Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Makan Malam Indah


__ADS_3

Halo para pembaca semua. Terima kasih atas dukungan kalian ya. Jangan lupa berikan like, komentar dan vote kalian untuk TMCA.


Selamat membaca!


Hari sudah semakin petang, mentari mulai meredup pertanda sinar bulan akan menggantikannya.


Setelah menghabiskan waktu untuk menikmati berbagai wahana yang aman untuk Alice, kini tibalah Raymond mengajaknya ke suatu tempat yang sudah disiapkan khusus untuk Alice, sebuah kejutan istimewa dari Raymond.


Mobil mewah Raymond sudah terparkir di pinggir jalan menuju tepi pantai, namun Alice tak mampu melihatnya, karena Raymond sudah memintanya untuk menutup kedua matanya sejak ia duduk di dalam mobil.


Pintu mobil mulai terbuka, Raymond keluar dan segera menuntun Alice yang kesulitan dalam melangkah, dengan kondisi mata tertutup.


Alice semakin penasaran, hatinya terus bertanya-tanya dan coba menebak, kejutan apa yang diberikan oleh suaminya.


Sweetu ingin membawaku kemana ya?


Tiba-tiba suara deru ombak mulai terdengar, seolah menjadi petunjuk untuk Alice, bahwa kini dirinya sedang berada ditepi laut.


"Sebenarnya apa sih ini sweetu, kamu mengajakku ke tepi laut, kamu tidak akan menenggelamkan aku kan, aku tidak bisa berenang lho!"


Raymond terhenyak mendengar ucapan konyol dari Alice. Ia mendengus pelan.


"Sudah jangan banyak bertanya, ikuti saja."


Alice sekejap terdiam, ia lantas mencoba pasrah mengikuti langkah dari suaminya yang terus membimbingnya, dengan kedua tangan yang masih menutupi sepasang mata indah Alice.


"Jangan berusaha membuka mata, sampai aku perintahkan! Oke sweety."


Raymond berkata dengan sebuah penekanan, yang tak bisa dibantah. Alice terus mengikuti semua keinginan suaminya tanpa banyak bertanya. Walau dirinya semakin penasaran dengan kejutan yang diberikan oleh Raymond, tapi satu yang ia ketahui, saat ini mereka sedang berada di tepi pantai.


"Sweetu, kenapa suara ombak semakin dekat ya? Kamu benar-benar tidak akan menenggelamkan aku kan, hanya karena aku nonton drama Korea."


Raymond kembali terhenyak dengan perkataan Alice. Ia menahan gelak tawa yang saat ini hampir pecah di mulutnya.


"Dasar bodoh mana mungkin aku ingin melakukan itu, aku sangat mencintaimu sweety."


Raymond masih menuntun langkah Alice dengan perlahan, hingga keduanya sudah tiba dan Raymond meminta Alice untuk membuka kedua matanya secara perlahan.


Akhirnya aku sudah dapat membuka mataku.


Alice yang sudah tidak sabar, segera membuka matanya dengan cepat, diiringi suara detak jantungnya yang berdebar tak karuan.


__ADS_1


Betapa takjub dirinya saat ini, dengan apa yang dilihat oleh sepasang mata indahnya.


Sebuah meja makan dan dua buah kursi yang sudah di dekorasi dengan sangat cantik, diterangi oleh cahaya temaram dari tujuh buah obor juga beberapa lilin yang mengelilinginya.


Semua tampak sempurna ketika hamparan laut yang biru menyatu dengan pantulan sunset yang indah, membuat dinner malam itu sangat berkesan untuk Alice.


"Bagaimana apa kamu menyukainya?" tanya Raymond dengan menaikan sebelah alisnya.


Alice masih terpukau, tak percaya dengan apa yang tersuguh dihadapannya. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya, merasa semua ini bak sebuah dongeng menjadi nyata untuk dirinya.


"Aku sangat menyukainya, wanita bodoh mana yang tidak menyukai ini semua, sweetu."


Raymond kembali menuntun Alice untuk melangkah mendekati kursi yang sudah tersedia. Alice mulai memijakkan kakinya ditaburan mawar yang disulap layaknya karpet merah yang mengelilingi meja dan kursi.


Alice kini sudah duduk dengan nyaman. Hatinya kian membuncah bahagia, saat tatapan matanya menjadi saksi detik-detik sunset yang sedang terjadi.


Sunset adalah waktu di mana matahari menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat. Warna merah di langit pada waktu Matahari terbenam, disebabkan oleh kombinasi hamburan Rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer bumi.


Setelah itu Raymond menjentikkan jemarinya untuk memanggil pelayan-pelayan, yang sudah bersiap dengan hidangan makan malam yang ingin mereka suguhkan.


