
Selamat membaca!
Suasana masih terlihat canggung dan begitu tegang.
"Greta, kenapa kamu di sini?" ketus Raymond yang wajahnya kelihatan masih sangat terkejut atas kehadiran Greta dihadapannya.
Greta mengusap rahang wajah Raymond dengan lembut.
"Apa kamu tidak merindukanku, Tuan arogan?"
Raymond mendengus kesal. Ia melepaskan belaian tangan Greta pada wajahnya dengan kasar.
"Sabar Tuan arogan, kamu itu harus bisa mengendalikan emosimu!"
Greta mulai kecewa dengan sambutan dari Raymond yang sepertinya tidak senang dengan kedatangannya. Greta lalu terlihat menjentikkan jemarinya seolah memberikan sebuah kode.
"Jadi ini semua rencanamu Greta?" tanya Raymond dengan geram.
Alice tidak bisa melihat jelas, siapa wanita yang saat ini bersama Raymond. Namun ia begitu cemas, ketika pria yang gagal membuka pintu mobil yang sudah dikunci oleh Risfa, tampak melangkah mendekat ke arah Raymond dengan sebilah pisau di tangan kanannya.
Aku harus memberitahu sweetu.
"Risfa, setelah aku keluar, kunci kembali pintu mobilnya dan tetaplah di dalam mobil, jangan pernah keluar apapun yang terjadi, kamu adalah saksi kunci dari semua peristiwa yang terjadi malam ini," ucap Alice dengan panik tapi nada suaranya sangat tegas.
Risfa semakin panik mendengar perkataan Alice, namun ia tak bisa menolak perintahnya, walau di hatinya sangat cemas, melepas Alice keluar dari mobil.
Alice mengumpulkan semua keberanian yang masih tersisa di dalam dirinya. Keberanian yang semakin lama, semakin menipis karena terus digerogoti oleh rasa takut.
Saat Alice sudah keluar dari mobil, tanpa diduga Albert sudah bersandar di badan mobil, dengan keadaan yang begitu lemah.
Alice kemudian membantu Albert terlebih dahulu untuk masuk ke dalam mobil, sambil membagi pandangannya ke arah Raymond.
Greta menatap tajam wajah Raymond. Ia teringat kesedihan yang mendalam, akan kematian anak di dalam kandungannya, saat itu Greta begitu terpukul dan terpuruk selama dua Minggu, namun Zack terus menyemangatinya, hingga membuatnya bisa tegar melewati semua itu.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, aku juga tidak akan membiarkanmu hidup bahagia dengan Alice."
Raymond terhenyak mendengar ucapan Greta. Saat ia ingin menoleh ke arah mobil, karena cemas dengan keadaan Alice. Tiba-tiba sebuah pisau langsung menghujam sisi perutnya dari belakang, darah pun seketika bercucuran membanjiri luka tusukan pisau tersebut. Raymond meringis sakit sampai memipihkan matanya, napasnya kini sesak seakan kematian sudah dekat di pelupuk matanya.
Raymond mulai limbung. Matanya semakin kabur memandang sekitar, sambil memegangi luka tusukannya, ia coba melawan pria yang saat ini begitu dekat dengannya. Raymond masih berusaha melawan dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya.
Greta sebenarnya tidak tega melihat semua kejadian yang kini ada di depan matanya. Namun luka dan kebohongan Raymond padanya, membuatnya dapat tersenyum melihat kondisi Raymond saat ini sudah terkapar dengan bersimbah darah, setelah tusukan kedua menghujam sisi perut sebelahnya.
"Maafkan aku Tuan Raymond, tapi dengan begini dendamku, akan terbalaskan," ucap Greta yang tanpa disadari, air mata lolos dari sudut matanya.
__ADS_1
Greta langsung menyeka air matanya, ia tak ingin Kevin tahu bahwa dirinya ternyata bersedih akan kondisi Raymond saat ini.
"Aku tidak ingin Kevin mengadu pada Zack, karena melihat air mataku ini."
Kevin yang membelakangi posisi mobil Alice dibuat terkejut, ketika mobil yang dikendarai oleh Alice, menghantam tubuhnya sampai terpental beberapa meter. Kevin langsung tak berdaya dengan darah di kepalanya akibat benturan keras. Sementara Greta berhasil menghindari tabrakan mobil Alice, walau harus dengan menjatuhkan dirinya.
Mobil tepat berhenti di samping posisi Raymond yang saat ini sedang terkapar tak berdaya. Risfa segera turun di temani oleh Albert yang tenaganya sudah kembali pulih, keduanya memapah tubuh Raymond untuk masuk ke dalam mobil. Setelah Raymond sudah berhasil direbahkan di kursi belakang, Alice mulai menginjak gas mobil dengan dalam, ia bermaksud akan menabrak mobil Greeta yang kini sedang menghalangi jalannya. Mobil berhasil menghantam keras mobil Greta hingga sedikit berpindah, namun satu hantaman belum cukup untuk membuka jalan untuknya lewat. Namun Alice semakin tidak fokus, pikirannya terbagi dengan kondisi Raymond saat ini yang sudah tidak sadarkan diri, karena banyak kehabisan darah.
Kamu harus kuat sweetu.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati di sini, lebih baik kamu yang mati Greta."
Alice semakin menambah laju mobilnya hingga mendorong kuat mobil Greta, yang membuat Greta menjauh dengan cepat untuk menghindari benturan dari mobil Alice. Sesaat mobil akan menghantam, Greta berhasil meloloskan dirinya.
"Dasar wanita jalang," geram Alice.
