Penjara Hati Sang CEO

Penjara Hati Sang CEO
Kecelakaan di Pagi Hari


__ADS_3

Halo para pembaca semua. Terima kasih atas dukungan kalian ya. Jangan lupa berikan like, komentar dan vote kalian untuk TMCA.


Selamat membaca!


Pagi yang indah dengan lembaran baru dalam perjalanan pernikahan Alice dan Raymond.


"Hari ini, hari pertama kamu kerja di Perusahaan Tuan Alex ya, beruntung ya beliau sangat baik mau menawarkan posisi yang tinggi untukmu di Perusahaan barunya."


Alice merapikan dan memasangkan dasi pada kerah kemeja Raymond.


"Iya sweety, dia mengirim sebuah pesan untukku sewaktu kita berada di apartemen Richard, sebuah jabatan Chief Operating Officer, ia memintaku untuk mendudukinya dan untuk sementara menarik semua investasinya pada MANGO Corporate, ternyata Alex mengikuti perkembangan berita yang sedang terjadi di London."


Alice selesai dengan kegiatan.


"Selesai Tuan Raymond, you look very handsome."


Raymond tersenyum menatap Alice.


"Terima kasih ya sweety, tapi pria tampan ini sudah tergila-gila padamu setengah mati," ucap Raymond sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Alice.


"Oh ya, jika kamu ingin berkunjung ke kantor, datanglah nanti aku kirim lokasinya via WhatsApp," imbuh Raymond menawarkan.


Alice berpikir sejenak.


"Tidak usah sweetu, ini hari pertamamu, aku tidak ingin mengganggu waktu kerjamu," kata Alice memutuskan.


Raymond menangkup kedua sisi wajah Alice kembali, ia lalu memberikan ciuman yang berlabuh di bibir Alice yang merekah.


Sejenak mereka saling memagut mesra.


"Sudah jangan sampai Raymond jr mu membuatmu pusing saat di kantor, sudah berangkatlah! Albert sudah menunggumu di bawah."


Alice sedikit mendorong pelan tubuh Raymond.


"Oke sweety, aku akan segera pulang, jaga bibir itu untuk nanti malam, aku ingin kembali menabur benihku, agar kita lekas mempunyai seorang anak," tutur Raymond membuncah bahagia dengan apa yang kini dirasakannya.


Wajah Alice bersemu merah, mendengar perkataan Raymond.


"Lagi pula rumah ini butuh suara tangisan anak bayi, biar ramai, jangan hanya suara keributan dua pelayan lokal itu," imbuh Raymond dengan ketus mengingat dua pelayan barunya.


Seketika gelak tawa hadir, saat Raymond mengingatkan Alice tentang tingkah kedua pelayannya.


Keduanya melangkah bersama, menuju ke arah meja makan. Setibanya di meja makan, Raymond dibuat takjub, lagi-lagi dengan menu makanan yang sudah terhidang di atas meja.


"Tidak percuma aku memiliki istri mantan pemilik restoran mewah, lihat makanan yang kamu masak, semuanya fantastik," puji Raymond membulatkan matanya.


Mendengar pujian Raymond wajah Alice bukannya bahagia, tapi malah tampak rona kesedihan di wajahnya.


"Ada apa sweety, kenapa kamu bersedih?"


Alice mendesah pelan.


"Aku rindu keluargaku, Tara, Mommy, Ayah, dan juga Restoranku."


Raymond menyentuh wajah Alice dengan lembut.

__ADS_1


"Sabar ya sweety, nanti saat aku menemukan sebuah tempat kita akan buka sebuah Restoran juga di Jakarta ya, agar semua keluargamu bisa tinggal di sini bersama kita."


Alice tersenyum bahagia dengan semua perkataan Raymond, wajahnya kembali berseri.


"Hari ini kamu kelihatan sangat cantik sweety," puji Raymond dengan terus menatap wajah Alice.


Alice tersipu malu dengan pujian Raymond.


"Kamu ini selalu gombal, tapi jangan sampai pujian itu kamu berikan juga untuk sekertaris barumu nanti di kantor ya," ujar Alice meledek.


Raymond menautkan kedua alisnya.


"Apakah kamu belum mempercayaiku?"


Alice menanggapi dengan wajah datarnya, terlihat senyum tipis di bibirnya.


"Ku rasa aku masih membutuhkan waktu, buktikan saja Tuan arogan, tapi jika kamu tidak setia, aku akan langsung kembali ke London." ancam Alice sambil menarik dasi yang terpasang pada kemeja Raymond, membuat wajahnya mendekat pada wajah Alice.


Alice lalu mengecup kerah kemeja Raymond yang berwarna putih.


"Apa yang kamu lakukan sweety, lipstick merahmu tertinggal di kerah kemejaku?" ujar Raymond mengerutkan keningnya.


