
Selamat membaca!
Alexa terus memaksa Patricia untuk mengatakan apa yang telah ia rencanakan, namun semua usaha Alexa berakhir sia-sia, Patricia tetap membungkam diam tanpa suara. Hingga akhirnya Alexa mempunyai inisiatif untuk membawa Patricia kehadapan Raymond.
"Jika kamu masih diam, aku akan membawamu kepada Tuan Raymond, biar dia yang akan bertanya secara langsung padamu, karena aku yakin kamu itu menyimpan sesuatu yang mungkin sudah kamu lakukan."
Alexa menyeret Patricia untuk mengikuti langkahnya, namun Patricia berusaha keras untuk melepas cengkraman erat dari Alexa.
"Aku tidak akan melepaskanmu!"
Alexa berhasil terus memaksa Patricia untuk mengikutinya, hingga akhirnya di sebuah pertigaan lorong rumah sakit, tempatnya terakhir berpisah dengan Raymond. Patricia melihat sebuah pintu darurat yang terbuka lebar.
Patricia menggigit tangan Alexa dengan keras, hingga akhirnya Alexa melepaskan genggaman tangannya dan mengaduh kesakitan, Patricia pun berlari dengan cepat menuju tangga darurat, namun baru saja ia mencoba untuk menuruni anak tangga, kedua kaki Patricia saling terkait dan membuat tubuh Patricia terjatuh sampai terguling-guling menuruni anak tangga, Alexa yang melihatnya berupaya untuk menolong tapi sayang usahanya terlambat. Patricia sudah jatuh, hingga kepalanya terbentur keras pada tepi anak tangga. Seketika Patricia langsung tak sadarkan diri.
"Kakak, ya Tuhan kenapa kamu harus melarikan diri Kak," ucap Alexa sambil melangkah dengan cepat menuruni anak tangga.
Alexa menatap nanar tubuh Patricia yang kini sudah terlihat begitu lemah, dengan darah di keningnya yang terus mengucur.
Alexa meraih tubuh Patricia dan memangku di atas pahanya, ia kemudian meneliti dengan seksama keadaan Patricia, mulai dari denyut nadinya juga luka di kening. Namun alangkah terkejutnya Alexa, ketika ia mendapati bahwa sudah tidak ada denyut yang terasa dari nadi Patricia.
Alexa terhenyak tak percaya atas apa yang menimpa Patricia, ia tak pernah membayangkan bahwa hidup Patricia harus berakhir dengan cara seperti ini. Seketika Alexa menangis terisak, wajahnya begitu sendu terlihat dari kilau matanya yang berwarna perak, tampak berkilau oleh bulir bening yang terus menetes dari kedua bola matanya.
"Maafkan aku, Kak. Aku hanya ingin Kakak menjadi orang yang baik, Kak," lirih Alexa terus menangisi kematian Kakaknya.
πππ
Di ruangan yang bersebelahan dengan ruang operasi Alice. Nick terlihat sedang melakukan pendonoran darah. Setelah dirasa cukup, suster pun mulai membawa dua kantung darah yang akan diberikan oleh Alice.
Walau saat ini keadaan mulai kondusif, karena Alice sudah mendapatkan seorang pendonor, namun gurat kecemasan masih begitu pekat terlihat di wajah Raymond dan Nicholas, yang terus menunggu kabar dari Dokter tentang keadaan Alice.
Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, Nick mulai keluar dari ruang tempatnya mendonorkan darah.
"Tuan Ray, bagaimana keadaan Nona Alice, apa sudah membaik?" tanya Nick dengan melangkah mendekat ke arah Raymond dan langsung duduk tepat di sebelahnya.
"Belum ada kabar Nick, tapi semoga saja keadaannya membaik setelah mendapatkan donor darah, aku ucapin terima kasih sekali lagi untukmu ya Nick. Ingat setelah ini kita akan menjadi saudara walau kita tidak satu darah, keluarga Weil akan senantiasa menopang bisnismu. Benar begitu kan Dad?"
Nicholas tersenyum mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut Raymond.
"Betul Nick, karena kamu sudah mau menolong menantu kesayanganku, jadi itu sebagai apresiasi kami atas kebaikan yang saat ini kamu lakukan," jawab Nicholas sambil menatap wajah Nick dengan mengulas sebuah senyuman.
Nick yang mendengarnya merasa tak enak hati, karena jujur apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang dia sendiri tak mengharapkan imbalan apapun, terlebih saat ini Nick masih menderita amnesia anterograde yang akan menghapus semua peristiwa yang dialami dari memorinya.
Albert bangkit dari posisi duduknya, ia beranjak mendekat ke arah Raymond dan membisikkannya sesuatu.
__ADS_1
"Tuan Nick menderita amnesia anterograde, Tuan, jadi semua kejadian yang dilewati hari ini, akan terhapus dari memorinya. Besok dia tidak akan ingat telah bertemu aku, dirimu dan semua orang yang ditemuinya," bisik Albert dengan suara yang pelan.
Raymond tercekat kaget, sampai terasa sulit untuk menelan saliva-nya sendiri. Ia tak menyangka seorang CEO muda harus menderita penyakit yang sangat merugikan dirinya. Inilah awal dari ketertarikan Raymond untuk lebih membantu Nick.
"Aku hutang budi dengannya, jadi aku akan membantunya," gumam Raymond menatap iba ke arah Nick.
Tanpa disangka, Alexa dengan napas terengah tiba-tiba muncul. Mata Raymond membulat sempurna menatap Alexa dengan wajah yang lelah, bahkan pakaiannya seperti ada bercak darah yang tertinggal di sana.