Alice kembali merubah gigi pada transmisi mobilnya untuk mundur, agar dapat memberi ancang-ancang pada mobilnya, yang sudah terlihat hancur pada bagian bumper depannya.
Mobil Alice tampak sudah mundur jauh hingga menabrak mobil Kevin yang berada di belakang mobilnya, setelah Alice merasa cukup memberi jarak, ia kembali menginjak gas mobilnya semakin dalam, bahkan sampai penuh. Mobil melaju sangat cepat hingga, bruk, benturan keras tak dapat dihindari, mobil Greta akhirnya berhasil menyingkir dari jalan. Alice berhasil meloloskan mereka, dari situasi yang hampir saja membunuh keempatnya.
Wajah Risfa sudah semakin tegang bercampur panik yang berkecamuk. Duduk di kursi depan bersama Alice, ia menjadi saksi atas keberanian Alice dalam menghadapi situasi yang secara akal sehat, pasti akan membuat nyali seorang wanita ciut untuk menghadapinya. Namun Alice berbeda, ia tepat dalam mengambil keputusan dan tetap tenang untuk berpikir.
Greta semakin murka melihat mobil yang dikendarai oleh Alice, semakin jauh tak terlihat. Ia tak bisa mengejarnya, karena mobilnya saat ini sudah sangat hancur dan ia masih terkejut melihat keadaan Kevin yang saat ini sudah tak bernyawa.
๐๐๐
Alice terus menambah kecepatannya. Sementara Albert begitu panik melihat kondisi Raymond yang terus mengeluarkan banyak darah dari dua luka tusukan pada perutnya.
"Albert, gunakan kemeja yang kamu pakai, untuk menekan lukanya agar tidak terus mengeluarkan darah."
"Baik Nona, saya mengerti."
Albert langsung membuka kemejanya, membuatnya kini tidak memakai atasan apapun dan bertelanjang dada.
Risfa yang saat ini sedang menangis, sejenak menghentikan rasa paniknya dengan memandang tubuh Albert yang ternyata walaupun terlihat kurus, namun tampak begitu kekar dengan beberapa otot di dadanya.
Ternyata Albert seksi juga ya jika tidak berpakaian.
Ussst, ngomong apa aku ini, situasi lagi begini aku malah mikir aneh-aneh.
Risfa kembali memandang wajah Alice yang terus fokus dalam memacu kendaraannya.
"Nona Alice harus kuat ya."
__ADS_1
Alice menoleh menatap wajah Risfa. Terlihat air mata sudah menganak di kelopak matanya, sekali saja dia berkedip, pasti, bulir bening kesedihan akan langsung mengalir deras membasahi wajahnya.
"Aku hanya cemas dengan kondisi suamiku saat ini Risfa, aku tidak ingin dia sampai kenapa-kenapa," ungkap Alice dengan lirih.
Di akhir kalimat betul saja, Alice berkedip hingga air mata deras mengalir di kedua pipinya. Tangisannya begitu terisak, namun ia sama sekali tidak mengurangi kecepatan mobil untuk berpacu dengan waktu.
Akhirnya Alice melihat sebuah rumah sakit yang berada di kanan jalan, ia pun dengan cepat langsung masuk ke area rumah sakit dengan memotong jalan. Walau sempat mendapat teguran dari beberapa pengendara jalan lain, namun Alice tidak punya pilihan, karena saat ini rasa cemas akan kondisi Raymond sudah menguasai, hampir di seluruh jiwa, hati dan pikirannya.
Mobil sudah berhenti tepat di pemberhentian khusus untuk pasien UGD. Albert dengan cepat keluar mencari pertolongan. Sementara Alice langsung berpindah ke belakang untuk melihat kondisi Raymond.
Alice semakin menangis meratapi kondisi Raymond, wajah suaminya kini sudah sangat pucat, tak lama datang team medis yang dengan cepat, mengevakuasi tubuh Raymond dan menaikkannya ke atas sebuah brankar yang kemudian langsung menuju ke ruang UGD untuk melakukan operasi.
"Maaf Nona, Anda sebaiknya silahkan tunggu di depan saja."
Pintu UGD tertutup, Alice tertahan ditemani dengan Risfa di sampingnya, yang terus menguatkannya dalam menghadapi kondisi yang saat ini menimpanya.
"Nona harus kuat."
Alice menghamburkan kesedihannya dipelukkan Risfa. Ia menangis sekencang-kencangnya menumpahkan semua ketakutan, kekesalan, kesedihan, dan kecemasan yang semua menyatu di dalam hati dan pikirannya.
Namun dibalik semua itu, ia bersyukur masih dapat lolos dan berhasil membawa suaminya ke rumah sakit yang kebetulan tidak jauh posisinya dari tempat kejadian.
Kamu harus kuat sweetu, aku mohon sweetu bertahanlah demi anak-anak kita.
Alice mulai merasakan sakit pada bagian perutnya, rasa sakit yang mengingatkan Alice atas semua perkataan Dokter yang disampaikan padanya.
Aku harus tenang, semua demi anak di dalam kandunganku.
Alice terlihat sudah melepaskan pelukannya dan mulai menyeka air mata di wajahnya. Kala itu hanya doa yang bisa Alice lakukan. Doa dan harapan agar suaminya bisa selamat.
Selamatkan suamiku Tuhan, aku mohon.
Alice terduduk sambil memangku tangannya yang saling bertaut, menandakan sebuah kecemasan yang sedang melanda jiwa dan batinnya.
๐ธ๐ธ๐ธ
Bersambungโ๏ธ
Apakah Raymond akan selamat?
Ditunggu komentarnya ya...
Terima kasih semua..
__ADS_1