"Itu sebagai simbol, kalau pimpinan mereka sudah menikah, sudah tidak apa-apa sweetu itu terlihat bagus kok," tutur Alice tersenyum lebar merasa puas.


Untung saja hari ini aku tidak ada meeting.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Di dalam mobil.


"Apa kabar Albert? Bagaimana perjalananmu di pesawat kemarin?"


Albert mendengus pelan.


"Mual Tuan, aku tidak pernah bepergian sejauh itu, pengalaman pertama menaiki pesawat, luar biasa Tuan."


"Kenapa Elliot mengirimmu datang ke Indonesia?"


"Sejujurnya Tuan, dia ingin aku memata-mataimu, dia takut Tuan menyakiti Nona Alice."


Raymond terkekeh geli dengan apa yang didengarnya.


"Sampaikan pada Elliot, tidak usah khawatir aku sudah berbeda bukan lagi Raymond yang dulu." lantang Raymond dengan tegas berbicara mengenai dirinya.


"Baik Tuan, aku pun percaya padamu, memang Tuan sudah sangat berbeda."


Maaf Tuan, aku sebenarnya ingin menceritakan tentang Greta yang datang ke bandara tapi Tuan Elliot melarangku.


Raymond berpikir sejenak tentang pelariannya ke Indonesia. Ia tiba-tiba terkejut akan sesuatu yang dilupakannya.


"Albert jika kamu ke sini, jangan bilang jika kamu membawa smartphoneku?" tanya Raymond mulai panik.


Albert terhenyak mendengar pertanyaan Raymond.


"Ya ampun, smartphone itu memang aku bawa, sial aku lupa untuk meninggalkannya di London, tapi aku tidak boleh jujur sama Tuan Raymond, lebih baik aku berbohong saja." gumam Albert dengan dahi yang sudah berkeringat karena cemas.

__ADS_1


"Albert!" panggil Raymond kesal.


Bentakan Raymond membuat Albert tersadar dari ketakutannya.


"Aku tinggal Tuan, sudah aku berikan kepada Adikku, tidak apa-apa kan Tuan."


Napas Raymond yang mencekik terasa lega mendengar jawaban Albert.


Untung saja, jika tidak nanti Greta akan tahu posisi GPS-ku.


"Tidak apa Albert, itu memang sudah seharusnya, karena semua usahaku untuk pergi jauh dari London akan percuma, jika Greta mengetahui keberadaanku lewat smartphone itu."


Albert terasa tercekik mendengar perkataan Raymond, ia terus merutuki kebodohannya karena melupakan hal yang begitu penting.


Bodoh, bodoh, gimana ini?


Jika sampai Greta sampai ke Indonesia, ini semua adalah dosa besarku.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan untuk menebusnya.


Di tengah-tengah kecemasan Albert, tiba-tiba seorang wanita dengan menaiki sepeda motor melintas secara mendadak di depan mobil mewah Raymond, mobil pun menabrak pengendara sepeda motor itu. Walau sempat mengerem dengan mendadak, bumper mobil tetap mengenai sepeda motor yang dikendarai oleh seorang wanita itu, beruntung rem yang diinjak Albert dengan dalam berhasil mengurangi laju mobil, sehingga benturan tidak terlalu keras.


Raymond yang terkejut langsung turun, untuk melihat keadaan si pengendara sepeda motor itu.


Keadaan pinggir tol Andara masih terlihat sepi, tak ingin memancing keramaian di sekitar tempat kejadian, Raymond memerintahkan Albert untuk mengurus dan memperbaiki motor yang telah rusak karena tertabrak mobilnya.


Sementara seorang wanita yang saat ini tak sadarkan diri sudah direbahkan di kursi belakang. Raymond langsung mengendarai mobil untuk menuju ke rumah sakit, meninggalkan Albert dengan sepeda motor rusaknya.


Sambil mengendarai mobil, Raymond mengambil handphonenya untuk menghubungi sekretaris di kantor barunya dan memasang wireless di telinganya.


"Halo, Flo."


"Tolong handle dulu semua urusan kantor, saya datang agak terlambat, ada insiden kecil yang terjadi, saat ini saya sedang menuju rumah sakit."


Raymond menyudahi panggilan teleponnya dan langsung mengganti sambungannya untuk menelepon Alice.


Namun beberapa kali Raymond mencoba menghubungi, Alice tidak juga mengangkat teleponnya.


"Aduh kamu kemana sweety?"


Raymond menyudahi panggilannya dan kembali melepas wireless-nya dengan sedikit kesal.


Sekarang bagaimana aku bisa ke kantor, pasti aku harus menunggu sampai wanita ini sadar.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambungโœ๏ธ


Berikan komentar kalian ya?


Terima kasih.


Baca karya aku yang lain ya judulnya Oh My Jasmine.


__ADS_1


__ADS_2