kakak. Kamu pikir aku orang lain, aku itu Adikmu, kamu tidak akan bisa membohongiku."
Sejenak Alexa berpikir dengan keras. Ketika Alexa mengingat apa yang dikatakan oleh Raymond tentang keadaan Alice saat ini, ia mulai dapat membaca apa yang telah dilakukan oleh Patricia.
"Jangan-jangan kamu ingin menukar bayi Nona Alice, atau bahkan itu sudah kamu lakukan? Jawab pertanyaanku!"
Patricia tercekat kaget mendengar perkataan Alexa. Wajahnya memucat karena Alexa begitu pintar membaca rencana yang telah dilakukannya.
"Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? Alexa tidak boleh menggagalkan rencanaku."
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
Follow Instagram Author : ekapradita_87
__ADS_1
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak.