
Selamat membaca!
Mobil yang dikendarai Albert sudah tiba di pelataran rumah kediaman keluarga Weil. Risfa dan Albert turun terlebih dahulu untuk menurunkan kursi roda yang akan digunakan oleh Greta.
Elliot yang sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi, langsung menatap dengan tajam ke arah Greta. Saat Greta mulai dipindahkan ke kursi roda, Elliot tiba-tiba merampas kursi roda itu dari genggaman Risfa dan membuangnya.
Greta terperangah kaget, ia tak bisa berkata apapun selain mulai memasang wajah sendunya. Sementara Alice dengan langkah yang cepat segera berlari dan menjauhkan tubuh Elliot yang saat ini sedang menarik kasar tangan Greta untuk keluar dari mobil. Greta mengaduh kesakitan karena cengkraman dari Elliot begitu menyakitinya. Namun Alice terus membelanya dengan menjadi benteng, agar Elliot berhenti untuk bersikap kasar pada Greta.
"Sudah Kak, Greta telah menyelamatkan kandunganku, jika dia tidak ada aku mungkin sudah mati, Kak."
Rahang Elliot semakin mengeras, ia tak menggubris semua perkataan Alice, dengan sorot mata yang tajam, ia terus berusaha untuk melewati Alice, hingga akhirnya tanpa di sengaja, Alice terdorong dan perutnya hampir terbentur badan mobil.
Elliot menatap Alice dengan rasa bersalah, di sisi lain Greta memicingkan senyum tipisnya, merasa puas, karena pertikaian yang terjadi di antara Elliot dan Alice, sampai membahayakan kandungan Alice.
"Alice, aku minta maaf, aku tidak sengaja, apa kamu tidak apa-apa," ucap Elliot sambil mendekati Alice.
Alice menyibakkan tubuh Elliot untuk menjauhinya, dengan sorot mata yang tajam Alice memandang wajah Elliot dengan amarahnya.
"Greta sudah mengorbankan kedua kakinya untuk menolongku dan bayi dalam kandunganku, tapi emosi Kakak malah hampir mencelakaiku, untung saja aku sempat menahan perutku ini dengan kedua tanganku."
Alice balik menyerang Elliot lewat amarahnya, wajahnya kini terlihat sangat kesal. Ia bahkan sampai mengeluarkan kata-kata yang Elliot sendiri tak habis pikir, itu dapat lolos dari mulut Alice.
"Sebaiknya Kakak tinggalkan rumah ini, Kakak itu terlalu emosi dan tidak berpikir dulu saat bertindak! Jika kakak sudah tenang, baru Kakak kembali ke sini."
Alice terhenyak, ia tersadar dengan ucapannya yang salah.
"Apa yang aku katakan barusan, ya Tuhan aku terlalu emosi sampai bisa mengusir Kakakku sendiri," gumam Alice menyesali segala perkataannya.
Elliot terdiam, dengan wajah yang perih menahan luka, karena perkataan Alice begitu menggores hatinya. Ia pun membalikkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Alice dengan langkah yang masih sedikit terpincang-pincang, dengan membawa kegusarannya.
"Aku akan pergi Alice, kamu membela wanita iblis itu, sampai berani mengusir Kakakmu! Okelah, mulai detik ini aku tidak akan peduli lagi denganmu," gumam Elliot menahan amarahnya sambil melangkah menuju kamarnya.
Alice dengan cemas langsung menghampiri Greta untuk melihat kondisinya.
"Kamu tidak apa-apa Greta?"
Greta terlihat sudah menangis terisak, wajahnya kini penuh dengan air mata.
"Biarkan aku yang pergi Alice, harusnya kamu tidak boleh mengusir Kakakmu."
"Tidak Greta, tinggallah di sini! Setidaknya sampai kamu sembuh, kamu sudah menyelamatkan kehidupanku, jika tidak ada kamu mungkin aku saat ini sudah tidak bernyawa lagi Greta."
Risfa dan Albert saling tatap penuh rasa heran. Keduanya saling bertanya di dalam hatinya masing-masing.
"Ini aku gak salah lihat apa? Wanita sejahat Greta, kenapa tiba-tiba berubah, apa dia sudah insyaf?" batin Risfa penuh pertanyaan.
Albert menatap Risfa dengan menaikan kedua alisnya.
"Aneh aku melihat Greta, tapi apa benar dia sudah berubah?" tanya Albert mencoba mencari jawaban dari pertanyaannya dengan terus menatap wajah Greta sambil menautkan kedua alisnya.
Setelah berulang kali Alice membujuk Greta, akhirnya Greta menuruti semua perkataan Alice. Risfa sudah mengambil kursi roda yang tadi sempat dibuang oleh Elliot, dengan bantuan Albert, Greta akhirnya berhasil duduk di kursi roda.
Risfa mulai mendorong kursi roda memasuki rumah, diikuti oleh Alice yang mengekor di belakangnya dengan menyimpan rasa bersalahnya terhadap Elliot.
__ADS_1
Aku harus minta maaf kepada Kakak, aku tidak ingin ia benar-benar pergi dari rumah ini.
"Risfa tolong bawa Greta ke kamar tamu ya, aku tinggal dulu ya Greta, anggap saja ini rumahmu sendiri."
Greta mengulas senyum di wajahnya, menatap Alice dengan mata yang berbinar.
"Terima kasih Alice, kamu memang sangat baik, aku sangat menyesal dengan segala kejahatan yang pernah aku lakukan padamu."
"Sudah, kamu tidak perlu ingat semua itu, lagipula aku sudah memaafkanmu, terlebih kamu sudah menyelamatkanku hingga membuat kedua kakimu lumpuh, jadi sekarang, biar aku yang menjagamu, sampai kamu sembuh dan bisa berjalan seperti sedia kala," tutur Alice dengan senyum tulus di wajahnya.
Alice berlalu meninggalkan Greta dengan Risfa. Ia menuju kamar Elliot untuk meminta maaf atas segala perkataan yang terlanjur diucapkannya. Alice tahu perkataannya itu telah membuat hati Kakaknya terluka dan tersinggung, maka itu ia ingin secepatnya untuk meminta maaf.
Greta terus memandang ke arah Alice yang semakin menjauhinya, dengan senyum kemenangan ia terkekeh di dalam hati, merayakan keberhasilan dari rencananya.
"Itu baru awal Alice, aku sudah berhasil memecah belah Alice dan Elliot, selanjutnya aku harus menghancurkan pernikahannya."
πππ
Sebuah rumah yang terletak di sudut kota London. Rumah yang sudah dibeli oleh Thomas sebagai tempatnya berkumpul dengan seluruh anak buahnya, untuk menyusun rencana yang akan dibuatnya, agar balas dendamnya terhadap keluarga Weil bisa terlaksana dengan tuntas.
Di sebuah meja bundar yang terletak di ruang tengah, Thomas mulai menyampaikan strateginya.
"Rumah keluarga Weil terletak sangat jauh dari rumah lainnya, itu yang menguntungkan kita, dengan dinding di setiap rumah yang kedap suara, kita bisa menghabisi setiap orang yang ada di rumah itu tanpa tersisa, aku sudah menyiapkan alat pemutus sinyal dan listrik, kita buat keadaan gelap dan mereka tidak bisa menggunakan ponselnya untuk menghubungi polisi. Ingat Kematian Zack karena pria yang bernama Richard, bunuh dia dengan tembakan di kepalanya sama seperti apa yang dia lakukan terhadap Zack."
Kesepuluh anak buah Thomas menjawab kompak seruan dari Thomas.
"Tunggu 3 hari dari sekarang, hidup kalian akan berakhir di tangan keluarga Weins, nikmatilah hidup kalian selagi kalian masih bisa menghirup udara kehidupan."
Thomas menggertakkan giginya, tanda ia begitu geram mengingat kematian Zack. Kematian yang membuat Ayahnya yang bernama Ronald Weins sampai jatuh sakit dan kini masih dalam perawatan insentif di rumah sakit.
πππ
Di kamar Elliot.
Alice mengetuk pintu kamar yang masih terbuka lebar. Tanpa menunggu izin dari Elliot yang terlihat sedang sibuk mengemas semua pakaiannya ke dalam koper, Alice langsung masuk dan duduk di samping koper yang terletak di atas ranjang.
Alice menatap wajah Elliot yang penuh amarah, dengan mata memerah, terlihat buliran air mata tampak bergelayut di kedua sudut matanya.
"Maafkan aku Kak," ucap Alice membujuk Elliot.
Elliot mengacuhkan ucapan Alice sambil menyeka air matanya, ia tak mau terlihat menangis dihadapan Alice. Elliot terus mengemas semua pakaiannya, dengan gerakan yang semakin cepat. Namun saat koper sudah terlihat penuh, Alice malah mengembalikan isi koper ke dalam almari pakaian yang tampak sudah terlihat kosong.
Alice terus memindahkan semua pakaian Elliot dari koper kembali ke dalam almari. Hingga membuat gerakan Elliot terhenti, sambil menatap wajah Alice ia mengesah kasar.
"Kakak tidak boleh pergi, aku memang salah, aku minta maaf Kak, aku bodoh," tutur Alice terus merutuki kesalahannya.
Alice menatap wajah Alice lebih dalam sambil mengiba.