Raymond bangkit dan mendekati Alexa untuk bertanya dengan jelas, apa yang menimpa Alexa sebenarnya, sambil terus menatap wajah gugup Alexa, Raymond terus melangkah hingga kini tepat berada dihadapan Alexa.
"Katakan apa yang terjadi padamu!" Suara arogan Raymond kembali terdengar.
Albert pun kini sudah berada tepat di belakang tubuh Raymond.
"Tuan, Kakakku sudah meninggal."
Raymond tercekat begitu kaget, ia tak menyangka dengan apa yang baru saja didengarnya, tanpa ada sesuatu apapun, tiba-tiba Alexa mengabarkan padanya bahwa Patricia sudah meninggal.
"Meninggal dimana?" tanya Raymond singkat.
"Dia terjatuh di tangga darurat, rumah sakit ini, Tuan, tapi.."
Raymond menautkan kedua alisnya dengan wajah geramnya.
Perkataan Alexa yang terputus, membuat Raymond semakin penasaran untuk mengetahuinya. Alexa menghentikan ucapannya karena tak mampu untuk mengatakan kepada Raymond, bahwa saat ini dirinya menduga, jika Patricia telah menukar salah satu anak yang telah dilahirkan oleh Alice.
"Tapi aku harus katakan pada Tuan Raymond, mereka harus tahu, tidak boleh tidak," gumam Alexa dengan bibir bawahnya yang gemetar, namun ia berusaha untuk mengenyampingkan rasa gugupnya.
Alexa mulai menatap semua orang yang berada dihadapannya saat ini, sambil mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang telah dilakukan Patricia.
Nick terus menatap Alexa dengan iba, Albert dan Nicholas pun menatap penuh selidik, ke arah Alexa yang wajahnya kini semakin memucat.
Alexa mengesah kasar. Ia bersiap untuk mulai mengatakan apa yang ia ketahui.
"Tuan Raymond semua ini baru dugaanku, tapi tidak ada salahnya jika kita menganggap semua ini benar, karena aku sangat mengenal karakter Kakakku. Kemungkinan Kakakku telah melakukan sesuatu sebelum kita sampai di rumah sakit ini, dia telah menukar salah satu bayi Nona Alice," ungkap Alexa yang kini tampak sudah bersiap menerima kemarahan Raymond.
Raymond bukan hanya terhenyak kaget mendengarnya, namun ia terlihat murka dengan apa yang telah dikatakan oleh Alexa. Raymond mendekati Alexa dengan rahang yang mengeras dan manik matanya sudah memancarkan amarah yang berkobar.
Alexa melangkah mundur, hingga sebuah dinding mulai menahan punggungnya. Raymond pun mendekati wajah Alexa yang kini semakin memucat. Hembusan amarah Raymond begitu terasa hangat menyapu wajahnya.
"Jika sampai ternyata benar dugaanmu dan aku kehilangan anak kandungku, aku tidak akan melepaskanmu! Kau harus bertanggung jawab, walau Kakakmu itu sudah mati!"
Raymond melayangkan sebuah tinju tepat ke arah samping wajah Alexa, tangannya menghantam dinding dengan begitu keras, bahkan saat ini tangan Raymond sampai terluka karena benturan itu.
__ADS_1
Setelah melampiaskan rasa kesalnya terhadap Alexa, ia kemudian memerintah Albert untuk mengecek seluruh CCTV yang ada di rumah sakit. Albert pun tanpa banyak bertanya, langsung bergegas menjalankan perintah dari Raymond.
Sementara itu Raymond dengan langkah panjang menuju ruang bayi, tempat kedua anaknya berada.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Patricia. Walaupun kau sudah mati sekalipun!" batin Raymond sambil menghentakkan tangannya berkali-kaki.
πππ
Nicholas tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis menunduk sambil menopang raganya dengan kedua siku di atas pahanya.
Alexa yang melihatnya begitu iba dengan kesedihan Nicholas saat ini. Ia pun tergerak untuk mendekatinya, namun langkahnya terhenti ketika Nick sudah terlebih dulu mendekat ke arah Nicholas.
Nick menyentuh erat pundak Nicholas, mencoba menenangkan segala kesedihannya.
"Tuan, percayalah! Semua akan baik-baik saja, malah kita harus berterima kasih pada Nona Alexa karena telah memberitahu kita akan hal ini."
Nicholas menyeka air matanya, ia kembali mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Nick yang kini tepat duduk di sebelahnya.
"Aku hanya sedih, semua dosa yang aku perbuat di masa lalu, membuat Raymond dan Alice terus mendapat hukuman."
"Tidak Tuan, itu bukanlah kesalahanmu. Percayalah semua akan baik dan keluargamu akan kembali berkumpul."
Nicholas mulai tersenyum, walau terlihat samar, ia sudah lebih tenang dari sebelumnya, karena kata-kata yang diucapkan oleh Nick mampu menguatkannya.
Tak lama kemudian, seorang Dokter keluar dari ruang operasi. Wajahnya kali ini tampak penuh sukacita, seolah ingin menyampaikan suatu kabar yang baik.
Nicholas pun dengan cepat bangkit dan menghampiri Dokter itu.
"Jadi bagaimana Dokter kabar menantu saya?"
"Semua berjalan lancar Tuan Nicholas, bahkan saat ini pasien sudah dapat ditemui. Silahkan jika Anda ingin masuk dan menemuinya!"
"Doaku terkabul, terima kasih Tuhan," gumam Nicholas dengan dibalut rasa haru atas kabar yang didengarnya, sejenak masalah Patricia jadi terabaikan.
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Berikan komentar positif kalian ya.
Terima kasih banyak.
__ADS_1