Tak butuh waktu lama, meja yang tadinya kosong kini sudah penuh dengan makanan dan minuman, yang sudah tersaji lengkap di sana.



Alice menggenggam tangan Raymond dengan lembut, memberikan sentuhan cinta yang begitu dalam lewat tatapan matanya. Tanpa sebuah kode apapun, Alice melabuhkan sebuah kecupan yang mendarat mulus pada pipi Raymond, yang kala itu tak menduganya sama sekali


"Terima kasih ya sweetu," ucap Alice lirih dengan wajah berseri.


"Sama-sama sweety, aku sangat bahagia bila kamu bahagia, satu hal yang perlu kamu ketahui, bawah aku sangat mencintaimu."


Wanita mana yang tidak bahagia dengan perlakuan istimewa dari suaminya. Terlebih perjalanan yang Alice lalui begitu berat, mulai ia harus menjalani sebuah pernikahan dengan terpaksa, sampai melihat Raymond memadu kasih di depan matanya dengan wanita lain, oleh karena itu apa yang saat ini dirasakannya mungkin adalah buah dari kesabarannya.


Bukannya memang mencintai itu harus dengan tulus, kita tidak bisa menuntut seseorang yang kita cintai untuk mencintai kita juga, jadi biarlah takdir cinta yang akan menuntun, kemana langkah cinta itu akan berlabuh.


Alice sendiri saat ini sudah lupa, kapan dirinya mulai jatuh cinta pada suaminya. Namun yang dia tahu cintanya saat ini untuk Raymond akan tetap ada dan bersemi, seumur hidupnya sampai maut memisahkan keduanya.


"Sweetu, sunset itu sangat indah ya."


"Memang indah sweety, tapi masih seindah dirimu, bagiku kamu adalah ciptaan Yang Maha Kuasa yang paling sempurna dan aku beruntung memilikimu."


Wajah Alice bersemu merah mendapat pujian dari laki-laki yang saat ini sedang mencium punggung tangannya. Hatinya semakin membuncah bahagia, tak dapat terlukiskan perasaannya saat ini, begitu luar biasa. Bagi Alice ini adalah momen yang paling romantis yang pernah dialaminya.


Selesai dengan makan malamnya Alice dan Raymond kini terlihat sudah mulai beranjak dari kursinya.

__ADS_1


"Aku seperti tidak rela berpisah dengan keindahan ini."


Raymond melirik ke arah Alice, kemudian ia tersenyum.


"Aku bisa membawa semua dekorasi indah ini ke taman belakang rumah kita, tapi aku tidak bisa membawa laut dan sunset nya ikut serta, sweety."


Alice tak dapat menahan gelak tawa mendengar ucapan dari suaminya. Melihat Alice tertawa Raymond pun tak kuasa ikut tertawa, dengan terus melangkah menuju mobil, mereka saling bersenda gurau dengan kelucuan yang dikatakan oleh Raymond mengenai sunset dan laut.


Albert dan Risfa terus memperhatikan momen-momen yang saat ini sedang terjadi dengan bersandar di badan mobil.


"Romantisnya Tuan Raymond dan Nona Alice, kapan ya aku bisa punya suami yang akan melakukan semua itu untukku," ucap Risfa dengan nada penuh harap.


Albert yang mendengar tak dapat menimpalinya. Ia hanya tersenyum kecil penuh kekecewaan dengan terus menatap wajah Risfa.


"Andai aku punya jabatan yang bagus dalam pekerjaanku, aku pasti bisa memberikan semua ini untukmu Risfa," batinnya berandai-andai.


Tanpa Albert sadari, kebersamaannya dengan Risfa dalam pekerjaan membuat Albert mulai menyukainya, walau Risfa tak sedikit pun melihatnya. Albert sangat sadar akan posisinya, itulah mengapa ia hanya diam dan memendam apa yang dirasakannya.


🍁🍁🍁


Sebuah mobil yang sudah sejak siang, mengikuti gerak-gerik Raymond dan Alice, terparkir tidak jauh dari tempat mereka berada.


Pria itu mengambil handphonenya yang saat ini sedang berdering.


"Iya Tuan, semua masih dalam pantauanku?"


"Ketika sudah dekat, segera berikan kode agar semua bersiap."


Terdengar suara pria dengan lantang dari seberang sana memberi perintah.


"Baik Tuan, aku paham."


Pria itu mengakhiri panggilan teleponnya dan kembali meletakkan handphonenya di samping kursi yang kosong di sebelahnya.


🌸🌸🌸


Bersambung ✍️


Terima kasih semua.


Jangan bosan dukung karya aku ya.


Mampir juga ke karyaku yang lain :

__ADS_1



__ADS_2