"Maafkan aku Kak, bukannya sebagai seorang Kakak itu harus memaafkan setiap kesalahan Adiknya?" imbuh Alice yang tak menyerah untuk membujuk Elliot.
Elliot memalingkan wajahnya dan memutar tubuhnya membelakangi Alice. Tanpa berkata apapun ia hanya mematung mengacuhkan Alice. Tak kehabisan akal, Alice terus mencari celah untuk bisa menatap wajah Elliot, walau untuk kesekian kalinya Elliot terus menghindar.
"Kakak, sudahlah, aku kan sudah minta maaf. Tolong maafkan aku Kak," tutur Alice terus membujuk Elliot.
__ADS_1
Elliot semakin melunak, terlebih saat ini air mata tampak mulai membasahi kedua pipi Alice. Namun Elliot masih menahan dirinya untuk mengucapkan sesuatu, ia masih terdiam dengan gurat wajah penuh amarah.
Alice akhirnya menyerah, ia memilih untuk duduk sambil terus menggerutu.
"Kalau Kakak gak mau maafin aku, aku gak akan mau makan, sampai Kakak mau maafin aku," keluh Alice mencebik dengan wajah yang kini berbalik marah.
Elliot menghela napasnya pelan. Ia mulai luluh dengan duduk tepat di samping Alice.
"Ya sudah aku maafin kamu, tapi lain kali jangan kurang ajar lagi sama Kakak kamu ya."
Alice yang mendengarnya langsung merengkuh tubuh Elliot dan menangis sesugukkan di dalam pelukan Elliot.
"Maafkan aku Kak, jangan tinggalin aku lagi seperti dulu," Isak Alice sambil terus menangis.
Elliot mengusap punggung Alice, mencoba memberi ketenangan pada Alice.
"Sudah, sudah jangan menangis lagi."
Alice melepas pelukannya, ia mulai menyeka air mata dengan kedua tangannya.
"Terima kasih Kak."
Sebuah senyuman kini terbit di wajah Elliot.
Namun ketika ingatan tentang Greta kembali hadir di dalam pikirannya, wajah Elliot langsung berubah penuh keseriusan. Alice yang membaca perubahan itu, mencoba untuk menenangkan kekhawatiran Elliot padanya.
"Aku tahu kekhawatirmu tentang Greta, tapi kamu harus percaya Greta itu sudah berubah Kak, buktinya dia menolongku."
Elliot mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Alice. Ia terdiam sejenak dan berpikir dengan keras.
Setelah 5 menit hanya terdiam tanpa suara, akhirnya sebuah ide terbesit dalam pikiran Elliot.
"Jika memang benar Greta sudah berubah, bolehkah kamu mengabulkan satu permintaanku? Lakukan seperti yang aku katakan, maka aku akan mempercayaimu, jika Greta memang benar-benar sudah berubah."
Tanpa berpikir Alice mengangguk menuruti keinginan Elliot. Lagipula tidaklah rugi jika ia harus mengikuti segala rencana Elliot, terlebih Elliot adalah Kakak kandungnya, pastinya seorang Kakak sangat memikirkan tentang keselamatan Adiknya.
Bagi Alice, ia sangat percaya, bahwa apa yang dilakukan Elliot semata-mata hanya untuk melindunginya dari kejahatan Greta, maka itu Alice menyadari akan semua kesalahannya dan segera meminta maaf kepada Elliot.
Setelah melihat ke kiri dan ke kanan, untuk memastikan keadaan di kamarnya aman dari Greta, Elliot mulai membisikkan sesuatu pada telinga Alice.
"Baik Kak, aku mengerti," ucap Alice menjawab semua rencana yang sudah dikatakan oleh Elliot.
Elliot mengusap pucuk rambut Alice dengan tersenyum, tanda bahwa kini dirinya sudah tak marah lagi kepada Alice.
"Semoga rencanaku ini berhasil untuk membuktikan bahwa Greta saat ini sedang bersandiwara atau memang benar-benar sudah berubah."
Alice akhirnya pamit dan keluar dari kamar dengan perasaan yang lega. Sementara Elliot terus menatap kepergian Alice dengan penuh kecemasan.
"Tunggu saja Greta! Walau saat ini Alice percaya padamu, tapi firasatku masih sama, ada sebuah permainan yang saat ini sedang kau mainkan, tapi aku tidak akan pernah tertipu. Aku akan segera membongkar semua tipu dayamu."
πΈπΈπΈ
BersambungβοΈ
__ADS_1
Penuhi kolom komentar, yuk silahkan komentar..
Jangan lupa tinggalkan like, jika berkenan boleh juga lho vote dan tipsnya hehehe...